MasukKata-kata itu menggantung di udara, berat dan mencekam, seolah waktu sendiri ikut berhenti berputar di ruangan luas itu. Rama masih terpaku di tempatnya, menatap Laura dengan pandangan yang bercampur aduk, keterkejutan yang mendalam, keraguan yang masih menyisakan ruang, dan sejenis kebingungan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia berulang kali menelan ludah, mencoba mencerna setiap suku kata yang baru saja meluncur dari bibir gadis itu, namun rasanya pikirannya seakan berputar tanpa arah, bingung membedakan antara mimpi dan kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba."Kau... yakin sepenuhnya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar rendah, bergetar, dan penuh keraguan. Matanya meneliti wajah Laura lekat-lekat, berusaha mencari sedikit pun tanda kebohongan, keraguan, atau kepura-puraan di balik tatapan itu. "Ini bukan hal sepele yang bisa diucapkan sembarangan, Laura. Kau paham betul betapa besar dampaknya, bukan? Ini menyangkut masa depan kita berdua, bahkan nyawa lain yang m
Keesokan paginya, Laura tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, wajahnya dicukupi riasan tipis yang sengaja dibuat sedikit lebih pucat dari biasanya, seolah ia benar-benar sedang menahan rasa sakit dan mual. Langkah kakinya pelan dan hati-hati, tangannya sesekali tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya pelan, gerakan kecil yang sengaja ia latih semalam, seolah ada sesuatu yang sedang ia jaga di dalam sana.Begitu melangkah masuk ke ruangan kerja Rama, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat sosok pria itu yang sudah berdiri menunggu di dekat jendela besar. Rama langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki, dan seketika tatapannya terpaku pada wajah Laura. Sejak gadis itu masuk ke dalam ruangan, detak jantungnya kembali liar berpacu, persis seperti yang selalu terjadi setiap kali ia melihatnya. Pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, tak tahu harus berkat
Sejak kepergian Laura tadi pagi, penthouse luas yang biasanya terasa nyaman dan tenang kini berubah menjadi tempat yang sepi dan gelap, seolah cahaya ikut pergi bersama gadis itu. Rama berjalan mondar-mandir di ruang tengah tanpa tujuan yang jelas, langkah kakinya terdengar berat di atas karpet tebal. Matanya tak sengaja berkali-kali melirik ke arah pintu depan yang sudah tertutup rapat, seolah berharap sosok yang baru saja ia usir itu akan kembali melangkah masuk kapan saja.Pikirannya tak henti-henti melayang kembali pada momen pagi tadi, saat mereka terbangun dalam pelukan erat, napas yang saling beradu hangat di dada, dan rona merah di pipi Laura yang tampak begitu cantik di bawah cahaya matahari pagi yang menembus tirai jendela. Setiap kali bayangan wajah gadis itu melintas di benaknya, jantungnya kembali berdebar kencang, berpacu liar tanpa alasan yang masuk akal, membuatnya menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi."Apa yang sebenarnya salah denganku?" gumamnya pelan, suaranya
Laura mengangguk pelan, masih merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar di udara di antara mereka. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera merapikan diri dan berangkat."Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa, menyembunyikan rasa canggung yang sama persis dengan yang dirasakan Rama. Jantungnya pun masih berdebar tak menentu, namun di balik itu terselip rasa lega yang luar biasa. Mendengar perintah Rama untuk pulang justru membuatnya merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia butuh waktu sendirian, butuh menjauh sejenak dari sosok pria itu sebelum perasaannya semakin terjerat terlalu dalam hingga tak bisa lagi ia kendalikan.Dengan langkah cepat namun tenang, Laura merapikan pakaiannya yang sedikit berkerut, mengambil tas dan sepatunya, lalu melangkah keluar dari penthouse mewah itu. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan baru saat itulah ia menghela napas panjang, membiarkan udara segar lorong gedung mengisi kembali dadanya.Perjalanan
Waktu seolah berjalan jauh lebih lambat dari biasanya di dalam kegelapan yang hanya diterangi sebatang lilin itu. Detik demi detik berlalu, namun lampu tetap mati. Suara hujan di luar perlahan mereda, berganti dengan rintik halus yang sesekali terdengar beradu dengan kaca jendela, namun suasana dingin dan hening tetap menyelimuti ruangan.Laura menahan kantuknya sebisa mungkin, matanya berkali-kali terpejam sebentar sebelum kembali dibukanya paksa. Kepalanya terasa semakin berat, dan ia hampir tak sanggup lagi menahan matanya yang perlahan terpejam rapat. Namun setiap kali kepalanya terangguk pelan, genggaman tangan Rama yang semakin erat langsung membangunkannya kembali."Jangan tidur..." bisik Rama pelan, suaranya terdengar masih tegang. Matanya terus menatap ke sekeliling ruangan, seolah bayangan gelap di sudut-sudut ruangan itu akan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan jika ia lengah sedetik saja. "Tetaplah bangun. Aku... aku takut kalau kau tidur, kau akan hilang."Laura terse
Keheningan yang memeluk mereka begitu rapat membuat detak jantung terdengar nyaring di telinga masing-masing. Di balik ketenangannya yang tadi sempat ia pamerkan, sebenarnya Rama sedang berjuang keras menahan rasa takut yang tiba-tiba melanda seluruh tubuhnya. Ia menelan ludah berulang kali, tangannya yang tadi menepuk bahu Laura kini mencengkeram sandaran sofa dengan erat hingga buku jarinya memutih. Tak ada yang tahu, bahkan ibunya sendiri pun lupa, bahwa sejak kecil Rama memiliki ketakutan yang sangat dalam terhadap kegelapan, ketakutan yang ia sembunyikan rapat di balik topeng keangkuhan dan kekuatan, menganggap hal itu kelemahan yang tak boleh diketahui siapa pun. Kegelapan baginya bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan ingatan kelam tentang kesepian yang pernah ia rasakan saat masih kecil, dikurung sendirian di kamar gelap sebagai hukuman.Suara hujan yang memukul kaca semakin keras, seolah ingin merobek keheningan malam itu. Laura berusaha bergerak pelan, tangannya meraba p







