เข้าสู่ระบบRama Hermawan tidak mengangkat kepalanya sedikit pun. Matanya tetap tertancap pada tumpukan dokumen di atas meja besar berwarna hitam mengkilap, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama lambat dan terukur, suara yang terdengar seperti hitungan mundur bagi siapa pun yang duduk di hadapannya. Udara di ruangan itu terasa dingin, seolah pendingin ruangan diatur lebih rendah dari biasanya, membuat kulit Laura merinding meski ia mengenakan blazer.
“Duduk!” ucapnya singkat, tanpa nada sapaan, tanpa menoleh. Suaranya berat, datar, dan tajam, seolah setiap kata yang keluar hanya berfungsi untuk memerintah, bukan berkomunikasi. Laura menarik kursi dengan hati-hati dan duduk dengan punggung lurus, menahan rasa gugup yang mulai merayap. Ia tetap mempertahankan senyum tipisnya, berusaha terlihat tenang dan percaya diri persis seperti yang diajarkan tim Indra. “Terima kasih, Tuan. Nama saya Larissa Mahendra, dan saya sangat menghargai kesempatan ini—” “Jangan bicara sebelum ditanya.” Kalimat itu memotong ucapannya secara kasar, tanpa jeda. Laura tertegun sejenak, senyumnya hampir luntur. Ia menelan ludah dan mengangguk pelan. “Baik, Tuan.” Baru setelah tiga puluh detik sunyi yang terasa berjam-jam, Rama akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung menembus ke dalam mata Laura—dingin, tajam, dan mengamati seolah sedang memeriksa barang dagangan yang mungkin cacat. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa ingin tahu yang ramah, hanya penilaian yang keras dan tanpa ampun. “Lihat berkas lamaranmu,” katanya sambil mendorong map itu sedikit ke depan. “Pengalaman tiga tahun sebagai asisten eksekutif di perusahaan multinasional, lulusan universitas ternama dengan nilai memuaskan, fasih tiga bahasa asing. Semuanya terlihat sangat bagus. Terlalu bagus, malah.” Jantung Laura berdegup kencang, tapi ia tetap menjaga ekspresinya tetap tenang. “Saya berusaha melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin, Tuan.” Rama mendengus pelan, bukan tanda persetujuan, melainkan tanda keraguan. “Banyak orang yang berusaha. Tapi hanya sedikit yang mampu bertahan. Di sini, usaha saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah ketepatan, kecepatan, dan tidak pernah membuat kesalahan sekecil apa pun. Apakah kau mengerti?” “Saya mengerti sepenuhnya, Tuan.” “Baik. Kalau begitu, buktikan!” Rama melambaikan tangannya ke arah tumpukan dokumen tebal di sisi meja. “Ada laporan keuangan dari lima cabang perusahaan yang dikirimkan pagi ini. Semuanya belum disortir, belum diringkas, dan belum dicatat poin-poin pentingnya. Aku butuh ringkasan satu halaman per laporan, disusun menurut prioritas, dan selesai dalam waktu dua puluh menit.” Laura terkejut. Dokumen itu setebal dua puluh lembar setiap bagiannya, penuh angka dan istilah keuangan yang rumit. Waktu yang diberikan hampir mustahil. Tapi ia tidak boleh terlihat ragu. “Siap, Tuan.” Ia segera mulai bekerja, jemarinya bergerak cepat membalik halaman, matanya melaju menangkap poin-poin utama sambil mencatat secepat mungkin. Sesekali ia melirik Rama, melihat pria itu kembali sibuk dengan urusannya sendiri, seolah tantangan yang dia berikan adalah hal paling biasa. Belum lima menit berlalu, Rama berbicara lagi tanpa menoleh. “Selama mengerjakan itu, jawab pertanyaanku. Jika kau menjawab salah atau ragu, anggap saja wawancara ini berakhir dan kau boleh keluar sekarang.” Laura menahan napas, tangannya tetap menulis. “Silakan, Tuan.” “Jam berapa aku biasanya berangkat ke kantor pada hari Senin, dan apa rute tercepat yang menghindari kemacetan di jam tersebut?” Ia tahu jawabannya. “Berangkat pukul 06.45 pagi, rute melalui jalan tol dalam kota lebih cepat daripada jalan arteri, rata-rata tiba dalam dua puluh menit.” “Kopi apa yang aku pesan, dan bagaimana cara penyajiannya agar tidak berubah rasa sampai di meja?” “Kopi hitam tanpa gula, suhunya harus tetap panas, disajikan dalam cangkir keramik tebal dan ditutup rapat sampai tiba, tidak boleh ada tetesan sedikit pun di piringnya.” Rama mengangkat alis sekilas, seolah terkejut tapi tidak menunjukkan puas. “Baik. Sekarang, sebutkan tiga keputusan bisnis terbesar yang aku ambil dalam dua tahun terakhir, dan apa dampaknya terhadap keuntungan perusahaan.” Laura menjawab dengan lancar sesuai apa yang sudah dihafalnya, suaranya tetap stabil meski detak jantungnya semakin cepat. Namun pertanyaan itu baru permulaan. Rama terus mengajukan pertanyaan yang semakin sulit, kadang memutarbalikkan fakta untuk menguji apakah ia benar-benar paham atau hanya menghafal. “Kalau ada rapat mendadak pada jam makan siang, dan aku harus bertemu klien dari luar negeri yang tiba lebih awal, apa yang akan kau lakukan? Urutkan langkahnya sekarang juga.” Laura menyusun jawabannya dengan terstruktur, tidak terburu-buru meski waktunya terus berjalan. Namun sebelum ia selesai, Rama menyela dengan nada tajam. “Terlalu lambat. Dalam pekerjaanku, satu menit yang terbuang bisa merugikan miliaran rupiah. Coba lagi, lebih singkat dan lebih tepat.” Laura mengatur ulang jawabannya, menekan setiap langkah secara ringkas dan jelas. Baru setelah itu Rama mengangguk samar, tapi tatapannya tetap dingin. Saat waktu hampir habis, Laura menyodorkan ringkasan yang sudah ia kerjakan dengan tangan sedikit gemetar. Rama mengambil kertas itu dan membacanya sekilas. Tidak ada ekspresi perubahan di wajahnya. Ia hanya meletakkan kertas itu kembali dan menatap Laura dengan pandangan yang membuatnya merasa telanjang. “Kau mengerjakannya dengan tergesa-gesa. Ada satu angka yang salah di bagian keuntungan cabang ketiga. Kecil, tapi salah tetaplah salah. Di sini, kesalahan sekecil apa pun tidak akan dimaafkan.” Darah Laura terasa mendidih menahan kesal, tapi dia menelannya kembali. Ia menunduk sedikit, berusaha tetap sopan. “Saya minta maaf, Tuan. Saya akan memeriksanya kembali dan memperbaikinya secepat mungkin.” “Meminta maaf tidak mengembalikan waktu yang terbuang. Dan ingat, aku tidak suka orang yang mengaku bisa melakukan sesuatu tapi kemudian mengecewakan. Apakah kau yakin sanggup menghadapi standar yang aku tetapkan? Setiap hari, tanpa istirahat, tanpa alasan.” 'Arrrgh! Orang ini sangat menyebalkan!' gerutu Laura dalam hati. Suara Rama semakin rendah dan menusuk. “Sebelumnya ada dua puluh tujuh pelamar yang datang. Mereka semua memiliki kualifikasi yang sama bagusnya, bahkan lebih berpengalaman. Tapi mereka gagal bukan karena tidak pintar, tapi karena mereka tidak tahan dengan ketegasan, ketepatan, dan tekanan yang aku berikan. Mereka mengira pekerjaan ini hanya soal mengatur jadwal dan mengambilkan kopi. Mereka salah besar.” Ia bersandar di kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada. “Jika kau menerima posisi ini, kau harus siap dipanggil kapan saja, malam hari, akhir pekan, hari libur. Tidak ada alasan sakit, tidak ada urusan pribadi yang lebih penting daripada pekerjaanku. Satu kali lalai, satu kali berbohong, atau satu kali tidak memenuhi apa yang aku harapkan, kau akan dipecat tanpa pesangon dan tanpa kesempatan kedua. Apakah kau masih ingin melanjutkan?” 'Sumpah! cerewet sekali!' Laura membatin lagi. Dia merasakan tekanan yang luar biasa. Di luar dugaannya, Rama bukan hanya dingin, tapi juga sangat kejam dalam menilai orang lain. Ia tidak memberikan ruang untuk kesalahan sedikit pun, dan perintahnya terasa seperti beban yang berat untuk dipikul setiap hari. Namun ia teringat kembali pada map tebal yang berisi seluruh masa lalunya, pada ancaman penjara yang menanti jika ia gagal. Ia tidak punya pilihan lain. Laura mengangkat wajahnya, menatap kembali mata dingin itu dengan keteguhan yang ia paksa keluar dari lubuk hatinya. Ia tidak lagi memakai senyum palsu, melainkan tatapan yang tegas dan siap menerima tantangan. “Saya mengerti semua syarat dan risikonya, Tuan. Saya sadar standar Tuan sangat tinggi, tapi saya juga tahu kemampuan saya. Saya tidak akan membuat alasan, saya tidak akan melalaikan tugas, dan saya berjanji akan melakukan segala sesuatunya dengan tepat sesuai apa yang Tuan harapkan. Jika saya gagal, saya akan pergi sendiri tanpa perlu diperintahkan.” Keheningan kembali menyelimuti ruangan selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Rama menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang membaca setiap pikiran yang tersembunyi di balik ekspresi Laura. Ia mencoba mencari celah, keraguan, atau kebohongan yang tersembunyi, sesuatu yang selama ini selalu berhasil dia temukan pada setiap pelamar sebelumnya. Namun kali ini, yang dirinya lihat hanyalah keteguhan yang sulit digoyahkan. Sebuah seringai terukir di bibir Rama. Seringai yang seketika membuat sekretarisnya langsung gugup. "Oke, sekarang aku ingin kau lepaskan pakaianmu!" perintah Rama. Sontak mata Laura membulat sempurna. Perintah macam apa itu? "A-apa?" tanya Laura terbata. Dia berharap salah dengar. "Aku tidak akan mengulangi perintahku dua kali! Bisa melakukannya atau tidak?" balas Rama galak.Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Rama. Setiap detiknya ia dipenuhi pertarungan antara harapan yang masih tersisa dan ketakutan yang kian membesar, seolah ada dua sisi yang saling menariknya ke arah berlawanan. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, pesan masuk yang tak pernah ia balas dari Laura hanya ia tatap sekilas sebelum kembali disimpan, tak sanggup menjawabnya namun tak sanggup pula menghapusnya.Hingga pada sore yang mendung itu, pesan yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa membaca isinya di layar ponsel, ia segera melajukan kendaraannya menuju markas rahasia tim penyelidiknya, sebuah ruangan tersembunyi di lantai paling atas gedung yang dimilikinya, tempat yang tak diketahui siapa pun kecuali dirinya dan pemimpin tim itu.Saat dokumen tebal itu diletakkan di hadapannya, jari-jarinya yang biasanya tak pernah gemetar saat memegang kontrak bernilai miliaran, kini terasa berat dan dingin. Ia membuka halaman pertama perlahan, dan detik itu juga napasnya tercekat.Nama asl
Begitu pintu tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Rama masih terpaku duduk di tepi kursi kerjanya, pandangannya kosong menatap gagang pintu yang baru saja menghilangkan sosok Laura dari pandangannya. Kata-kata gadis itu masih bergema berulang kali di telinganya, terasa begitu nyata dan meyakinkan, namun sisi rasionalnya yang selama ini menjadi tameng utama dalam setiap keputusan besar tak begitu saja menyerah pada perasaan terharu atau kaget sesaat. Ia menggeleng pelan, mencoba merapikan pikirannya yang sempat berantakan, menarik napas panjang berusaha mengembalikan ketenangan dan ketajaman berpikir yang sempat hilang seketika."Tidak bisa semudah itu aku menerima semuanya," gumamnya pelan pada diri sendiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan irama yang teratur dan terukur, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat ser
Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m
Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat
Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya
Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan







