Share

Bab 33 - Hamil

Author: Desau
last update publish date: 2026-07-24 09:07:14

Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.

Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 36 - Mengetahui

    Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Rama. Setiap detiknya ia dipenuhi pertarungan antara harapan yang masih tersisa dan ketakutan yang kian membesar, seolah ada dua sisi yang saling menariknya ke arah berlawanan. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, pesan masuk yang tak pernah ia balas dari Laura hanya ia tatap sekilas sebelum kembali disimpan, tak sanggup menjawabnya namun tak sanggup pula menghapusnya.Hingga pada sore yang mendung itu, pesan yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa membaca isinya di layar ponsel, ia segera melajukan kendaraannya menuju markas rahasia tim penyelidiknya, sebuah ruangan tersembunyi di lantai paling atas gedung yang dimilikinya, tempat yang tak diketahui siapa pun kecuali dirinya dan pemimpin tim itu.Saat dokumen tebal itu diletakkan di hadapannya, jari-jarinya yang biasanya tak pernah gemetar saat memegang kontrak bernilai miliaran, kini terasa berat dan dingin. Ia membuka halaman pertama perlahan, dan detik itu juga napasnya tercekat.Nama asl

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 35 - Mulai Curiga

    Begitu pintu tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Rama masih terpaku duduk di tepi kursi kerjanya, pandangannya kosong menatap gagang pintu yang baru saja menghilangkan sosok Laura dari pandangannya. Kata-kata gadis itu masih bergema berulang kali di telinganya, terasa begitu nyata dan meyakinkan, namun sisi rasionalnya yang selama ini menjadi tameng utama dalam setiap keputusan besar tak begitu saja menyerah pada perasaan terharu atau kaget sesaat. Ia menggeleng pelan, mencoba merapikan pikirannya yang sempat berantakan, menarik napas panjang berusaha mengembalikan ketenangan dan ketajaman berpikir yang sempat hilang seketika."Tidak bisa semudah itu aku menerima semuanya," gumamnya pelan pada diri sendiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan irama yang teratur dan terukur, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat ser

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 34 - Butuh Waktu

    Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 33 - Hamil

    Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 32 - Ide Laura

    Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 31 - Bertemu Mantan

    Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status