LOGINKehidupan rumah tangganya yang jauh dari kata bahagia, membuat Elena terjerat dalam cinta yang diberikan Aldo—pria muda yang sudah dianggap teman oleh putranya. Sempat terbuai dengan perhatian pria itu dan jatuh dalam hubungan terlarang, tetapi kemudian semuanya berubah menjadi prahara ketika dunia, termasuk putranya, mengetahui perselingkuhannya. Segala nasihat, cibiran, bahkan hinaan harus diterima Elena, terlebih setelah semua orang tahu bahwa pria selingkuhannya berusia jauh di bawahnya. Namun di balik itu semua, ada satu rahasia yang menjadi kartu As Damar—sang suami—yang selalu dijadikan ancaman untuk Elena. Keputusan apa yang harus diambil Elena? Akankah dia tetap melanjutkan pernikahan yang menyesakkan demi kebahagiaan putranya, ataukah menerima tawaran Aldo yang mengajaknya untuk memulai hidup baru?
View MoreElena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan, dengan postur tinggi dan tegap, dan senyuman yang memikat. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu? Rasanya sungguh berat, terlebih Elena juga mencintainya.“Apa sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Aldo sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.“Tidak. Aku belum lama datang. Oya, kamu mau minum apa, Do? Aku pesan coffee mocktail, apa kamu juga mau?”“Ehm, aku mau lemon-lime mint.”“Oke. Sebentar ya.”Elena memanggil seorang pramusaji dan memesankan minuman untuk Aldo.“Tumben kamu ingin bertemu di sini, Sayang. Ada apa? Kenapa kita tidak bicara di kost atau apartemen?”Elena sengaja memilih bertemu di kafe, karena khawatir tidak sanggup menolak jika Aldo mengajaknya bermesraan. Dia suda
Elena terkejut melihat wanita yang mencoleknya.“Hai, Lena …. Apa kabar?” sapa Siska sambil memeluknya.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena sambil membalas pelukan wanita itu. “Mbak Siska sendiri, bagaimana kabarnya?”“Aku sehat dan baik, seperti yang kamu lihat. Oya Len, kamu ke mana saja sih? Sudah lama tidak muncul di hall.”Elena tertegun akibat pertanyaan wanita itu.“Tapi Sabtu kemarin aku lihat Justin datang sendirian,” ucap Siska lagi. “Kenapa kamu tidak mengantarnya, Len?”“Waktu itu memang Justin yang ingin pergi sendiri.”“Begitu ya?” balas Siska, kemudian melihat ke arah Asya. “Itu teman kantor kamu, Len? Enak juga ya, bisa jalan-jalan di mall.”“Iya, Mbak. Istirahat kami cukup panjang dan kantor kami juga dekat, makanya bisa jalan-jalan ke sini.”Siska mendekatinya, kemudian berbisik. “Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, Len.”Elena terlihat ragu. Dia khawatir dengan apa yang akan dikatakan Siska.“Tidak lama kok. Aku juga tahu kamu harus kembali ke kantor.”Mendapat uc
Aldo membelai pipi Elena. Tatapannya menelusuri setiap detail wajah kekasihnya. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir, dan akhirnya kembali pada sepasang mata Elena.“Apa kamu tahu,” ucapnya pelan, “aku sangat ingin bercinta denganmu.”“Do ….”“Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Bercinta bukan sekadar hubungan fisik, tetapi salah satu cara pria untuk mengungkapkan perasaannya, karena pria tidak pandai berkata-kata.”Elena tersenyum kecut. “Kamu belum cerita reaksi Justin mengenai hubungan kita. Aku benar-benar penasaran, Do.”“Apa lagi yang harus aku ceritakan? Aku yakin, kamu sudah bisa menebaknya. Justin mau kembali latihan dan meninggalkan rokok, asalkan kita tidak berhubungan lagi. Itu persyaratan yang dia minta.”“Seperti yang sudah aku duga.”“Itu permintaan wajar, Sayang. Seandainya salah satu orang tuaku berselingkuh, aku juga akan marah.”“Lalu apa yang harus kita lakukan, Do?”Aldo menatap Elena yang masih risau. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku bilang sebelumnya
Justin memikirkan ucapan Aldo. Dia memiliki rokok elektrik karena diberikan Dion, dan dia hanya mencobanya. Tidak benar-benar tertarik.Antara rokok dan basket, hatinya tetap memilih basket. Sebenarnya dia tersiksa karena sudah tidak bisa menahan diri untuk bermain basket lagi.“Bagaimana Justin?” Aldo menunjuk rokok elektrik yang berada di meja. “Apa kamu bisa meninggalkannya?”Perlahan Justin mengangguk.“Bagus. Dan kamu juga mau latihan lagi?”“Iya. Aku juga akan berhenti merokok asalkan Kak Aldo tidak berhubungan sama Mama lagi.”Aldo tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang Kak Aldo suka. Jadi anak muda harus selalu semangat.”“Tapi benar ‘kan, Kak Aldo dan Mama tidak berhubungan lagi? Kak Aldo harus janji. Aku juga tidak mau Kak Aldo menjemput atau mengantar aku pulang. Aku bisa naik ojek ke hall.”Sesaat Aldo terdiam. Secara tidak langsung Justin mengancamnya untuk memutuskan hubungan perselingkuhan dengan ibunya, jika ingin melihatnya kembali berlatih basket dan berhenti menggunakan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore