MasukSabella Nazaha tiba-tiba dihadapkan pada tiga lelaki hebat yang diwariskan oleh mendiang kakek. Mulai dari Samuel, sang dokter kebanggaan sekaligus menantu idaman, Ben, penguasa andal yang menjadi incaran para wanita, dan Ryke Idris, atlet berkuda dan pemanah andal. Namun, masalahnya, Sabella harus memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi. B agaimana Sabella bisa memilih jika selama ini ia sama sekali tidak pernah dekat dengan pria mana pun?
Lihat lebih banyakLelaki yang menyayanginya telah mati.
Namun, Sabella tidak sempat melihat pria itu untuk terakhir kalinya. Yang bisa ia temui hanyalah batu nisan dan gundukan tanah di hadapan.
Kini, ia tidak punya siapa-siapa.
“Ayo, Mbak … saatnya kembali ke asrama.”
Tanpa repot terdengar bersimpati, sopir itu menegur Sabella, gadis berkerudung yang masih saja mematung di hadapan pusara kakeknya. Ia baru mendapatkan kabar duka setelah sang kakek telah dikebumikan.
Sakit sekali. Memang dirinya selama ini tinggal di asrama. Namun, apakah tidak ada seorang pun yang tergerak untuk mengabarinya? Pihak rumah sakit, mungkin? Atau tetangga? Kakeknya menyimpan nomor Sabella sebagai nomor darurat. Harusnya pihak yang bersama sang kakek untuk terakhir kalinya tahu.
Lantas siapa yang mengurus pemakaman? Mendiang Kakek dulu bilang kalau Sabella adalah satu-satunya anggota keluarga yang tertinggal sejak orang tua Sabella meninggal.
“Mbak? Hari sudah sore–”
Sabella menghapus air matanya dan berbalik. “Iya, Pak,” jawabnya. “Tapi kita mampir ke rumah Kakek sebentar ya.”
Sopir mengangguk cepat. Tampaknya lega Sabella setuju untuk kembali.
Sesuai petunjuk, sopir mengantarkan Sabella ke rumah sang kakek. Sebuah bangunan sederhana yang Sabella kunjungi setahun sekali, hanya saat Kakek menjemputnya keluar dari asrama.
Sabella membuka pagar–dan tertegun sejenak saat menyadari pagar tidak terkunci.
Detik berikutnya, ia melihat seorang lelaki terlihat keluar dari dalam rumah dan mengunci pintu dengan terburu-buru. Membuat dadanya berdetak cepat sebab terkejut dan penuh tanya.
Lelaki itu juga tertegun melihatnya saat berbalik. Dahinya berkerut setelah Sabella berhenti lebih dekat.
“Anda siapa? Ini rumah kakekku.” Sabella menatap tajam.
“Aku tahu.” Lelaki itu berkata cepat. “Jangan tinggal di sini. Kembali ke asrama.”
Pria itu menambahkan singkat sebelum bergegas pergi. Acuh tak acuh, tetapi pandangannya tampak teduh saat beradu tatap dengan Sabella.
Siapa … lelaki itu? Kenapa dia memegang kunci rumah sang kakek?
🫒
Prang!
“Sabel … kamu melamun lagi? Lah, menangis juga?! Sudah sebulan lebih masih sedih-sedih. Sudah ….”
Kepala Asrama yang baru datang ke dapur itu mengelus punggung Sabella demi menenangkan. Bukan tenang, gadis yang jongkok memungut pecahan piring justru makin tersedu-sedu.
“M-maaf, Bu–”
“Aku tahu kamu ingat kakekmu. Tapi beliau sudah tenang, jangan terus ditangisi,” ucap sang kepala asrama lembut. “Ayo, hapus air matamu. Ada tamu.”
“Tamu?” tanya Sabella sambil mengusap air mata dengan ujung kerudung. Ia tidak pernah mendapatkan tamu, selain kakeknya datang berkunjung. “Siapa, Bu?”
“Orang penting. Jangan membuat mereka menunggu,” ucap kepala asrama. Ia membimbing Sabella ke ruang tamu. “Katanya, mereka membawa wasiat kakekmu.”
Sabella terkejut, segera mendongak.
Di ruangan tamu asrama, Sabella melihat seorang lelaki duduk sambil membaca sesuatu dari ponsel. Tak jauh dari pria itu, Sabella melihat seorang lelaki lain yang tengah bicara di telepon.
Kening Sabella sedikit mengerut. Lelaki itu … sepertinya ia pernah melihat–
Ah! Lelaki yang ia temu di depan rumah Kakek waktu itu!
“Sabella Nazaha?”
Mendadak Sabella merasa lebih tegang. Lelaki berkacamata yang tadi membaca, telah mendongak dan memanggil namanya.
“Iya, Pak.” Suara Sabella seperti tercekat.
“Silakan duduk,” ucap lelaki itu. “Perkenalkan, saya Edo. Kuasa hukum Bapak Ahmad Rifai, kakek kamu.”
Sabella mengangguk. Ia duduk bersama kepala asrama di sisi pria asing itu.
“Saya di sini untuk menyampaikan amanah penting dari Bapak Ahmad Rifai,” terang Edo. Di tangannya terdapat lembaran file tebal. “Beliau mengkhawatirkan nasib Nona Sabella sepeninggal beliau, karenanya beliau memberikan amanat pertama beliau, yakni agar Nona Sabella menikah.”
Sabella berkedip atas tuntutan yang tiba-tiba tersebut. “M-maaf?”
Namun, mengabaikan selaan Sabella, Edo tetap melanjutkan, “Ada tiga calon yang disiapkan oleh Bapak Ahmad Rifai. Yang pertama adalah seorang dokter, yang kedua adalah pengusaha, dan ketiga–”
“Sebentar, Pak. Sebentar!” sela Sabella, memaksa kuasa hukum kakeknya untuk berhenti bicara. “Mana mungkin saya menikah? Bagaimana mungkin Kakek meninggalkan wasiat seperti itu? Dari mana pula calon-calon mapan yang Bapak sebutkan tadi?”
Eko memandang Sabella sejenak sebelum melanjutkan, “Nona, Bapak Ahmad Rifai, kakek Anda, memiliki harta tunai di bank negara yang besarnya triliunan. Namun, harta tersebut, mengutip wasiat Bapak, hanya akan bisa diturunkan ke Anda apabila Anda menikah dengan salah satu dari tiga calon yang telah beliau sediakan.”
“Sajian penting pencuci mulut belum ada …,” ucap Ben berkomentar setelah melihat-lihat di seluruh permukaan meja. Ryker acuh tak acuh tanpa menyahut dan kini berdiri. Meninggalkan kursi dan mendekati lemari es. Lalu mengambil posisi jongkok untuk mencari sesuatu di dalamnya. “Kenapa Mas Ryker terlihat repot? Kenapa tadi tidak memintaku … maksudku, aku bisa masak. Aku pikir, kalian tidak doyan makan rumahan.” Sabella meluahkan rasa heran dan merasa jadi segan. Sebab kemarin, mereka berdua menolak tawaran untuk makan siang di asrama. Tetapi membawanya makan siang di restoran. Alhasil makanan banyak di asrama hanya Pak Edo, sang kuasa hukum Kakek itu saja yang mengapresiasi. “Kita sebenarnya justru tidak suka makan di luaran, Bel. Kecuali tidak bisa pulang ke rumah dan sedang buru-buru.” Ben menjawab sambil mengipasi spaghetti panas di piringnya. “Iyakah? Tapi … Mas Ben bilang, orang tua tidak di Indonesia. Lantas, pulangnya ke mana?” tanya Sabella. Meski lelaki itu terindikasi pemai
Keadaan ini membuat Sabella jadi patung. Namun, orang-orang terus heboh dan tidak peduli dengan yang terjadi di sekeliling, apalagi melihatnya yang sedang di posisi sulit. “Maaf, Mas. Terima kasih, ya …,” ucap Sabella jadi serba salah. Coba menggerakkan badan ke samping, berharap lelaki di belakangnya menjauh. “Duduklah saja. Aku akan menelepon, Ben.” Ryker berkata pelan dan bukan keras sebab jarak kepala mereka jadi dekat. Meski ada kursi yang menghalang di antara badan, Sabella merasa risih sekaligus malu. Wajah bersihnya kemerahan terkena sorot lampu. Terasa Ryker menarik tangannya dan menjauh. Suasana berubah jadi canggung dan mereka sama-sama membuang pandang ke panggung. “Hah, dapat banyak! Kalian tidak ingin ambil video?!” seru lelaki bersama sosoknya mendekat. Langsung duduk di sebelah Sabella tepat. Yakin bahwa bangku yang kosong itu miliknya. Ryker menyimpan ponselnya dan tidak jadi menelepon. Ben datang sendiri dan kemungkinan akan lebih panjang umur. “Sud
Mereka singgah singkat di restoran pusat kota untuk makan siang. Hanya mengambil waktu cepat sebelum meneruskan perjalanan. Arus kendaraan di jalanan menuju gedung cukup padat. Bau-bau aliran pengunjung konser besar grup musik pop asal Irlandia itu terasa kuat. Sebab datang lambat, gegap gempita konser dari dalam stadion terdengar jelas ke arah pintu masuk. Sabella berjalan di tengah diapit dua lelaki di depan dan belakang dengan Ben yang memimpin. Namun, lelaki gagah yang akan menyerahkan tiket virtualnya itu gagal sebab seseorang memanggil namanya. Perempuan dengan dress pendek yang terlihat seksi dan cantik sedang menghampiri dan menarik lengan Ben menepi. Ryker pun segera ikut keluar baris antrian dan diikuti Sabella. “Ben, nomorku kamu blokir? Aku selalu gagal menghubungi kamu. Kenapa? Kamu gak ganti nomor kan?” tanya perempuan itu dengan menangis. Ben baru saja menolak tegas pelukannya. “Sudah kubilang, hubungan kita bukan apa-apa. Hanya sementara dan sekarang berakhir.”
“Gordennya otomatis kerja, Mbak. Akan membuka sendiri menjelang siang. Kolam pun biasanya pukul sepuluh pagi hingga pukul satu siang sudah tidak ada aktivitas. Jadi, harap maklum lah, Mbak.” Wanita itu menjelaskan saat Sabella memrotes tegas akan mudahnya akses laki-laki. “Oh, baiklah. Saya mengerti!” sahut Sabella setelah membisu dan akhirnya memahami. Sadar jika ini fasilitas umum yang asalnya bukan hanya untuk wanita. Hanya kali ini pertandingannya khusus dan kebetulan memilih di sini. Sempat melirik lagi ke sebelah. Mereka berdua sudah tidak ada di balik kaca. Sabella yakin tidak salah lihat bahwa satu dari dua lelaki tadi adalah Ryker! “Terima bunganya, Mbak. Aman kok!” CS wanita kembali mengulurkan seikat bunga itu. “Dari siapa, ya, Mbak?” Sabella menerima sambil bingung. Bau mawarnya harum dan terasa menyegarkan. “Dari anak kecil yang katanya Mbak tolong pas di toilet. Dia kesini untuk mendukung guru sekolahnya. Tetapi dia bilang, juga ikut senang jika Anda yang menang.” Wa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.