LOGINCatherine segera menindih tubuh Serena yang sudah terbaring pasrah di lantai dengan kedua tangan terikat kuat. Ia memandangi sepasang payudara indah yang membusung kencang dari tubuh Serena. Matanya berkilat penuh dominasi saat menatap wajah wanita itu yang memucat.“Jangan melawan. Ini akan terasa sangat menyenangkan jika kau menikmatinya,” bisik Catherine sembari mulai meraba lekuk tubuh Serena. Jemarinya yang dingin bergerak dengan lancang di atas kulit Serena yang halus, merambat dari pinggang hingga ke atas dada.“Kau gila! Lepaskan aku!” Pekik Serena memberontak. Ia mencoba menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari himpitan Catherine, namun tenaga wanita itu jauh lebih kuat. Catherine justru semakin menekan tubuh mereka agar saling menempel rapat, membiarkan kulitnya bergesekan dengan dada Serena yang terengah-engah. Setiap gerakan penolakan Serena justru membuat Catherine semakin bersemangat untuk menaklukkannya lebih dalam lagi.Catherine mendadak tersentak ketika sebua
Serena tersentak keras ketika tangan Vivian menancap pada rambutnya dan menariknya dengan kasar. Kepalanya terentak ke belakang, dan tubuhnya terhuyung sebelum terseret paksa.“A–AHH!! Vivian! Lepaskan!!” Serena meronta, kedua tangannya mencoba menahan cengkeraman itu, tapi Vivian menariknya semakin kuat.Setiap langkah seretan membuat punggung dan lengannya tergores tanah keras, batu-batu kecil menusuk kulitnya hingga ranting tajam mengiris betis dan lengannya. Daun-daun kering ikut menempel di tubuhnya, lutut Serena sempat terpelanting dan menyeret banyak lumpur serta pasir.Namun Vivian tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Tarikannya penuh dendam, tangan yang menggenggam rambut Serena tidak goyah sama sekali. “Kenapa? Sakit?” Vivian menunduk sedikit, suaranya penuh kepuasan gelap. “Bagus. Rasakan, bahkan belum seberapa dibanding apa yang aku rasakan selama ini.”Serena menggertakkan giginya, matanya berkaca-kaca.“Aku, aku tidak pernah merebut Steave darimu! Aku bahkan tid
Vivian menggertakkan giginya. Rahangnya menegang, dan matanya berkilat menujukan amarah yang benar-benar tersulut sampai ke inti hatinya.Ucapan Serena tadi terlalu tepat sasaran, dan menyakitkan. Terlalu mirip dengan kenyataan yang selalu ia hindari.Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat ke balik gaun mahalnya.Serena sempat membelalak kecil.Adrian menyadarinya sepersekian detik lebih cepat.Klik!Sebuah pistol hitam mengilap terarah tepat ke wajah Serena.Atmosfer ruangan langsung berubah dingin membeku.“Jangan bergerak!” Suara Vivian terdengar rendah, bergetar oleh amarah tapi tetap stabil. “Sedikit saja kau mendekat ke arahnya, Adrian… peluruku menembus kepalanya tanpa ragu.”Adrian langsung berdiri di depan Serena, menjadikan tubuhnya tameng hidup. “Vivian,” desisnya. “Turunkan itu.”Serena membeku di belakangnya. Jantungnya memukul dada dengan keras, namun ia berusaha tetap bernapas stabil. Adrian berdiri begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh pria itu melind
Adrian menatap Vivian dengan pandangan penuh selidik, seolah mencoba membaca isi kepalanya. Sampai detik ini ia hanya tahu satu kalau Vivian adalah orang yang menghubunginya dan mengatakan Serena dalam bahaya, harus dibawa sejauh mungkin dari Steave. Itu saja. Namun melihat tatapan Serena yang mulai pucat, dan senyum sinis Vivian yang terasa penuh kemenangan, Adrian sadar, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Adrian dingin.Vivian melenggang masuk ke dalam kamar. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, matanya bergantian menatap Serena dan Adrian dengan tatapan seperti singa yang berhasil menjebak mangsanya ke sudut paling sempit.“Tenang saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Aku tidak datang untuk menyakitinya. Justru aku ingin, membuka sedikit kebenaran.”Serena meremas ujung selimut, jantungnya berdegup kencang. Ada firasat buruk bahwa wanita ini akan melakukan sesuatu yang lebih jahat. Vivian menoleh pada Serena, lalu t
Kapal kecil itu berhenti tepat di dermaga yang menjorok ke laut. Ombak memecah di sisi lambung kapal, sementara angin membawa aroma garam dan dedaunan kering dari pulau kecil yang tampak sepi itu.Pulau pribadi.Sunyi.Hanya suara burung dan laut yang terdengar.Serena tetap duduk di bangkunya, tidak bergerak sedikit pun. Ia memalingkan wajah, jelas menolak untuk turun. Adrian menatapnya sekilas, menghela napas panjang.“Serena… turunlah,” ucapnya tenang. “Kita sudah sampai.”“Aku tidak mau,” jawab Serena keras kepala tanpa memandangnya. “Bawa aku kembali.”“Kita tidak bisa kembali sekarang.”“Aku tidak peduli!” Suaranya meninggi, hatinya sudah campur aduk antara marah, takut, dan kelelahan.Adrian mengencangkan rahangnya. Sejenak ia mencoba bersabar. Tapi Serena tetap menolak. Tanpa banyak bicara lagi, ia menunduk dan tanpa memberi kesempatan untuk kabur mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya.Serena langsung memberontak.“Adrian! Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!” Ia memu
Steave tampak kusut. Mata cekungnya memerah, dan urat di pelipisnya menegang. Sudah berjam-jam tanpa tidur, tanpa istirahat sedikit pun hanya berlari dari satu informasi ke informasi lain untuk menemukan Serena, namun nihil.Ia melangkah masuk ke ruang utama mansion keluarga Whitmore dengan aura yang begitu gelap. Semua kepala menoleh.Frederick duduk dengan posisi paling dominan, beberapa dewan keluarga berada di sisi kanan dan kiri. Ethan berdiri tak jauh dari sana, dengan ibunya yang terlihat puas memandang keadaan Steave yang berantakan.Suasana hening sesaat.Lalu, mulai terdengar suara-suara menekan.“Apa yang sebenarnya kau lakukan, Steave?” suara salah satu dewan terdengar dingin. “Istrimu kini menghilang, kondisi mentalnya dipertanyakan, dan sekarang reputasi keluarga ikut terlibat.”“Ini sudah menjadi skandal publik,” sahut yang lain. “Jika kau tidak mampu mengendalikan keadaan, bagaimana kau bisa mengendalikan kekuasaan?”Ethan tersenyum tipis, suara penuh ejekan terdenga







