LOGINPagi setelah runtuhnya dapur tidak membawa kelegaan.
Ia membawa sunyi yang asing. Rangga berdiri di tepi lubang bekas dapur—kini hanya tanah basah dan puing kayu hangus. Hujan semalam menyamarkan bau anyir, tetapi tidak menghapus ingatan. Tanah itu seperti baru saja ditutupkan pada sesuatu yang belum sepenuhnya mati. Warga berdiri berjauhan. Tidak ada yang berani mendekat. Tidak ada doa. Tidak ada ucapan syukur. Mereka menunggu tanda—entah dari langit, entah dari kepala desa mereka—bahwa desa ini benar-benar aman. Ratna menggenggam tangan Rangga. Jemarinya dingin. “Mas… kamu dengar sesuatu?” Rangga menggeleng pelan. Sejak fajar, tidak ada bisikan. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara dari tanah. Hanya burung-burung yang kembali berani hinggap di pohon jambu dekat pendopo. Namun justru ketiadaan suara itu membuat dadanya terasa berat. Di pendopo, Rangga mengumpulkan warga. Wajah-wajah lelah menatapnya, sebagian berharap, sebagian curiga, sebagian masih menyimpan marah yang belum tahu harus diarahkan ke mana. “Hajatan itu sudah selesai,” kata Rangga akhirnya, suaranya tegas meski tenggorokannya kering. “Tidak ada lagi tumbal.” Beberapa perempuan menangis tertahan. Seorang pemuda menjatuhkan topinya ke lantai. Namun ada pula yang saling pandang, seolah kehilangan pegangan hidup. “Kalau tanah menagih?” tanya seorang lelaki tua dengan suara bergetar. “Kalau panen gagal?” sahut yang lain. Rangga menarik napas panjang. “Kalau panen gagal, kita tanam ulang. Kalau tanah kering, kita cari air. Kita kerja. Kita tidak lagi menyerahkan nyawa.” Pendopo hening. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak lega. Yang ada hanya kesadaran perlahan bahwa ketakutan lama benar-benar telah diputus—dan itu berarti mereka harus belajar hidup tanpa sandaran palsu. Satu hal yang langsung disadari Rangga: Mbah Wiryo tidak hadir. Kabar menyebar cepat sebelum siang. Dukun tua itu mengurung diri di rumahnya. Ada yang bilang ia sakit. Ada yang bilang ia sedang menunggu balasan dari tanah. Ada pula yang berbisik bahwa ia sudah gila. Rangga memilih mendatanginya sendiri. Mbah Wiryo duduk di lantai bambu, punggungnya membungkuk lebih dari biasanya. Tongkat kayunya tergeletak di samping, tak lagi digenggam dengan wibawa. “Janji itu putus,” katanya tanpa menoleh. “Tanah akan belajar lapar.” “Atau belajar hidup,” jawab Rangga. Mbah Wiryo tertawa pendek. Tawa yang kering. “Kau muda, Rangga. Desa ini dibangun dari takut. Kau ingin menggantinya dengan apa?” “Dengan kerja,” jawab Rangga. “Dengan hukum. Dengan ingatan.” Mbah Wiryo menutup mata. “Kalau begitu, bersiaplah.” Kata-kata itu mengikuti Rangga pulang seperti bayangan. Hari-hari berikutnya tidak mudah. Air irigasi tersendat karena saluran lama runtuh. Panen padi tertunda. Isu mulai beredar—ada yang bermimpi buruk, ada yang mengaku melihat bayangan di sawah, ada pula yang bersumpah mendengar suara dari lubang dapur saat malam. Ketakutan lama mencoba bangkit dengan wajah baru. Rangga memilih satu hal: hadir. Setiap malam ia duduk di pendopo. Mendengar keluhan. Mencatat. Tidak memotong cerita warga meski terdengar berlebihan. Ia tahu, ketakutan yang ditekan hanya akan tumbuh diam-diam. Ratna membuka dapur rumah untuk umum. Memasak bagi siapa pun yang ikut membersihkan puing, memperbaiki saluran, dan menanam ulang. Anak-anak mulai berlarian lagi, meski sesekali menoleh ke arah tanah bekas dapur. Suatu malam, Bramantyo datang membawa berkas lusuh. “Pak… ini arsip lama,” katanya pelan. “Catatan kepala desa pertama.” Rangga menerima berkas itu dengan tangan gemetar. Ia tahu, jawaban sesungguhnya belum selesai. Rangga tidak langsung membuka berkas itu malam itu juga. Ia membawanya pulang, meletakkannya di atas meja kayu ruang tengah. Lampu redup membuat bayangan kertas-kertas tua itu tampak seperti tumpukan tulang. Ratna menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau isinya menyakitkan, kamu tetap harus tahu.” Rangga mengangguk. Ia membuka halaman pertama dengan hati-hati. Tinta hitam yang mulai pudar menuliskan tanggal puluhan tahun lalu. Nama kepala desa pertama tercantum jelas, lengkap dengan tanda tangan dan cap desa. Tidak ada simbol gaib. Tidak ada mantra. Hanya kalimat-kalimat resmi yang dingin. Isinya membuat dada Rangga sesak. Perjanjian itu bukan dengan makhluk tak kasatmata, melainkan dengan manusia. Dengan sekelompok orang berkuasa di masa lalu yang menciptakan ketakutan agar desa mudah dikendalikan. “Hajatan” hanyalah kedok. Tumbal hanyalah cara menjaga kepatuhan. Rangga menutup mata sejenak. Selama ini, mereka bukan korban kutukan. Mereka korban kebohongan yang diwariskan. Keesokan harinya, Rangga mengumpulkan warga di pendopo. Berkas itu dibawa, dibacakan perlahan. Setiap kalimat seperti palu memukul kesadaran. Ada yang berteriak marah. Ada yang menangis. Ada yang jatuh terduduk karena merasa hidupnya dipermainkan. “Jadi… semua ini bohong?” tanya seorang ibu dengan suara pecah. “Yang bohong adalah mereka yang memanfaatkan ketakutan kita,” jawab Rangga. “Yang nyata adalah penderitaan yang sudah terjadi.” Keributan nyaris pecah. Sebagian warga ingin membakar arsip itu. Sebagian lain ingin menyeret Mbah Wiryo ke balai desa. Rangga mengangkat tangan. “Tidak ada pembalasan. Kita hentikan di sini.” Kalimat itu berat. Tidak semua setuju. Tapi untuk pertama kalinya, keputusan diambil tanpa ancaman. Malam turun. Angin berembus pelan. Rangga kembali ke pendopo sendirian. Ia menunggu sesuatu—entah rasa takut terakhir, entah suara lama yang menuntut janji. Tidak ada apa-apa. Yang datang justru suara kentongan ronda malam. Ritmenya teratur. Manusiawi. Ratna datang menyusul. Mereka duduk berdampingan. “Takut?” tanya Ratna. “Masih,” jawab Rangga jujur. “Tapi tidak lagi patuh.” Di kejauhan, sawah menghampar gelap. Tidak ada bayangan aneh. Tidak ada bisikan. Hanya tanah yang menunggu ditanami. Esok harinya, warga mulai bekerja tanpa perintah. Memperbaiki saluran air. Menanam ulang. Membersihkan sisa-sisa ketakutan yang masih menempel di pikiran. Panen tidak langsung melimpah. Namun untuk pertama kalinya, padi tumbuh tanpa darah. Rangga berdiri di tengah sawah, lumpur mengotori kakinya. Ia tahu, perjuangan belum selesai. Akan ada cerita yang mencoba memutar ulang ketakutan. Akan ada generasi yang bertanya-tanya. Namun kini mereka punya jawaban. Dan desa itu—yang pernah hidup dari tumbal—akhirnya belajar hidup dari keberanian.Tidak ada hari raya setelah itu.Tidak ada pengumuman bahwa dunia kembali normal.Yang ada hanyalah pagi-pagi yang terasa sedikit lebih berat—dan sedikit lebih jujur.Ruang Harmoni tetap berdiri.Di beberapa kota, ia ditutup sementara.Di kota lain, jam operasionalnya dipersingkat.Di sebagian tempat, ia berjalan seperti biasa—seolah malam itu tidak pernah terjadi.Namun orang-orang yang pernah ada di sana tahu:sesuatu telah retak.Dan retakan, meski kecil, tidak pernah benar-benar hilang.Jaka terbangun di ruang perawatan sederhana.Bukan rumah sakit besar.Bukan tempat istimewa.Hanya ruangan dengan jendela yang tidak sepenuhnya tertutup tirai.Cahaya pagi masuk tanpa izin.Dadanya masih berat.Namun napasnya utuh.Dian duduk di samping ranjang.Tidak bicara lama.Tidak bertanya banyak.Kadang, kehadiran adalah bentuk keberanian paling sederhana.“Kamu berdiri terlalu lama,” kata Dian akhirnya.Jaka tersenyum tipis.“Dan kamu tidak masuk.”Dian mengangguk.“Aku duduk di luar,” kata
Tidak ada hari khusus yang menandai puncaknya.Tidak ada sirene.Tidak ada pengumuman darurat.Semua terjadi seperti kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh: pelan, wajar, dan nyaris tak disadari.Di banyak kota, Ruang Harmoni kini menjadi bagian dari rutinitas.Datang pagi sebelum kerja.Duduk sepuluh menit.Pulang dengan kepala lebih ringan.Awalnya hanya untuk menenangkan diri.Lalu untuk menahan marah.Lalu untuk tidak merasa apa-apa sama sekali.Dan ketika tidak ada rasa, tidak ada pertanyaan.Jaka membaca data terakhir dengan tangan dingin.Angka konflik menurun.Produktivitas naik.Keluhan publik turun drastis.Namun satu grafik membuat dadanya terasa runtuh:partisipasi protes sosial turun hampir nol.Bukan karena semua masalah selesai.Karena tidak ada lagi yang ingin repot berdiri.Di salah satu Ruang Harmoni terbesar, sesi malam berlangsung penuh.Tidak ada kursi kosong.Lampu temaram.Udara hangat.Suara napas serempak.Di tengah ruangan, meja—yang kini tak lagi berbentuk fi
Pengumuman itu disiarkan serentak.Bukan sebagai peringatan.Bukan sebagai larangan.Melainkan sebagai solusi.Pemerintah pusat meresmikan program baru bernama Ruang Harmoni Terpadu. Dalam siaran persnya, program itu digambarkan sebagai langkah progresif untuk menurunkan konflik sosial, meningkatkan kesejahteraan mental, dan “mengembalikan rasa kebersamaan yang hilang.”Tidak ada satu kata pun tentang meja.Namun Jaka tahu—ini adalah bentuk akhirnya.Di layar televisi, grafik-grafik ditampilkan.Angka konflik menurun.Keluhan publik berkurang.Produktivitas meningkat.“Data tidak berbohong,” kata seorang pejabat dengan senyum tenang. “Masyarakat merasa lebih ringan.”Jaka mematikan televisi.Ia merasakan dingin merambat di punggungnya.Karena meja selalu menang lewat data.Ruang Harmoni Terpadu tidak dibangun seragam.Setiap daerah diberi kebebasan menyesuaikan bentuk:balai warga, aula kantor, halaman sekolah, bahkan ruang tunggu rumah sakit.Namun satu prinsip selalu sama:ada titi
Dian tidak langsung pulang malam itu.Ia berdiri cukup lama di luar Zona Harmoni, seolah tubuhnya sudah keluar tetapi pikirannya masih tertinggal di tengah pelataran. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang perlahan kembali: rasa lelah yang utuh.Bukan lelah yang diambil alih.Lelah yang harus ditanggung sendiri.Dan itu menakutkan.“Aku tidak tahu harus ke mana,” kata Dian lirih pada Jaka.“Pulang,” jawab Jaka sederhana.“Aku takut,” Dian jujur. “Kalau pulang, aku harus memilih lagi.”Jaka tidak menyangkal.“Ya,” katanya. “Itu harga yang sebenarnya.”Di rumahnya, Dian menyalakan lampu ruang tamu.Meja kecil di sudut ruangan tampak biasa saja. Tidak bergerak. Tidak hangat. Tidak memanggil.Namun Dian tidak duduk.Ia berdiri lama, lalu menangis.Tangis yang selama ini ditunda oleh ketenangan palsu.Keesokan harinya, Dian tidak datang ke Zona Harmoni.Ia datang ke rumah ibunya.Ibunya terkejut.“Kamu kurus,” katanya.Dian hanya tersenyum lelah.Namun sore i
Pagi setelah Jaka berteriak pulang, kota Waringin Raya terbelah.Tidak dengan kekerasan.Tidak dengan kerusuhan.Dengan diam yang berbeda arah.Sebagian orang pulang lebih cepat dari biasanya. Mereka berjalan tanpa bicara, seolah baru terbangun dari tidur panjang. Beberapa menangis tanpa tahu alasannya.Namun sebagian lain—tetap tinggal.Duduk.Menunggu.Mereka menyebut diri mereka Penjaga Harmoni.Bukan organisasi resmi.Bukan kelompok tertutup.Hanya orang-orang yang merasa lebih tenang saat berada di Zona Harmoni.“Kami tidak dipaksa,” kata seorang perempuan paruh baya pada kamera. “Kami memilih.”Kata itu berbahaya.Zona Harmoni tidak ditutup.Pemerintah kota justru mengeluarkan pernyataan:“Ruang publik tetap aman dan opsional.”Namun relawan tambahan ditempatkan.Bangku dibersihkan lebih sering.Lampu diperhalus agar “menenangkan”.Meja tidak perlu muncul.Ia dirawat.Jaka mengamati dari kejauhan.Ia melihat pola.Orang-orang yang tetap duduk bukan yang paling lemah—melainkan
Zona Harmoni dibangun bukan karena meja.Ia dibangun karena ketakutan pada kekacauan.Kota itu bernama Waringin Raya, pusat administratif yang selama ini merasa terlalu modern untuk percaya pada cerita desa. Namun ketika laporan konflik sosial meningkat—pertengkaran kecil, pengunduran diri massal, orang-orang yang “tidak betah” tinggal—pemerintah kota memilih satu solusi:menyatukan kembali manusia dalam satu ruang tertib.Mereka tidak menyebutnya meja.Mereka menyebutnya desain sosial.Zona Harmoni terletak di tengah kota, berupa alun-alun besar dengan bangku-bangku permanen yang tersusun melingkar. Tidak ada sudut tajam. Tidak ada meja makan. Tidak ada simbol ritual.Namun ada titik pusat—sebuah pelataran datar, kosong, yang disebut Ruang Bersama.“Di sinilah dialog dimulai,” kata wali kota dengan bangga.“Tanpa hierarki,” kata arsiteknya.“Tanpa konflik,” tambah brosurnya.Jaka membaca semua itu dengan tangan gemetar.Ia datang ke Waringin Raya malam sebelum peresmian.Di alun-alun