Share

79.

Author: Alvarezmom
last update Last Updated: 2026-01-10 16:48:22

Malam mengendap pelan, menyisakan kehangatan yang tidak ingin cepat-cepat padam. Raina tiba di rumah, menaruh tas di kursi, lalu berdiri sejenak di depan jendela. Kota di bawahnya berdenyut tenang—lampu-lampu bukan lagi tantangan, melainkan irama. Ia menarik napas panjang, merasakan dada yang lapang, dan menyadari betapa jarangnya ia berhenti seperti ini di masa lalu.

Ia menyalakan radio kecil di dapur, membiarkan musik instrumental mengalun samar. Sambil menyiapkan makan malam sederhana, Raina memikirkan satu keputusan kecil yang ia ambil pagi tadi: mengembalikan satu berkas untuk diperbaiki, alih-alih memaksanya lolos demi tenggat. Tidak ada yang dramatis. Namun di sanalah ia merasakan konsistensi—nilai yang dijaga bukan hanya ketika diuji, melainkan juga ketika sunyi.

Pagi berikutnya, hujan tipis menyapa. Raina tiba di kantor dengan mantel basah, menyapa satpam dengan anggukan hangat. Di papan pengumuman, ada catatan kecil: Jadwal Klinik Etika—Kamis. Ia tersenyum. Program itu awaln
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Tanpa Ingatan   84.

    Pagi itu benar-benar datang, seperti yang ia tuliskan semalam—dengan udara, cahaya, dan pilihan. Raina terbangun sedikit lebih awal, bukan karena alarm, melainkan karena tubuhnya sudah terbiasa bangun tanpa paksaan. Ia membuka tirai, membiarkan sinar matahari menyentuh lantai kamar, lalu berdiri di sana beberapa detik, merasakan hangatnya. Ada hari-hari yang dulu terasa berat bahkan sebelum dimulai. Kini, pagi adalah ruang kosong yang bisa ia isi dengan sadar.Di dapur, air mendidih perlahan. Raina menunggu, tidak sambil memeriksa ponsel. Ia menuang teh, menghirup aromanya, lalu duduk di kursi dekat jendela. Di luar, seorang tetangga menyapu halaman. Suara sapu dan kicau burung berpadu sederhana. Raina tersenyum kecil—hidup terus berjalan, bahkan tanpa rencana besar.Di kantor, agenda hari itu padat namun tidak menekan. Raina memulai dengan membaca laporan singkat dari divisi yang sedang uji coba jam kerja fleksibel. Hasil awal menunjukkan penyesuaian yang tidak seragam—ada tim yang b

  • Gadis Tanpa Ingatan   83.

    Pagi setelahnya hadir dengan cahaya yang lebih lembut, seolah matahari pun belajar tidak tergesa. Raina bangun dengan tubuh yang terasa ringan, bukan karena beban berkurang sepenuhnya, melainkan karena ia tahu cara meletakkannya. Ia duduk di tepi ranjang lebih lama dari biasanya, membiarkan pikirannya mengalir tanpa ditarik agenda. Ada satu pesan dari Armand yang belum dibuka. Ia tersenyum kecil, memilih menyiapkan diri dulu—mandi air hangat, pakaian sederhana, dan secangkir teh yang diminumnya perlahan.Di meja makan, Raina membuka buku catatan lamanya. Halaman-halaman awal penuh coretan cemas dan rencana berlapis. Kini, tulisannya lebih jarang, lebih jujur. Ia menambahkan satu baris: Hari ini, cukup hadir. Lalu ia menutup buku, merasa tidak perlu menuliskan lebih banyak.Di kantor, suasana bergerak dengan ritme yang terasa matang. Orang-orang tidak lagi berlari, tapi juga tidak melambat berlebihan. Raina menyadari bahwa keseimbangan itu bukan hasil satu keputusan besar, melainkan ra

  • Gadis Tanpa Ingatan   82.

    Pagi berikutnya menyapa dengan udara yang lebih sejuk. Raina membuka jendela, membiarkan angin masuk membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Ia berdiri cukup lama, menatap halaman yang masih lengang. Ada rasa syukur yang tidak meledak-ledak—hanya hadir, tenang, dan menetap. Ia menutup jendela, merapikan tempat tidur, lalu menyiapkan teh hangat. Tidak ada urgensi yang memaksa, hanya hari yang menunggu untuk dijalani.Di perjalanan ke kantor, Raina memilih berjalan kaki lebih jauh dari biasanya. Ia melewati toko roti yang baru buka, membeli sepotong roti gandum, menyapa pemiliknya yang tersenyum ramah. Percakapan singkat itu terasa seperti pengingat bahwa hidup berlangsung di sela-sela—di antara keputusan besar dan langkah kecil yang sering luput diperhatikan.Di kantor, sebuah email masuk dari tim pengembangan. Mereka mengusulkan uji coba kebijakan jam kerja fleksibel untuk satu divisi. Raina membaca dengan teliti, lalu membalas dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong kejelas

  • Gadis Tanpa Ingatan   81.

    Pagi kembali datang dengan kesederhanaannya sendiri. Raina terbangun oleh cahaya yang merayap di tirai, bukan oleh bunyi ponsel. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menata napas, lalu tersenyum kecil—kebiasaan baru yang ia jaga agar hari tidak langsung berlari. Di dapur, ia menyiapkan sarapan ringan, menyusun agenda di kepalanya tanpa menuliskannya. Ada beberapa hal penting, namun tidak ada yang harus dikejar dengan panik.Di kantor, udara terasa lebih hidup. Papan pengumuman menampilkan pembaruan kecil: jadwal diskusi lintas tim, sesi umpan balik terbuka, dan pengingat cuti yang jarang terpakai kini dianjurkan. Raina menyadari betapa budaya kerja berubah melalui isyarat-isyarat sederhana. Ia berjalan menyusuri lorong, berhenti menyapa seorang analis yang tampak ragu di depan ruang rapat. “Masuk,” kata Raina lembut. “Suaramu penting.”Rapat itu tidak menghasilkan keputusan spektakuler. Namun menghasilkan pemahaman bersama—tentang batas, tentang kapasitas, tentang pilihan yang realistis.

  • Gadis Tanpa Ingatan   80.

    Pagi menyapa dengan cahaya yang jernih, seolah kota ikut bernapas bersama Raina. Ia bangun tanpa alarm, membiarkan tubuhnya menentukan waktu. Di dapur, ia menyeduh kopi, membuka jendela, dan mendengar suara burung yang jarang ia sadari dulu. Ada rasa cukup yang mengendap—bukan karena semua selesai, melainkan karena ia tahu apa yang sedang dijalani.Di kantor, Raina memulai hari dengan kebiasaan baru: membaca laporan singkat dari tiga sudut—lapangan, hukum, dan sumber daya manusia. Bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menyelaraskan. Ia memberi catatan kecil, menandai satu isu yang perlu dialog lintas tim. Ketika rapat dimulai, ia mengundang dua suara yang biasanya diam. “Kita ingin lengkap,” katanya, “bukan cepat.”Diskusi mengalir. Ada perbedaan yang tajam, ada kompromi yang lahir dari alasan. Raina memperhatikan bagaimana orang-orang menatap satu sama lain—lebih berani, lebih bertanggung jawab. Ia menutup rapat dengan keputusan sederhana: uji coba selama dua minggu, evaluasi terbu

  • Gadis Tanpa Ingatan   79.

    Malam mengendap pelan, menyisakan kehangatan yang tidak ingin cepat-cepat padam. Raina tiba di rumah, menaruh tas di kursi, lalu berdiri sejenak di depan jendela. Kota di bawahnya berdenyut tenang—lampu-lampu bukan lagi tantangan, melainkan irama. Ia menarik napas panjang, merasakan dada yang lapang, dan menyadari betapa jarangnya ia berhenti seperti ini di masa lalu.Ia menyalakan radio kecil di dapur, membiarkan musik instrumental mengalun samar. Sambil menyiapkan makan malam sederhana, Raina memikirkan satu keputusan kecil yang ia ambil pagi tadi: mengembalikan satu berkas untuk diperbaiki, alih-alih memaksanya lolos demi tenggat. Tidak ada yang dramatis. Namun di sanalah ia merasakan konsistensi—nilai yang dijaga bukan hanya ketika diuji, melainkan juga ketika sunyi.Pagi berikutnya, hujan tipis menyapa. Raina tiba di kantor dengan mantel basah, menyapa satpam dengan anggukan hangat. Di papan pengumuman, ada catatan kecil: Jadwal Klinik Etika—Kamis. Ia tersenyum. Program itu awaln

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status