LOGINPagi setelah malam pertama hajatan datang tanpa kicau burung.
Itu hal pertama yang saya sadari ketika membuka mata. Biasanya, pukul lima subuh, suara burung dari kebun bambu di belakang rumah akan saling bersahutan, seakan berlomba menyambut matahari. Namun pagi itu sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh desa Sukamukti menahan napas, menunggu sesuatu yang belum selesai. Saya bangkit dari tempat tidur dengan kepala terasa berat. Udara di dalam rumah dingin dan lembap, padahal jendela tertutup rapat. Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar berderap pelan, bolak-balik, teratur. Saat pintu kamar saya buka, beberapa perempuan desa sudah mondar-mandir membawa tampah besar berisi sayur, lauk, dan nasi. Wajah mereka datar, mata mereka tak pernah benar-benar menatap saya. “Bu… ini mau dibawa ke mana?” tanya saya. Salah satu dari mereka berhenti melangkah. Kepalanya tertunduk. “Ke dapur, Pak Lurah.” “Dapurnya terkunci sejak kemarin.” Perempuan itu mengangkat wajahnya perlahan. Sorot matanya kosong, seperti menatap tembok. “Sekarang sudah bisa dibuka.” Kalimat itu membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Saya berlari menuju dapur. Benar saja, pintu yang semalam tak bisa digeser meski saya dorong dengan seluruh tenaga, kini terbuka sedikit. Engselnya berderit lirih saat saya mendorongnya lebih lebar. Bau anyir masih ada. Bau yang sama seperti semalam. Namun kini bercampur dengan aroma nasi hangat, santan, dan rempah-rempah. Di dalam dapur, panci-panci besar tersusun rapi. Api kompor masih menyala kecil. Beberapa masakan tampak baru saja selesai dimasak, masih mengepul tipis. “Siapa yang memasak ini?” suara saya terdengar asing di telinga sendiri. Tak ada yang menjawab. Ratna berdiri di sudut dapur. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar. “Mas… aku tidak masuk ke sini semalaman. Aku bersumpah.” Saya mengangguk pelan, meski dada terasa sesak. Ada rasa takut yang mulai tumbuh, bukan karena hal gaib semata, tetapi karena saya merasa kehilangan kendali atas rumah saya sendiri. Menjelang siang, warga kembali berdatangan. Pendopo kembali dipenuhi orang-orang yang duduk rapi dalam barisan. Mereka makan bersama dalam diam. Sendok beradu dengan piring tanpa suara obrolan, tanpa tawa, tanpa gurauan seperti hajatan pada umumnya. Saya berjalan perlahan menyusuri barisan tamu, memperhatikan wajah-wajah mereka. Saya mencoba mengingat siapa saja yang hadir malam sebelumnya. Dan di situlah saya menyadari ada satu wajah yang hilang. Pak Suroso. Ia duduk di barisan depan malam tadi, tepat di sisi kanan pendopo. Saya ingat betul karena dialah orang pertama yang berani berbisik pada saya bahwa hajatan ini terasa salah. “Pak Suroso ke mana?” tanya saya kepada Pak Darman. Pak Darman tidak langsung menjawab. Tangannya gemetar saat menuang air minum ke gelas. “Pulang duluan, Pak.” “Bukankah ada larangan pulang sebelum diizinkan?” Ia menelan ludah. “Katanya… sudah diizinkan.” “Siapa yang mengizinkan?” Pak Darman menunduk. Tak ada jawaban. Perasaan tak enak mendorong saya mendatangi rumah Pak Suroso. Pintu rumahnya terbuka lebar. Ruang tamu kosong. Tak ada tanda-tanda orang pergi jauh. Sepatu masih rapi di dekat pintu. Motor tuanya masih terparkir di samping rumah. Di lantai ruang tamu, ada noda gelap yang sudah mengering. Saya berjongkok, menyentuhnya dengan ujung jari. Darah. Sore hari, hujan turun mendadak. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya. Pendopo kembali dipenuhi warga. Gamelan berbunyi sendiri, nadanya lebih lambat, lebih berat, seperti iringan doa kematian. Seorang anak kecil mendekati saya. Anak Pak Suroso. “Pak Lurah,” bisiknya, nyaris tak terdengar, “Bapak saya disuruh ikut orang-orang dari dapur.” “Tadi malam?” tanya saya. Ia mengangguk. “Katanya mau bantu-bantu. Tapi sampai sekarang belum pulang.” Dada saya terasa dihantam sesuatu yang keras. Malam kedua hajatan dimulai. Lampu-lampu kembali dinyalakan. Sesaji di pendopo bertambah banyak. Saya melihat kepala ayam, kembang tujuh rupa, kemenyan, dan sebuah tampah besar yang tertutup kain putih. Saya melangkah mendekat. “Jangan dibuka, Pak Lurah,” suara Mbah Wiryo terdengar tepat di belakang saya. “Apa ini sebenarnya?” tanya saya dengan suara bergetar. Ia menatap saya lama. “Tumbal pertama.” Dunia terasa berputar. “Saya kepala desa. Saya berhak menghentikan ini.” Mbah Wiryo menggeleng pelan. “Kau kepala desa karena hajatan ini, Rangga. Bukan sebaliknya.” Tiba-tiba teriakan melengking memecah udara dari arah dapur. Semua kepala menoleh bersamaan. Seorang perempuan berlari keluar. Wajahnya penuh darah, matanya kosong, rambutnya basah kuyup oleh hujan. Ia terjatuh tepat di kaki saya. “Sudah dimulai,” bisik Mbah Wiryo. Saya menatap wajah-wajah warga di sekitar saya. Tak ada yang menolong. Tak ada yang berteriak. Mereka hanya menunduk, seolah sedang menyaksikan sesuatu yang sudah mereka terima sejak lama. Dan saat itulah saya benar-benar mengerti: Tidak semua orang yang datang ke hajatan ini akan pulang.Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata
Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi
Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi
Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i
Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan
Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun







