MasukA 10-day contract. A dangerous obsession. A love that breaks all the rules. Vera Santos thought she could survive ten days as her boss’s personal plaything. But Jackson Taylor is more than dominant, he’s damaged, dark, and devastatingly irresistible. As lust turns into something deeper, secrets, stalkers, and betrayal threaten to destroy everything. She wanted freedom. He wanted control. Neither expected love. Now? Neither can live without it.
Lihat lebih banyak"Lahirkan anak untukku!" ucapnya dengan datar nan dingin. Pemuda dengan pahatan yang tampak sempurna itu menyodorkan uang merah pada perempuan di depannya.
"Apa Pak? Melahirkan?" Terdapat rona keheranan dari seorang wanita berjilbab tersebut."Maaf, Pak. Saya hanya ingin pinjam uang 200 juta untuk pengobatan ibu saya. Bukan berarti saya ingin mengorbankan keperawanan saya!" Perempuan bernama lengkap Kinara Ariana menggeleng pelan, dia menatap heran sang atasan.Kinara yang terjebak dalam masalah ekonomi membuat dia bertekad menemui sang atasan. Bukan karena apa-apa, tapi saat ini sang ibu tengah terbaring di atas kasur. Dengan rasa sakit yang dia derita membuatnya harus segera ditangani.Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sang ibu, namun tentu ada administrasi untuk semuanya. Dan hal yang paling Kinara menyerah adalah masalah uang. Dia tidak mempunyai simpanan banyak untuk operasi Ibunya."Anggap saja ini sebuah tawaran. Saya akan memberimu uang lebih dari 200 juta kalau kau mau melahirkan anak untukku!" ucap pria tersebut tetap kukuh. Dia menatap dingin perempuan di depannya."Jika tidak, maka pintu di sana terbuka untuk kau---""Maaf, Pak. Bukannya saya enggak sopan, tapi, Bapak kan tajir, kaya raya, tampan bahkan terbilang sempurna. Tapi, apa untuk melahirkan seorang anak harus melakukan cara seperti ini? Maksud saya, Bapak kan bisa memilih wanita yang mungkin lebih cantik, seksi dan kaya dari saya. Dengan begitu, keturunan Bapak tidak akan jauh seperti itu.""Jadi, kamu menolaknya?" tanya Aarav dengan muka paling tidak mengerti Kinara. Dia menampilkan raut dingin tanpa ekspresi."Saya tidak suka basa-basi. Jadi, saya akan memberimu waktu 5 menit untuk kau berpikir," ucap Aarav. "Saya akan memberimu 500 juta jika kau bersedia melahirkan anak untuk saya. Tidak hanya itu, uang akan saya tambahkan bila mana anak itu benar-benar lahir dari rahimmu!"Kinara semakin dibuat melongo. Tidak percaya akan semua ini. 500 juta? Dilebihkan lagi?Kinara benar-benar bimbang. Antara menerima atau menolak. Jika dirinya menerima itu berarti keimanannya pula sedang diperjual belikan. Siapa yang mau melahirkan anak tanpa status pernikahan? Dan jika pun menolak, bagaimana dengan Ibu di sana yang tengah berjuang untuk tetap hidup?Bagaimana ini? Apa yang harus Kinara lakukan?'Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?' tanya Kinara dalam hatinya. Dia meremas jari-jemarinya dengan resah.Tidak!Kinara memejamkan matanya. Keimanan seseorang tidak bisa digantikan dengan apapun. Seberat apapun hidup, seorang muslim tidak seharusnya mengorbankan keimanannya ber-hanyakan uang."Jadi, apa pilihan mu?" tanya Aarav setelah lama dia memberikan waktu Kinara untuk berpikir."Saya--saya---"Derrtt DerrtttSuara dering ponsel terdengar. Membuat ucapan Kinara terkatup. Dia merogoh saku gamisnya kala getaran itu semakin terasa bergetar.Lusi.Ah, adiknya."Maaf, Pak. Saya izin waktu sebentar," ucap Kinara."Apa saya memberimu izin? Di sini, kau seharusnya memiliki etika ketika berbicara dengan atasan!" Ucapan dingin nan datar itu membuat nyali Kinara semakin menciut. Membuat dirinya yang hendak beranjak terurung sudah."Angkat!" Satu kata Aarav membuat Kinara dengan gemetar menekan ikon hijau. Dia menatap terlebih dahulu Aarav yang juga menatapnya tanpa ekspresi."Assalamu'alaikum? Kak? Kakak di mana? Kondisi ibu semakin memburuk kak ...." Di sebrang sana suara tangisan terdengar. "Dia dari tadi nyebut nama Kakak terus."Hati Kinara terasa menciut, tidak terasa air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Dia menatap Aarav sang atasan. Berharap dia mau memberikan pinjaman uang tanpa harus mengorbankan hal lain. Namun sama saja, Aarav hanya menampilkan raut cueknya tanpa ekspresi."Kakak cepat ke mari.... ""Iya, Dek. Sekarang Kakak ke sana. Kamu temenin dulu Ibu ya, Lus? Jangan sampai tinggalin Ibu. Sekarang kakak ke sana!" Tanpa menunggu lagi Kinara dengan cepat mematikan sambungan telfonnya. Rasa khawatir akan kondisi ibunya benar-benar membuatnya takut.Dengan derai air mata yang sudah jatuh Kinara menatap Aarav dengan resah."Saya menerimanya, Pak! Tapi tolong, tolong beri saya pinjaman uang. Saya mohon Pak. Hanya untuk hari ini saja, saya mohon Pak ...."Pada akhirnya Kinara menyerah, dia memohon dengan menautkan kedua tangannya di dada."Saya akan melahirkan anak untuk Bapak. Tapi saya mohon untuk Bapak kasih pinjam saya uang sekarang juga," ucapnya kembali dengan menunduk. Kemudian pelan kepala Kinara terangkat, dia menatap Aarav yang tidak ada di depannya."Ikuti saya!" ucap Aarav yang sudah berada di ambang pintu. Tanpa menoleh dia pergi dengan wajah khasnya. Tanpa ekspresi!Kinara mengusap pipinya yang basah. Tidak ada waktu lain, dia harus segera menemui sang Ibu sebelum semuanya terlambat.Kinara berlari menyusul Aarav yang sudah naik ke dalam mobil. Dengan segera dia juga ikut masuk ke dalamnya. Namun sebelum benar-benar masuk ..."Saya bukan sopirmu! Jadi duduk di depan!" perintahnya dingin.Kinara menurut, dengan segera dia berpindah duduk menjadi di depan. Belum sempat memakai pengaman, mobil itu sudah melesat cepat membelah jalan.**"Di mana Ibu?" tanya Kinara selepas dia bertemu Lusi. Sedari tadi Kinara menangis akan kondisi ibunya. Rasa takut semakin menjadi-jadi."I--ibu ada di dalam," ucap Lusi terbata-bata. Hidung merah, mata bengkak, terbukti sudah bahwa Lusi pun sedari tadi menangis."Bu?!"Kinara langsung menyerobot masuk. Menatap sang Ibu yang kini dipenuhi dengan alat-alat rumah sakit."Ibu ...." Kinara menangis, mendekap Ibunya dengan linangan air mata. Tangisnya tidak bisa dicegah, dia menangis dengan terisak."Ibu, ibu bakal sehat kok. Ya, ibu bakal sehat. Ini Kinar Bu ... Kinar di sini ...." Bibir Kinara bergetar, dia semakin memeluk Ibunya dengan rasa takut. Setelah Ayahnya pergi, Kinara tidak ingin ibunya juga cepat pergi begitu saja."Kinar ...?" Suara parau nan lemah itu terdengar, membuat Kinara semakin tidak bisa menahan tangisnya."Sekarang Ibu bakal di operasi. Ibu bakal sehat lagi. Kinar yakin bahwa Allah pasti bakal bantu kita Ibu," ucap Kinara mencium seluruh wajah Ibunya."Kinar, lihat Ibu," ucap Runi—ibunya Kinara."Kinar enggak perlu melakukan hal ini demi Ibu. Ibu tau, biaya operasi ibu enggak cukup satu atau dua juta. Butuh biaya banyak untuk operasi ibu ini ... untuk itu, Ibu tidak apa-apa jika memang harus pergi. Ibu udah ikhlas---""Enggak Ibu! Enggak. Kinara enggak mau kehilangan Ibu. Udah cukup Ayah ninggalin Kinar, sekarang Kinar enggak mau kehilangan Ibu juga. Lagipula, Kinar ada biaya kok buat Ibu operasi. Kinar dapat uangnya Bu ... dengan begitu Ibu bakal sehat lagi." Kinara menghapus air matanya, dia juga menghapus air mata Runi dengan pelan."Kinar ... ada satu hal yang sangat Ibu inginkan. Apa kamu, bisa memenuhi keinginan Ibu?" tanya Runi dengan tatapan sayu.Dengan segera Kinara mengangguk. "Apapun Ibu. Apa yang Ibu mau, Kinar akan mengabulkannya," ucap Kinara dengan mengeratkan genggaman tangan pada sang Ibu.Tangisnya yang tidak bisa berhenti semakin menangis kala sang Ibu berucap ..."Ibu ingin, Kinar menikah .... "Bola mata Kinara melebar sudah."Ibu ingin lihat Kinar menikah dengan lelaki pilihan Allah ... Kinar, keinginan satu-satunya Ibu adalah ingin melihat kamu menikah. Setiap doa yang Ibu panjatkan, setiap ingin yang selalu Ibu harapkan. Hanya itu yang Ibu inginkan. Apa Kinar, mau mengabulkan keinginan Ibu untuk yang terakhir kalinya?"Kinara mengigit bibir bawahnya. Tidak tahan dengan semua ini.Bukan, bukan karena tidak mampu dirinya untuk menikah. Tapi, sejauh ini tidak ada yang mau menikah dengan dirinya. Tidak ada lelaki yang mau menerima dirinya dengan sepenuh hati. Hingga sejauh ini, Kinara bukannya tidak ingin menikah, hanya saja ... semua lelaki justru menolaknya sebelum dirinya yang datang meminta untuk dinikahi."Kinar ...," ucap Runi dengan pelan. Dia menghela nafas panjang. Merasakan rasa sesak di paru-parunya.Kinara menunduk,bingung juga apa yang harus ia katakan. Untuk membiayai ibunya sendiri pun Kinara harus merelakan kesuciannya? Jika begitu, bagaimana Kinara akan menemukan cinta sejatinya?"Bu, Kinar-- Kinar---""Kinara akan menikah dengan saya Tante! "Mata Kinara yang semula memejam langsung terbuka lebar. Dia terdiam bagaikan patung.WRITER'S POV"Kill her, Malone!" Ken shouted, his voice loud and cruel.Malone froze."No!" Hannah cried, shaking her head quickly as Malone lifted the gun toward Vera."He's trying to ruin you, Malone. Don't listen to him," she begged."You can't shoot our mother. You can't—""Don't you dare tell me what to do! Our mother? Please! Go wash your mouth!" Malone snapped, his voice shaking with anger.His shout shook the room, and Tim swallowed his words, fear written all over his face. Vera stood still, her heart racing. She knew Ken never played fair. They were trapped."Stop this madness, Prince Kenneth," she said firmly, her voice filled with pain. "Are you really going to turn your own son into a monster like you? Will you be proud of yourself after this?""Don't try your cheap tricks on me! Have you forgotten who I am? You think locking me up was that easy? I have people! I can always buy more! Justice doesn't exist! The whole system is a joke!" Ken yelled, stepping down the stairs
VERA'S POVIt started raining hard that evening while we drove home. Jack and Nathan had gone to search for Malone, but they couldn’t find him, and it got too dark to keep waiting around in the graveyard. A police report had already been made in case things got worse. I didn’t know how to describe what I was feeling. The pain inside me was loud, so loud that even Hannah’s voice beside me sounded like extra noise in my already noisy head.From the moment she told us Malone was missing, I felt like throwing up. A sharp pain started in my lower stomach, and I curled up in the backseat, dropping my face to my knees. Hannah sat next to me, trying to comfort me without waking her sleeping baby. Timothy sat quietly on Jessica’s lap in the front seat, both of them watching me through the mirror with sad eyes.When Max pulled the car into the driveway, I had to blink many times just to see clearly and carefully get down. Hannah was now talking to someone on the phone, telling him I would be ok
VERA'S POVIt was a cool evening when she was laid to rest. I stood quietly beside her grave, not really sure how I felt. She hadn’t been the best mother, but she still said "bless you" when someone sneezed. That had to mean something. Still, I never understood how she could watch me suffer at the hands of her boyfriend. It made me doubt if I was ever truly her daughter. But even with all that, I never wished death on her. Not this soon.We were slowly becoming friends, trying to fix things between us. She really cared about Jessica, even though she stayed distant. She hadn’t been sick, and she wasn't the type to take her own life. Yet, she died so quietly. According to Jessica, she lay down beside her one night and didn't wake up the next morning.Thanks to Jack, we had gotten the chance to make peace. But I thought she'd do more. Maybe say sorry. Maybe try to be a better mother. I thought she would at least try to be present, to make up for all the time lost. Instead, she chose eter
WRITER'S POV"Stop right there, Malone! Don’t walk away from me when I’m still talking to you!" Vera’s voice rose, sharp and filled with anger. Her eyes were blazing as she stared at her son’s back.They had rushed to the police station after Jack told Vera and Maureen about what had happened to Malone. Seeing how panicked Vera was, Maureen had offered to come along for support. Jack had politely asked her to stay back so they wouldn't have to explain she was Monica's twin, not a ghost. She understood and wished them luck.They reached the station just in time, before Malone was sent to a cell. Jack took charge, speaking to the Police Chief and doing the paperwork with Harry, the young officer who had helped with Ken’s case and Vera's stalker. Eventually, they were allowed to take Malone home.On the drive back, Vera tried talking to Malone, but he said nothing. As soon as they got home and Jack pulled up, Malone jumped out and headed inside, ignoring his mother.Boiling with frustrat






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan