MasukSejak mengalami kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya, Dea menjadi tanggung jawab sahabat ayahnya, seorang pengusaha besar bernama Baskara. Kemewahan, tempat tinggal, pengasuh, hingga uang saku mengalir tanpa henti, Dea memiliki segalanya, kecuali kehadiran pria yang menjadi walinya itu yang sibuk dengan bisnisnya di luar negeri. Seumur hidupnya, Dea tak pernah sekali pun tatap muka dengannya. Saat Dea akhirnya bertemu dengan Baskara, pria itu ternyata adalah pria yang belum lama ini Dea kagumi! Baskara yang dingin dan bersorot mata tajam itu bukan sekadar pria yang membiayai hidupnya, tapi juga pria yang membuat jantung Dea berdebar sejak kepulangannya. Saat tatapan dingin Baskara mulai melunak, akankah Dea melangkah maju menerjang garis batas?
Lihat lebih banyakLakamaut mobil hitam di jalan tol merenggut seluruh penumpang. Bagian bumper depan remuk tak tersisa, ini menewaskan dua orang dewasa serta satu anak perempuan yang kritis.
“Masih ada yang selamat! Ada satu pria, satu wanita paruh baya, dan anak kecil. Bawa mereka segera ke rumah sakit!” teriak petugas ketika memastikan kejadian perkara. Seseorang yang dipenuhi luka memar dan langkah terseok-seok menggendong tubuh anak kecil itu masuk ke ambulan. “Bertahanlah…!” Pria itu duduk di kursi belakang, sedangkan gadis kecil bernama Dea Edonugroho berusia dua tahun terbaring lemah terpasang oksigen, membantu napas anak kecil yang semakin menipis. “Pak, kami bantu bersihkan luka di tanganmu, mohon lipat separuh kain lengannya.” Pria itu tak peduli dengan tubuhnya penuh luka lebam, bagian benturan kepala membiru dan kulit terkelupas parah. Sedangkan tubuh anak kecil itu tak sadarkan diri dan dipenuhi luka bekas kaca dan benturan bodi mobil yang penyok. Suara sirine sepanjang jalan membawa mereka ke sebuah rumah sakit terdekat. Para petugas medis sangat tanggap dan berupaya melakukan segala tindakan agar nyawanya selamat. Mata gadis kecil itu menatap para nakes membantunya untuk tetap hidup. Di antara mereka, ia menangkap samar wajah pria yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Mulutnya pucat dan seolah ingin berkata-kata, tetapi tertahan karena ruang napas semakin menyipit. Tiiittt… Brak! Suara benda keras menyadarkan Dea dan perlahan membuka matanya pelan-pelan. Tubuhnya mematung ketika tumpukan buku yang semula ada di meja kelasnya sudah jatuh di lantai. Seluruh teman-teman kelas menahan tawa. Saat tangannya mengambil satu per satu buku di lantai, tangan Dea berhenti meraih, karena tapak sepatu hak tinggi berwarna merah yang tampak memamerkan betis sedikit gemuk berada di depannya. Dea mendongak sambil nyengir kuda. “Eh, Ibu,” ucap Dea sambil garuk-garuk kepala tak gatal. “Dea, silakan kamu keluar dari jam mata kuliah saya!” Ibu Dosen sambil mendelikkan mata pun menunjuk pintu keluar. Dea menghela napas panjang. Ia meletakkan buku-bukunya di atas meja. Ini konsekuensinya tertidur di jam kuliah, ia pun tak protes. Teman-temannya cekikikan saat mengiringi langkahnya keluar dari kelas. Dea mengambil sesuatu di saku celananya. Ia mengambil headset dan menyalakan musik untuk menghibur sejenak kejenuhan karena sudah diusir dari ruang kelas. Dea memasang headset sambil memandang jendela ruang kelas. Saat mengingat mimpi tadi, ia merasa sedikit takut. Ia tak tahu mengapa mimpi buruk itu berulang. Terakhir kali saat konsultasi, psikolog mendiagnosisnya mengidap trauma dan kecemasan akut. Naasnya, trauma dan kecemasan akut itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Selesai berdiri di sepanjang mata kuliah, Dea disuruh mengikuti dosennya ke kantor, tentu saja untuk memberinya teguran. Dea duduk di kursi dan siap mendengar ceramah Bu Susanti yang baru kelar mengajar di kelas. Ia menatap dosennya sesekali, dosen itu fokus menatap layar monitor. “Kamu mau nilaimu D dan mengulang di semester berikutnya, Dea Edonugroho? Sesuai namamu, ‘D’ atau ‘E’? Mau nilai yang mana?” Bu Susanti menatap Dea dengan tajam di balik kacamatanya yang tebal. Dea menggeleng cepat. “Nggak, Bu. Walaupun aku ketiduran, aku tahu kok apa saja yang Ibu jelaskan.” Bu Susanti mengerutkan dahinya makin dalam, suaranya menggema ke seisi ruangan. “Saya tahu kamu mahasiswa jenius di kampus ini. Bahkan semua dosen mengakui kecerdasanmu yang sering ketiduran di kelas tapi nilaimu selalu bagus. Tapi ini bukan cuma soal nilai, Dea! Ini attitude, paham?” “Iya, Bu. Maafkan aku, tapi ini bukan kemauanku, Bu…” Dea menelan ludah sejenak, ragu-ragu mulai bercerita. “Ibu, sebagai Pembimbing Akademik, aku harap Ibu paham. Sebenarnya ada alasannya kenapa aku sering ketiduran. Aku cerita bukan untuk cari simpati atau pembelaan, aku ingin Ibu tahu jika aku punya penyakit ini, Bu.” “Penyakit?” Bu Susanti menegaskan sekali lagi, menatap Dea penuh selidik. “Kamu sakit apa, Dea? Apa umurmu tinggal beberapa minggu lagi? Atau beberapa bulan?” Dea diam sejenak, agak ragu menceritakan kondisi mentalnya ini. “Aku mengidap trauma jiwa, Bu. Aku didiagnosis PTSD saat kehilangan kedua orang tuaku di usia dua tahun. Kadang-kadang, di malam hari aku nggak bisa tidur karena mimpi buruk, makanya aku baru bisa tertidur pas pagi hari.” Bu Susanti terdiam cukup lama. Ia menatap Dea lekat-lekat. Ia tahu Dea berkata jujur, apalagi saat mahasiswa itu meletakkan surat keterangan medis di atas mejanya. “Dea… maafkan saya. Saya baru tahu kisah hidupmu semenyedihkan ini. Pasti berat banget tumbuh tanpa orang tua. Terus, selama ini yang jadi wali asuhmu siapa? Saya kira dia ayahmu.” Dea diam sejenak. Pria yang dimaksud oleh Bu Susanti adalah Baskara, sahabat ayahnya, yang bertanggung jawab atas hak asuh Dea sejak kedua orang tuanya meninggal di kecelakaan itu. Karena kabarnya kedekatan sahabat ayahnya itu sudah seperti saudara, Dea memanggil pria itu sebagai Om-nya. “Itu … paman, Bu.” “Oh, pamanmu, ya. Waktu mendaftarkan kamu kuliah dulu, walimu itu kelihatan masih muda dan tampan. Bolehlah dikenalkan ke saya.” Bu Susanti terkekeh pelan. Dea mengernyitkan dahi. Ia pikir dosennya akan merasa iba, tapi ternyata malah makin genit dan ingin berkenalan dengan pamannya. “Begini, Bu. Aku punya satu rahasia lagi,” bisik Dea. Mata Bu Susanti membelalak. “Apa? Cerita ke saya, apa pamanmu itu masih single?” “Masalahnya, aku sendiri belum pernah ketemu sama paman aku semenjak kejadian kecelakaan itu.” Bu Susanti melongo lalu menggeleng heran. “Aduh… gimana kamu ini? Asal kamu tahu ya, Dea, pamanmu itu ganteng banget! Wajahnya seperti ada blasterannya. Beda sama kamu yang mukanya lokal, dia malah mirip pemain naturalisasi Timnas! Kamu mau nilai A? Syaratnya kenalkan saya ke dia.” Bu Susanti tersenyum manis sambil menaik-turunkan alis. Dea menghela napas. Ia pikir dosennya bakal serius, ternyata sama saja gilanya. Bedanya, ia gila karena trauma, sedangkan dosennya ini mendadak gila karena pria. Jelas ini aneh, sebab Dea sendiri tidak pernah bertemu pamannya selama puluhan tahun hidup. Selesai ditegur dan menjelaskan kondisinya, Dea akhirnya bisa pulang. Sudah siang, jam kuliah hari ini cuma dua mata kuliah saja. Anehnya, ia hanya tertidur saat pagi. Kalau siang matanya aman terkendali dan emosinya sedikit stabil. Di depan gerbang kampus, Dea menunggu taksi online datang. Seharusnya Pak Sule, sopir pribadinya itu, menjemputnya tepat waktu. Tapi tidak kali ini, Pak Sule mendadak pulang kampung karena istrinya melahirkan. Ia pun terpaksa memesan ojek online. “Dea, ikut aku, mau?” Vino, temannya yang suka padanya dan terang-terangan mengejarnya itu, mendadak muncul di samping jalan dengan senyum sumringah. Dea memaksakan diri untuk tersenyum canggung. “Nggak dulu, Vin. Makasih banyak, ya!” “Kenapa sungkan? Ayo, ikut aku saja. Aku bawa mobil!” jawab Vino lagi. Tring! “Ah, ini taksi aku sudah datang di depan sana. Aku duluan ya, Vin!” Beruntung sekali, driver taksi online terhubung. Setelahnya, Dea pun berjalan ke jalanan utama yang tak jauh dari gerbang depan kampus. Dea jalan tanpa melirik kiri dan kanan, matanya fokus mencari nomor kendaraan dan mencocokkannya di ponsel. Tiiiiiinn! Klakson mobil terdengar keras. Dea mematung, di kepalanya terputar ingatan kecelakaan belasan tahun lalu. Mendadak matanya terasa berkabut dan lututnya lemas sehingga tak sempat berlari, malah jatuh ke aspal. Untungnya mobil sedan itu berhenti lebih dulu. Dea merasakan dadanya sesak dan penuh, ia kesulitan mengatur napasnya, keringat di pelipisnya mendadak sebesar biji jagung. “Maaf! Kamu tidak apa-apa? Saya bawa kamu ke rumah sakit sekarang!” Pengemudi mobil itu turun untuk membantu Dea yang terduduk di tengah aspal, hendak membantunya bangun. Dea reflek mendorong pria itu. Ia tak ingin bahunya disentuh sama siapa pun. Kepalanya terasa pusing sekali. “Jangan mendekat! Jangan! Jangan!” “Tenanglah, kamu hampir saja saya tabrak. Kaki kamu kelihatan luka, tapi tidak parah. Saya akan bertanggung jawab membawamu ke rumah sakit.” “Tidak mau!” Dea menggeleng kuat sambil memegangi kepala, rasa panik parah di tubuhnya menggerogoti dirinya. “Maaf saya sedikit lancang, saya akan membawamu cepat ke rumah sakit. Selepas ini kamu boleh membenci saya, tapi keselamatan paling utama.” Pria itu tanpa permisi langsung mengangkat Dea dan masuk ke dalam mobil sedan. Pria itu pasti tidak mau dikenali sebagai orang tabrak lari. Makanya tanpa pikir panjang langsung membawa dirinya. Mobil sedan melaju cepat di jalan. Dea semakin kehilangan pasokan oksigen karena cemas berada di mobil orang asing. Pikirannya sudah ke mana-mana, takut diculik atau dijual. Sial. Dirinya gagal fokus ketika menoleh ke samping pria itu dengan gemetar.Baskara menatap serius kedua anak muda yang tampak canggung melihat kehadirannya. Dea menggaruk kepalanya tak gatal dan melepaskan sabuk pengaman.“Vin, aku langsung masuk, ya.”Vino mengangguk cepat dan tampak raut wajah penuh kecewa. “Oke, chat aku kalau ada apa-apa, Rapunzel.”Dea mengatur napasnya kala keluar dari mobil itu. Ia melirik pamannya yang tak ada kata-kata sepatah pun, tetapi tatapan pria dingin dan mengintimidasi jauh lebih menyeramkan.Kali ini bukan sekuriti ataupun sopir yang membukakan gerbang. Baskara sendiri. Ini yang membuat dada Dea terasa kembang kempis, apalagi baru pagi tadi pria itu menekankan jangan dekat-dekat dengan Vino.“Maaf, aku pulang kesorean, Om. Pak Sobri tadi chat kalau mobil ban mendadak kempes di jalan, jadi Vino yang mengantarku pulang.”Baskara diam saja. Di balik diamnya pria ini, Dea waspada kalau amarah pamannya akan meledak. Ia sudah wanti-wanti dan mengatur telinganya mendengarkan si mulut lantam bicara.Baskara mendorong gerbang rumah
“Ah, iya! Bos sekarang memang tampan maksimal, tapi galak banget, duh! Aku takut banget buat janji dengannya!”Tiba-tiba di sela para karyawan yang merumpi muncul wanita berpakaian glamor berwarna senada merah jambu dan kacamata hitam tebal berhenti di antara kubikel.“Kamu siapa, ya?” tanya wanita bername tag Stevani menghentikan langkah wanita itu.“Oh, iya… aku belum sempat mengenalkan diriku. Namaku Chika, calon istrinya Baskara.” Chika melepaskan kacamatanya dan disimpan dalam tas bermerk.“Ma-maaf Bu Chika, untuk bertemu Pak Baskara harus buat janji dulu,” ucap Stevani agak hati-hati.“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan ‘Ibu’? Bahkan perawatan kulit pun masih mahalan aku, lho. Oh, namamu Stevani, ya? Aku laporkan ke calon suamiku untuk memecat karyawan rendahan sepertimu!”Kericuhan pun terjadi. Para karyawan berdatangan dan mencoba melerai. Kebisingan ini sampai di telinga Baskara. Pria itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke sumber suara.Derap langkah gagah dan be
Dea duduk bersebelahan sama Baskara. Pria dingin dan terkesan tak mempunyai perasaan fokus menatap layar laptop dipangku.Drrrttt…Dea meraba ponselnya. Ah, ia baru ingat kalau nada dering mereka sama.“Om, ponsel bunyi, tuh!” Baskara sama sekali tak mengindahkan Dea. Pria itu mengernyitkan dahi dan tangan kekar mengetik cepat. “Om…”Pria maskulin berahang tegas menoleh ke arahnya. Sedikit menggertakkan rahang. “Diam, Dea. Saya sedang ada meeting.”Dea menghela napas panjang. Ia pun mengambil headset di saku celananya. Mencoba memejamkan mata, entah mengapa setiap berkendara ia selalu ingin tidur dan berharap cepat sampai.Baru saja memejamkan mata.“Ahhh..!!!” Dea berteriak kencang, dadanya kembang kempis, matanya melirik ke kiri dan kanan.Sopir pribadi Baskara mengerem mendadak. “Maaf, Mbak Dea dan Tuan Baskara. Tadi ada lubang.”Dea meraup wajahnya. Mendadak keringat dingin mengucur pelipisnya. “Dea, bersandar saja di bahu saya.”Sedangkan Baskara langsung menutup layar cukup
Dea membuka matanya lebar-lebar. Badannya masih lemas. Dahi dikompres air hangat.Langit kamar sudah terang, Bi Inem ada di dekatnya sambil mengganti kompres di dahinya.“Bi Inem, sekarang jam berapa?”“Sudah jam delapan pagi.”“Lho, aku telat dong ke kampus.”“Hari ini Mbak Dea izin ndak masuk ke kampus. Tuan Baskara sudah menelpon dosen dan katanya hari ini cuma ada kuliah umum, itu pesan Tuan.”Dea merasakan tubuhnya masih sangat panas. Ia demam semalaman. Namun, ia tak mengingat apa pun kecuali Baskara mengantarnya ke kamar tidur saat di kamar mandi. Selebihnya, ia tak sadarkan diri.“Makan bubur dulu, Mbak, Bi Inem bantu duduk.” Inem perlahan membenarkan tubuh Dea bersandar di dipan kasur, lalu menyuapinya dengan penuh kasih sayang.“Makasih Bi Inem sudah mau merawatku,” ucap Dea tersenyum hangat sambil memperhatikan wanita itu lamat-lamat.“Mbak Dea itu sudah Bi Inem anggap sebagai anak sendiri. Jangan merasa sungkan kayak gitu.”Dea mengangguk. “Om Baskara mana, Bi?”“Sudah ber
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan