LOGIN“... Your daughter just fell off the stairs and she's in a terrible state." With just one call, Elara's seemingly perfect life tumbles. Drowning in endless debts and her daughter on the brink of death, she tosses her morality aside and takes the job of a bartender in a notorious club, 'Sinful Saint'. Dressed sexy to entice the predators in Sinful Saint, she is attacked by mobs, only to get saved by a gangster biker. He turns out to be the Don Marco Conti, the son of her family's arch-enemy, and the shadow she dreads. After their reckless one-night stand three years ago, she fled home with a fake identity just to keep her child safe. Now, he's back to claim her; his property, and he'll go to any length to own her. Marco isn't the type of man she should have around her baby. But armed with money and an irresistible aura, can she fight her fate? How long can she keep his child a secret? P.S: This is a dark gritty book suitable for +18 audience ONLY. Contains hardcore sex, violence, themes of abuse.
View More"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.Elara’s POVLast night with Marco was insane. After the whole wildness, we had the sweetest bath and crawled into bed beside Violet as if we were angels. I woke up like every other day, expecting to go about my chores and plan my trip back home when Marco announced that we were leaving for Florida in an hour. While it was too abrupt, I wouldn’t miss it for anything. “Need help?” Marco motioned to help me with sleeping, Violet. I faked a smile, still holding onto Vee’s little frame. I needed the distraction when I eventually met my parents, but if I were being honest, Marco would feel most awkward. Letting him have Violet was the best for us. “Thanks.” I leaned into him so that he would be able to take her off my shoulder. Our light contact revealed how tense he was. Barely anything got to Marco, not even if he was at the brink of death. “Scared to meet them?” I looked up at his hardened face.“Scared to not punch them.” He said it before he could stop himself. He looked surprised
Elara’s POVI found myself tumbling over the bed, all to have my pussy in his mouth!And heaven knows that I’d kill for this moment. “Love…?” I didn't let him complete his sentence when I threw both legs over him, pinned my knees to the ground in firm resolution, and slid upward till I was directly above him. “Now, you're being nasty.” He murmured against my wet pussy, his breath was cold on my skin. I shut my eyes and bit down a groan, my body still jerked to the near orgasm it experienced a while ago. Something moved on the bed, pulling my attention. I looked to see Violet groaning in her sleep as if fighting invisible demons.Oh, god. She’d better not wake up now. In swift response, I nudged the pillow over to her so she would have something to rub her small frame against if ever she reached for her papa or me. From beneath me, Marco stole the spotlight again. His rough hands gripped my thighs and massaged so sweetly. Slowly, steadily, he started tracing up my thighs, the tip o
Elara’s POVI felt Marco’s fingers dig deep inside my pussy as he carelessly fingered me to filth. I gasped, mouth wide open, throat dry as I sucked in cool air and tried not to let out the heavy moan sitting in my belly. My brain spiralled, body jerked in reaction… but my groans could only escape as soft gasps.Oh, fuck!“Shhh,” he stuck a finger to his lips and grinned, in sheer mockery, while his fingers continued to fondle my cunt.“Hmmm— fu—” I press my eyes closed and slowly rock my head both ways, holding onto the emotions that were about to wreck me. Our little girl was still sleeping at the edge of the bed, ignorant of our sins, and I wished to let her remain in her innocent bubble. As if to test my limits or perhaps break me, his fingers curled in my body, warming me up, fucking me harder, tracing around my soft spot.‘Oh, Marco!’ I clasped my hands to my mouth and released a deep groan, then bit down on my bottom lip to contain my emotions. “I f— hate you.” I cursed qui
Elara’s POVMy phone binged. I picked it up to see it was a text from my mum. Not ready to ruin my mood, I set it aside and continued working myself dry.“I’m all yours,” Marco murmured after putting Violet to sleep. “Let’s have that talk.” I set aside my bath towel after cleaning myself dry and sat in front of the dresser, fully naked. From the mirror, I watched his greedy eyes feast on my nakedness, the fine length of my back, down to the soft bulge my ass formed when I firmly arched. “You should come with me,” I spoke after a short pause. My tone was now calm, calculated. I had given it a little thought and in as much as I had every right to be pissed as hell, I needed to apply caution. Also, if I needed to sort this once and for all, they had to accept Marco. “I have thought about it and it’s the right thing to do.” I completed my words. His expression barely changed. He still had the deep admiration in his dark eyes. Quietly, he stood up and walked over to my side. He pulle
Marco’s POV“One more thing, boss…” Kaid’s sudden shift of tone made me pause. “It's Miss Violet, she got in.” I gave him my full attention and squinted as if studying him for a freaking exam. Into what the hell?! Trouble?!When it came to my family and business, a second of suspense was too muc
Elara’s POV“Just so you know,” Marco murmured amid kisses. His tongue parted my lips, roughly slid into my mouth, and licked all over like a hungry beast. “You disrupted my sleep.” I sighed in his mouth and sucked his warm breath when I tried to talk. “I didn't mean to.”“Hmmm,” he groaned, grip
Elara’s POV ‘Is this how dying feels like?’ My entire body was on fire… it felt like my intestine was some tapeworm eating me inside out. Hot intense pain gnarled at me and ate me deeply. I was losing my damn mind. The room fell totally silent. Marco wasn't here to keep it warm, nor did I have
Elara's POV ‘For Marco to be away from you… Hate you… Break off the deal - Isn't that what you've always wanted, Elara?’The tiny voice in my head questioned its tone was a mix of mockery and reality. Without denial, that was exactly what I hoped for, wished for, and prayed for. I wanted to be aw












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews