INICIAR SESIÓN
Nama saya Rangga Wiratama, Kepala Desa Sukamukti sejak tujuh tahun terakhir. Selama itu pula saya percaya bahwa jabatan ini hanyalah soal administrasi, tanda tangan, dan menengahi pertengkaran warga. Saya tak pernah menyangka bahwa menjadi kepala desa berarti menyerahkan rumah, nama, bahkan nasib keluarga sendiri pada sesuatu yang tak pernah saya pahami.
Semua bermula tiga hari sebelum hajatan itu dimulai. Pagi masih basah oleh embun ketika saya membuka pintu depan rumah. Di halaman, puluhan kursi plastik biru telah tersusun rapi, membentuk barisan panjang menghadap pendopo. Beberapa pemuda desa sibuk mendirikan tenda, menegakkan tiang-tiang besi dengan cekatan, seolah mereka sudah berlatih sejak lama. Tak satu pun dari mereka meminta izin. “Siapa yang menyuruh kalian?” tanya saya. Mereka berhenti sejenak. Pandangan mereka kosong, lalu salah satu menjawab pelan, “Sudah waktunya, Pak Lurah.” Kalimat itu membuat dada saya mengeras. Istri saya, Ratna, berdiri di ambang pintu. Tangannya gemetar memegang kusen. “Mas… ini hajatan apa?” Saya menggeleng. “Aku juga tidak tahu.” Namun anehnya, seluruh desa tahu. Di balai desa, papan pengumuman telah ditempeli selebaran besar bertinta hitam. Hajatan Besar di Rumah Kepala Desa. Seluruh warga wajib hadir. Tujuh hari tujuh malam. Tak ada nama pengantin, tak ada alasan perayaan. Hanya satu kalimat tambahan di bagian bawah, ditulis dengan tinta lebih pekat: Datanglah dengan niat bersih. Jangan pulang sebelum diizinkan. Sebagai kepala desa, sayalah yang biasanya membuat pengumuman seperti ini. Saya hafal betul gaya tulisan tangan saya sendiri. Namun tulisan di papan itu asing—tekanannya berat, seperti ditulis dengan kemarahan yang dipendam lama. Saya mencoba mencabut kertas itu. Paku yang menahannya terasa panas saat disentuh. Butuh tiga orang untuk mencabutnya, dan ketika akhirnya terlepas, papan kayu meninggalkan bekas hitam, seperti terbakar dari dalam. Sejak hari itu, undangan tersebar ke setiap rumah warga. Amplop cokelat kusam tanpa pengirim. Di dalamnya hanya ada selembar kertas bertuliskan kalimat yang sama dan seutas benang merah tipis. “Katanya, kalau tidak datang bisa celaka,” ujar Pak Darman, ketua RT, dengan suara setengah berbisik. “Begitu kata orang-orang tua.” Saya mendatangi Mbah Wiryo, sesepuh desa yang paling disegani. Rumahnya berada di ujung Sukamukti, berdampingan dengan kebun bambu yang selalu terasa lebih dingin dari tempat lain. “Hajatan ini bukan untukmu, Rangga,” katanya tanpa menoleh. “Kau hanya wadah.” “Wadah untuk apa, Mbah?” Ia tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk saya berdiri. “Untuk janji lama.” Tak ada penjelasan lain. Saya pulang dengan kepala penuh tanya. Ratna menyambut saya dengan wajah pucat. “Dapur terkunci dari dalam,” katanya. “Aku tidak bisa masuk sejak pagi. Dan… baunya aneh.” Saya mendekat. Dari balik pintu dapur tercium bau anyir samar, seperti darah bercampur tanah basah. Padahal tak ada hewan yang disembelih hari itu. Malam pertama hajatan dimulai tanpa aba-aba. Lampu-lampu bohlam digantung di sepanjang jalan desa, menyala kekuningan. Gamelan berbunyi dari pendopo rumah saya—padahal seperangkat gamelan itu sudah lama rusak dan disimpan di gudang. Warga berdatangan. Mereka mengenakan pakaian rapi, wajah mereka datar. Tak ada tawa, tak ada obrolan ringan. Mereka duduk, diam, menunggu. Saya berdiri di tengah pendopo, merasa seperti tamu di rumah sendiri. “Silakan duduk, Pak Lurah,” kata Pak Darman, menunjuk kursi paling depan. “Siapa yang memulai semua ini?” tanya saya. Ia menunduk. “Bukan siapa-siapa. Hajatan ini… memang harus ada.” Ketika saya hendak meninggalkan pendopo, tangan saya dicekal. “Belum waktunya,” bisik seseorang di belakang saya. Saya menoleh. Tak ada siapa pun. Gamelan tiba-tiba berhenti. Kesunyian jatuh seperti palu. Dari arah dapur, terdengar suara sesuatu diseret di lantai. Ratna memandang saya dengan mata berkaca-kaca. “Mas… aku takut.” Saya menggenggam tangannya, meski diri saya sendiri gemetar. Di tengah pendopo, sesaji diletakkan. Saya baru menyadari ada sesuatu yang ganjil—tak ada nama hajatan, tak ada tujuan perayaan. Hanya ada satu keyakinan yang mengendap di dada saya malam itu: Hajatan ini bukan milik saya. Rumah ini bukan lagi rumah saya. Dan desa ini sedang menagih sesuatu yang belum lunas.Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata
Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi
Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi
Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i
Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan
Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun