LOGINKehidupan rumah tangganya yang jauh dari kata bahagia, membuat Elena terjerat dalam cinta yang diberikan Aldo—pria muda yang sudah dianggap teman oleh putranya. Sempat terbuai dengan perhatian pria itu dan jatuh dalam hubungan terlarang, tetapi kemudian semuanya berubah menjadi prahara ketika dunia, termasuk putranya, mengetahui perselingkuhannya. Segala nasihat, cibiran, bahkan hinaan harus diterima Elena, terlebih setelah semua orang tahu bahwa pria selingkuhannya berusia jauh di bawahnya. Namun di balik itu semua, ada satu rahasia yang menjadi kartu As Damar—sang suami—yang selalu dijadikan ancaman untuk Elena. Keputusan apa yang harus diambil Elena? Akankah dia tetap melanjutkan pernikahan yang menyesakkan demi kebahagiaan putranya, ataukah menerima tawaran Aldo yang mengajaknya untuk memulai hidup baru?
View More“Apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?” tanya Susan yang tidak dapat menahan rasa curiga.Tatapan Aldo berubah tajam. Dia tidak suka ibunya masih menyebut Elena dengan panggilan ‘wanita itu’.“Aku pernah bilang Papa, aku dan Lena sudah putus. Aku yakin, Mama sudah mendengarnya dari Papa.”Susan menyadari perubahan suara dan tatapan Aldo. Seketika dia teringat ucapan suaminya untuk tidak menyinggung kembali masalah percintaan putra mereka.Tanpa bertanya lagi, Susan meninggalkan Aldo. Dia tidak ingin hubungan mereka menjadi tegang dan dingin seperti sebelumnya. Apa enaknya didiamkan oleh anak kandung sendiri? Toh sekarang hubungan putranya dan Elena sudah berakhir.Dia hanya berharap, Aldo bisa segera melupakan wanita itu, dan mau membuka hati terhadap perempuan lain.***Elena mematut dirinya di depan cermin. Gaun midi kasual berwarna biru muda yang dikenakan, membuatnya terlihat segar dan lebih muda. Setelah puas dengan penampilannya, dia keluar kamar menuju ruang keluarga.“
Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem
“Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak
“Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”
Justin sangat terkejut, hingga tubuhnya mematung. Ibunya dan Kak Aldo―pelatih yang selama ini sudah dia anggap sebagai kakak, juga teman―sedang melakukan sesuatu di tempat umum, tidak jauh dari toilet.Perasaan Justin sungguh tidak keruan. Marah, kecewa, dan malu … itu yang dirasakannya. Dia juga m
Setelah memastikan Elena masuk kamar, Ratih menghampiri Damar yang telah pindah duduk di teras. Dia pun ikut duduk di sana.“Damar, kok kamu percaya begitu saja dengan ucapan istrimu?” tanya Ratih yang tadi mendengar pembicaraan anak dan menantunya.Sang putra yang sedang asyik merokok, menatap ibu
Suasana hening seketika, seolah pertanyaan Susan menyihir mereka untuk menghentikan acara makan yang masih berlangsung. Termasuk Johan. Namun tak lama, pria itu melanjutkan makannya dalam diam.“Ma …,” bisik Irene sambil memegang tangan Susan. Dia sungguh menyayangkan sikap ibunya yang tidak bisa m
Irene terperanjat. Matanya melebar dan jantungnya berdegup kencang. Kenapa tiba-tiba Mama malah tanya begitu?“Benar ‘kan?” tanya Susan sekali lagi. “Kamu tidak langsung jawab, berani benar dugaan Mama.”“Ma ….” Suara Irene terdengar memelas.“Apa?” Susan mendelik. “Kalau tiba-tiba hamil, terus bag












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore