LOGINSabella Nazaha tiba-tiba dihadapkan pada tiga lelaki hebat yang diwariskan oleh mendiang kakek untuknya. Mulai dari Samuel, dokter kepercayaan sekaligus menantu idaman ... Ben, pengusaha andal yang menjadi incaran para wanita ... dan Ryker Idris, joki sekaligus pemanah andal. Namun, masalahnya, Sabella harus memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi. Bagaimana Sabella bisa memilih jika selama ini belum pernah dekat dengan pria mana pun?
View MoreSetelah enam bulan berikutnya, suara tangis bayi terdengar melengking dari ruang bersalin pagi itu. Wanita yang berdiri di pintu terlihat meraupkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Bibir merahnya mengucap syukur atas kelancaran proses bersalin istri bosnya. Ia adalah Ivana. Kemudian berbalik badan meninggalkan ruang bersalin, menuju kamar VIP yang tadi sempat diurusnya di muka dan kini sudah siap ditempati. Satu tas bayi besar dia tarik dari atas sofa di depan pintu dan dan dibawanya masuk ke dalam kamar. Ivana pun dengan cekatan menatanya ke dalam lemari. Menjelang tengah hari. Kamar ibu dan anak itu sudah diisi sesuai nama pemilik sewa yang dicantumkan. Adalah keluarga kecil Tuan Ryker Idris yang telah mendapat seorang putra tampan dari istrinya yang cantik. Telah melahirkan secara normal seorang bayi sehat pagi tadi dan sekarang sedang tergolek di atas ranjang. Kedua-duanya, sang ibu dan si bayi tertidur pulas. “Sebaiknya tidak usah kemari. Jangan membuat suasana jadi tidak ko
Sabella baru berjemur dari balkon saat Ryker baru menutup panggilan di ponsel. Lelaki itu habis mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor kerjanya.“Dari siapa, Mas?” tanya Sabella sambil meletakkan handuk kecil di cap stok. Ryker terlihat menghela napas. “Dari Sam. Ia sudah sampai satu jam lalu di Bangkok.” Sabella ikut lega. Merasa iba dengan Bulan. Harus memulai dari awal segalanya. Semoga ia bisa menerima kenyataan pahit itu andai suatu saat menemukan kasus ayahnya. Sabella ikut duduk di tepi ranjang. Matanya masih tertahan pada punggung Ryker yang sedang meraih celana dan kemeja dari gantungan. “Mas … Jasmin sudah sampai di Surabaya?” tanyanya pelan. Nadanya dibuat sebiasa mungkin, padahal dadanya sedikit berdebar menatap raga suaminya. Ryker berbalik setengah badan. Kemeja belum ia kenakan, memperlihatkan dada bidang yang membuat Sabella refleks menahan napas. Lelaki itu menatapnya sekilas, lalu mengangguk ringan. “Sudah,” jawabnya singkat. Sabella buru-buru mengalihkan
Lelaki tampan berprofesi mentereng itu sedang menyandar dengan meletak tangannya di atas dahi. Matanya terpejam rapat tetapi ponselnya masih menyala terang. “Sam!” seru Ryker saat masuk ke dalam ruangan. Lelaki yang adalah Samuel seketika menurunkan tangan dan membuka matanya. Tatapan datarnya langsung menajam saat melihat Sabella. Ia segera menegakkan punggungnya. “Kenapa kau mengajaknya? Sudah kubilang datanglah sendiri.” Samuel terlihat suntuk. Ia sempat berpesan agar Ryker datang sendiri tanpa Sabella. Dasar pengantin baru, sudah hamil pulak!“Dia istriku. Selain kerja, tentu saja kubawa. Lagipula, agar kau tak sekalipun mengharap jandanya.” Ryker menjawab datar dan duduk di depan Samuel. “Duduklah, Bel,” ucapnya menoleh Sabella. Samuel mengetatkan rahang giginya. Sabella telah duduk manis di sebelah suaminya. Ia tampak ikut menyimak dan tidak bermain ponsel. Ingin hati mengumpat tetapi lelaki beruntung yang datang bersama Sabella itu adalah harapannya saat ini. Baiklah, tida
Dua Minggu kemudian di suatu sore. Mama Ulfanah barusan pergi saat Ryker masuk ke dalam kamar. Suami dari Nyonya Sabella itu baru saja pulang kerja “Mas!” seru Sabella terkejut. Ia baru keluar dari kamar mandi dan mendapati Ryker tengah melepaskan baju kerja. “Terkejut? Sengaja gak ngasih pesan ke kamu, aku pulang cepat hari ini, Bel. Capek.” Ryker menatap perempuan yang di matanya terlihat makin cantik dengan kehamilan mudanya. Sabella telah menghampiri dan membantu melepaskan bajunya. “Mau aku pijat?” tawar Sabella dengan ekspresi khawatir. Ia membawa kemeja dan baju pelapis milik suaminya ke dalam keranjang kotor. “Kamu dikasih vitamin apa lagi sama Mama?” tanya Ryker dengan tatapan seksama. “Gak tau, gak nanya lagi. Aku minum saja, biar senang.” Sabella pun tersenyum. Ryker tersenyum kecil dan mengelus lembut rambut Sabella. Merasa begitu sayang pada istrinya! Ia sempat bertemu mamanya di lorong kamar dengan membawa segelas kosong yang katanya bekas minuman bervitamin unt
Meski Ivana sudah pergi, perasaan Sabella masih was-was. Ujar Mak Mar, barangnya di kamar belum sekaligus habis. Bisa jadi akan datang sewaktu-waktu yang apesnya, tidak ada orang di rumah dan Sabella terpaksa berhadapan. Ia benar-benar tidak ingin menghadapi situasi sulit ini. Karena lauk yang dim
Gadis cedera sebab jatuh dari kuda tidak kembali ke kamarnya. Melainkan mengikuti Sabella berjalan menuju dapur. Merasa tertarik dengan gadis yang beberapa kali didapatinya di kamar Ryker. Ia juga ikut berhenti saat Sabella tiba-tiba tudak melangkahkan kaki lagi. Pintu yang tidak ditutup dengan s
Sabella merasa sedikit tegang sebelum berbicara. Namun, semakin ditunda justru membuat beban di kepala makin berat. “Mas, bisakah mengantarkan aku ke villanya Mas Ryker?” tanya Sabella akhirnya, suaranya bernada pelan. Ia merasa tegang, padahal bukan berbuat kesalahan. Samuel seketika memanda
Ben menatap layar ponsel beberapa detik sebelum dimasukkan ke saku kemejanya. Wajahnya terlihat tenang dengan tatapan mata yang datar. “Siapa, Mas?” tanya Sabella mengulangi dengan nada lebih pelan. Ben menarik napas pendek. “Ryker,” jawabnya singkat. Sabella langsung menoleh. “Dia datang ya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews