LOGINMeysa, penulis idealis yang hidup pas-pasan di rusun, mendadak viral setelah novelnya meledak di pasaran. Namun kegembiraannya runtuh ketika ia mengetahui editornya, Wildan, diam-diam mengubah novelnya menjadi novel erotis yang kini jadi fenomena. Marah, malu, tapi diam-diam menikmati popularitas yang datang tiba-tiba, Meysa terjebak antara benci dan penasaran pada editor dingin itu. Pertengkaran mereka berubah menjadi ketertarikan yang tak diakui, hingga masa lalu Meysa, mantan pacar toxic yang obsesif kembali menghantui. Saat reputasi Meysa goyah, terungkap pula bahwa Wildan masih terikat pernikahan dengan Alya, memicu drama dan fitnah yang mengguncang semuanya. Dalam dunia kreatif yang penuh intrik, Meysa dan Wildan harus memilih antara, bertahan pada kenyamanan lama, atau memperjuangkan cinta yang tumbuh dari kekacauan, kejujuran, dan luka masa lalu.
View More“Aah!”
“Terus Sayang ...!”
“Aw … Please ….”
“Yes! Baby … Yeees!”
Suara racauan dan desahan itu memecah kesunyian malam, terdengar begitu vulgar seolah dinding tipis kamar kos itu tak lagi mampu meredamnya. Bunyi ranjang yang berderit, menyatu dengan nafas memburu dan lenguhan asing, menusuk langsung ke ulu hati Meysa.
‘Tidak! Tidak mungkin!’
Langkah Meysa terhenti tepat di depan pintu kamar kos nomor empat di lantai enam. Sebuah kos-kosan bebas tanpa pengawasan. Meysa mengepalkan tangan hingga urat lehernya menegang. Jantungnya berdentum kencang, memompa amarah yang siap meledak. Dengan sisa tenaga, Meysa menerjang pintu itu.
Sayangnya, pintu kayu itu terlalu tebal. Serangan mendadaknya hanya menyisakan nyeri hebat di bahu kanannya. Pintu itu tetap tertutup, seolah mengejeknya dengan suara-suara laknat dari dalam.
Meysa tak menyerah. Matanya melirik ke arah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di sudut koridor. Ia menyambar tabung merah itu dan menghantamkannya sekuat tenaga ke arah daun pintu.
Braaaak!!
Pintu terbuka. Dunia Meysa seolah berhenti berputar.
Dimas, kekasihnya, tampak telanjang dengan seorang wanita di atas ranjang. Keduanya terkesiap, membeku di tengah aktivitas kotor mereka. Asam lambung Meysa naik seketika. Ia mual, namun pandangannya terkunci pada wanita itu. Meysa mengenalnya.
Saat netra mereka bertemu, wanita itu tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun. Sebaliknya, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. Senyum itu begitu puas, seolah ia baru saja memenangkan taruhan besar dengan menjadikan hati Meysa sebagai bayarannya.
Lutut Meysa lemas. Kepalanya pening. Seluruh tubuhnya mendadak sakit. Kekasihnya berselingkuh dengan Gina, sepupunya sendiri.
Meysa tidak menyangka jika alur cerita yang biasa ia tuliskan pada salah satu novelnya, kini menjadi kisah nyata pada kehidupan asmaranya sendiri.
***
Kring! Kring! Kring!
Suara nyaring ponsel menyentak Meysa kembali dari jurang memori kelam. Ia mengerjap, merasakan peluh membasahi dahi. Ia bukan lagi di depan kamar kos Dimas, melainkan duduk di kursi kerja rumah susun miliknya. Semua itu hanya lamunan. Trauma yang selalu menghantuinya setiap kali ia lengah.
Meysa menarik napas panjang dan meraih ponselnya. ‘Vina is calling ....’
"Halo, Vin?"
"MEYS! KENAPA LAMA BANGET JAWABNYA, SIH?!" Suara Vina melengking penuh kegembiraan.
"Santai, Vin. Kenapa, sih?"
"Heh, santai gimana? Ini berita besar! Kamu sekarang mendadak jadi penulis terkenal!"
Meysa terkesiap. "A-apa? Jangan bercanda, Vin. Aku ... penulis terkenal?"
"Iya, serius! Novelmu meledak di mana-mana! Coba buka aplikasi PenaKata sekarang! Liat I*******m-mu, followers-mu melonjak gila-gilaan! Kamu jadi author papan atas, Meys!"
Gemetar, Meysa memutuskan panggilan dan membuka I*******m. Matanya terbelalak. Notifikasi DM menunjukkan angka 99+. Followers-nya melonjak dari 421 menjadi 2.560 hanya dalam semalam. Namun, saat ia menggulir pesan yang masuk, raut wajahnya berubah ngeri.
@RajaaHarem88: Wih, Mbak Meysa! Keren banget cerita 'Rudal'-nya. Detailnya nendang! Kapan kita bisa check-in bareng?
@_PenegakMoral: Tobat Mbak! Novelmu menjerumuskan. Dasar penulis murahan, jualannya cabul! Calon penghuni neraka!
@Ucimaniez98: Mbak, tulisanmu itu bakalan jadi dosa jariah! Penulisnya mantan pengguna michat ya?
Meysa merasakan darah naik ke kepala. Rudal? Check-in? Jualan cabul? Ia segera memeriksa kolom komentar di foto lamanya.
@MurniSari: Judul lamanya 'Secangkir Kopi'? Hahaha! Bagusan 'Rudal Paman Mantan' ke mana-mana, Mbak!
@KritikusJujur: Ternyata kamu penulis ecek-ecek yang rela ganti genre demi uang. Kecewa berat!
Jantung Meysa berdebar hebat. Masalah ini bermula dari novelnya yang berjudul Secangkir Kopi dan Rindu yang Menguap. Ia segera membuka aplikasi PenaKata. Di sana, novel lamanya yang biasanya hanya mendapat ribuan tayangan, kini terpampang mencolok dengan angka 3.4 JUTA TAYANGAN!
Namun, judul dan sampulnya telah berubah total. Sampul gelap dengan tulisan tebal: KEHANGATAN RUDAL PAMAN MANTANKU: PENGAKUAN SEKRETARIS NAKAL.
Wajah Meysa memucat. Ia mengklik Bab 1. Deskripsi hujan yang puitis kini berganti menjadi:
“Napasnya memburu di belakang leherku. Kemeja putihku sudah tak karuan, dan bunyi detak jam dinding seolah menertawakan segala kepura-puraanku sebagai wanita baik-baik ... aku begitu menikmati sentuhannya ....”
Ini jelas bukan karyanya. Ini novel erotis murahan! Meysa, sang penulis idealis, merasa integritasnya telah diinjak-injak.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi DM masuk dari akun anonim dengan fitur “Lihat Sekali”. Dalam kondisi syok, Meysa refleks menekannya. Layar ponselnya menampilkan video pendek seorang pria tanpa wajah yang sedang memuaskan hasratnya sendiri. Fokus utama video itu adalah bagian intim pria tersebut yang tampak sangat vulgar.
“AAAKH!”
Meysa menjerit histeris dan melempar ponselnya ke lantai. Rasa jijik, marah, dan takut bercampur menjadi satu. Ini sudah melampaui batas! Ia tersadar, badai ini berawal dari satu pihak yang memiliki akses penuh ke naskahnya: Editor!
Meysa segera memungut kembali ponselnya dan mencari kontak Ayu, editor yang ia kenal.
“Halo, Kak Ayu?” tanya Meysa tanpa basa-basi. “Gawat, Kak! Kenapa judul novelku ganti jadi vulgar? Dan isinya ... kenapa berubah jadi cerita porno?!”
Suara Ayu di seberang terdengar bingung. “Halo, Meys? Novel yang mana? Aku kan sudah nggak di PenaKata. Aku sudah resign empat bulan lalu buat ngurus pernikahan. Maaf banget aku lupa ngabarin!”
Sekujur tubuh Meysa lemas. “Jadi, siapa yang pegang novelku sekarang, Kak?”
“Editor penggantiku namanya Wildan. Nanti aku kirim nomornya. Dia agak strict tapi profesional. Kamu hubungi dia saja, ya. Maaf, aku lagi di salon. Bye!”
Panggilan terputus. Tak lama, pesan masuk:
WILDAN: EDITOR PENGGANTI. 0812-XXXX-XXXX.
Meysa menatap nomor itu dengan nafas memburu. Wildan adalah kunci untuk memahami mengapa karyanya yang damai diubah menjadi komoditas panas yang mendatangkan teror. Tanpa ragu, jarinya menekan tombol panggil.
Telepon tersambung dalam dua kali dering.
“Halo?”
Suara berat, bariton, dan sangat maskulin terdengar di seberang sana. Meysa terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk meledakkan kemarahannya pada pria bernama Wildan itu.
Bersambung
Meysa menggeleng kuat-kuat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang pucat. Keheningan villa yang dingin seolah memperparah rasa sesak di dadanya.“Lalu aku harus diam saja sampai dia mengirimkan foto itu ke Kak Fiona sore ini? Kamu dengar sendiri tadi, Wil, Kak Fiona sedang dalam mode 'balas dendam'. Dia benci aku, dia benci kedekatan kita!” Meysa terisak, suaranya naik satu oktav karena frustrasi yang memuncak.“... Begitu Kak Fio dapat foto pernikahan siri itu, dia tidak akan menunggu sampai besok pagi untuk melapor ke Pak Adam. Dia akan langsung menghancurkan kita dalam hitungan menit. Reputasimu, karierku, semuanya!”Meysa mengusap air matanya dengan punggung tangan secara kasar, lalu menatap Wildan dengan sorot mata yang penuh tekad meskipun bibirnya masih bergetar hebat. “Aku harus bicara padanya. Aku harus tahu apa yang sebenarnya dia inginkan selain hanya menyuruhku putus darimu. Aku akan mencoba menegosiasikan ini, setidaknya demi namamu.
Suara detak jam dinding di ruang tamu villa itu seolah menjelma menjadi dentuman palu yang menghantam kesadaran Meysa. Ia menatap Wildan dengan mata yang berair, tubuhnya masih sedikit gemetar. Di tangan Wildan, ponsel itu terasa seperti bara api yang siap menghanguskan apa saja yang mereka bangun selama ini.Wildan berdiri tegak, nafasnya memburu pendek. Matanya yang biasanya jernih dan tajam kini berkilat penuh amarah yang tertahan. Guratan di rahangnya mengeras, memperlihatkan betapa ia sedang berjuang menahan diri agar tidak membanting benda di tangannya itu.“Brengsek sekali, mantanmu ini, Meys …!” desis Wildan sekali lagi. Suaranya rendah, namun penuh dengan racun kemarahan.“Wildan, apa yang harus kita lakukan?” pekik Meysa pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. “Dia serius. Kamu lihat sendiri foto itu, dia benar-benar sedang bersama Fiona di kantin rumah sakit. Kalau dia sampai menunjukkan foto pernikahan siri kita … semuanya selesai. Kariermu, reputasimu, dan juga novelku.
Sementara itu, di Villa, suasana tampak jauh lebih tenang. Wildan dan Meysa baru saja sampai setelah perjalanan yang melelahkan dari rumah sakit. Mobil pick-up milik bi Aam itu sudah diparkir di depan, dan mereka masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang campur aduk.Wildan langsung menuju dapur untuk mengambil air minum, sementara Meysa menjatuhkan diri di sofa ruang tamu yang empuk. Ia merasa sangat lelah secara mental. Peringatan Pak Adam tentang "cinta romantis di balik meja kerja" terus terngiang di telinganya."Minum dulu," ucap Wildan pelan, menyodorkan segelas air putih pada Meysa."Terima kasih, Wil," jawab Meysa singkat.Wildan duduk di sampingnya, namun tetap menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter. Kebiasaan menjaga formalitas itu tampaknya mulai mendarah daging. "Kita aman sekarang, Meys. Pak Adam sudah memberikan keputusannya. Fokus saja pada naskahmu. Jangan pikirkan Fiona dulu."Meysa mengangguk, namun baru saja ia hendak menyesap air minumnya, ponsel di kantong bl
Fiona melangkah dengan sisa-sisa amarah yang menggelegak di dadanya. Air mata yang sempat jatuh karena bentakan Pak Adam sudah ia hapus kasar, meninggalkan jejak maskara yang sedikit berantakan di sudut matanya. Ia merasa dunia benar-benar tidak adil. Bagaimana bisa pamannya sendiri lebih membela "penulis kemarin sore" dan editor yang jelas-jelas melanggar aturan, dari pada dirinya yang sudah bertahun-tahun menjaga integritas konten PenaKata?Baru beberapa langkah menjauh dari pintu ruang VIP, sebuah suara familiar menghentikannya."Berhasil?"Fiona terkesiap. Ia menoleh dan mendapati Dimas berdiri bersandar di pilar koridor, mengenakan jaket hoodie gelap dengan tatapan mata yang haus akan kabar baik.Fiona tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Dimas dengan pandangan tajam, lalu memberi isyarat dengan kepalanya. "Ikut aku. Kita bicara di bawah."Mereka berjalan dalam diam menuju kafetaria rumah sakit yang terletak di lantai dasar. Suasananya cukup ramai oleh keluarga pasien, namu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore