LOGINAlya adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, sayangnya keberuntungan sseolah tidak berpihak padanya. Suami yang seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman, justru menjadi momok yang menakutkan, hal itu yang membuat Alya lebih memilih untuk mengakhiri rumah tangganya, dan bertemu dengan CEO tampan. Akankah nasib Alya berubah?
View More"Ibu... sakit..." rintihan itu menyayat hati Alya.
Tsaqif, putra bungsunya, merintih dalam tidurnya. Tubuh bocah itu panas tinggi, menggigil hebat di balik selimut tipis yang sudah apek.
Alya ingat betul, ia menyimpan uang lima ratus ribu rupiah di bawah tumpukan baju dalam lemari. Uang hasil memeras keringat mencuci baju tetangga dan berjualan kue keliling.
Itu satu-satunya harapan untuk membawa Tsaqif ke klinik malam ini.
Dengan langkah tergesa, Alya menuju lemari.
Namun, saat tangannya meraba bagian bawah tumpukan baju, jantungnya hampir copot ketika tahu kalau amplop itu sudah lenyap..
Alya menyibak tirai kamar, melangkah lebar menuju ruang tengah.
Aldi, suaminya, sedang duduk bersila di depan laptop dengan mata merah menatap layar judi slot yang berputar. Di sebelahnya, seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang menggelayut manja sambil memegang gelas kopi.
"Ayo Mas, pasang lagi, kali ini pasti jackpot!"
"Tenang, Sayang. Uang dari si Babu itu lumayan juga buat modal," sahut Aldi sambil terkekeh, jarinya menekan tombol spin dengan.
"Aldi!" teriakan Alya memecah tawa mereka.
Aldi menoleh, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Apa? Berisik banget malam-malam. Ganggu hoki orang aja!"
"Mana uang pengobatan Tsaqif? Itu uang untuk anakmu yang lagi demam tinggi, Mas!"
Aldi mendengus kasar, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Udah habis. Kamu, sih, datang-datang marah, jadi kalah taruhanku. Lagian anak sakit itu biasa, dikerokin juga sembuh. Nggak usah lebay minta ke dokter segala."
"Habis?" Alya merasa kakinya lemas, tapi amarah menopangnya untuk tetap berdiri. "Kamu pakai uang nyawa anakmu buat judi? Dan kamu bawa perempuan lonte ini ke rumah kita saat anak-anakmu sedang sekarat kelaparan?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Alya hingga sudut bibirnya robek.
Aldi yang kalap mendorong tubuh ringkih Alya sekuat tenaga.
Alya terpental, punggungnya menghantam sudut meja kayu dengan keras sebelum jatuh tersungkur ke lantai dingin.
Aldi tidak menolongnya. Ia justru kembali duduk, merangkul wanita simpanannya yang tertawa mengejek.
"Udah, Mas. Biarin aja dia. Mending kita lanjut main di kamar," bisik wanita itu.
"Iya, bentar lagi. Ngungsi dulu sana kamu, Alya, dari pada di rumah, bkin sumpek aja!"
Saat itulah, sesuatu dalam diri Alya patah. Ia menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Tatapannya berubah dingin, kosong, namun tajam.
Tidak ada lagi air mata untuk pria iblis ini!
Alya bangkit tertatih, membangunkan Aisya dan Zayyan yang tertidur pulas dengan guncangan pelan namun tegas. "Bangun, Nak. Kita pergi sekarang!"
"Ibu? Mau ke mana? Hujan, Bu..." Aisya mengucek matanya.
"Ke mana aja, asal kita cepat pergi dari rumah neraka ini," bisik Alya.
Tanpa membawa baju ganti, hanya bermodal tas berisi dokumen penting dan dompet kosong,
Alya menggendong Tsaqif yang tubuhnya semakin membara. Ia menggandeng Aisya dan Zayyan, menyeret mereka keluar menembus pintu depan.
"Heh! Mau ke mana lo bawa anak-anak?" teriak Aldi dari ruang tengah.
Alya tidak menoleh dan berlari menembus hujan.
Dia terus berjalan, memeluk Tsaqif erat di dadanya, berharap panas tubuh Tsaqif tidak tersentuh air hujan karena terlindung tubuhnya
"Ibu... Tsaqif kejang, Bu!" jerit Aisya histeris saat melihat adiknya mengejang dalam gendongan Alya.
"Tsaqif! Bertahan, Nak! Ya Allah, tolong!"
Tidak ada kendaraan yang lewat.
Alya berlari tak tentu arah, kakinya telanjang karena sandalnya putus beberapa meter di belakang.
"Tolong, siapapun tolong aku!" Alya berteriak di tengah deru hujan, suaranya parau tertelan petir.
Sebuah sorot lampu tajam dari mobil sedan hitam mewah melaju kencang.
Tanpa pikir panjang, Alya melepaskan tangan Zayyan dan Aisya, menyuruh mereka minggir ke trotoar. "Tunggu di situ!"
Alya nekat berlari ke tengah jalan. Dia merentangkan tangannya, menghadang mobil yang melaju cepat itu. Ia tidak peduli jika harus tertabrak.
Jika dirinya mati, setidaknya pengemudi itu bisa berhenti untuk menolong anaknya.
CIIIITTT!
Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari lutut Alya yang gemetar.
Alya jatuh berlutut, memeluk Tsaqif yang kini diam tak bergerak.
Pintu mobil terbuka.
Di dalam sana, duduk seorang pria dengan setelan jas mahal yang tak tersentuh setitik pun noda. Wajahnya terpahat sempurna, namun tatapannya sangat dingin kepada Alya.
Pria itu menatap Alya yang basah kuyup, rambutnya lepek menempel di wajah, darah mengalir dari sudut bibir, dan lumpur mengotori kakinya.
"Apa kau bosan hidup?" suara Araska rendah, namun tajam menghunus.
Alya tidak peduli pada ancaman itu. Ia merangkak mendekat ke arah jendela mobil, mengabaikan harga dirinya yang sudah hancur lebur malam ini. Ia mengangkat tubuh Tsaqif tinggi-tinggi, memperlihatkan wajah pucat anaknya pada pria asing itu.
"Tuan, tolong anak saya, Tuan, saya mohon…" suara Alya serak, bercampur isak tangis yang akhirnya pecah. "Anak saya ini kejang, dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang…"
Alya mencengkeram spion mobil mewah itu dengan tangan gemetar. "Saya tidak minta uang… Saya cuma minta tumpangan ke rumah sakit. Anak saya bisa mati kalau tidak ditolong sekarang!"
Araska menatap mata wanita itu.
Ada keputusasaan yang begitu dalam di sana, sebuah lubang hitam penderitaan yang entah kenapa menarik perhatiannya.
Namun, di balik keputusasaan itu, Araska melihat kalau wanita itu keras kepala.
Wanita ini tidak takut padanya.
Wanita ini lebih takut kehilangan anaknya.
"Kenapa saya harus menolongmu?" tanya Araska datar, menguji.
Alya menelan ludah, air hujan dan darah bercampur di lidahnya. Ia menatap Araska, tatapan seorang ibu yang siap menyerahkan nyawanya pada iblis sekalipun demi anaknya.
"Tolong anak saya, Tuan. Jika Tuan menyelamatkan nyawanya malam ini, saya rela, saya akan melakukan apapun yang Tuan minta. Tuan bisa ambil tenaga saya, kehormatan saya, bahkan nyawa saya… ambil saja kalau Tuan mau. Saya juga siap menjadi budak Tuan seumur hidup saya, asal anak saya selamat."
Hening sesaat.
Araska yang selama ini hatinya beku, yang tak pernah tersentuh oleh drama murahan wanita manapun, tiba-tiba merasakan retakan kecil.
Laki-laki itu melihat ketulusan yang mengerikan dari wanita basah kuyup ini.
"Apapun?" ulang Araska.
"Apapun, demi anak saya!" tegas Alya tanpa keraguan.
Araska menatap wajah Tsaqif yang membiru, lalu beralih ke dua anak kecil lain yang menggigil di trotoar sambil menangis memanggil ibunya.
Klik.
Pintu belakang terbuka.
"Masuk, sebelum aku berubah pikiran!" perintahnya dingin.
Alya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah manja suaminya. Siapa yang akan percaya bahwa pria yang sedang merengek meminta tambahan waktu pelukan ini adalah Araska, taipan muda yang dikenal dingin dan tak kenal ampun di meja perundingan bisnis? Namun, Alya membiarkannya. Ia tahu betul beban berat yang dipikul Araska, terutama dengan rumor konyol yang kini tengah digoreng oleh netizen di media sosial.Setelah dua menit yang molor menjadi hampir sepuluh menit, Araska akhirnya melepaskan pelukannya dengan berat hati. Alya segera bangkit, merapikan daster rumahan yang agak kusut, lalu melangkah ke dapur untuk menghangatkan sup ayam kampung buatannya.Sementara itu, Araska meraih kembali ponselnya yang tergeletak mengenaskan di atas karpet. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung menyerbu. Panggilan tak terjawab dari direksi, pesan singkat dari Beni yang panik, hingga tagar nama perusahaannya yang nangkring di daftar trending topic.Araska mendengus, mencoba membaca sa
"Flu biasa, Pak? Tapi di foto yang beredar, mobil Bapak terparkir tepat di bawah plang besar bertuliskan 'Spesialis Terapi Kejantanan dan Ramuan Tradisional Mak Erot'!" Suara Beni di seberang telepon terdengar sangat frustrasi, bercampur dengan kepasrahan seorang sekretaris yang dunianya baru saja runtuh."Netizen Twitter sudah membuat utas, Pak. Saham anak perusahaan kita di bidang farmasi bahkan ikut bergejolak karena rumor ini!"Araska mematung. Matanya melebar sempurna. Ia perlahan menoleh ke arah Alya yang kini sudah menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa, tubuhnya terguncang hebat karena tawa yang tidak bisa ditahan lagi."Beni," desis Araska, mengabaikan tenggorokannya yang perih."Supir sialan itu ... aku menyuruhnya membeli vitamin di apotek sebelah klinik itu! Kenapa dia harus memarkirkan mobil tepat di sana?!""Saya tidak tahu, Pak! Yang jelas, humas kita sedang kelimpakan komplain. Jadi, apa instruksi Bapak? Apakah kita perlu merilis surat pernyataan resmi dari dokte
"Singa jompo kata kamu? Al, kalau bukan karena tangan kiri Pak RT tadi, aku sudah menyuruh Beni menyelidiki latar belakang keluarganya," gerutu Araska seraya mendudukkan diri di sofa ruang tengah, perlahan-lahan menyandarkan punggungnya yang masih terasa hangat akibat goresan koin seribuan.Alya meletakkan kotak hantaran kue tradisional di atas meja, lalu duduk di samping suaminya. "Selidiki untuk apa, Mas? Mau kamu akuisisi usahanya? Pak RT sebelah itu pensiunan dinas tata kota, lho. Mau kamu beli komplek ini sekalian?""Kalau perlu, iya," sahut Araska ketus, meski sedetik kemudian ia meringis karena gerakan tiba-tibanya membuat otot lehernya tertarik. "Aduh ... pelipisku makin berdenyut.""Makanya, jangan banyak tingkah dulu. Sini, aku pijat sebentar," ucap Alya lembut. Ia menggeser duduknya menjadi lebih dekat, lalu jemari lenturnya mulai memijat pelan pundak dan tengkuk Araska yang mengeras.Araska memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan istrinya yang ajaibnya selalu berhasil m
Setelah menyelesaikan semuanya, Alya dan Araska segera pulang. Rasa letih sudah tak tertahankan membuat Alya ingin segera merebahkan diri di Kasur empuknya.“Aku kok agak pusing, ya, Al?” tanya Araska, sambil memijat pelipisnya.“Kenapa, Mas?” Alya segera mendekat, menyentuh dahi Araska. “Tapi nggak panas, Mas. Mau ke rumah sakit aja?”“Emm, nggak usah, Sayang. Minta tolong buatkan teh hangat saja, nanti juga mendingan.”Tanpa menunggu lama, Alya segera membuatkan teh kesukaan Araska.Satu jam berlalu, nampaknya lelaki itu belum terlihat jauh lebih baik, "Mas, kamu yakin tidak mau ke rumah sakit saja?"Alya melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya dengan tatapan tak tega. Melihat sang suami, wajahnya pucat, hidungnya merah, dan sebuah koyo cabai menempel dengan sukses di kedua pelipisnya."Tidak mau, Al," suara Araska terdengar bindeng dan serak, sangat jauh dari suara bariton berwibawa yang biasa didengar para investor."Kalau aku ke rumah sakit, besok pagi media bisnis akan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews