MasukLantai-lantai tangga darurat Marina Bay Sands terasa seperti labirin beton yang tak berujung bagi Tante Lina. Napasnya tersengal, dadanya sesak, dan kakinya yang terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi kini harus dipaksa berlari hanya dengan kaus kaki setelah ia memutuskan melempar sepatunya agar tidak menimbulkan suara gaduh. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya, membasahi blus sutranya yang kini tampak lusuh.
"Ayo, Lina... sedikit lagi. Kamu harus sampai ke lobi atau area park
Malam di kawasan Kemang terasa begitu sunyi, hanya suara rintik gerimis yang membasahi dedaunan di taman rumah besar keluarga Baskoro. Namun, di balik tembok-tembok kokoh itu, kesibukan luar biasa sedang terjadi. Tiga hari menjelang akad nikah Jessy dan Brian, setiap sudut rumah dipenuhi oleh barang-barang kebutuhan pernikahan. Koper-koper besar milik keluarga Jogja yang sudah tiba kemarin tampak tertata di sudut lorong, sementara aroma melati mulai tercium samar dari beberapa rangkaian bunga yang baru saja diantarkan vendor.Di ruang tengah, Sonya duduk di sofa panjang dengan kaki yang disandarkan di atas ottoman. Kandungannya yang sudah memasuki usia delapan bulan membuatnya cepat merasa lelah. Perutnya yang membuncit besar sesekali bergerak-gerak, menandakan si jabang bayi sedang sangat aktif."Mas... tolong ambilkan bantal satu lagi, dong. Pinggangku rasanya mau copot," keluh Sonya pelan kepada Arya yang sedang sibuk memeriksa manifes katering di tabletnya
Satu minggu setelah acara lamaran resmi yang mengharukan itu, rumah Kemang tidak pernah benar-benar sepi. Persiapan pernikahan yang direncanakan tiga minggu lagi membuat seisi rumah seperti lebah yang sibuk. Namun, ada satu aturan adat yang ditegaskan oleh Bu Rahmi dan disetujui oleh Pak Baskoro: Jessy dan Brian harus menjalani masa "pingitan" atau tidak diperbolehkan bertemu secara langsung selama dua minggu menjelang hari H.Bagi sepasang kekasih yang baru saja merasakan puncak gairah dan penyatuan jiwa, aturan ini terasa seperti siksaan batin yang luar biasa. Brian kini lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor yayasan cabangnya di Jakarta atau membantu Arya di kantor Sonya Fast, sementara Jessy "dikurung" di rumah bersama Sonya untuk fokus pada perawatan pengantin dan persiapan mental.***Malam itu, gerimis kembali membasahi Jakarta. Jessy duduk di balkon kamarnya, menatap layar ponsel yang menyala. Ia baru saja selesai melakukan perawat
Satu bulan telah berlalu sejak perjalanan romantis ke Yogyakarta yang mengubah segalanya. Waktu satu bulan itu digunakan Brian untuk bolak-balik Jakarta-Jogja guna mengurus kepindahan tugas yayasannya serta mempersiapkan kedatangan keluarga besarnya. Sementara itu, Jessy semakin menunjukkan transformasi luar biasa; trauma masa lalunya kini benar-benar terkubur di bawah tumpukan kebahagiaan dan rasa percaya diri yang baru.Pagi itu, rumah Kemang sudah berubah menjadi istana kecil. Tenda dekorasi transparan dengan hiasan bunga-bunga organik dan lampu gantung kristal memenuhi halaman belakang. Arya benar-benar totalitas membantu adiknya, sementara Sonya yang perutnya kian membesar tampak sibuk mengarahkan tim katering."Jess, jangan tegang gitu dong. Sudah sebulan tunangan 'non-resmi', masa hari ini masih gemetaran?" goda Sonya sambil membetulkan sanggul modern Jessy di depan cermin besar.Jessy menarik napas panjang. Ia tampak sangat anggun mengenakan kebaya kutub
Kereta api Taksaka Malam yang mereka tumpangi perlahan merapat di peron Stasiun Gambir saat fajar menyingsing. Udara Jakarta yang lembap langsung menyambut mereka begitu turun dari gerbang eksekutif. Sepanjang perjalanan tujuh jam dari Yogyakarta, Jessy hampir tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena kursi kereta yang tidak nyaman, melainkan karena getaran halus yang ia rasakan setiap kali tangan Brian meremas jemarinya atau saat napas Brian menyentuh lehernya di kegelapan gerbang.Cincin di jari manis Jessy seolah menjadi pemantik api yang kini berkobar hebat di dalam dadanya. Trauma masa lalu itu benar-benar telah terkubur, digantikan oleh gairah yang menuntut untuk segera diluapkan."Mas," bisik Jessy saat mereka sedang berjalan menuju pintu keluar stasiun."Iya, Sayang? Kita langsung pesan taksi ke Kemang?" tanya Brian sambil menjinjing dua koper besar.Jessy menarik lengan Brian, menghentikan langkah pria itu di sudut yang agak sepi. Matanya m
Pagi di Bantul disambut dengan kokok ayam jantan yang bersahutan dan aroma kayu bakar yang khas dari dapur Bu Rahmi. Jessy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Tidak ada lagi sesak di dada atau waspada yang berlebihan saat mendengar suara pintu terbuka. Di sini, di rumah limasan milik keluarga Brian, ia merasa benar-benar terlindungi oleh alam dan kesederhanaan.Setelah sarapan nasi pecel dan tempe mendoan hangat, Brian sudah siap dengan motor tua namun terawat milik adiknya. Ia mengenakan kaos putih polos yang mencetak jelas otot-otot dadanya yang bidang, kontras dengan kulitnya yang sawo matang terbakar matahari Jogja."Siap jalan-jalan, Tuan Putri? Hari ini rutenya agak jauh, kita mau ke selatan," goda Brian sambil memakaikan helm ke kepala Jessy."Siap, Mas! Tapi beneran ya, jangan ngebut-ngebut. Aku mau nikmatin pemandangan sawahnya," sahut Jessy sambil memeluk pinggang Brian erat saat motor mulai melaju membelah jalanan desa yang asri menuju ke
Pagi itu, Stasiun Gambir masih diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Suasana riuh rendah calon penumpang yang berlalu-lalang membawa koper tidak sedikit pun mengusik ketenangan di sudut ruang tunggu eksekutif. Brian berdiri dengan sigap, mengenakan jaket denim dan celana jins gelap, sementara tangannya tidak sedetik pun melepas genggaman dari tangan Jessy.Jessy tampak cantik dengan gaya kasual; sweter rajut berwarna krem dan celana kulot hitam. Wajahnya yang dulu sering terlihat murung kini memancarkan binar yang berbeda. Ada rasa gugup yang manis karena hari ini adalah hari pertamanya menempuh perjalanan jauh sebagai calon istri Brian."Mas, koperku sudah masuk semua kan? Jangan sampai ada yang ketinggalan, apalagi oleh-oleh buat Bapak sama Ibumu di Jogja," tanya Jessy sambil mengecek kembali tas jinjingnya.Brian terkekeh, suaranya yang berat menenangkan kegelisahan Jessy. "Sudah aman semua di bagasi mobil tadi sebelum dipindah ke kereta, Sayang. Bakpia







