Home / Romansa / Gadis Penipu & CEO Dingin / Bab 4 - Merasa Di Ikuti

Share

Bab 4 - Merasa Di Ikuti

Author: Desau
last update publish date: 2026-06-29 09:00:44

Dengan tangan sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang, Laura perlahan membuka kancing blazernya satu per satu. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak terlihat ragu. Ia tahu ini hanya salah satu cara Rama menguji batas ketahanan mentalnya, bukan maksud lain, meski perintah itu terdengar sangat tidak wajar.

Setelah blazer terlepas dan tergantung di sandaran kursi, Laura melanjutkan membuka kancing kemejanya hingga terlepas sempurna, lalu melipatnya dengan rapi. Sekarang tubuh bagian atasnya hanya tertutup oleh bra berwarna merah jambu. Sekretaris yang berdiri di dekat pintu menunduk semakin dalam, tidak berani menatap sama sekali, seolah sudah terbiasa dengan tingkah aneh dan cara pengujian yang tak terduga dari atasannya.

Laura sudah menyentuh ujung resleting roknya, bersiap melanjutkan, saat itulah suara Rama terdengar lagi dengan nada yang lebih pelan namun tetap tegas.

“Cukup!”

Rama berdehem pelan, lalu segera memalingkan wajah ke arah jendela kaca yang menghadap ke pemandangan kota. Ada sedikit ketegangan yang terlihat di rahangnya, sesuatu yang jarang terlihat pada dirinya. Ia benar-benar tidak menyangka gadis itu akan menuruti perintahnya tanpa berteriak marah, tanpa lari ketakutan, atau tanpa mengancam akan melaporkannya, reaksi yang selalu ditunjukkan oleh dua puluh tujuh pelamar sebelumnya. Bahkan ada yang langsung menamparnya dan pergi dengan kemarahan.

Namun Laura berbeda. Ia melakukannya dengan kepala tegak, tidak menyembunyikan rasa malu secara berlebihan, dan tetap memegang kendali atas dirinya sendiri. Itulah kualitas yang selama ini Rama cari, keberanian, kepatuhan, dan kemampuan untuk tetap tenang dalam situasi paling tidak nyaman sekalipun.

Rama memutar badannya kembali menghadap meja, masih tidak menatap langsung ke arah Laura. “Kenakan kembali pakaianmu!"

Laura segera mengenakan kemeja dan blazernya dengan gerakan cepat namun tetap rapi, lalu duduk kembali dengan sikap yang sama seperti sebelumnya.

Rama baru kemudian menatapnya lagi, kali ini tatapannya tidak sepenuhnya dingin seperti tadi, melainkan menyimpan rasa ingin tahu yang samar.

“Kau tidak takut? Atau tidak merasa terhina ketika aku menyuruhmu melakukan hal itu?” tanyanya datar.

Laura menarik napas pendek, lalu menjawab dengan suara mantap: “Saya percaya diri dengan tubuh saya sendiri, Tuan. Selain itu, saya yakin sepenuhnya bahwa Tuan bukan lelaki yang bertindak sembarangan atau memiliki niat mesum. Jika tujuannya hanya untuk hal kotor, Tuan tidak perlu repot menyeleksi pelamar dengan ketat seperti ini.”

Rama mengangkat alis, penasaran. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Selama saya mempelajari profil Tuan,” jawab Laura tenang, “tidak ada satu pun catatan, gosip, atau laporan yang menyebutkan kedekatan Tuan dengan perempuan mana pun. Tidak ada mantan kekasih, tidak ada skandal asmara, dan Tuan selalu menjaga jarak dari lawan jenis. Lelaki yang hidupnya tertata seketat itu dan tidak pernah terlibat masalah pribadi semacam itu, biasanya tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna.”

Sesaat keheningan tercipta. Dalam hati Rama mengakui bahwa gadis ini memiliki pengamatan yang tajam dan logika yang baik. Ia benar-benar tidak membuang waktu untuk urusan percintaan atau kenikmatan sesaat; baginya, waktu adalah aset paling berharga.

“Baiklah,” ujarnya akhirnya, nada bicaranya sedikit lebih lembut meski tetap tegas. “Larissa Mahendra, mulai hari ini kau diterima sebagai asisten pribadiku. Datanglah besok pagi tepat pukul tujuh pagi. Satu menit terlambat, anggap saja kesempatan ini hilang.”

“Terima kasih, Tuan. Saya akan datang tepat waktu,” jawab Laura sambil berdiri dan membungkuk sopan, menyembunyikan rasa lega yang meluap di dadanya.

Rama menoleh ke sekretarisnya. “Suruh semua pelamar lain yang masih menunggu untuk pulang. Posisi ini sudah terisi.”

Sekretaris itu mengangguk patuh, lalu bergegas keluar menyampaikan pesan. Namun tak lama kemudian, terdengar suara keributan dari luar ruangan. Banyak suara yang meninggi, kecewa, dan merasa tidak adil.

“Kenapa begitu cepat diputuskan? Kami belum sempat diwawancara!”

“Ini tidak masuk akal! Apakah ada kecurangan?”

“Kami datang dari jauh, tapi hanya diberi kesempatan menunggu saja!”

Mendengar kegaduhan itu, Rama berdiri dari kursinya dengan tenang, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah tegap dan wajah yang terlihat lebih dingin dari biasanya. Begitu ia muncul, seluruh ruang tunggu seketika menjadi hening seketika. Ia mengangkat selembar kertas pengumuman perekrutan yang asli, lalu menunjuk salah satu kalimat di bagian bawah.

“Bacalah baik-baik sebelum mengeluh,” ucapnya dengan suara keras namun tenang. “Di sini tertulis jelas: Setiap pelamar wajib bersedia menerima segala bentuk tes dan risiko selama proses seleksi berlangsung. Keputusan pimpinan bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Kalau kalian tidak sanggup menerima syarat itu sejak awal, seharusnya tidak perlu mendaftar.”

Tidak ada satu pun yang berani menyahut lagi. Wajah-wajah mereka memerah karena malu dan kesal, namun sadar tidak memiliki alasan yang kuat untuk membantah. Satu per satu mereka mulai mengambil barang dan pergi dengan langkah gontai.

Rama memandangi mereka pergi tanpa ekspresi, lalu melirik sekilas ke arah Laura yang baru saja keluar dari ruangan. “Ingat janjimu tadi,” katanya singkat sebelum berjalan menuju lift.

Laura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Pria ini memang benar-benar di luar nalar, tapi setidaknya sekarang dia punya tempat untuk memulai rencananya.

Setelah berpamitan, Laura berjalan keluar dari gedung perkantoran itu menuju halte taksi. Hari sudah mulai menjelang sore, langit berwarna keemasan di ujung cakrawala. Namun perasaan leganya perlahan berubah menjadi tidak nyaman ketika ia menyadari sesuatu.

Selama dia berjalan perlahan menuju pinggir jalan, ada sosok bayangan yang tampak mengikuti dari jarak yang cukup jauh. Saat ia berhenti, sosok itu juga berhenti. Saat dia mempercepat langkah, sosok itu juga ikut mempercepat.

Laura berpura-pura tidak menyadarinya, tapi matanya mengamati sekeliling dengan waspada. Ia menyusuri jalan raya yang ramai, lalu sengaja berbelok ke gang samping yang lebih sepi untuk menguji. Benar saja, orang itu tetap mengikuti dan semakin mendekat.

Jantung Laura kembali berdegup kencang, bukan karena takut semata, tapi karena ia tahu, hidupnya sebagai penipu dan orang yang menyembunyikan masa lalu tidak pernah benar-benar aman. Apakah ini anak buah Indra yang mengawasinya? Atau justru orang yang mengetahui rahasianya dari masa lalu?

Ia menggenggam tasnya erat-erat, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi, sambil terus berjalan dengan tenang namun tetap waspada menuju apartemennya.

Setibanya di apartemen, Laura bergegas masuk dan mengunci pintu. Dia berharap perasaannya salah.

Setelah tenang, Laura membersihkan diri ke kamar mandi. Lalu membuat makan malam. Tapi saat sedang menikmati makan malam, bel pintunya berbunyi.

Dengan terpaksa Laura berhenti makan dan berjalan ke pintu keluar. Saat pintu dibuka, betapa kagetnya dia melihat sosok yang datang adalah Rama.

"Tu-tuan... Kenapa Tuan ke sini?" tukas Laura tak percaya.

"Kau sudah jadi asisten pribadiku bukan?" Rama mendekatkan wajahnya. Lalu tersenyum tipis. Namun senyumannya terasa mengerikan bagi Laura.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 36 - Mengetahui

    Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Rama. Setiap detiknya ia dipenuhi pertarungan antara harapan yang masih tersisa dan ketakutan yang kian membesar, seolah ada dua sisi yang saling menariknya ke arah berlawanan. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, pesan masuk yang tak pernah ia balas dari Laura hanya ia tatap sekilas sebelum kembali disimpan, tak sanggup menjawabnya namun tak sanggup pula menghapusnya.Hingga pada sore yang mendung itu, pesan yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa membaca isinya di layar ponsel, ia segera melajukan kendaraannya menuju markas rahasia tim penyelidiknya, sebuah ruangan tersembunyi di lantai paling atas gedung yang dimilikinya, tempat yang tak diketahui siapa pun kecuali dirinya dan pemimpin tim itu.Saat dokumen tebal itu diletakkan di hadapannya, jari-jarinya yang biasanya tak pernah gemetar saat memegang kontrak bernilai miliaran, kini terasa berat dan dingin. Ia membuka halaman pertama perlahan, dan detik itu juga napasnya tercekat.Nama asl

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 35 - Mulai Curiga

    Begitu pintu tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Rama masih terpaku duduk di tepi kursi kerjanya, pandangannya kosong menatap gagang pintu yang baru saja menghilangkan sosok Laura dari pandangannya. Kata-kata gadis itu masih bergema berulang kali di telinganya, terasa begitu nyata dan meyakinkan, namun sisi rasionalnya yang selama ini menjadi tameng utama dalam setiap keputusan besar tak begitu saja menyerah pada perasaan terharu atau kaget sesaat. Ia menggeleng pelan, mencoba merapikan pikirannya yang sempat berantakan, menarik napas panjang berusaha mengembalikan ketenangan dan ketajaman berpikir yang sempat hilang seketika."Tidak bisa semudah itu aku menerima semuanya," gumamnya pelan pada diri sendiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan irama yang teratur dan terukur, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat ser

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 34 - Butuh Waktu

    Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 33 - Hamil

    Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 32 - Ide Laura

    Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 31 - Bertemu Mantan

    Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status