LOGINKarenina terpaksa pindah sekolah karena ikut sang ayah yang dipindah tugaskan secara mendadak. Berawal dari ketukan di tengah malam. Kejadian-kejadian aneh mulai mendekatinya. Ditambah, teman-teman di sekolah barunya terlihat ketakutan saat mendengar di mana dia tinggal. Bisakah Karenina melawan teror yang terus mendatanginya? Bisakah dia mengungkap arti dari ketukan yang selalu mendatanginya setiap malam?
View More|小北千温《こきたちはる》は、少し鈍いところがある。
幼い頃から今まで、周囲から最もよく言われてきたのがその言葉で、二番目に多かったのは「頭が悪い」だった。
「前にも言ったはずだ。俺は、お前に外で働いてほしくない。上場企業の社長である俺が、お前一人養えないとでも思っているのか? それとも、わざわざ外へ働きに出て、俺に恥をかかせるつもりか。」
明るい照明の下、千温は俯いたままソファの前に立ち、険しい表情を浮かべた男から浴びせられる叱責を黙って受け止めていた。
|宮長優和《みやながゆうわ》は目の前の女を鋭く見据える。自分では決して短気な性格ではないと思っていた。だが、何度言い聞かせても少しも言うことを聞かない千温を前にすると、さすがに苛立ちを抑えきれない。
千温をこの家へ迎え入れた初日から、生活に必要な金はすべて自分が負担し、金銭面で不自由な思いは一切させない――そう優和ははっきり伝えていた。彼が求めたのは、千温が従順に言うことを聞き、大人しく自分のそばにいること――それだけだった。
それなのに千温は、これといった取り柄もなく、頭の回転も鈍い。まともな仕事を見つけられないだけならまだしも、よりによって飲食店の厨房で働き、服にも身体にも油と料理の臭いを染みつかせて帰ってくる。その姿を見るたび、優和の胸には苛立ちがじわりと込み上げた。
優和が欲しかったのは、美しく飾っておける花瓶のような存在だった。
彼が千温に惹かれたのも、その美しい顔だけ。「どうしてお前は、いつも俺の言うことを聞かないんだ? 俺の言っていることが、まだ理解できないのか?」
「でも……私も、何もしないまま養ってもらうのは嫌で……。優和がお金を稼ぐのだって、大変だと思ったから……」 言葉を紡ぐたび、千温の声は少しずつ小さくなっていく。 自分が隠れて働きに出たせいで優和を怒らせてしまったことは、千温にも分かっていた。この家へ来たあの日、大人しく言うことを聞く籠の鳥になると約束したのも、ほかならぬ自分だ。 それでも以前、顔見知りから「何もしないで男に食べさせてもらっているだけ」と陰口を叩かれたことが、ずっと胸の奥に引っかかって離れなかった。自分の評判が悪くなれば、優和にまで迷惑をかけてしまうかもしれない。
そう思った千温は、誰にも知られないよう密かに働き、自分の生活費くらいは自分で稼ごうとした。ただ養われているだけの役立たずだと、誰にも思われたくなかったのだ。
数日前に浴びせられた悪意ある言葉が脳裏をよぎった途端、千温の美しい瞳には、たちまち涙が滲んでいく。 白い肌と人目を引く整った顔立ちに恵まれている一方で、ひどく鈍く要領の悪い千温は、昔から人に騙されやすかった。意地悪をされても反抗しようという考えすら浮かばず、「自分の何が悪かったのだろう」と、誰よりも先に自分自身を責めてしまう。
優和に叱られている今も、悪いのは自分なのだと思い込み、悲しみも傷ついた気持ちも隠せず、そのまま表情に滲ませていた。 そんな千温を見つめながら、優和は外で汚してきた服や、全身に染みついた料理の臭いを感じ取るたび、胸の苛立ちをさらに募らせていく。 もともと優和が興味を抱いたのは、千温の顔だけだった。 彼女をベッドへ誘い込むため、ただ「好きだ」と囁いただけ。それなのに千温は、呆れるほどあっさりとその言葉を信じた。ほんの少し優しく接してやっただけで、疑うこともなく、惜しげもなく本気の想いを捧げてきたのだ。 あまりにも騙されやすいその素直さを面白いと感じた優和は、千温を自宅へ迎え入れ、自分のそばへ置くことにした。「今の自分がどんな格好をしてるのか、よく見てみろ。お前だって、自分が馬鹿なのは分かってるだろ? 外に出たところで、どうせ人に騙されて、いいように使われるだけだ。金が欲しいなら俺に言え。いくら必要だろうと、俺なら全部出してやれる」
口にすればするほど苛立ちが募り、優和はスーツの内ポケットから一枚のブラックカードを取り出すと、千温の顔めがけて乱暴に投げつけた。 突然のことに驚いた千温は、反射的に一歩後ずさる。怯えたように顔を伏せたまま、小さな声で謝った。 「ごめんなさい……」 以前の優和なら、そんな千温の姿さえ面白がっていただろう。 けれど今となっては、ただ鬱陶しいとしか思えなかった。 「さっさと風呂に入ってこい。きれいに洗ったら、俺が用意した服に着替えてベッドに来い」Aden dan Serlan berpamitan untuk pulang. Ardan dan Delima pun mengantarkan sampai ke teras rumah. Setelah mobil telah menjauh, barulah Ardan dan Delima masuk ke dalam rumah."Temen Kak Ardan pada lucu, ya. Suka ngelawak," ujar Delima sambil duduk ke sofa."Gitulah. Kadang eror otak mereka tu," sahut Ardan.Delima tersenyum mendengar jawaban Ardan. Tampak Ardan jadi lebih ceria setelah bertemu teman-teman kantornya."Kak, tadi mama nelpon aku. Katanya, boleh engga kalo mama minggu depan main ke sini," kata Delima melaporkan tentang pembicaraannya dengan sang ibunda."Boleh. Kapan aja mau ke sini juga boleh," balas Ardan."Misal mama mau nginep, gimana?""Boleh aja. Tapi, harus kasih tau dulu. Soalnya mau engga mau, kamar yang kamu pakai akan dikasih buat mama tidur pas nginap," sahut Ardan."Kok gitu?" Delima tampak bingung."Kalo ketahuan kita tidurnya beda kamar. Pasti mama engga bakal suka. Kita cuma beruntung, engga ketahuan beda kamar pas di rumah kamu. Lagian, ada alasan kalo kam
ySegera Ardan memakan bakso yang tadi dipesannya. Tak lupa, dia juga memesan segelas es jeruk. Dalam sekejap, bakso yang ada di hadapannya pun tandas tak bersisa."Ngomong-ngomong, Dan, boleh engga kami nanti bertamu ke rumah lu? Yah, semacam perkenalan sama istri lu, gitu," ucap Aden."Ya boleh-boleh aja. Asal jangan dadakan aja. Biar istri gue ada persiapan buat nerima tamu," sahut Ardan seraya mengambil es jeruk yang ada di atas meja."Wih, mantep tu. Terus, gimana ceritanya lu bisa ketemu bini lu? Secara kayaknya dia masih muda banget," tanya Serlan penasaran."Ah, kami ketemu pas acara perpisahan sekolah. Aku datang sebagai alumni, sekalian reuni ama temen-temen seangkatan," tutur Ardan.Alena memilih untuk beranjak dari meja kantin. Topik yang sedang teman-temannya bahas, membuatnya tak nyaman. Segera dia berlalu, dan pergi menuju ke kantor tempatnya bekerja."Eh, Len, tungguin napa!" seru Erin bergegas berdiri dan mengejar Alena yang berjalan cepat."Engga apa-apa, tuh?" tanya
"Bu, pesan ayam tepung asam manisnya 2, cumi goreng tepung 1, es teh 2, ya," ucap Ardan memesan makanan pada ibu pemilik warung."Wah, mbak cantik ke sini lagi. Gimana, kemarin suka engga sama jamur goreng tepungnya?" tanya ibu pemilik warung."Suka, Bu. Tapi, lebih suka sama ayam tepung asam manis, soalnya ada asem-asem manisnya," sahut Delima seraya tersenyum.Ibu pemilik warung tertawa mendengar jawaban Delima. Segera, dia mengambilkan pesanan Ardan."Nah, ini silakan dimakan. Semoga rasanya pas," kata si ibu."Pasti pas dong, Bu. Makanya, kami balik ke sini lagi. Rasa makanannya bikin nagih," balas Delima."Haduh, haduh, manis sekali mulut bumil yang satu ini. Silakan dimakan kalo gitu, ibu mau bikin makanan buat pelanggan yang lain," kata si ibu, lalu pergi meninggalkan meja Ardan dan Delima.Ardan dan Delima pun memulai acara makna pagi mereka. Ditemani dengan semilir angin, membuat suasana makan mereka jadi begitu menyenangkan."Gimana? Mau nambah?""Engga, Kak. Ini udah cukup.
Delima memakai gelang mutiara pemberian Ardan. Terlihat sangat pas di tangannya yang berkulit kuning langsat.Ardan tersenyum saat melihat gelang pemberiannya langsung dipakai. Begitu mudah menyenangkan perempuan yang ada di hadapannya kini."Sekarang udah jam 10, kita istirahat dulu bentaran. Abis itu nanti kita cari oleh-oleh lagi. Pokoknya jam 3, kita udah siap buat pulang," kata Ardan."Oke, Kak."Delima merebahkan diri ke kasur, dia ingin tidur untuk mengembalikan tenaga yang habis karena bermain tadi. Ardan memilih untuk duduk ke sofa dan menonton tv.Ardan mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Menghidupkan daya ponsel yang sedari pagi dia matikan.Beberapa pesan dari kawan dan keluarga mulai berdatangan. Segera, Ardan membalas beberapa pesan.[Gimana liburannya? Delima engga bikin repot, kan?]Sebuah pesan yang dikirim oleh Bu Reni tengah dibaca Ardan.[Liburannya menyenangkan, Ma. Delima aman kok, Ma. Cuma ada sedikit mual muntah karena penciumannya jadi sensitif] balas A
"Hah, kok bisa begini?!" pekik Karenina saat melihat kondisi kamarnya."Ada apa?" tanya Adrian dan Celline bersamaan.Mereka pun melongokkan kepala ke kamar Karenina. Tampak lemari Karenina terbuka lebar. Banyak kertas berhamburan di lantai kamarnya."Cepat periksa. Kalau-kalau ada barang yang hila
"Makanya, jangan ngalangin jalan!" ketus seorang gadis berambut sebahu pada Karenina yang terduduk di tanah."Heh, jalan segini luas, ya. Kamunya aja yang badannya kebesaran, makanya ampe nyenggol-nyenggol anak orang," cibir Celline."Eh, kamu ngajak berantem?" tanya Deara—gadis berambut sebahu—den
Adrian segera menarik Selena, untuk menenangkannya. Meninggalkan Karenina yang menatap kepergian mereka dengan pandangan sedih."Lepasin tanganku!" Selena menyentak tangannya dengan keras."Len, kamu udah keterlaluan. Kejadian hari ini, engga ada hubungannya sama Karenina," kata Adrian."Karenina?
Karenina melangkah dengan cepat. Dia ingin segera meninggalkan rumah makan. Segera, dia menuju mobil yang terparkir di halaman rumah makan.Ayah dan ibunya saling pandang kebingungan. Melihat Karenina yang terlihat begitu tergesa-gesa. Namun, mereka lebih memilih diam dan mengikuti langkah Karenina
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.