LOGINMati dalam kesepian karena diabaikan suami di kehidupan sebelumnya, Thalassa Eleana bertransmigrasi ke tubuh seorang istri bangsawan yang dikenal kasar dan pembangkang. Thalassa Esmeralda. Seseorang yang memiliki nama hampir sama dengannya. Di kehidupan baru ini, ia justru menghadapi Kaelen Aristhos, suami yang sangat posesif dan mencintainya dengan intensitas yang hampir gila. Jika pemilik tubuh yang asli membenci kekangan Kaelen, Thalassa yang haus kasih sayang justru merasa aman dalam "sangkar emas" tersebut. Ia berubah menjadi istri yang sangat penurut dan manja, sebuah perubahan yang membuat Kaelen terjebak antara kecurigaan dan obsesi yang semakin dalam. Di dunia ini, Thalassa akhirnya menemukan bahwa menjadi milik seseorang sepenuhnya adalah surga yang selama ini ia cari.
View MoreEmbun beku menusuk tulang di malam musim dingin, sama seperti rasa dingin yang telah lama bersarang di dada Thalassa. Di ranjang yang luas, ia terbaring sendirian, matanya menatap langit-langit yang dihiasi ukiran mewah. Sebuah ukiran yang tak pernah ia perhatikan di tahun-tahun pernikahannya.
Tangannya yang pucat meraba selimut sutra dingin, berharap sentuhan hangat suaminya akan datang, seperti yang selalu ia harapkan di setiap malam yang sunyi. Namun seperti biasa, ranjang di sebelahnya tetap kosong, dan hatinya tetap hampa.
Sepanjang hidupnya, ia telah menjadi istri yang sempurna. Setia, penurut, dan sabar. Ia mencintai pria itu dengan seluruh jiwanya, membenarkan setiap pengabaiannya sebagai bentuk kesibukan, setiap tatapan kosongnya sebagai kelelahan. Tapi kini, saat napasnya semakin memburu dan tubuhnya meredup, ia tahu. Itu bukan kesibukan. Itu bukan kelelahan. Itu adalah ketiadaan cinta. Ia mati, bukan karena penyakit yang menggerogoti fisiknya, melainkan karena luka hati yang tak pernah tersembuhkan. Di saat-saat terakhirnya, sebuah penyesalan menusuknya: Mengapa ia menghabiskan hidupnya demi seseorang yang tak pernah menganggapnya ada? Thalassa tersentak, paru-parunya seolah dipaksa menghirup oksigen yang terlalu tajam. Ia tidak lagi berada di kamarnya yang suram. Ia terbangun di sebuah ruangan megah yang didominasi warna gelap dan emas, dengan aroma kayu cendana dan parfum maskulin yang berat memenuhi udara.Tubuhnya terasa berbeda. Lebih hidup, namun penuh dengan sisa-sisa amarah yang bukan miliknya. Ingatan asing membanjirinya seperti air bah, tentang seorang wanita bernama Thalassa Esmeralda yang dibenci oleh pelayannya sendiri, seorang istri yang dikenal sebagai pemberontak yang tak segan melempar piring ke wajah suaminya.
"Kau sudah bangun, rupanya. Apakah drama pingsanmu sudah selesai?" Suara itu rendah, dalam, dan bergetar dengan kemarahan yang tertahan. Thalassa menoleh dan jantungnya hampir melompat keluar. Di ambang pintu, berdiri seorang pria yang tampak seperti dewa kematian yang turun dari langit malam. Kaelen Aristhos. Rahangnya tegas, matanya menatap tajam di balik kacamata yang ia kenakan, dan aura posesifnya terasa begitu nyata hingga membuat bulu kuduk Thalassa berdiri. Dalam ingatan pemilik tubuh asli, Kaelen adalah monster yang mengekang. Namun bagi jiwa Thalassa yang pernah mati karena diabaikan, tatapan tajam dan intens Kaelen adalah sebuah kemewahan. Pria ini tidak mengabaikannya. Pria ini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang ada di dunia ini, meski tatapan itu penuh dengan kecurigaan. Kaelen melangkah mendekat, bayangannya menutupi tubuh Thalassa yang kecil di atas tempat tidur. Ia bersiap untuk mendengar makian atau melihat istrinya itu melemparkan bantal ke arahnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Thalassa tidak berteriak. Ia tidak membangkang. Dengan gerakan pelan yang sangat asing bagi Kaelen, wanita itu justru mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh ujung lengan kemeja Kaelen dengan ragu. "Tuan... Kaelen..." bisik Thalassa, suaranya serak dan lembut. Ia menatap Kaelen dengan mata yang berkaca-kaca, tatapan seorang wanita yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah tersesat di samudra yang dingin. "Jangan pergi. Tetaplah di sini... bersamaku." Kaelen membeku. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Ini bukan Thalassa yang ia kenal. Harusnya wanita ini mengusirnya dengan penuh kebencian. Namun, melihat kerapuhan di mata istrinya, sesuatu yang gelap dan posesif di dalam diri Kaelen yang selama ini ia tekan, tiba-tiba meledak. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Kaelen tidak berbalik pergi. Ia duduk di tepi ranjang, mencengkeram jemari Thalassa dengan kekuatan yang hampir menyakitkan, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkannya sedikit saja. "Apa yang kau rencanakan, Thalassa?" geram Kaelen di dekat telinganya. "Jika ini adalah permainan baru untuk membuatku lengah, kau berhasil. Karena aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini lagi." Thalassa meraih pergelangan tangan Kaelen dengan kedua tangannya yang gemetar. "Kunci aku, Kaelen. Jika kau takut aku lari, maka dekap aku lebih erat. Jangan biarkan aku sendirian di ruangan ini... aku benci kedinginan." "Apa kau sedang mencoba menggoda agar aku melunakkan pengawasan?" Kaelen mendekatkan wajahnya, napasnya yang hangat menerpa bibir Thalassa. "Jika ini permainan, kau bermain dengan api, Thalassa." Thalassa justru tersenyum kecil. "Kalau begitu, bakarlah aku dalam apimu, Tuan Kaelen. Aku lebih baik terbakar bersamamu daripada harus membeku sendirian seperti dulu." "Kau yang memintanya," geram Kaelen dengan suara serak yang penuh ancaman. "Mulai detik ini, jangan harap kau bisa melihat dunia luar tanpa ada aku di sisimu. Kau adalah milikku, seutuhnya." Thalassa tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kepasrahan yang manis. Ia tidak takut pada cengkeraman itu. Ia justru menikmatinya. Di kehidupan ini, ia akan menjadi sangkar bagi obsesi pria ini, dan ia akan memastikan bahwa Kaelen tidak akan pernah berpaling darinya, meski itu artinya ia harus menjadi istri yang paling penurut di dunia.Keputusan Kaelen mengguncang seluruh isi rumah. Sang Duke yang biasanya menghabiskan 18 jam sehari untuk urusan wilayah, kini justru mengurung diri di rumah. Namun, bagi Thalassa, ini adalah surga yang selama ini ia impikan.Kaelen tidak membiarkan Thalassa berada jauh darinya. Saat Kaelen membaca buku di perpustakaan pribadi yang luas, Thalassa harus duduk di sebelahnya, bersandar pada bahu suaminya sambil merajut atau sekadar memperhatikan wajah pria itu. Jika Thalassa mencoba berdiri untuk mengambil air, tangan Kaelen akan segera menahan bahunya dengan posesif."Biarkan pelayan yang mengambilnya. Tetaplah di sini," gumam Kaelen tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya, meski jemarinya kini asyik membelai rambut cokelat Thalassa yang terurai panjang.Thalassa mendongak, memberikan tatapan manja yang membuat jantung Kaelen berdebar tidak keruan. "Kau terlalu protektif, Kaelen. Aku hanya ingin mengambilkanmu teh hangat.""Aku tidak butuh teh. Aku hanya butuh kau tidak menghilang dari
Thalassa tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun, sebuah kebiasaan dari kehidupannya yang lalu yang kini muncul secara alami. Ia menumpukan dagu di atas tautan tangannya, menatap Kaelen dengan binar yang tulus, sesuatu yang belum pernah dilihat Kaelen sebelumnya."Kehidupan yang penuh amarah itu sangat melelahkan, Kaelen," jawab Thalassa lembut. "Aku hanya menyadari bahwa tidak ada gunanya melawan pria yang memegang kunci duniaku. Lagipula..." Ia menjeda, membiarkan jemarinya merayap di atas meja, menyentuh punggung tangan Kaelen yang kokoh. "Dulu aku merasa sesak karena pengawasanmu. Tapi sekarang, aku merasa hangat karena kau memperhatikanku."Cengkeraman tangan Kaelen pada kursinya mengeras. Ia tidak menyangka jawaban itu akan keluar dari bibir wanita yang biasanya mengutuk namanya di setiap napas. Hasrat posesif yang selama ini ia kunci rapat kini bergejolak hebat. Baginya, Thalassa adalah sebuah teka-teki yang baru saja berubah bah
Pagi hari di kediaman Aristhos biasanya dimulai dengan bisik-bisik sinis dari para pelayan di lorong-lorong gelap. Namun, pagi ini berbeda. Thalassa terbangun lebih awal, memastikan dirinya tampil sempurna sebelum Kaelen meninggalkan ranjang.Setelah Kaelen berangkat dengan pesan posesif seperti biasa, Thalassa memanggil seluruh staf rumah tangga ke aula utama.Aula utama kediaman Aristhos yang biasanya terasa mencekam karena amarah, kini terasa dingin karena otoritas. Thalassa berdiri dari kursi beludrunya, berjalan perlahan mengitari barisan pelayan yang menunduk dalam. Suara tumit sepatunya yang beradu dengan lantai marmer menciptakan irama yang menekan mental siapapun yang mendengarnya."Martha," panggil Thalassa pelan. Seorang pelayan senior dengan wajah pucat melangkah maju, tubuhnya bergetar hebat. "Aku tahu kau menerima koin emas dari keluarga Viscount setiap minggu hanya untuk melaporkan jam berapa Duke Kaelen pulang dan apa saja yang ia makan. Apakah kesetiaanmu semurah itu?
Suasana aula perjamuan kerajaan begitu berkilauan. Ratusan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan lencana militer para bangsawan. Namun, bagi Thalassa, kemewahan ini terasa asing. Ia melangkah dengan anggun di samping Kaelen, tangan mungilnya terselip dengan patuh di lengan kokoh suaminya. Thalassa mengenakan gaun beludru berwarna hijau zamrud yang tertutup hingga ke leher, namun sangat pas membentuk tubuhnya. Rambutnya terurai indah, hanya dijepit oleh bros kecil pemberian Kaelen. Di lehernya, kalung permata yang berat seolah menjadi pengingat permanen bahwa ia adalah milik pria di sampingnya. Kaelen berjalan dengan dagu terangkat, aura otoritasnya membuat orang-orang menyingkir secara otomatis. Matanya yang tajam terus memindai sekeliling, tidak membiarkan satu detail pun luput dari pengawasannya. Saat Kaelen sedang berbincang singkat dengan seorang Duke dari wilayah lain, seorang pria muda dengan pakaian yang sedikit mencolok mend






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.