เข้าสู่ระบบRangga Wiratama, Kepala Desa Sukamukti, mendapati sesuatu yang tak masuk akal terjadi di rumahnya. Sebuah hajatan besar diselenggarakan atas namanya—tanpa seizin, tanpa perintah, dan tanpa penjelasan. Undangan tersebar ke seluruh warga desa dengan satu perintah mutlak: semua wajib hadir dan dilarang pulang sebelum diizinkan. Sejak hari pertama hajatan berlangsung, kejanggalan demi kejanggalan muncul. Musik gamelan yang seharusnya rusak kembali berbunyi. Dapur rumah terkunci dari dalam, menguar bau anyir yang tak wajar. Tamu-tamu berdatangan dengan wajah kosong, patuh tanpa bertanya. Beberapa orang yang hadir… tidak pernah terlihat lagi. Rangga berusaha mencari jawaban, namun setiap pintu informasi tertutup rapat. Para sesepuh desa justru menatapnya seolah ia bagian dari kesepakatan lama yang telah dilupakan. Perlahan, ia menyadari bahwa jabatannya sebagai kepala desa bukan sekadar posisi pemerintahan, melainkan peran penting dalam ritual turun-temurun yang mengikat seluruh desa. Hajatan itu ternyata adalah bagian dari janji leluhur—sebuah perjanjian kelam untuk menjaga keselamatan desa dengan harga nyawa manusia. Dan rumah kepala desa selalu menjadi pusatnya. Selalu. Di tengah teror yang semakin nyata, Rangga dihadapkan pada pilihan paling kejam: memutus ritual dan menghancurkan desanya, atau meneruskan hajatan dengan mengorbankan orang-orang yang ia lindungi. Namun semakin ia berusaha melawan, semakin jelas bahwa hajatan ini tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya menunggu untuk diulang, dengan kepala desa yang baru… atau korban yang berbeda. Sebab di Sukamukti, tradisi lebih berkuasa daripada kebenaran, dan undangan hajatan selalu menemukan jalannya sendiri.
ดูเพิ่มเติมTidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata
Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi
Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi
Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.