MasukSerena Collins bekerja di sebuah perusahaan ternama di London. Hidupnya terasa sempurna, apalagi ia memiliki kekasih bernama Ethan. Namun, segalanya hancur ketika Serena mendapati penghianatan Ethan dengan kakak tirinya sendiri. Di tengah kepedihan itu, Serena justru terjerat dalam sebuah perjanjian dengan Steave Alexander, Presdir karismatik sekaligus paman Ethan. Awalnya hanya demi keuntungan masing-masing, tapi perlahan muncul hasrat yang tak terbendung di antara mereka. Mampukah Serena bertahan menghadapi permainan hati yang penuh resiko, atau justru menemukan cinta sejatinya di tempat yang tak terduga?
Lihat lebih banyakHari ini Serena Collins dan Ethan, pacarnya, berjanji untuk bertemu. Serena tiba di apartemen Ethan dengan hati bahagia.
Tidak ada momen istimewa sebenarnya, tapi Serena tipe gadis yang selalu bisa menemukan alasan untuk merasa bahagia. Mungkin karena Ethan jarang punya waktu, jadi setiap janji bertemu terasa seperti perayaan kecil.
Awalnya, Serena berjalan riang, penuh semangat meski rintik air hujan yang tersisa hampir saja merusak blow-dry rambutnya.
Tangannya menggenggam payung kecil yang kini sudah dilipat, sementara hatinya penuh bunga.
Namun, begitu tiba di depan pintu nomor 3B yang tidak tertutup rapat, entah kenapa firasatnya jadi buruk.
"Ethan tidak pernah seceroboh ini, apa mungkin dia tidak sadar kalau pintunya masih belum terkunci...?" gumam Serena.
Tangannya terulur hendak mengetuk, tapi sesuatu menghentikannya. Hatinya benar-benar tidak tenang.
Ia mengernyit, kemudian mendorong pintu dengan hati-hati.
Ia melangkah dengan hati-hati, memasuki ruang tamu yang remang. Hanya lampu sudut yang menyala, menciptakan bayangan tanaman hias di dinding. Sofa terlihat berantakan, ada kemeja pria tergeletak di sandarannya. Jantung Serena mulai berdegup aneh. Tak hanya itu, Serena juga melihat ada gaun wanita dan pakaian dalam yang berserakan di depan pintu kamar. “Ethan?” panggilnya pelan. Tak ada sahutan. Ia melangkah lebih dalam. Suasana apartemen membuat dada Serena berdegup kencang, dan benar saja. Ketika ia hampir mendekati pintu kamar, telinganya menangkap suara. “Aahhh… lebih dalam, Ethan… jangan berhenti…!” suara perempuan, renyah, penuh desahan. Tubuh Serena langsung kaku. Kemudian suara laki-laki menyusul, jelas, suaranya ia kenal di luar kepala. “Kamu gila, Marissa… tubuhmu membuatku candu.” Serena berdiri terpaku, kepalanya jadi berdenyut. Suara ranjang berderit, disusul helaan napas yang bergantian. “Ahh, Ethan… lebih cepat… aku hampir—” “Diam, biar aku yang mengendalikanmu malam ini.” Serena menutup mulutnya dengan kuat, agar napasnya tak terdengar. Ia melangkah sedikit, sampai bisa mengintip dari celah pintu kamar yang terbuka beberapa centimeter. Dan di sanalah, semua keyakinannya hancur. Marissa, kakak tirinya, terbaring dengan rambut berantakan di bantal, dan tubuhnya yang telanjang, wajahnya mabuk penuh kenikmatan. Ethan, lelaki yang menjadi tunangannya, mencumbui kakak tirinya dengan rakus. Serena mematung. Air matanya memang jatuh, tapi wajahnya tetap keras. Ia bukan gadis yang akan menangis meraung di depan pintu. Ia hanya berdiri, menelan pahit kenyataan yang menikam jantungnya. Tangannya gemetar, tapi Serena tetap menegakkan punggung tak membiarkan dirinya jatuh saat itu. Ia menolak hancur di depan mereka. Dengan sisa kekuatan, ia mundur, meninggalkan celah pintu itu. Suara mereka masih mengiris telinga, tapi Serena memilih pergi. Serena sakit hati, tapi justru pikirannya yang makin kacau. Ia lebih bingung harus bagaimana dengan hubungannya bersama Ethan. Pertunangan mereka bukan sekadar urusan cinta, melainkan kesepakatan dua keluarga besar. Jika ia membatalkannya, ibu tirinya bisa membuat ayahnya untuk menarik semua biaya pengobatan ibu kandungnya yang sedang dirawat intensif di rumah sakit. Tapi kalau ia tetap melanjutkan, ia merasa seperti menusuk dirinya sendiri dengan pisau yang sama. Serena menggenggam dadanya, antara ingin berteriak atau sekadar pingsan. Rasanya semua jalan yang ada di depannya membawa pada kehancuran. Ia berlari keluar dari apartemen, kepalanya terasa penuh. Ia mendorong pintu dengan tergesa. Napasnya terengah, wajahnya sudah basah oleh air mata. Serena buru-buru berjalan di lorong. Dan saat itulah ia hampir menabrak seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi.Serena menengadah.
Pria itu menatapnya dalam. Matanya gelap, penuh perhitungan pada gadis itu.
Sedangkan Serena kembali menunduk, melewatinya tanpa kata.
Pria itu adalah Steave Alexander Whitmore, paman Ethan.
Steave pun memperhatikan gadis itu berjalan tanpa arah dan ada air mata di pipinya. Lalu, curiga muncul. Steave melangkah ke apartemen Ethan, membuka pintu begitu saja. Dan benar dugaan hatinya, terdengar suara desahan, erangan, serta ranjang yang berderit. Sekali lihat saja, ia sudah tahu apa yang terjadi. Senyum miring muncul di bibirnya. Ia merogoh ponsel dari saku, lalu menempelkan ke telinga. “Paul,” ucapnya datar. “Rencana kita maju lebih cepat. Persiapkan semuanya.”Bandara malam itu dipenuhi lalu lalang penumpang. Namun di sudut khusus keberangkatan, suasana terasa lebih intim.Serena memeluk Luna dengan hati-hati, tangannya mengusap punggung menantunya penuh kasih. “Jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu lelah,” ucapnya. Luna mengangguk patuh. “Iya, Bu.”Serena lalu menoleh ke arah Rion. Tatapannya berubah sedikit tegas, khas seorang ibu. “Kamu juga. Jangan terlalu keras kepala.”Rion mengangguk paham. “Iya, Bu.”Sementara itu, Steave berdiri di depan Leo yang sedang menggendong Azzura yang tidak bisa diam.“Awas kamu,” ujar Steve setengah mengancam, tapi dengan nada bercanda. “Kalau Azzura jatuh lagi dan terus menangis–”“Iya Ayah! Intruksi diterima!” Leo langsung panik. “Aku akan menjaga princess Whitmore dengan baik.”Steave mendengus, lalu mengusap kepala Azzura yang malah tertawa tanpa mengerti apa-apa. “Kamu bisa perintahkan apa saja pada Om-mu,” gumamnya pada sang cucu. Leo memutar mata kesal, kalau ayahnya tidak menjanjikan bahwa ia
Beberapa hari setelah malam itu, suasana megah menyelimuti sebuah hotel bintang lima di pusat London.Resepsi pernikahan yang selama ini tertunda akhirnya digelar.Aula besar itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dihiasi bunga-bunga segar yang elegan. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan pebisnis besar, relasi internasioal, hingga keluarga dekat. Jumlahnya bukan lagi kalanga, tapi hampir mencapai ribuan.Di atas pelaminan, Rion dan Luna berdiri berdampingan.Luna tampak begitu anggun dalam balutan gaun putih panjang yang menjuntai sempurna. Senyumnya tidak pernah lepas, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan.Sementara di sampingnya, Rion berdiri tegap dengan setelan jas elegan. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi sesekali sudut bibirnya terangkat saat menatap istrinya.Tangannya tidak pernah lepas dari Luna.“Kamu capek?” tanya Rion sedikit menunduk ke arah Luna.Luna menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku sangat senang.”Rion menatapnya beberapa detik le
Di ruang keluarga, Serena tampak duduk santai di sofa sambil memangku Azzura. Tangan wanita itu dengan sabar menggoyangkan mainan kecil, membuat balita mungil itu tertawa riang tanpa henti.“Pintarnya,” ujar Serena, matanya penuh kasih.Azzura merespons dengan suara celoteh yang belum jelas, tetapi cukup membuat Serena semakin gemas. Ia mengecup pipi kecil itu berkali-kali.Kemudian, ia mendengar langkah kaki yang mendekat, Serena menoleh, lalu mendapati Luna berdiri tidak jauh dari sana. Wajah menantunya itu tampak berbeda, dan sedikit gugup, bahkan cenderung malu.“Luna?” panggil Serena. “Ada yang kamu butuhkan?”Luna menggigit bibir bawahnya sebentar, ragu untuk berbicara. Tangannya saling menggenggam, terlihat sedang menahan rasa canggung.“Ibu…” suaranya sekecil mungkin. “Ya?” Serena tersenyum, menunggu dengan sabar.Luna menarik napas, lalu akhirnya memberanikan diri. “Malam ini… apakah Ibu bisa menjaga Azzura?”Serena terdiam sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit p
Selesai makan malam, Luna mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih gelap. Azzura akhirnya tertidur setelah cukup lama bermain lagi di atas tempat tidur. Napas kecilnya terdengar teratur, dan wajah mungilnya tampak damai. Luna mengelus kepala putrinya sebelum berdiri. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.Tubuhnya terasa lelah. Hari ini cukup panjang, jadi ia berniat mandi sebentar untuk merilekskan diri.Namun, baru saja ia tiba di dalam kamar mereka, dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang melingkupi pinggangnya.Luna tersentak dan tubuhnya sempat menegang. “Rion?!” ucapnya kaget.Napas hangat menyentuh lehernya. “Hemm.”Suara rendah itu langsung membuat tubuh Luna melemas. “Kamu ini,” gumamnya, tangannya menyentuh lengan Rion yang masih memeluknya erat.Rion semakin mendekat. Wajahnya bersandar di bahu istrinya. Ia benar-benar lelah.“Kapan pulang?” tanya Luna. “Dari tadi.”Luna tersenyum kecil. “Kenapa tidak bila
Seorang staf membawa koper Luna ke lantai dua villa. Koridor villa terasa terang karena hampir seluruh dindingnya berupa kaca besar. “Ini kamar Anda, Nona Luna,” kata staf sambil membuka pintu.“Terima kasih.” Luna melangkah masuk. Dan langsung berhenti.Kamarnya tidak terlalu besar, tetapi sanga
Theodore dan Luna berjalan semakin jauh dari area perkemahan. Awalnya bunga-bunga itu hanya setinggi lutut.Namun semakin mereka masuk ke dalam padang, batang-batang bunga liar mulai semakin tinggi.Beberapa bahkan hampir mencapai pinggang mereka. Angin musim semi yang bertiup membuat hamparan bung
Malam di perkemahan terasa sangat sunyi.Angin berhembus melewati pepohonan pinus di sekitar danau. Sesekali terdengar suara dedaunan, atau bunyi serangga malam dari padang rumput.Api unggun di luar tenda sudah lama padam, dan hanya tersisa bara kecil yang redup.Di dalam tenda besar, Serena tidur
Luna langsung menoleh. Dua anak laki-laki muncul dari balik semak. Mereka terlihat sedikit lebih besar darinya. Mungkin beberapa tahun lebih tua.Pakaian mereka kotor oleh tanah. Salah satunya membawa sebatang kayu panjang di pundaknya.Dan di kayu itu, beberapa burung besar dan sedang terlihat ter






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak