Mag-log inChapter 61Memperkenalkan PacarAnran pulang ke rumah orang tuanya sebelum waktu makan siang dengan perasaan yang cukup tegang. Malam ini Zeyan akan datang untuk makan malam bersama keluarganya dan semakin dekat waktunya, semakin banyak hal yang muncul di kepalanya. Ia bahkan sempat bertanya kepada dirinya sendiri beberapa kali apakah keputusan membawa Zeyan pulang memang benar? Namun, setelah mengingat bahwa mereka hanya sedang berkencan dan tidak sedang membicarakan pernikahan, Anran berusaha tidak memikirkan hal-hal yang terlalu jauh lagi.Begitu memasuki rumah, Anran melepaskan sepatunya dan berjalan menuju ruang keluarga. Ia mengira akan menemukan ibunya atau ayahnya di sana, tetapi langkahnya langsung berhenti ketika melihat dua orang yang duduk di sofa. Neneknya sedang menikmati teh, sementara di sebelahnya seorang pria yang seharusnya masih berada ribuan kilometer dari Shanghai sedang duduk santai sambil membaca sesuatu di ponselnya.Anran berkedip beberapa kali. "Kak Yuze?"
Chapter 60Akhirnya Bisa Bebas BertemuBegitu nenek dan ibunya pergi, Anran berdiri beberapa saat di depan pagar sambil memastikan mobil ibunya benar-benar sudah meninggalkan halaman. Selama hampir satu minggu rumah itu terasa terlalu ramai, bukan karena neneknya banyak bertanya atau membuat masalah, justru sebaliknya. Neneknya sangat santai, tetapi keberadaan perempuan tua itu membuat Anran tidak bisa bergerak sebebas biasanya terutama untuk pergi ke rumah Zeyan yang hanya berada di sebelah, ia tidak mendapatkan alasan yang masuk untuk pergi ke rumah Zeyan. Sekarang rumah itu kembali kosong, Anran merasa seperti mendapatkan kembali kebebasannya.Tanpa banyak berpikir, ia langsung mengambil ponselnya lalu pergi menuju rumah Zeyan. Begitu pintu dibuka, Anran masuk seperti biasanya, melepaskan sandal di dekat pintu, lalu mengambil sandal khusus yang biasa digunakannya ketika berada di rumah. Namun, tangannya berhenti ketika melihat sepasang sandal baru yang diletakkan rapi di dekat rak,
Chapter 60Kakak Pacar SayaAnran masuk kerja siang sehingga memiliki waktu cukup panjang sebelum berangkat ke rumah sakit. Namun, sejak bangun tidur, wajahnya sudah terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan kebebasan hidupnya. Hampir satu minggu neneknya tinggal di rumah dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Setiap pagi masih menyiapkan sarapan, setiap sore masih ada buah yang sudah dipotong, dan setiap malam neneknya masih duduk di ruang tengah menonton televisi seolah-olah rumah itu memang sudah menjadi tempat tinggal permanennya.Setelah mandi dan bersiap-siap, Anran segera keluar rumah untuk bertemu Zeyan. Mereka sepakat makan siang di salah satu kedai mi milik keluarga Wang, tetapi bukan kedai yang pernah mereka datangi pada kencan pertama, melainkan cabang lain yang lokasinya lebih dekat dengan rumah Anran dan rumah sakit tempatnya bekerja.Begitu duduk di ruang pribadi yang ukurannya tidak terlalu besar di lantai dua, Anran langsung mengembuska
Chapter 59 Makanan dari Tetangga Sebelah Anran baru tiba di rumah sekitar pukul tiga sore setelah menghadiri seminar singkat di rumah sakit. Begitu membuka pintu, dia langsung mendengar suara neneknya dari ruang tengah yang terdengar jauh lebih bersemangat daripada dirinya yang sejak pagi sudah duduk mendengarkan presentasi dan diskusi para dokter muda. Nenek rupanya sedang menunggu kepulangannya sambil duduk di sofa dengan sebuah kotak kue di atas meja. “Pulang juga akhirnya,” ujar nenek tanpa menoleh. “Bagaimana seminarnya?” “Cukup melelahkan.” Anran melepaskan sepatu, menggantinya dengan sandal khusus di ruah lalu meletakkan tasnya di kursi. “Nenek sudah lama pulang?” “Sudah dari tadi." Nenek terkekeh. "Tadi pagi ramai sekali. Tetangga hampir semuanya datang, saya sampai tidak sempat duduk lama karena banyak yang mengajak bicara.” Anran mengangguk sambil berjalan mendekat. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan neneknya karena sejak datang, nenek memang tidak berhenti membica
Chapter 58 Calon yang Tidak Cocok Anran duduk di kursi pengemudi mobilnya dengan wajah sedikit cemberut karena sejak hari Kamis, hidupnya terasa seperti sedang berada di bawah pengawasan keluarga sendiri. Kakaknya membocorkan keberadaan pacarnya sehingga ibunya datang tanpa pemberitahuan hanya untuk memeriksa isi kulkas, lalu neneknya datang membawa koper dan sementara tinggal bersamanya. Masalahnya, Anran sendiri tidak tahu kapan neneknya akan pulang. “Sekarang saya bahkan tidak bisa bertemu Anda dengan bebas," keluh Anran. Zeyan menahan senyum karena keluhan Anran sudah didengar berkali-kali sejak neneknya datang. “Bukankah Anda bisa bertemu saya di rumah saya?” Anran langsung menoleh dan melotot. “Mudah saja bilang begitu!” Zeyan tersenyum. “Kalau begitu, kita bertemu di rumah Anda.” Anran menyipitkan matanya. “Memangnya Anda berani?” Zeyan mengangguk pelan seolah baru memahami masalah yang sangat rumit. “Jadi, kesimpulannya, kita tidak boleh bertemu?” Anran menggeleng. “B
Chapter 57Teman Curhat yang KebanyakanSabtu sore, Anran sengaja mengajak Kexin bertemu karena sejak neneknya datang ke rumah dan mengatakan akan menginap sampai Minggu, kepalanya terasa semakin penuh. Ia sebenarnya hanya ingin mencari seseorang untuk diajak mengeluh dan Kexin adalah pilihan paling aman karena sebagai teman dekat, perempuan itu sudah mengetahui hubungan Anran dengan Zeyan dan biasanya selalu punya komentar yang membuatnya sedikit lebih tenang, meskipun terkadang komentar Kexin justru membuatnya semakin kesal.Anran tiba di restoran yang sudah mereka sepakati beberapa menit setelah waktu yang dijanjikan. Begitu masuk, ia langsung mencari meja yang disebutkan Kexin. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat bukan hanya Kexin yang duduk di sana. Tang Wei dan Yiran juga ada di meja yang sama, bahkan mereka sudah memesan beberapa minuman membuat Anran untuk sesaat hanya bisa menatap ketiga sahabatnya tanpa ingin berkomentar.Kexin yang melihat Anran langsung melambaikan t







