Início / Horor / HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA / BAB 6 — Pintu yang Bernafas

Compartilhar

BAB 6 — Pintu yang Bernafas

last update Última atualização: 2025-12-18 14:57:52

Fajar datang tanpa kehangatan.

Langit Sukamukti pucat seperti kain kafan yang ditarik pelan dari ufuk timur. Saya berdiri di halaman rumah sejak subuh, memandangi dapur yang pintunya tertutup rapat. Bau anyir bercampur kemenyan masih keluar dari celah-celah kayu, seolah dapur itu bernapas—tarik, hembus—pelan tapi hidup.

Sejak malam ketiga, warga menjaga jarak. Tidak ada yang berani melintas di depan dapur. Bahkan ayam-ayam pun enggan mendekat, berkerumun di sudut halaman seperti tahu ada garis tak kasatmata yang tak boleh dilanggar.

Ratna berdiri di belakang saya. Tangannya dingin saat menyentuh punggung saya.

“Mas,” katanya pelan, “jangan hari ini.”

Saya menoleh. Matanya merah, lingkar hitam mengendap seperti bekas malam yang tak pernah selesai. Saya mengangguk, bukan untuk menyetujui—melainkan menenangkan.

“Kalau bukan hari ini,” jawab saya, “besok dapur akan meminta lebih banyak.”

Kami terdiam. Dari dalam dapur terdengar bunyi kayu beradu, seperti sendok jatuh—padahal tak ada siapa pun di sana.

Menjelang siang, saya memanggil Bramantyo dan Pak Darman ke pendopo. Keduanya datang dengan langkah ragu, duduk berjauhan seolah takut bayangan masing-masing saling menyentuh.

“Kalian pernah masuk ke dapur?” tanya saya langsung.

Pak Darman menggeleng cepat. “Tidak pernah, Pak Lurah. Kami hanya… menjaga jarak.”

“Menjaga jarak dari apa?”

Bramantyo menelan ludah. “Dari janji yang tidak bisa ditolak.”

Ia bercerita terputus-putus. Tentang kepala desa sebelumnya yang mencoba mengunci dapur, tentang kunci yang selalu hilang keesokan harinya, tentang suara lesung yang terdengar meski dapur kosong. Tentang pesan singkat: jangan dibuka. Bukan larangan—ancaman.

“Saya tidak akan membukanya sendirian,” kata saya akhirnya.

Pak Darman menatap lantai. “Bapak kepala desa. Kalau Bapak melangkah… kami ikut terseret.”

“Saya tidak minta kalian ikut,” jawab saya. “Saya minta kalian bersaksi.”

Sore turun dengan cepat. Awan menebal, angin membawa bau hujan. Warga mulai berkumpul di pendopo tanpa diundang, berdiri dalam diam. Tidak ada hajatan hari itu, namun ketegangan justru menumpuk, menunggu sesuatu pecah.

Saat matahari tenggelam, bunyi itu terdengar lagi.

Ketukan dari dalam dapur.

Pelan.

Berirama.

Seperti hitungan yang diulang agar tak terlupa.

Ratna memeluk lengan saya. “Mas… itu memanggil.”

Saya menarik napas dalam-dalam. “Kalau saya tidak kembali,” bisik saya, “pergi. Jangan menoleh.”

Ia menggeleng keras. Air mata jatuh tanpa suara.

Saya melangkah ke depan pintu dapur. Kayunya hangat saat disentuh—bukan hangat matahari, melainkan hangat seperti kulit. Urat-urat kayu tampak berdenyut samar.

Saya menempelkan telinga.

Ada bisikan.

Bukan kata-kata utuh, melainkan potongan napas yang menyusun nama-nama.

Nama warga.

Nama kepala desa.

Dan jeda panjang, seperti ruang kosong yang disisakan khusus.

Saya belum mendorong pintu itu.

Belum.

Dari belakang, langkah tongkat terdengar. Mbah Wiryo berdiri beberapa meter dari saya.

“Jangan dilanjutkan,” katanya tenang.

“Kenapa?”

“Karena setelah melihatnya,” jawabnya, “Bapak tidak akan bisa pura-pura tidak tahu.”

Saya menoleh. “Justru itu yang saya cari.”

Lampu pendopo berkedip. Angin berhenti mendadak. Ketukan dari dapur terhenti—seolah menunggu keputusan.

Saya menggenggam gagang pintu.

Dan untuk pertama kalinya, dapur itu mengetuk dari balik kayu.

Tok.

Sekali.

Seperti jawaban.

Tok.

Ketukan itu bukan lagi dari dalam.

Ia datang dari balik telapak tangan saya sendiri.

Kayu pintu dapur bergetar saat saya mendorongnya. Engsel berderit panjang, seolah sedang mengeluh. Bau anyir menyeruak lebih keras, membuat mata saya perih. Beberapa warga mundur spontan. Ada yang menutup hidung, ada yang menutup mata, seakan penglihatan pun bisa mengundang celaka.

Pintu terbuka.

Dapur itu tidak seharusnya ada di rumah saya.

Ruangannya jauh lebih luas dari ukuran bangunan luar. Langit-langitnya tinggi, menghitam oleh jelaga yang menumpuk bertahun-tahun. Dindingnya bukan sekadar tembok—ia dipenuhi bekas goresan, seperti kuku yang berusaha keluar. Di lantai, cairan gelap mengalir tipis membentuk pola melingkar.

Lesung batu berdiri di tengah ruangan.

Basah.

Di sekelilingnya tergantung kain-kain lusuh. Bukan kain biasa. Itu kain kafan. Jumlahnya puluhan. Beberapa masih menyisakan noda merah tua. Beberapa lain baru, putih, bersih—terlalu bersih.

Nama-nama terukir di permukaan lesung.

Saya membacanya satu per satu.

Paijo. Wagini. Surya Atmaja.

Dan di bagian paling bawah—nama saya.

Rangga Prasetya.

Kepala saya berdenyut keras. Suara bisikan kembali memenuhi ruangan, bukan lagi samar, melainkan bulat dan serempak.

“Kepala desa menjaga keseimbangan.”

Saya melangkah masuk satu langkah.

Lantai terasa hangat.

Di sudut dapur, saya melihat sesuatu yang membuat lutut saya hampir runtuh.

Lubang.

Lubang besar di lantai, ditutup papan kayu tebal yang penuh bekas congkelan. Dari celahnya, asap hitam tipis keluar, berdenyut mengikuti irama napas.

“Itu tempatnya,” suara Mbah Wiryo terdengar dari belakang saya. “Tempat kepala desa dititipkan.”

Saya menoleh tajam. “Dititipkan atau dikorbankan?”

Ia tidak menjawab.

Saya mencabut papan kayu itu dengan sisa tenaga yang ada.

Bau busuk menghantam wajah saya.

Di dalam lubang, bukan jasad.

Melainkan tulang-tulang.

Disusun rapi.

Tengkorak-tengkorak berjajar, menghadap ke atas. Beberapa masih mengenakan sisa ikat kepala, sisa kalung tanda jabatan. Kepala desa. Semuanya kepala desa.

Ratna menjerit dari luar.

Saya terhuyung mundur. Tangan saya gemetar hebat.

“Ini bukan tradisi,” kata saya dengan suara pecah. “Ini pembantaian yang kalian rawat dengan doa palsu.”

Mbah Wiryo menghela napas panjang. “Desa ini berdiri di atas janji. Kalau janji dilanggar, tanah akan menagih.”

“Apa yang dijanjikan?”

Ia menatap lesung. “Kepala untuk kepala. Pemimpin untuk keselamatan.”

Bisikan itu berubah menjadi tawa rendah.

Lampu pendopo padam serentak.

Angin dingin menyapu dapur, membuat kain-kain kafan bergoyang, saling beradu seperti orang berbisik.

“Saya tidak akan jadi bagian dari ini,” teriak saya.

Lesung bergetar.

“Setiap kepala desa berkata begitu,” suara itu menjawab. “Lalu mereka tinggal di sini.”

Saya meraih obor yang tergantung di dinding.

Mbah Wiryo berteriak. “Jangan!”

Saya lemparkan obor ke kain kafan.

Api menyala cepat.

Asap hitam membumbung, pekat, membuat warga berteriak panik. Bisikan berubah menjadi raungan. Dapur bergetar hebat, dinding-dindingnya retak.

Lubang di lantai mengeluarkan suara dentuman, seolah sesuatu mencoba naik.

“Keluar!” teriak saya pada Ratna dan warga.

Api menjalar ke lesung.

Untuk sesaat, saya melihat bayangan—wajah-wajah tanpa mata, tanpa mulut, menempel di dinding, menjerit tanpa suara.

Lalu lantai ambruk.

Saya terseret jatuh.

Gelap.

Saya terbangun di halaman rumah.

Hujan turun deras. Api telah padam. Dapur itu… runtuh.

Yang tersisa hanyalah lubang besar berisi tanah basah.

Warga berdiri mematung.

Mbah Wiryo terduduk, tubuhnya gemetar.

“Selesai,” bisiknya. “Janji itu… putus.”

Saya menatap lubang itu lama.

Tidak ada lagi bisikan.

Tidak ada bau anyir.

Hanya hujan dan tanah.

Ratna memeluk saya erat.

Namun di kejauhan, suara kentongan dipukul satu kali.

Pelan.

Bukan tanda bahaya.

Melainkan tanda bahwa sesuatu telah berubah.

Dan meski dapur itu telah runtuh, saya tahu satu hal:

Hajatan memang tamat malam ini.

Namun desa ini masih harus belajar hidup tanpa tumbal.

Dan saya—kepala desa terakhir yang melihat dapur itu—harus memastikan sejarah ini tidak pernah diulang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 50 - Setelah Kita Memilih

    Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 49 - Ketika Tidak Ada Lagi yang Berdiri

    Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 48 - Ketika Pilihan Diresmikan

    Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 47 - Yang Dibawa Pulang

    Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 46 - Yang Tetap Duduk

    Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 45 - Zona Harmoni

    Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status