Mag-log inAlya adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, sayangnya keberuntungan sseolah tidak berpihak padanya. Suami yang seharusnya menjadi tempat pulang ternyaman, justru menjadi momok yang menakutkan, hal itu yang membuat Alya lebih memilih untuk mengakhiri rumah tangganya, dan bertemu dengan CEO tampan. Akankah nasib Alya berubah?
view moreSuasana di kediaman Araska yang tadinya penuh tawa mendadak berubah ketika sebuah deru mesin mobil sport yang kasar berhenti tepat di depan teras. Araska, yang baru saja hendak membenamkan wajahnya di ceruk leher Alya, menghentikan gerakannya. Matanya yang tajam langsung berubah dingin."Sepertinya waktu romantis kita harus tertunda, Sayang," gumam Araska.Pintu depan terbuka tanpa diketuk. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal masuk dengan langkah terburu-buru. Dia adalah Hadi Darmawan, salah satu pemegang saham di perusahaan Araska."Araska! Kita punya masalah besar!" seru Hadi tanpa basa-basi. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya.Araska merapikan kemejanya yang sedikit berantakan, kembali ke mode pemimpin yang dingin. "Hadi, aku sedang tidak menerima tamu. Dan kau tahu aturannya, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah pribadiku tanpa undangan.""Persetan dengan aturanmu! Kontainer kita di dermaga utara ditahan oleh unit investigasi khusus. Mereka
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar di Depok membawa kehangatan yang berbeda bagi Rendy. Ini adalah pagi pertama ia terbangun dengan status sebagai seorang suami. Di sampingnya, Bianca masih terlelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak begitu damai, sebuah pemandangan yang hanya ada dalam angan-angan Rendy saat ia masih berkutat dengan dunia gelap yang penuh ancaman.Rendy bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia sudah terbiasa bangun pagi, sebuah insting yang tertanam sejak ia menjadi orang kepercayaan Araska. Namun, hari ini tidak ada jadwal latihan fisik atau pemeriksaan senjata. Ia hanya perlu menyiapkan sarapan sederhana untuk istrinya.Ketika aroma kopi dan roti bakar mulai memenuhi rumah kecil itu, Bianca muncul di ambang pintu dapur dengan daster tipis dan rambut yang sedikit berantakan. Ia tersenyum malu-malu saat Rendy mengecup keningnya."Mas sudah rapi? Mau ke mana?" tanya Bianca, suaranya masih serak k
Malam yang kian larut di Depok menjadi saksi bisu bagi Rendy dan Bianca, tetapi di sudut lain Jakarta, di sebuah gedung pencakar langit dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti berlian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di lobi hotel bintang lima.Araska turun dari mobil, menyerahkan kunci pada petugas valet dengan gerakan yang tidak sabaran. Di sampingnya, Alya melangkah dengan dahi sedikit berkerut, tangannya digenggam erat oleh suaminya."Mas, benar-benar ya kamu ini. Anak - anak sudah tidur nyenyak di rumah sama pengasuhnya, kenapa kita harus ke hotel segala?" bisik Alya saat mereka melangkah menuju lift privat.Araska menoleh, seringai nakal tersungging di bibirnya yang tipis. Ia menarik pinggang Alya hingga tubuh mereka merapat di dalam lift yang tertutup. "Di rumah itu terlalu berisiko, Sayang. Kayla bisa bangun kapan saja, atau pelayan lewat di depan kamar. Aku ingin malam ini dunianya cuma milik kita berdua. Tanpa g
Setelah serangkaian acara resepsi selesai, Araska menyuruh Beni untuk mengantarkan Rendy menuju Depok. Ke rumah baru mereka. Meski awalnya Rendy kekeh tak mau diantar, tetapi Araska berhasil membuatnya patuh.Sesampainya di rumah, Rendy menutup pintu depan dan menguncinya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup mereka, benar-benar hanya berdua, tanpa pengawasan, tanpa gangguan tugas.Bianca berdiri di tengah ruang tamu kecil yang masih kosong, hanya ada satu set sofa sederhana dan sebuah lampu berdiri yang membiaskan cahaya kuning hangat. Ia masih mengenakan gaun putihnya, meski kerudung dan ronce melatinya sudah ia lepaskan di kamar tadi."Kenapa di sini?" suara Rendy memecah kesunyian.Bianca menoleh, tersenyum tipis. "Rasanya seperti mimpi, Mas. Tadi pagi kita masih di depan penghulu, sekarang ... kita di rumah kita sendiri."Rendy melangkah mendekat, melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di lengan sofa. Ia melonggarkan dasi yang sejak pagi m
Persiapan menuju Amalfi ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, terutama ketika ada tiga pasang mata kecil yang menatap mereka dengan penuh selidik.Pagi itu, aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan. Araska mencoba bersikap kasual, namun tiket di saku jasnya terasa seperti memb
Sinar mentari pagi yang menerobos celah gorden sutra di kamar utama mansion Adiguna tidak hanya membawa kehangatan, tapi juga menandai berakhirnya masa "cuti domestik" seorang Araska Adiguna.Pria itu berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang panjang dan tangkas sedang menyimpul dasi sutra berw
Sentuhan dingin dari cincin platinum bermata berlian marquise itu merambat ke seluruh saraf Alya saat Araska menyematkannya di jari manisnya. Ukurannya pas, seolah-olah Araska telah mengukur lingkar jarinya.Araska tidak segera melepaskan tangan Alya, ibu jarinya justru mengusap p
Bianca memandang dengan muak adegan di depannya. Wajah putih itu merah padam, tersulut api emosi. Tanpa kata, ia melangkah begitu saja dari ruangan Araska. ”Tunggu apalagi? Pakai cincin itu, Alya!” ”Ta - tapi, Pak?””Kau lupa, dengan perjanjian itu? Bahkan kau rela memberikan apapun yang kau mau,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu