MasukAlmira tersenyum, sebuah binar jenaka terpancar dari matanya yang lelah namun bahagia. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menyandarkan bobot tubuhnya sepenuhnya pada Leo, membiarkan keheningan gudang tua itu menjadi melodi yang jauh lebih indah daripada riuh rendah pemberitaan di luar sana.Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum sebuah bunyi ping yang nyaring memecah suasana. Bukan dari monitor utama, melainkan dari konsol usang di sudut ruangan—komputer pertama yang Leo rakit saat ia baru berusia sepuluh tahun.Leo menghela napas panjang, pura-pura kesal. "Mumu, bukankah aku sudah bilang jangan ada notifikasi selama satu jam ke depan?"Mumu berhenti berputar. Lampu sensornya berubah menjadi kuning redup, dan robot itu mengeluarkan suara mekanis yang terdengar seperti permintaan maaf. "Input terdeteksi dari jalur pribadi 'Alpha-01', Leo. Pengirim: Alya Arkana."Leo tertegun. Ia meraih tabletnya dan membuka pesan singkat itu. Isinya hanya sebuah k
Leo terdiam sejenak. Ia memandang cincin karbon di jari Almira, lalu kembali ke ibunya. "Katakan padanya, Ma. Aku tidak akan kembali ke Arkana Corp. Tapi aku tidak akan membiarkan kota ini mati karena kesalahan teknologinya. Aku akan merilis protokol stabilisasi secara cuma-cuma minggu depan. Bukan untuk dia, tapi untuk orang-orang yang hampir dia celakakan."Leo menggenggam tangan Alya. "Mama boleh datang kapan saja ke sini. Tapi sebagai ibuku, bukan sebagai perwakilan Daniel Arkana."***Satu minggu kemudian, dunia teknologi tidak hanya terguncang—ia mengalami pergeseran tektonik. Keputusan Leo untuk merilis protokol stabilisasi Sub-Atomic secara cuma-cuma, yang kemudian dijuluki media sebagai "The Prometheus Protocol", meruntuhkan tembok monopoli energi dalam semalam. Berikut adalah gambaran bagaimana dunia merespons tindakan "pemberontakan" Sang Jenius: Gudang tua yang dulunya sunyi kini dikepung oleh drone kamera dan truk satelit, namun Leo tetap mengunci pintu rapat-rapat. Ia
Leo melangkah mendekati Almira, yang kini matanya sudah berkaca-kaca."Tapi kau mengubah variabelnya," lanjut Leo. "Kau masuk ke dalam persamaanku yang kacau dan menjadi konstanta. Tanpamu, L-Heuristic hanyalah tumpukan logam dingin. Tanpamu, aku mungkin sudah menjadi versi yang lebih muda dan lebih pahit dari Daniel Arkana."Pengakuan Sang JeniusLeo memberi isyarat pada Mumu. Robot kecil itu mendekat, membawa sebuah kotak kecil yang terbuat dari titanium murni, hasil cetakan 3D-printer laboratorium mereka."Banyak orang mengira aku jenius karena aku bisa memecah atom," ujar Leo sambil mengambil kotak itu. "Tapi sebenarnya aku sangat bodoh, Al. Aku butuh lima tahun untuk menyadari bahwa penemuan terbesarku bukan berada di dalam botol energi itu, tapi ada di hadapanku sekarang."Leo membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada cincin berlian mahal dari toko perhiasan ternama. Sebaliknya, ada sebuah cincin yang terbuat dari serat karbon hitam dengan sebuah batu kecil berwarna biru pudar di
Malam di pinggiran kota biasanya terasa sunyi, namun di dalam gudang tua yang menjadi markas L-Heuristic Research, kesunyian itu digantikan oleh dengungan rendah yang harmonis. Pendaran biru dari Sub-Atomic Capacitor memantul di dinding bata yang terkelupas, memberikan kesan magis pada tumpukan logam dan kabel yang berserakan.Leo berdiri di tengah ruangan, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang ternoda oli. Di depannya, sebuah konstruksi logam setinggi dua meter—yang lebih mirip instalasi seni daripada mesin—berdiri dengan anggun. Itu adalah proyek rahasianya selama tiga bulan terakhir. Bukan untuk investor, bukan untuk pameran teknologi, tapi untuk satu-satunya orang yang tetap tinggal ketika seluruh dunia, termasuk ayahnya sendiri, membuangnya.Hari ini adalah ulang tahun Almira. Dan bagi Leo, ini adalah hari di mana "variabel keberanian" dalam dirinya harus mencapai angka mutlak.Persiapan di Balik Rongsokan"Unit 04, geser sedikit ke kiri. Kau menghalangi sudut p
Alya menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang menyimpan beban kerinduan selama lima tahun. "Dia tidak menghancurkan ayahnya, Daniel. Dia menghancurkan seorang diktator yang mencoba membunuh jiwanya. Kau menyebutnya 'sampah imajinatif', kau membuangnya ke jalanan tanpa sepeser pun uang, berharap dia akan merangkak kembali padamu sambil memohon ampun. Tapi kau lupa satu hal tentang putra kita..." Alya menjeda, matanya mulai berkaca-kaca. "Leo memiliki hatiku, bukan hanya otakmu. Dia memiliki integritas yang tidak bisa kau beli dengan saham Arkana Corp." Membujuk Sang Penguasa yang Runtuh "Sudahlah, Daniel," lanjut Alya, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan yang menyayat. "Akui saja. Kau sudah kalah. Dan kekalahanmu bukan karena teknologi Leo lebih hebat, tapi karena Leo berhasil menjadi manusia yang utuh, sementara kau hanyalah sebuah monumen dari keserakahan yang mulai retak." Daniel akhirnya mendongak. Matanya merah, penuh dengan amarah yang bercampur dengan
Sore itu, di bengkel Almira yang kini sudah jauh lebih rapi berkat dukungan finansial (secara anonim) dari Leo, sebuah motor sport hitam berhenti. Pengendaranya membuka helm, menyingkap wajah yang kini lebih segar dan tenang. "Bagaimana pertemuannya?" tanya Leo saat Almira keluar menemuinya. "Ayahmu terlihat perlu liburan panjang," jawab Almira sambil tertawa kecil. "Dan aku baru saja memberitahunya bahwa aku adalah pemilik 'saham' paling berharga dalam hidupmu." Leo turun dari motornya, mendekati wanita itu. "Oh ya? Dan apa itu?" Almira melingkarkan lengannya di leher Leo, mengabaikan debu yang menempel di jaket mereka. "Kebebasanmu, Leo. Dan fakta bahwa aku mencintaimu meski kau hanya punya satu kuali kotor untuk dicuci." Leo tertawa, suara yang dulu jarang terdengar kini menjadi melodi harian. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala, ditenagai oleh energi yang kini lebih bersih dan stabil—hasil dari pemikiran seorang pria yang pernah dianggap gila. *** Langkah kaki A







