Home / Horor / HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA / BAB 5 Kepala Desa yang Tergantikan

Share

BAB 5 Kepala Desa yang Tergantikan

last update Last Updated: 2025-12-17 18:44:09

Pagi setelah malam ketiga terasa seperti bangun dari mimpi buruk yang belum selesai.

Langit Sukamukti kelabu, menggantung rendah seolah menekan atap-atap rumah warga. Bau tanah basah bercampur anyir masih tertinggal di udara. Saya berdiri di halaman rumah, memandangi kursi-kursi kosong yang jumlahnya berkurang drastis. Banyak yang tidak kembali ke pendopo. Dan tidak ada satu pun yang berani menanyakannya.

Ratna duduk di serambi dengan mata sembab. Rambutnya tergerai tanpa disisir. Sejak subuh, ia nyaris tidak berbicara. Setiap kali suara dari dapur terdengar—entah itu panci beradu, kayu diseret, atau langkah kaki—tubuhnya refleks menegang seperti hendak melarikan diri.

“Mas,” katanya akhirnya dengan suara serak, “mereka tidak menghilang. Mereka diambil.”

Saya menghela napas panjang. Tidak ada bantahan yang sanggup saya ucapkan. Karena saya juga mendengar suara itu semalaman. Suara yang menghitung, suara yang menunggu, suara yang tidak pernah puas.

Menjelang siang, saya memutuskan pergi ke balai desa. Ada satu tempat yang selama ini saya hindari—ruang arsip di bagian belakang. Lemari besi tua yang jarang dibuka, penuh dengan catatan masa lalu yang sengaja dilupakan.

Balai desa sepi. Pintu depan terbuka, tetapi tak ada satu pun staf. Jam dinding berdetak terlalu keras, memecah keheningan. Saya membuka lemari arsip satu per satu.

Nama-nama kepala desa tersusun rapi.

Dan pola itu segera terlihat.

Tak satu pun menjabat lebih dari delapan tahun.

Sebagian berhenti di tahun kelima. Sebagian di tahun ketujuh.

Alasan pengunduran diri mereka hampir sama.

Sakit mendadak. Gangguan jiwa. Menghilang tanpa jejak.

Saya menemukan buku catatan milik Surya Atmaja—kepala desa sebelum saya. Tulisan tangannya rapi di awal, lalu semakin kacau di halaman-halaman terakhir.

Hajatan dimulai lagi. Dapur meminta lebih banyak. Warga akan menekan, bukan membela.

Halaman berikutnya bernoda cokelat tua.

Jika aku hilang, jangan cari jasadku. Jangan izinkan istriku mendekati dapur.

Saya menutup buku itu dengan tangan gemetar. Tiba-tiba saya mengerti. Jabatan ini bukan amanah. Ia adalah giliran.

Saat saya kembali ke rumah, pendopo sudah dipenuhi warga. Raut wajah mereka berubah—tidak lagi sepenuhnya patuh. Ada kegelisahan yang mulai retak, ketakutan yang bercampur rasa bersalah.

Mbah Wiryo berdiri di tengah, tongkatnya menghentak lantai.

“Sudah waktunya,” katanya lantang, “kita menyiapkan penerus.”

Dada saya berdebar keras.

“Penerus siapa?” tanya saya.

Ia menatap saya lurus. “Penerus kepala desa.”

Bisik-bisik menyebar. Beberapa warga menunduk. Beberapa lain menatap saya dengan iba.

“Saya masih hidup,” kata saya.

“Justru itu masalahnya,” jawab Mbah Wiryo tenang.

Ia menunjuk Bramantyo, sekretaris desa saya sendiri. Wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar hebat.

“Jika Rangga menolak,” lanjut Mbah Wiryo, “hajatan akan mengambil lebih banyak. Jika ia digantikan, keseimbangan terjaga.”

Ratna berdiri dengan tubuh bergetar. “Kalian mau membunuh suami saya?”

“Tidak,” jawab Mbah Wiryo dingin. “Hanya menggantinya.”

Malam itu, hajatan tidak memanggil tumbal.

Namun dapur tetap menyala.

Asap hitam membubung lebih pekat dari sebelumnya, menutup langit malam. Seolah ada sesuatu yang menunggu keputusan saya.

Saya duduk sendirian di kamar, menatap foto keluarga kecil kami. Untuk pertama kalinya, saya memahami ketakutan para kepala desa sebelum saya.

Jika saya bertahan, desa akan terus meminta. Jika saya digantikan, mungkin hajatan berhenti—sementara.

Tengah malam, pintu kamar diketuk.

Bramantyo berdiri di luar.

“Pak… saya tidak mau,” katanya dengan suara bergetar. “Saya punya anak.”

Saya menatapnya lama.

“Tak ada yang mau,” jawab saya pelan. “Tapi desa ini tidak peduli.”

Dari arah dapur, bisikan itu kembali terdengar, jelas dan dingin.

“Kepala desa tidak boleh menolak.”

Dan saat itu saya sadar—jabatan ini tidak akan dilepaskan begitu saja.

Ia akan ditarik.

Dengan darah, dengan nama, atau dengan orang yang paling saya cintai.

Pilihan yang tersisa tidak lagi menuntut keberanian.

Ia menuntut pengorbanan paling kejam.

Saya memejamkan mata, mencoba menahan gemuruh di kepala. Dari luar kamar, suara langkah warga terdengar mondar-mandir. Mereka tidak pulang. Mereka menunggu. Menunggu keputusan saya, atau menunggu dapur mengambilnya sendiri.

Di sudut kamar, Ratna terlelap dengan gelisah. Nafasnya tidak teratur, keningnya berkerut seolah sedang bermimpi buruk. Saya duduk di sampingnya, menatap wajah yang selama ini menjadi alasan saya bertahan. Untuk pertama kalinya, saya takut tidur.

Di kejauhan, kentongan dipukul satu kali.

Bukan tanda bahaya.

Melainkan tanda penanda giliran.

Saya tahu, ketika fajar datang, desa ini tidak lagi melihat saya sebagai pemimpin. Mereka akan melihat saya sebagai persembahan yang tertunda.

Dan hajatan ini belum selesai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 50 - Setelah Kita Memilih

    Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 49 - Ketika Tidak Ada Lagi yang Berdiri

    Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 48 - Ketika Pilihan Diresmikan

    Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 47 - Yang Dibawa Pulang

    Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 46 - Yang Tetap Duduk

    Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan

  • HAJATAN MISTERIUS DI RUMAH KEPALA DESA    BAB 45 - Zona Harmoni

    Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status