Share

Sarapan Bersama

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 18:33:49

"Ayo Al, kita sarapan bersama, Leo pasti sudah menyiapkan kopi untuk kita." ajak Daniel sambil menggenggam tangan Alya, sementara itu aroma kopi Arabika dan roti panggang mentega memenuhi ruang makan kediaman Arkana yang megah namun hangat. Di meja makan kayu jati yang panjang, suasana pagi itu tampak seperti keluarga normal pada umumnya, jika saja tidak ada tiga tablet dan satu laptop yang menyala di antara piring-piring omelet.

Bunda Laura duduk di ujung meja, menyesap teh melatinya dengan anggun. Sebagai ibu kandung Alya, ia memiliki ketenangan yang sama dengan putrinya, namun dengan kelembutan yang lebih matang. Ia menatap Alya, Daniel, dan cucunya dengan tatapan yang penuh kasih sekaligus haru. Ia tahu betul darah peretas yang mengalir di tubuh Alya berasal dari rasa ingin tahu yang ia tanamkan sejak kecil, namun ia tidak menyangka cucunya, Leo, akan melampaui mereka semua begitu cepat.

"Leo, makan brokoli itu dulu sebelum kau menyentuh kodingan di tabletmu," tegur Bund
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo di Sekolah

    Insiden di Jam IstirahatMasalah sebenarnya muncul saat jam istirahat. Leo sedang duduk di pinggir lapangan basket, mencoba menikmati kotak bekalnya yang berisi nasi goreng, ketika ia melihat segerombolan anak kelas lima sedang mengerumuni seorang anak perempuan yang tampak menangis.Rupanya, salah satu anak kelas lima yang bertubuh besar telah mengambil tablet milik anak perempuan itu dan mengganti password-nya sebagai lelucon."Kalau kamu tidak bisa membukanya dalam sepuluh menit, aku akan menghapus semua foto liburanmu!" seru anak kelas lima itu sambil tertawa.Anak perempuan itu menangis tersedu-sedu. Leo menghentikan kunyahannya. Sisi "Arkana" dalam dirinya mulai bangkit. Ia tidak suka ketidakadilan, terutama yang melibatkan penyalahgunaan teknologi.Ia berdiri dan mendekat. "Ehm, permisi," kata Leo kecil.Si perundung menoleh ke bawah. "Apa kamu, anak kelas satu? Mau ikut campur?""Aku... aku tadi lihat di YouTube cara buka kunci kalau lupa," bohong

  • Gairah Sang CEO Muda   Di Jakarta

    Penerbangan dari Zurich ke Jakarta memakan waktu belasan jam, namun bagi keluarga Arkana, waktu terasa melambat. Di dalam kabin kelas bisnis yang sunyi, mereka tidak banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikiran tentang apa yang telah mereka lalui.Daniel menatap ke luar jendela pesawat yang terbang di atas hamparan awan. Ia memikirkan tentang tabung logam yang kini telah hancur, isinya telah menyebar ke ribuan server kemanusiaan di seluruh dunia. Ia merasa beban besar di pundaknya telah terangkat, namun ia tahu, sebagai seorang kepala keluarga dengan nama belakang Arkana, kewaspadaan adalah napasnya.Alya tertidur di bahu Daniel, kelelahan fisik dan emosional akhirnya mengambil alih. Sementara Leo, sang remaja jenius, tampak sibuk menulis barisan kode baru—kali ini bukan untuk meretas bank, melainkan sistem automasi rumah mereka di Jakarta agar "Bunda Laura bisa merasa hadir" lewat suara dan pengaturan suhu saat mereka tiba nanti.Ketika roda pesawat menyentuh as

  • Gairah Sang CEO Muda   Pulang

    Layar monitor di ruang kerja kakek Leo seketika berubah menjadi medan tempur digital. Barisan kode berwarna hijau zamrud mengalir deras, bertabrakan dengan dinding api (firewall) berwarna merah darah milik The Vulture."Mereka tahu kita di sini!" seru Leo, jemarinya bergerak secepat kilat. "Begitu drive optik ini terhubung ke jaringan Swiss, mereka melacak lonjakan energinya. Mereka menggunakan superkomputer dari pangkalan di Mediterania untuk membobol pertahanan kita!"Alya berdiri di samping Leo, matanya memindai enkripsi yang lewat. "Leo, jangan lawan mereka secara frontal. Gunakan protokol 'Kuda Troya' yang kita pelajari di Jakarta. Biarkan mereka merasa berhasil masuk, lalu kunci mereka di dalam sandbox."Pertahanan PerimeterSementara itu, Daniel mengikuti Laura ke sebuah panel rahasia di balik rak buku. Laura menekan ibu jarinya pada pemindai tersembunyi. Sebuah layar muncul, menampilkan denah 3D rumah mereka yang dikelilingi oleh hutan pinus yang gelap."Rumah ini memiliki sis

  • Gairah Sang CEO Muda   Ketegangan di Zurich

    "Ingat, kita punya waktu kurang dari lima belas menit di dalam ruang brankas," ujar Daniel sambil merapikan jas wolnya. Ia memeriksa jam tangannya. "Leo, kau tetap di van. Monitor semua frekuensi radio polisi dan The Vulture. Jika kau melihat satu saja anomali di umpan kamera kota, kau beri kode 'Hujan'."Leo mengangguk, jari-jarinya sudah menari di atas keyboard laptop. "Aku sudah meretas akses masuk tamu untuk kalian. Papa dan Mama masuk sebagai 'Mr. and Mrs. Sterling' dari firma hukum di London. Biometrik Papa sudah disinkronkan dengan data kakek, tapi sistem mereka akan melakukan pemindaian retina ganda."Alya menghela napas panjang. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra, tampak seperti sosialita Eropa pada umumnya. "Ayo, Daniel. Mari kita lihat apa yang ayahmu sembunyikan selama ini."Lantai marmer bank itu mengkilap sempurna, memantulkan bayangan lampu gantung kristal yang megah. Seorang pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar menyambut mereka deng

  • Gairah Sang CEO Muda   Menuju Zurich

    Mesin turboprop ganda dari pesawat kargo Beechcraft King Air yang telah dimodifikasi menderu rendah, membelah awan kelabu di atas perairan internasional. Di dalam kabin yang sempit dan berbau pelumas mesin serta kopi instan, Daniel, Alya, dan Leo duduk bersandar pada tumpukan peti kayu yang ditutupi jaring kargo.Ini adalah fase transisi yang paling berbahaya: menjadi "hantu" di radar penerbangan sipil."Kenzo bilang kita akan mendarat di pangkalan udara kecil di dekat Lyon sebelum menempuh jalur darat ke Zurich," Daniel memecah keheningan. Ia sedang membersihkan sisa jelaga di bawah kuku jarinya dengan pisau lipat kecil. "Itu rute yang memutar, tapi paling aman dari pengawasan satelit The Vulture."Leo, yang duduk memeluk lututnya di atas tas taktis, menatap ke luar jendela kecil yang bergetar. "Pa, kalau mereka bisa melacak kita sampai ke pulau terpencil di tengah laut, apa bedanya dengan Zurich? Kota itu punya kamera di setiap sudut jalan."Alya, yang sedang memeriksa tablet transp

  • Gairah Sang CEO Muda   Pelarian dari Cakrawala yang Runtuh

    Asap hitam membubung tinggi dari reruntuhan helikopter yang jatuh di lereng gunung bawah laut, mengaburkan pemandangan hutan hujan mini yang kini porak-poranda. Daniel menyeka darah yang mulai mengering di pelipisnya, matanya tajam menyapu perimeter. Protokol Phoenix memang sudah aktif, tetapi itu tidak berarti ancaman fisik telah berakhir. The Vulture bukanlah organisasi yang menerima kekalahan dengan lapang dada; jika mereka tidak bisa memiliki data itu, mereka akan memastikan tidak ada yang keluar dari pulau ini hidup-hidup."Alya, berapa sisa amunisi?" Daniel bertanya sambil memeriksa magasin senapan serbunya."Dua magasin penuh untukku, satu untukmu. Leo hanya punya pistol kejut dan drone Mosquito-nya," jawab Alya cepat. Ia sedang sibuk memasukkan beberapa drive keras cadangan ke dalam tas taktis Leo. "Kita harus sampai ke dermaga dalam lima menit, atau sistem penghancur diri otomatis pulau ini akan mengunci kita di dalam bersama para tentara itu.""Penghancur diri?" Leo terpekik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status