ANMELDENAdrian hanya ingin mengakhiri desakan ayahnya untuk segera menikah. Ketika diminta memilih seorang wanita, ia asal menunjuk seorang pembawa berita di layar televisi. Sarah. Ia pikir semuanya hanya candaan sesaat. Namun siapa sangka, satu tunjukan sembarangan justru membuat hidup mereka berubah. Cuma asal tunjuk, kok jadi nikah?
Mehr anzeigenSarah menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut panjangnya telah tertata rapi. Foundation menutupi seluruh permukaan kulit wajahnya, concealer menyamarkan bagian-bagian yang menurutnya tidak boleh terlihat, sementara riasan mata yang tegas membuat tatapannya terlihat semakin tajam. Ia menambahkan sedikit lipstik berwarna merah terang sebelum berdiri.
Setidaknya, itulah yang harus terlihat di depan kamera. Sarah meraih blazer yang tergantung di samping meja rias, lalu memakainya dengan hati-hati. Jam di dinding menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh pagi. "Sarah, lima menit lagi!" teriak seorang kru dari luar ruang rias. "Iya!" Sarah mengambil tasnya dan keluar. Begitu pintu ruang rias terbuka, beberapa kru yang sedang sibuk mempersiapkan siaran langsung menyapanya. "Pagi, Sarah." "Pagi." Sarah membalas dengan senyum tipis. Langkahnya tegap. Sepatu hak tingginya terdengar beradu dengan lantai studio. "Sarah, standby!" terdengar suara floor director memberi arahan. Sarah menarik napas, kemudian tersenyum. Lampu studio menyala. Kamera mengarah kepadanya, dan seketika perempuan yang beberapa detik lalu terlihat lelah itu berubah menjadi presenter profesional yang dikenal jutaan penonton. "Selamat pagi, pemirsa. Kembali bersama saya, Sarah Aurelia Prameswari, dalam kabar olahraga terkini." Suaranya terdengar jelas dan percaya diri. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut. Tidak ada Sarah yang pernah menangis sendirian di kamar mandi sekolah belasan tahun lalu. Yang ada hanyalah Sarah yang sempurna. Sarah yang selalu terlihat cantik. Sarah yang tidak pernah terlihat lemah. Dua jam kemudian, siaran berakhir. "Cut!" Lampu kamera dimatikan. Sarah mengembuskan napas panjang. "Bagus banget, Sarah," ujar salah satu produser. "Segmen tadi sudah aman." "Terima kasih." Sarah tersenyum Sarah bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah ruang tata rias. Belum lama melangkah, seorang kru menghampirinya. "Sarah." Sarah menoleh. "Mohon jangan langsung pulang setelah acara selesai karena ada seseorang yang ingin menemui Anda," ujar salah seorang kru. "Siapa?" "Informasi yang saya terima, beliau berasal dari pihak sponsor," jelas kru tersebut. Sarah sedikit bingung, kemudian bertanya kepada kru tersebut siapa nama orang yang akan menemuinya, tetapi kru tersebut tidak mengetahuinya; ia hanya berkata bahwa orang tersebut akan membicarakan peluang kerja sama yang bisa menaikkan karier Sarah. Karier, kata itu selalu berhasil membuatnya berhenti. Beberapa bulan terakhir, Sarah memang sedang mempertimbangkan tawaran untuk menjadi presenter utama sebuah program olahraga baru. Jika benar orang itu datang membawa informasi mengenai program tersebut, ia tidak ingin melewatkan kesempatan. Sarah baru selesai makan ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal: "Besok pukul tujuh malam. Saya ingin membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan karier Anda. Datanglah ke alamat yang saya kirimkan." Sarah membaca pesan itu dua kali, kemudian sebuah alamat dikirimkan: sebuah rumah di kawasan elite, bukan kantor. Sarah merasa sedikit aneh dan hampir mengabaikannya, namun beberapa detik kemudian, sebuah pesan lain masuk. Peluang strategis ini mungkin tidak akan tersedia untuk kedua kalinya. Sarah sempat menunjukkan keraguan sejenak. Mempertimbangkan aspek karier, peluang, dan masa depan, ia akhirnya memberikan konfirmasi kehadiran secara singkat. Sarah datang ke sebuah rumah tanpa rasa curiga sedikit pun. Ia hanya merasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan kepadanya. Seorang pria kemudian mempersilakannya masuk ke dalam sebuah ruang kerja. “Silakan tunggu di sini, Mbak.” “Terima kasih.” Sarah duduk di sofa seraya memeriksa ponselnya. Beberapa menit kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk ke dalam ruangan. Wajahnya tampak familier. Beliau adalah seorang pengusaha bernama Hadi yang cukup dikenal oleh masyarakat. Sarah pun segera berdiri. “Halo, Pak. Saya Sarah dari ME TV", ujarnya sambil mengulurkan tangan. Pria itu menyambut uluran tangannya dengan sebuah senyuman. Namun, senyuman tersebut membuat Sarah merasa kurang nyaman. Tatapan pria itu justru bergerak dari ujung kaki hingga ke wajah Sarah. Sarah pun perlahan menarik tangannya kembali. "Jadi, berapa harganya?" tanya pria itu dengan singkat. "Maksudnya, Pak?" Sarah mengernyitkan dahi. “Ya, main sama kamu.” Bibir pria bernama Hadi itu menyeringai. Sarah terdiam beberapa detik. Sekarang ia mulai memahami maksud kedatangannya. “Maksud Bapak apa? Saya datang karena mendapat undangan. Katanya, Bapak ingin memberikan informasi mengenai pekerjaan.” “Jangan munafiklah. Kamu cantik. Saya suka.” Hadi tiba-tiba menarik tangan Sarah. Sarah terkejut dan berusaha melepaskan tangannya. “Jangan kurang ajar, ya, Pak!” Sarah menarik tangannya dengan keras hingga terlepas. Namun, sebelum Hadi sempat mengatakan apa pun, pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.Kilas balik.Malam sebelum Adrian melamar Sarah. Adrian dan ayahnya duduk bersama di ruang keluarga dalam suasana yang cukup formal. Melihat sikap sang ayah, Adrian memahami bahwa terdapat topik penting yang perlu dibahas.Benar saja, pembicaraan tersebut berkaitan dengan Sarah."Ayah menginginkan kamu untuk menikahi Sarah."Adrian yang sedari tadi bersandar di sofa segera menatap ayahnya."Apa alasannya?" tanyanya dengan nada serius.Ayahnya terdiam sejenak sebelum memberikan tanggapan."Ayah yakin dia adalah wanita yang tepat untuk mendampingimu."Adrian mengerutkan dahi. "Bagaimana jika saya menolak?"Tatapan ayahnya berubah menjadi tegas."Jika demikian, jangan pernah lagi menganggap saya sebagai ayahmu."Adrian terdiam.Ia benar-benar terkejut mendengar jawaban itu. Selama ini, belum pernah ia melihat ayahnya seserius ini ketika membicarakan seorang wanita, apalagi soal pernikahan.Entah kenapa, Adrian sendiri pun bingung dengan perasaannya. Di satu sisi, ia sebenarnya tidak ingin
Sarah tengah duduk bersantai di sofa apartemennya ketika ponselnya bergetar. Ia kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, di mana terlihat sebuah nomor tidak dikenal muncul pada layar. Sarah mengangkatnya.“Turunlah. Aku di bawah apartemenmu. Ayo kita kencan.” Sarah langsung bangkit dari sofa. “Adrian?!” "Kamu ada di depan apartemenku?” Sarah berjalan mendekati jendela dan melihat ke bawah. Namun, ia tidak melihat Adrian di mana pun. “Jangan bercanda, deh,” katanya sedikit ketus. “Ya sudah, aku saja yang naik.” “Jangan!” Sarah spontan melarang. Ia menghela napas sebelum melanjutkan, “Enggak usah. Biar aku yang turun. Tunggu di sana.” Sarah langsung memutuskan panggilan. Ia berdiri sambil menatap ponselnya dengan kesal. Orang ini sebenarnya maunya apa, sih? Sarah mondar-mandir sebentar. Ia benar-benar tidak habis pikir kenapa Adrian bisa tiba-tiba muncul tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Namun, karena tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama, Sarah akhirnya
Sebuah video klarifikasi dari istri seorang pengusaha yang beberapa waktu lalu menuduhnya sebagai pelakor. Istri pengusaha itu meminta maaf secara khusus kepada Sarah atas tuduhan yang pernah dilontarkannya. Ia mengakui bahwa tuduhan tersebut tidak benar dan menegaskan bahwa Sarah bukan wanita simpanan suaminya. Semua itu terjadi karena sebuah kesalahpahaman. Namun, di sisi lain, ia merasa heran. Wanita yang sebelumnya terlihat begitu arogan dan tidak mau kalah itu kini justru membuat pernyataan permintaan maaf dengan kepala tertunduk, seolah benar-benar menyesali perbuatannya. Ia menggeleng pelan. Apa pun alasannya, Sarah tidak ingin terlalu memikirkannya. Baginya, yang terpenting adalah namanya sudah dibersihkan. Sarah pun tersenyum kecil.Berarti semuanya sudah selesai. Hal yang paling melegakan adalah ia tidak perlu menikah dengan putra Pak Adiraga tersebut.Ia menyambut pagi dengan secangkir kopi hangat sebelum duduk di depan meja kerjanya. Setelah beberapa hari dipenuhi masal
Sarah mengangkat kepalanya perlahan. Adrian sudah berdiri di depan meja. Sarah sempat terdiam. Ia sedikit terkejut melihat penampilan pria itu. Pria dengan long flow haircut yang sedikit terlihat berantakan dan entah kenapa, ia membayangkan Adrian akan datang dengan pakaian yang lebih pantas untuk makan malam di restoran semewah ini. Namun, yang berdiri di hadapannya justru pria mengenakan jaket denim berwarna biru gelap dengan potongan sederhana. Di baliknya hanya ada kaos polos berwarna putih yang terlihat dari bagian kerah. Celana bahan hitam dan sepatu kulit sederhana menjadi pelengkap penampilannya. Ia tidak mengatakan apa pun. Bagaimanapun, Adrian tetap terlihat rapi, hanya saja penampilannya jauh dari ekspektasi Sarah. “Maaf, aku terlambat,” ujar Adrian Sarah melirik jam tangannya. “Lima belas menit,” sahutnya singkat."Adrian tersenyum kecil. “Aku tahu.”Sarah menghela nafas pelan. “Kupikir kamu nggak jadi datang.” “Kenapa? Kamu sudah mau pulang?” tanya Adrian Sarah men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.