Share

Bab 6 - Banana Tuan

Penulis: Desau
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 08:10:50

Suara teriakan melengking Laura memecah keheningan malam itu, membuat Rama yang baru saja membasuh wajahnya tersentak kaget. Air yang masih menetes di rambutnya terciprat ke lantai, dan seketika dia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar tanpa peringatan. Pandangannya langsung bertemu dengan pandangan gadis itu yang terbelalak kaget, wajahnya seketika memerah padam hingga ke leher.

“Kau gila? Tidak mengetuk dulu?” bentak Rama, suaranya sedikit meninggi karena terkejut sekaligus kesal.

Namun Laura tidak sempat menjawab. Refleksnya langsung berbalik badan, menutup matanya rapat-rapat dengan kedua tangan sambil berusaha berlari keluar kamar mandi secepat mungkin. Dalam kepanikan itu, dia tidak melihat lantai yang basah terkena percikan air. Kakinya meluncur tergelincir, tubuhnya terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh keras ke lantai dengan bunyi buk! yang cukup nyaring.

“Auuhhh!” rintihnya, rasa perih menjalar dari bagian pinggul dan pergelangan kakinya yang terkilir mendadak.

Rama menghela napas panjang, menggelengkan kepala melihat tingkah gadis itu yang tampak kacau balau. Ia tidak menyangka akan menghadapi situasi yang begitu canggung di rumah orang lain, tapi baginya, itu bukan masalah besar. Ia segera meraih handuk tebal yang tergantung di gantungan, melilitkannya rapat di pinggang hingga menutupi bagian bawah tubuhnya, lalu melangkah keluar menghampiri Laura yang masih duduk terpegang di lantai.

“Jangan mendekat! Tetap di situ saja!” seru Laura panik, masih menutup matanya erat meski sudah terjatuh. Suaranya bergetar karena campuran rasa malu, sakit, dan kaget.

Rama berhenti sebentar, lalu menatapnya dengan tatapan datar namun sedikit mengandung rasa kesal. “Kenapa kau berteriak seolah baru melihat hantu? Aku hanya mandi, bukan melakukan kejahatan!"

“Ta-tapi ini rumahku! Kenapa Tuan seenaknya saja mandi di sini tanpa izin?!” bantah Laura, meski suaranya masih terdengar goyah. Rasa malunya semakin membara membayangkan pemandangan yang baru saja ia lihat, tubuh tegap dan berotot yang terbentuk sempurna, kulitnya yang putih bersih namun terlihat keras karena kebiasaan berolahraga, serta tetesan air yang mengalir turun dari leher hingga ke bagian dada yang bidang. Pemandangan itu terpatri di pikirannya, membuat jantungnya berdegup kencang tidak karuan.

“Aku merasa gerah dan panas menunggu terlalu lama, tidak ada salahnya sekadar membersihkan diri. Lagipula, jika kau pulang lebih cepat, kejadian ini tidak akan terjadi,” jawab Rama santai, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Ia lalu berjongkok sedikit dan menatap kaki Laura yang terlipat dengan posisi yang tidak wajar. “Coba berdirilah. Apakah bisa berjalan?”

Laura mencoba membuka matanya perlahan, tapi saat pandangannya jatuh ke arah dada Rama yang masih telanjang, ia langsung memalingkan wajah lagi dengan wajah semakin memerah. “Aku bisa sendiri... tidak perlu bantuan Tuan.”

Ia mencoba menumpukan berat badannya pada kaki kanan, namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai, rasa nyeri yang tajam langsung menyengat hingga ke betis. Ia meringis kesakitan dan hampir terjatuh lagi jika saja tangan Rama tidak sigap menahan bahunya.

“Jangan keras kepala!” ujar Rama singkat. Tanpa menunggu persetujuan lagi, dia melingkarkan satu tangan di bawah lutut Laura dan tangan lainnya menopang punggungnya, lalu mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah seolah mengangkat barang ringan.

Laura terkejut dan tanpa sadar melingkarkan kedua tangannya di leher Rama untuk menjaga keseimbangan. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak. Ia bisa merasakan suhu tubuh pria itu yang hangat dan kulitnya yang halus namun terasa padat di bawah sentuhan tangannya. Aroma sabun mandi yang bercampur dengan wangi parfum khasnya kini tercium sangat dekat, membuat kepala Laura terasa sedikit pusing dan pikirannya menjadi kacau.

Rama berjalan tenang menuju ruang tamu, lalu mendudukkan Laura dengan hati-hati di atas sofa. Ia masih tetap berdiri di hadapannya, dada yang masih terbuka itu naik turun mengikuti irama napasnya yang stabil, membuat Laura sulit untuk mengalihkan pandangan meski ia berusaha keras melakukannya.

“Kaki kananmu terkilir, terlihat bengkak sedikit,” ujar Rama sambil menunjuk ke arah pergelangan kaki Laura yang mulai memerah dan membengkak. “Di mana kotak P3K? Harus segera dikompres dan dibalut agar tidak makin parah besok.”

Laura berusaha menenangkan napasnya yang tersengal, lalu menunjuk ke arah lemari kecil di sudut ruangan. “Di... di dalam lemari itu, laci paling atas.”

Rama segera berjalan ke sana dan mengambil kotak obat berwarna putih dengan tanda palang merah. Ia membukanya, mengeluarkan perban elastis, kasa, minyak gosok, dan kantong es yang baru saja ia temukan di dalam lemari pendingin. Ia kembali duduk di sisi sofa, lalu tanpa banyak bicara, dirinya memegang pergelangan kaki Laura dengan lembut namun tetap tegas.

“Tu-tuan! Saya bisa melakukannya sendiri!” protes Laura, mencoba menarik kakinya kembali, tapi tangan Rama menahannya dengan kekuatan yang tidak bisa dilawannya.

“Diam saja. Jika kau memijatnya sembarangan, bisa makin parah dan kau tidak bisa berjalan besok pagi. Ingat, aku butuh asisten yang bisa bergerak cepat, bukan yang lumpuh di tengah jalan,” ujar Rama dingin, tidak memberi ruang untuk bantahan.

Laura hanya bisa diam dan menahan napas. Rasanya sangat canggung, kakinya dipegang oleh bosnya sendiri, pria yang paling ditakutinya dan paling harus dijauhi rahasianya, dalam keadaan yang sangat pribadi seperti ini. Ia menunduk dalam, berusaha menatap lantai agar tidak melihat tubuh Rama, tapi pandangannya tetap tidak sengaja melirik ke arah dada dan lengan pria itu yang terlihat berotot dan kuat. Setiap kali jari-jari Rama menyentuh kulit kakinya, rasa hangat menjalar naik hingga ke tulang punggungnya, membuat jantungnya berdebar semakin kencang.

Rama menempelkan kantong es yang dibalut kain tipis di bagian yang bengkak selama beberapa menit untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan. Jemarinya bergerak terampil, seolah sudah terbiasa melakukan hal ini. Setelah itu, dia menuangkan sedikit minyak gosok ke telapak tangannya, menggosoknya hingga hangat, lalu memijat perlahan bagian pergelangan kaki dan betis Laura.

“Ah...!” Laura sedikit terpekik saat merasakan tekanan itu, tapi bukan karena sakit semata, melainkan karena sensasi sentuhan yang membuat seluruh tubuhnya terasa aneh.

“Tahan sebentar. Ini harus dilakukan agar aliran darah lancar,” kata Rama datar, matanya terfokus sepenuhnya pada pekerjaannya, tidak ada ekspresi lain selain konsentrasi.

Selama beberapa menit, ruangan itu hanya diisi oleh suara napas keduanya yang teratur namun terasa tegang. Laura merasa dirinya seperti duduk di atas bara api, antara rasa malu, bingung, dan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ia mengira Rama adalah orang yang kejam, dingin, dan tidak punya rasa perhatian sedikit pun, namun tindakannya saat ini justru menunjukkan hal yang berbeda, meski caranya tetap terasa kaku dan tanpa emosi.

Setelah selesai memijat, Rama membungkus pergelangan kaki itu dengan perban elastis dengan rapi namun tidak terlalu ketat. Ia menekan sedikit untuk memastikan ikatannya kuat, lalu meletakkan kembali sisa obat ke dalam kotak P3K.

“Sudah selesai. Besok pagi periksa lagi kondisinya. Jika masih sakit, gunakan obat ini lagi,” katanya sambil menutup kotak itu dan meletakkannya di meja dekat sofa.

Saat Rama berdiri, tanpa diduga handuk yang melilit dipinggulnya lepas sendiri. Kemungkinan karena jeratnya sudah melonggar. Sontak aset pribadi Rama terpampang nyata di hadapan Laura.

"AAAAA! Banana, Tuan!" pekik Laura yang segera menutup rapat-rapat matanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 36 - Mengetahui

    Tiga hari terasa seperti tiga tahun bagi Rama. Setiap detiknya ia dipenuhi pertarungan antara harapan yang masih tersisa dan ketakutan yang kian membesar, seolah ada dua sisi yang saling menariknya ke arah berlawanan. Ponselnya tak pernah lepas dari genggaman, pesan masuk yang tak pernah ia balas dari Laura hanya ia tatap sekilas sebelum kembali disimpan, tak sanggup menjawabnya namun tak sanggup pula menghapusnya.Hingga pada sore yang mendung itu, pesan yang ia tunggu akhirnya tiba. Tanpa membaca isinya di layar ponsel, ia segera melajukan kendaraannya menuju markas rahasia tim penyelidiknya, sebuah ruangan tersembunyi di lantai paling atas gedung yang dimilikinya, tempat yang tak diketahui siapa pun kecuali dirinya dan pemimpin tim itu.Saat dokumen tebal itu diletakkan di hadapannya, jari-jarinya yang biasanya tak pernah gemetar saat memegang kontrak bernilai miliaran, kini terasa berat dan dingin. Ia membuka halaman pertama perlahan, dan detik itu juga napasnya tercekat.Nama asl

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 35 - Mulai Curiga

    Begitu pintu tertutup rapat, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, namun kini terasa jauh lebih berat dan menyesakkan. Rama masih terpaku duduk di tepi kursi kerjanya, pandangannya kosong menatap gagang pintu yang baru saja menghilangkan sosok Laura dari pandangannya. Kata-kata gadis itu masih bergema berulang kali di telinganya, terasa begitu nyata dan meyakinkan, namun sisi rasionalnya yang selama ini menjadi tameng utama dalam setiap keputusan besar tak begitu saja menyerah pada perasaan terharu atau kaget sesaat. Ia menggeleng pelan, mencoba merapikan pikirannya yang sempat berantakan, menarik napas panjang berusaha mengembalikan ketenangan dan ketajaman berpikir yang sempat hilang seketika."Tidak bisa semudah itu aku menerima semuanya," gumamnya pelan pada diri sendiri, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan irama yang teratur dan terukur, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sangat ser

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 34 - Butuh Waktu

    Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 33 - Hamil

    Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 32 - Ide Laura

    Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya

  • Gadis Penipu & CEO Dingin   Bab 31 - Bertemu Mantan

    Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status