Share

Chapter 12

Saat membuka celana kain bahannya, Gerhana menghela napas kasar. Apa yang diduganya ternyata benar. Pembalutnya sudah penuh sementara ia lupa membawa pembalut. Pelupanya memang sudah akut. Padahal tadi pagi ia sudah mengeluarkan dua buah pembalut dari laci dan meletakkannya di atas meja rias. Tinggal dimasukkan ke tas saja. Nah, bagian memasukkannya ke dalam tas itulah yang ia lupa. Memanglah benar kata pepatah, jangan suka menunda-nunda sesuatu. Akibatnya ya begini ini. Sekarang bagaimana coba? Tidak mungkin ia meminjam pembalut pada Tangguh bukan? Meminta Tangguh mencari pembalut Bu Wardah pun sepertinya tidak mungkin juga. Jangan-jangan Bu Wardah malah sudah menopause. Satu-satunya cara hanyalah meminta tolong Tangguh untuk membelinya. Masalahnya apakah Tangguh mau? Membeli pembalut bagi seorang laki-laki pasti dianggap tabu. Lain cerita kalau laki-laki itu sudah beristri. Tangguh ini selain bukan siapa-siapanya, preman lagi. Pasti ia akan mengamuk kalau diminta untuk membeli pem

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status