MasukSabella Nazaha tiba-tiba dihadapkan pada tiga lelaki hebat yang diwariskan oleh mendiang kakek untuknya. Mulai dari Samuel, dokter kepercayaan sekaligus menantu idaman ... Ben, pengusaha andal yang menjadi incaran para wanita ... dan Ryker Idris, joki sekaligus pemanah andal. Namun, masalahnya, Sabella harus memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi. Bagaimana Sabella bisa memilih jika selama ini belum pernah dekat dengan pria mana pun?
Lihat lebih banyak"Pilih satu, atau kamu kehilangan semuanya."
Sabella menatap ketiga pria di hadapannya. Hatinya terasa nyeri mendapati ia harus memilih salah satu dari ketiga pria yang ia sayangi, ketiga pria yang mengobati luka di hatinya dan membuat hidup Sabella menjadi lebih baik.
Sepasang matanya menatap Samuel, dokter kepercayaan sekaligus pria lembut yang membantunya kembali berdiri, lalu pada Ben, pengusaha andal yang jujur dan spontan, membuatnya merasakan adrenalin setiap kali mereka bersama. Sesuatu yang belum pernah Sabella rasakan sebelumnya. Ben adalah pria paling jujur, yang mengutarakan cintanya pada Sabella terang-terangan.
Lalu terakhir ... Ryker Idris. Pria dingin irit bicara yang menggetarkan hatinya sejak pertemuan pertama.
"Baiklah," ucap Sabella. Ia menggigit bibir. "Aku memilih...."
Lelaki yang menyayanginya telah mati.
Namun, Sabella tidak sempat melihat pria itu untuk terakhir kalinya. Yang bisa ditemui hanya batu nisan dan gundukan tanah di depannya.
Kini, ia tidak punya siapa-siapa. “Ayo, Mbak … saatnya kembali ke asrama.” Tanpa repot terdengar bersimpati, sopir asrama menegur Sabella, gadis berkerudung yang masih saja mematung di hadapan pusara kakeknya. Ia baru mendapatkan kabar duka setelah sang kakek selesai dikebumikan. Sakit sekali. Memang dirinya selama ini tinggal di asrama. Namun, apakah tidak ada seorang pun yang tergerak untuk mengabarinya? Pihak rumah sakit, mungkin? Atau tetangga? Kakek menyimpan nomor Sabella sebagai nomor darurat. Harusnya pihak yang bersama Kakek untuk terakhir kalinya tahu adanya Sabella. Lantas siapa yang mengurus pemakaman? Mendiang Kakek dulu bilang kalau Sabella adalah satu-satunya anggota keluarga yang tertinggal sejak orang tua Sabella meninggal. “Mbak? Hari sudah sore–” Sabella menghapus air matanya dan berbalik. “Iya, Pak,” jawabnya. “Tapi kita mampir ke rumah Kakek sebentar ya.” Sopir mengangguk cepat. Tampaknya lega Sabella setuju untuk kembali. Sesuai petunjuk, sopir mengantarkan Sabella ke rumah Kakek. Sebuah bangunan sederhana yang Sabella kunjungi setahun sekali, hanya saat Kakek menjemputnya keluar dari asrama. Sabella membuka pagar dan tertegun sejenak saat menyadari pintu pagar tidak terkunci. Detik berikutnya, ia melihat seorang lelaki tampak keluar dari dalam rumah dan mengunci pintu dengan terburu-buru. Membuat dada Sabella berdetak cepat sebab terkejut dan penuh tanya. Lelaki itu juga tertegun melihatnya saat berbalik. Dahinya berkerut setelah Sabella berhenti lebih dekat. “Anda siapa? Ini rumah kakekku.” Sabella menatap tajam. “Aku tahu.” Lelaki itu berkata cepat. “Jangan tinggal di sini. Kembali saja ke asrama.” Lelaki aneh itu menambahkan singkat sebelum bergegas pergi. Acuh tak acuh, tetapi pandangannya teduh saat beradu tatap dengan Sabella. Siapa lelaki itu? Kenapa dia memegang kunci rumah Kakek? 🫒 Prang! “Sabel … kamu melamun lagi? Lah, menangis juga?! Sudah sebulan lebih masih sedih-sedih. Sudah ….” Kepala Asrama yang baru datang ke dapur itu mengelus punggung Sabella demi menenangkan. Bukan tenang, gadis yang jongkok memungut pecahan piring justru makin tersedu-sedu. “M-maaf, Bu–” “Aku tahu kamu ingat kakekmu. Tapi beliau sudah tenang, jangan terus ditangisi,” ucap Kepala Asrama lembut. “Ayo, hapus air matamu. Kamu ada tamu.” “Tamu?” tanya Sabella sambil mengusap air mata dengan ujung kerudung. Ia tidak pernah mendapatkan tamu, selain kakeknya datang berkunjung. “Siapa, Bu?” “Orang penting. Jangan membuat mereka menunggu,” ucap Kepala Asrama. Ia membimbing Sabella ke ruang tamu. “Katanya, mereka membawa wasiat kakekmu.” Sabella terkejut, segera mendongak. Di ruang tamu asrama, Sabella melihat seorang lelaki duduk sambil membaca sesuatu dari ponsel. Tak jauh dari pria itu, Sabella melihat seorang lelaki lain yang tengah bicara di telepon. Kening Sabella sedikit mengerut. Lelaki itu … sepertinya ia pernah melihat– Ah! Lelaki yang ditemui di depan rumah Kakek waktu itu! “Sabella Nazaha?” Mendadak Sabella merasa lebih tegang. Lelaki berkacamata yang tadi membaca, telah mendongak dan memanggil namanya. “Iya, Pak.” Suara Sabella seperti tercekat. “Silakan duduk,” ucap lelaki itu. “Perkenalkan, saya Edo. Kuasa hukum Bapak Ahmad Rifai, kakek kamu.” Sabella mengangguk meski merasa bingung. Ia duduk bersama Kepala Asrama di sisi pria asing itu. “Saya di sini untuk menyampaikan amanah penting dari Bapak Ahmad Rifai,” terang Edo. Di tangannya terdapat lembaran file tebal. “Beliau mengkhawatirkan nasib Nona Sabella sepeninggalnya. Jadi, beliau memberikan amanat pertamanya, yakni agar Nona Sabella menikah.” Sabella berkedip tajam atas tuntutan yang tiba-tiba tersebut. “M-maaf ...?” Namun, Edo mengabaikan selaan Sabella dan tetap melanjutkan, “Ada tiga calon yang disiapkan oleh Bapak Ahmad Rifai. Yang pertama adalah seorang dokter, yang kedua adalah pengusaha, dan ketiga–” “Sebentar, Pak. Sebentar!” sela Sabella, memaksa kuasa hukum kakeknya untuk berhenti bicara. “Mana mungkin saya menikah? Bagaimana mungkin Kakek meninggalkan wasiat seperti itu? Dari mana pula calon-calon mapan yang Bapak sebutkan tadi?” Edo memandang Sabella sejenak sebelum melanjutkan, “Nona, Bapak Ahmad Rifai, kakek Anda, memiliki harta tunai di bank negara yang besarnya triliunan. Namun, harta tersebut, mengutip wasiat beliau, hanya akan bisa diturunkan ke Anda apabila Anda menikah dengan salah satu dari tiga calon yang telah beliau sediakan.” Sabella terperangah!Ryker menatap Sabella lebih tajam. Wajahnya yang semula datar kini terlihat kaku. Jelas sekali ia tidak bisa menerima pertanyaan Sabella. “Jangan main-main dengan keputusanmu,” ucapnya tegas dengan tatapan tidak berkedip. “Ini bukan hal yang bisa kamu jadikan bahan bercanda, Sabella.” Nada bicara Ryker terdengar serius. Sabella langsung mengangkat kedua tangannya sedikit dan ditangkup di dadanya. “Aku memang bercanda, Mas,” sahutnya pelan. “Maaf kalau bagimu keterlaluan.” Tatapan Ryker masih belum melunak sepenuhnya. “Jangan pernah ulangi lagi. Kamu sudah memilih Ben di hadapan dua keluarga besar. Jangan buat semuanya jadi terlihat tidak serius, Sabella,” lanjutnya menasihati dengan ekspresi sungguh-sungguh. Meski suaranya sudah terdengar pelan. Sabella mengangguk kecil. “Iya, Mas. Aku mengerti semua yang kamu katakan,” ucapnya patuh. Aneh, teguran itu tidak membuatnya sakit hati. Justru membenarkan dan menyadari kecerobohannya. Dirinya lupa jika Ryker adalah lelaki din
Ryker tertegun. Alisnya sedikit berkerut, heran dengan sikap Sabella yang tiba-tiba menggayut di lengannya. Tidak biasanya gadis itu seperti ini. Ia menoleh, mereka saling menatap beberapa detik dalam diam. Ryker tidak langsung melepaskan, membiarkan hingga Sabella sendiri yang perlahan mundur. "M--maaf," ucap Sabella kikuk dan menunduk. “Ada yang mau kamu bicarakan?” tanya Ryker akhirnya, suaranya rendah tetapi tegas. Sabella tidak langsung menjawab. Matanya memerah, tampak berkaca-kaca. Ia berpaling cepat, menahan agar air matanya tidak jatuh. “Kenapa Mas Ryker pergi begitu saja, kemarin? Kenapa tidak bilang padaku jika ke luar kota? Padahal, malamnya kita bauk-baik saja, kan?” tanya Sabella cepat, nada suaranya meninggi dan terdengar kesal. “Kenapa tidak pamit? Kenapa tidak pulang-pulang?” tanya lagi beruntun. Seperti tidak peduli apa pun anggapan Ryker padanya. Semua pertanyaan Sabella jelas membuat Ryker terkejut. “Apa semua itu membuat kamu marah, Sabella?” bal
Sabella bergegas menyusul Ryker ke kasir. Langkahnya memang terlihat cepat, tetapi hatinya terasa berat. Saat mendekat, ia sempat melihat layar monitor kasir yang hampir menyelesaikan transaksi. Sekilas, nama pembayar terbaca jelas, Ryker Idris. Dadanya langsung berdebar tidak nyaman. “Mas… ini tidak perlu sebanyak ini,” ucap Sabella pelan saat sudah berada di sampingnya. Ryker tidak menoleh. “Sudah kubayar.” Sabella menelan ludah. “Nanti… Mas Ben yang akan menggantinya, kan?” tanyanya dengan berbisik sangat lirih. Kasir itu terlihat sibuk sendiri dengan transaksi. Sabella merasa percakapan mereka tidak terlalu diperhatikan orang lain. Ryker akhirnya melirik sekilas, tetapi tidak menjawab. Tatapannya datar, lalu kembali fokus pada kasir yang menyerahkan struk pembayaran. Juga sebuah kartu warna hitam. Sabella hanya bisa diam, perasaannya makin gelisah dan tidak enak. Segan jika Ryker yang mengeluarkan uang dan bukanlah Ben. Ryker telah sigap mengambil lima kantong bela
Sabella membeku di tempatnya. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tidak teratur. Tatapannya melekat pada sosok lelaki itu, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Selain kenal dengan punggungnya, juga terlihat samar dalam pantulan kaca siapa dia “Mas Ryker, kamu di sini juga?” tegur Sabella dengan suara hampir tidak terdengar. Ia menahan napasnya. Lelaki itu segera berbalik. Benar, adalah Ryker. Namun, dia bukan calon suami pengganti, kan? Sabella menelan ludah, merasa dirinya semakin tidak beres teah berpikir yang bukan-bukan. Ekspresi yang semula tampak santai, seketika tertegun. Tatapannya jatuh pada Sabella dari ujung kepala hingga kaki, menilai tanpa suara dan basa-basi. Ada kilat kagum yang terbaca samar dan singkat sebelum matanya memicing sesaat, dan sebelum wajah itu kembali datar dengan tatapan ta jam seperti biasa. “Sudah selesai?” tanyanya ringan, seolah kehadirannya di sana adalah hal paling wajar di dunia. Seolah tidak sadar telah membuat kaget seorng g






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan