Share

Kepindahan

Penulis: Zinnia Azalea
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 11:21:31

Olivia tinggal di wilayah timur kota Paris atau di kawasan pinggiran kota yang disebut Banlieues. Olivia dan adiknya tinggal di perumahan sosial. Perumahan sosial adalah hunian yang terjangkau yang disewakan dengan dukungan pemerintah Perancis untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan terjerat kemiskinan.

Olivia mengemas semua pakaian dan barang-barang berharga dari rumahnya dibantu oleh para pengawal Nick. Nick memindahkan Olivia sebagai antisipasi jika orang tuanya berhasil melacak jati diri Olivia. Kali ini orang tuanya tak boleh menghancurkan rencana pernikahannya lagi.

Olivia melihat semua ruangan rumah itu untuk terakhir kalinya. Air matanya menitik, mengingat semua kenangan yang tersimpan di dalam rumah tua itu. Teriakan ibunya terdengar jelas kala sang ayah menyiksanya. Olivia masih remaja saat itu, saat sang ayah yang dalam pengaruh alkohol melenyapkan nyawa ibunya.

"Ibu, aku dan Aurelie akan pindah dari rumah ini," gumam Olivia sembari menghapus air matanya yang semakin deras.

Gadis itu meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian ia mengeret koper usangnya keluar dari rumah itu.

"Sudah semua, Nona?" Tanya Arthur, sekretaris pribadi Nick yang turut serta ditugaskan untuk mendampingi kepindahan Olivia.

Olivia mengangguk, kemudian gadis itu segera pergi meninggalkan rumah penuh kenangan sekaligus penuh luka untuknya.

"Semoga setelah ini kehidupan kami lebih baik," Olivia bergumam dari dalam mobil.

Mobil yang membawanya memasuki sebuah taman yang begitu asri. Dari kejauhan terdapat rumah kecil minimalis yang begitu elegan dan terlihat nyaman untuk ditinggali. 10 meter dari rumah minimalis itu ada rumah yang jauh lebih besar. Olivia tak mengerti, mengapa ada dua rumah di sana? Olivia hendak bertanya, tapi ia urungkan.

"Ini rumah siapa?" Tanya Olivia ingin tahu.

"Yang kecil adalah rumah yang akan adik Nona tinggali, yang besar adalah rumah yang akan Nona tinggali bersama Tuan Nick," jelas supir Arthur, memecahkan teka-teki yang sedari tadi membuat Olivia begitu penasaran.

"Apa tadi katanya?" Bola mata Olivia membesar.

"Maksudnya apa ini? Jadi, aku tidak akan serumah dengan adikku?" Olivia tampak keberatan.

"Benar, Nona," Arthur mengangguk.

"Tapi mengapa? Siapa yang akan mengurus adiku?" Tanya Olivia dengan resah.

"Nona, sepasang suami istri alangkah baiknya tinggal berdua tanpa ada keluarga lain yang tinggal di dalamnya. Tuan Nick juga tidak suka ada orang asing di rumahnya. Untuk adik Nona, anda tidak perlu khawatir. Ada perawat yang akan menjaganya selama 24 jam juga ada asisten rumah tangga yang mengurus semua urusan rumah," jelas Arthur yang membuat Olivia melongo.

"Sepasang suami istri?" Tanyanya merasa aneh.

"Iya, bukankah Nona dan Tuan Nick akan menjadi suami istri?" Arthur balik bertanya dengan senyuman tipis.

"Ah, aku lupa, aku akan menjadi istri tuan arogan itu! Sialan!" Makinya dalam hati.

Beberapa pengawal menurunkan baju dan barang Olivia dan juga Aurelia.

Koper milik Aurelie dibawa masuk ke dalam rumah minimalis, sedangkan barang-barang Olivia dibawa ke rumah besar yang akan ia huni beserta Nick nanti.

Jantung Olivia berdegup kencang. Benarkah ia akan serumah dengan Nick Louis? Hal seperti ini tidak pernah ada dalam pikirannya. Akan tetapi, sisi hati lainnya merasa senang ia bisa tinggal di rumah yang layak huni.

Olivia berjalan menuju taman yang ada di depan rumah. Ia terduduk di ayunan.

"Aku akan menikah?" Tanyanya pada diri sendiri.

"Apa aku sedang tidur?" Olivia mencubit tangannya sendiri.

"Sakit! Ini bukan mimpi," matanya membulat.

"Nona, persiapan pernikahan sudah hampir 100%. Saya harap anda bisa membawa salah satu perwakilan keluarga," Arthur tiba-tiba datang di hadapan Olivia.

"Keluarga?" Tanya Olivia pelan.

Di kota ini, Olivia hanya memiliki Aurelie saja. Ibunya sudah meninggal, dan ayahnya kini mendekam di penjara. Sementara keluarga ibunya jauh tinggal di pedesaan sebagai pemetik anggur. Keluarga ayahnya tak ada yang peduli dengan nasib Olivia dan Aurelie. Mereka bahkan membenci kakak beradik itu.

"Aku hanya memiliki adikku saja," lirihnya pada Arthur. Arthur hanya diam. Kemudian undur diri dari hadapan Olivia, membiarkan gadis itu sendiri.

Olivia mendudukan dirinya di kursi sembari menikmati angin musim gugur yang berhembus pelan. Rambutnya sesekali tersibak terkena angin yang berhembus.

"Benarkah aku akan menikah?" Tanyanya pada diri sendiri, seakan tak percaya.

"Harusnya aku senang karena akan menikah dengan seorang lelaki jutawan. Aku tak akan kesulitan keuangan lagi," gumamnya lagi, berusaha menghibur dirinya sendiri.

"Setidaknya aku tak perlu lagi menjadi seorang penipu," sambungnya.

Olivia memang tak memiliki pilihan lain. Ia tak bersekolah tinggi, mencari pekerjaan amatlah sulit di kota metropolitan seperti Paris untuk orang yang tak memiliki pendidikan tinggi sepertinya. Olivia terpaksa menjadi scammer agar dirinya dan sang adik bisa makan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Keributan Kecil

    Olivia masih terus menatap kaca ruang ICU yang tak kunjung terbuka. Setiap tenaga medis keluar masuk ke dalam ruang ICU, setiap itu juga Olivia berdiri dan berharap ada kabar bahagia tentang adiknya. "Oliv, Nick ada di sini," Valerie berucap dengan nafas terengah-engah. Ia baru saja keluar dari ruang perawatan Elara dan baru selesai berkonfrontasi dengan Nick. "Nick? Dia tahu keadaan Aurel?" Olivia seolah menyimpan asa pada Nick. Ia menganggap Nick tahu keadaan Aurel yang drop dan langsung menyusulnya ke rumah sakit. Wajah prihatin Valerie semakin jelas terlihat. Ia iba karena sepupunya itu nyatanya masih berharap Nick peduli padanya. Akan tetapi, itu semua hanya ilusi. Nyatanya Nick tak tahu apa yang telah menimpa adik iparnya. "Jangan percaya diri, Oliv! Nick ada di rumah sakit yang sama dengan kita karena selingkuhannya di rawat juga di sini," beri tahu Valerie tegas."Dia di sini bukan untuk Aureli, dia sedang menemani wanita simpanannya!" Tegas Valerie yang membuat d

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Pria Pengecut

    Olivia menatap ruang ICU tempat di mana Aurelie mendapatkan perawatan intensif. Air mata tak kunjung kering. Olivia terus menangis. Entah mengapa firasatnya benar-benar buruk. "Tenangkan dirimu! Aurel sudah ditangani oleh orang-orang yang ahli dan berkompeten," Valerie mengelus punggung Olivia untuk menguatkan. "Aku hanya takut, takut satu-satunya keluargaku pergi," akhirnya Olivia tak mampu membendung rasa khawatirnya lagi. "Kau ini bicara apa? Bukankah aku ini juga keluargamu?" Valerie memeluk Olivia untuk memberikan dukungan. "Aurel akan baik-baik saja. Dia akan pulih. Lagi pula Aurel sudah melakukan operasi limpa," hibur Valerie, walau sebenarnya dia tidak tahu pasti bagaimana keadaan sepupunya itu. "Semoga saja, Val. Terima kasih karena ada di sini!" Olivia menangis sesenggukan. Mereka lama berpelukan, saling memberikan energi positif dan memberikan dukungan yang berarti. Perlahan keduanya mengurai pelukan itu. "Aku belikan makanan, pasti kau belum makan kan?" Tebak

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Dua Keadaan

    Nick terus menunggu di parkiran kampus di mana istrinya menimba ilmu. Beberapa kali Nick menatap gedung tempat di mana istrinya masuk. Akan tetapi, Olivia tak kunjung keluar dari sana. Nick jadi berpikir, sebenarnya apa yang Olivia lakukan saat ini? Mengapa begitu lama? Nick sedari tadi menunggu di dalam mobilnya. Walau cuaca terik menyengat, tak membuat pria itu beranjak dari sana. Dering ponsel mengalihkan perhatian pria itu. Nomor yang tak dikenal mencoba menghubunginya. Nick mengernyitkan dahinya. Nick memutuskan untuk menolak panggilan itu. Dirinya sama sekali tak punya alasan untuk mengangkat telfon dari orang asing. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chattingnya yang berwarna hijau. Nick kemudian membukanya. Matanya terbelalak saat membaca rentetan pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenali yang menelfonnya tadi. "Tuan, apakah anda keluarga dari Nona Elara? Dia sedang dirawat di rumah sakit dengan kasus percobaan bvn*h diri," isi pesan itu membuat Nick tersentak

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Menyusul Olivia

    Olivia memandang suaminya dari kaca spion mobil milik Edmund. Olivia terus menatap Nick hingga pria itu tak terlihat lagi. Olivia menatap nanar pemandangan di luar mobil. Entah mengapa hatinya terasa hampa. "Kalian sedang bertengkar?" Tebak Edmund. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Seperti yang kau duga," Olivia tersenyum kecil, tak menyanggah pertanyaan itu. "Apa yang membuatmu bertengkar dengannya?" Tanya Edmund dengan penasaran. Sesekali ia menoleh ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Kemudian Edmund memusatkan kembali matanya pada jalanan yang terbentang. "Dia sudah kembali kepada mantan kekasihnya," adu Oliviia dengan wajah datar. Sebenarnya Olivia tak ingin berbagi tentang kehidupan pribadinya pada orang lain. Akan tetapi, Olivia tak kuat untuk menahannya seorang diri. Edmund juga sudah tahu latar belakang pernikahan dirinya dengan Nick. Olivia pikir tak ada lagi hal yang harus dirahasiakan dari Edmund saat ini. "Lalu, apa rencanamu?" Tanya Edmund penuh

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Pergi Bersama Orang Lain

    Elara menggeram kesal tatkala Nick tak kunjung mengangkat telfon darinya. Bahkan wanita itu membanting ponselnya ke atas kasur. "S*al!" Umpat Elara sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. "Di masa lalu, kedua orang tuamu berhasil memisahkan kita. Tapi tidak untuk kali ini," Elara mengepalkan tangannya. Kemudian ia mendapat suatu ide. Elara mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan suara pada pria yang masih sangat ia harapkan itu. "Nick, tolong aku sesak nafas!" Elara berakting seakan ia memang memerlukan oksigen. Tak lama, ponsel berdering. Ya, Nick masuk ke dalam jebakannya. "Hallo, Nick. Aku sesak nafas. Tolong aku!" Elara mengangkat panggilan telfon itu dengan cepat. Ia berakting seapik mungkin agar Nick mempercayai ucapannya. "Arthur akan segera ke sana," jawab Nick yang membuat wajah Elara seketika berubah pucat pasi. "Aku hanya memerlukan kehadiranmu, Nick," Elara mempelankan suaranya, seakan ia benar-benar tak berdaya. "Dia akan datang bersama dokter." Tut

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Sikap Egois

    Olivia akhirnya menceritakan semuanya pada adiknya dan juga pada Valerie, sepupunya. Ia bercerita bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Nick hingga bisa menikahi pria itu. Valerie menatap Olivia dengan sedih. Tak menyangka jika sepupu yang pernah ia benci itu berkorban sampai sejauh ink untuk adiknya sendiri. Sementara Aurelie, sedari tadi hanya terus menangis. Dirinya seolah memasukan kakaknya ke dalam setiap masalah. Aurelie tak menyangka jika kakaknya berkorban dalam hal apapun untuknya. "Maafkan kakak ya? Jika kakak sudah memilih jalan seperti ini," Olivia berusaha tersenyum pada adiknya sendiri, walau senyum itu penuh dengan luka. Ia merasa bersalah karena sudah membiayai hidup Aurelie dengan uang bukan dari hasil keringatnya sendiri. "Tidak, aku yang harus meminta maaf. Seharusnya kakak biarkan aku mati saja, agar kakak tidak lagi mempunyai beban berat. Seharusnya sedari dulu kakak membiarkanku menyusul mendiang ibu," Aurelie menangis tergugu, merasa sangat sakit mengetahui

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Saling Membutuhkan

    Hari ini suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Untuk menghangatkan diri di dalam rumah, Olivia membakar kayu di perapian. Uap dari dalam cerobong asap menguar keluar. Olivia menyelimuti dirinya di depan perapian. Nick yang tak pergi bekerja bergabung dengan sang istri. Ia mendekatkan tangannya

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Mengunjungi Sang Adik

    Leo sedang menandatangani beberapa dokumen penting yang dibawa oleh sekretaris pribadinya. Akan tetapi, pikirannya tak terlalu fokus. Tingkah Nick tempo hari yang membawa seorang gadis mengacaukan pikirannya. Leo merasa bersalah pada Jenie dan keluarganya. Terlebih ia tak bisa nenghubungi keluarga

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Akan Menghancurkan Semuanya

    Selepas kepergian Jenie dan orang tuanya, Julie dan Leo pun bergegas pergi.Leo mengusap ujung mulutnya dengan tisu, kemudian pria itu berucap dengan tegas, "Temui ayah dan ibu di rumah! Bawa juga kekasihmu ini!" Kemudian pria paruh baya itu pergi meninggalkan meja makan, disusul oleh Julie yang

  • Gadis Pelampiasan Tuan Arogan   Niat Yang Gagal

    Julie menatap Olivia dengan tajam, merasa tak suka dengan kehadiran gadis itu yang menurutnya merusak acara makan malam mereka. Niat hati akan menjodohkan Nick dengan Jenie malah gagal total dengan kehadiran Olivia yang dikenalkan Nick sebagai kekasihnya."Bagaimama kabarmu, Jen?" tanya Nick den

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status