LOGINBagaimana jadinya jika dua orang yang selalu bermusuhan tiba-tiba harus tinggal seatap? Setelah kehilangan ayahnya dan harta kekayaan yang disita bank, Veline terpaksa menerima tawaran sahabat ayahnya untuk tinggal bersama mereka. Namun, harapannya untuk hidup tenang hancur saat mengetahui putra dari sahabat ayahnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Hero Arjuna Wiratama, lelaki tampan dan populer, digilai banyak wanita karena pesonanya. Meski sikapnya terkadang cuek dan dingin, banyak yang justru semakin tertarik pada lelaki itu, tetapi tidak bagi Veline. Namun, siapa sangka, di balik permusuhan itu ternyata tersimpan takdir yang mengejutkan—orang tua mereka diam-diam telah menjodohkan mereka sejak lama. Akankah perasaan benci mereka berubah menjadi cinta? Lalu, mampukah mereka mengesampingkan ego masing-masing dan menerima perjodohan tersebut?
View MoreFIVE YEARS AGO...
Just like any other day, I prepared many delicious meals and set the table. I knew that Xin was going to come home today.I wanted to surprise him. Maybe his attitude toward me would change.My heart began beating so fast when I heard him drive into the parking lot. Despite his cold nature and his indifference towards me, I still wanted to make him happy.I still hoped that one day he would change and treat me as the wife I was supposed to be.I rushed over to him when he walked into the house, a sweet smile on my face. I wanted to use all of my charm to win him over today.“Xin, I prepared your favorite dishes. Would you like to try?“ I asked. Of course, I would prepare the food every two days.Xin only returned home once in two days. And he only ate my food whenever he chose to. However, I had never given up trying to please him.He was the man I loved—the man I wanted to spend the rest of my life with. I was willing to go to any lengths for him.And just like I had expected, he did not say a word. Instead, he extended his arm and handed me a document that he was holding.Confused, I took the document. That was the first time he had ever given me anything.Curiously, I ran my eyes over the words, and my heart went numb. I raised my eyes to look at him, and I was only met with his indifferent gaze.“Um… this?“ I asked in confusion. It was a divorce document, and his name was already signed on it.Wait! Xin was divorcing me after being married for one year. He wanted to end things with me!I looked at the document again before shaking my head. “Xin, I didn't do anything wrong. Please don't do this to me,” I begged.I did not know why he was asking for a divorce all of a sudden. He had never mentioned it in the past!“Sign it,” Xin said coldly, and he walked upstairs. Of course, he had never said more than two words at a time to me after we got married.“Noo!“ I said that and tried to run after him, but I stopped when I thought about it. He never liked anyone close to him.Even though we had been married for one year, he had never touched me. I was never sure if I was the one he detested or if it was just his decision.I sighed and threw away the document. “Keep dreaming! I am not going to sign this,” I said, walking to my room. Of course, we had separate rooms.…“Chris,” I said when the person I was calling answered. “Are you with Xin?““Isabel! It is late in the night. Why are you still awake?“ Chris asked. Xin and he were best friends. And most of the time, when Xin wasn't home, he was with him.I sighed. “He has not been home for some days. And the last time he was here, he handed me divorce papers,” I said, wiping away my tears.I just could not understand why someone would be as cold as him. He was never like that in the past.“Isabel, I am really sorry for you. But he is not here,” Chris said softly. At times, I wondered why Xin could never be as good as him.“Do you know where he is?“ I asked again. I only wanted to know if he was fine.But Chris sighed deeply. “Bella, I think you need to know about this,” he said tensely. “Xin's ex-girlfriend came back. He is with her now."“What?“ I sat up with a start. “Ex girlfriend?“ I asked in confusion. I didn't know that he had a girlfriend.“Bella, after Xin left your home, he was taken abroad. He met Skye, who helped him a lot. I heard that she even took a bullet once for him. They were dating before your uncle showed up with marriage documents his dad signed. They had to break up,” Chris explained.I was stunned. “Because of me? I didn't know about it. Where is he now?” I asked. Did he not like me because I had made him break up with his girlfriend? But why did he agree to marry me?“You have to be strong, Bella. Don't go to him and cause any trouble. I will try talking to him and see what to do,” Chris said. He was always a good friend.“Thanks,” I said and hung up. I was struggling to fight back my tears. I seemed to have finally understood why Xin did not care about me.Xin had been raised by my parents until he was fifteen. I heard that something had happened to his family, and he was only safe with us.He had been a very good brother to me. I loved spending time with him.When he turned fifteen, something happened in our family. Our house was burned down by some unknown people, and I lost my dad and mom in the event.My uncle took me in, but he could not afford to raise another extra person. So Xin had to leave.I was only ten years old at that time. He had promised to keep in touch and visit me often. However, he never did it.When I turned twenty, my uncle told me that before my dad and Xin's dad died, they had signed an agreement that Xin should marry me.He said that I was supposed to meet Xin and date him for a while. If we loved each other, he would marry me.But Xin had agreed to marry me the moment I met him. I was so happy at that time. I did not expect that my life in marriage was going to be so difficult. I never thought that he would one day want to divorce me.Malam ini hujan turun dengan deras, menyelimuti kota dengan dingin. Di sebuah ruang bersalin di rumah sakit, Veline terbaring di ranjang, wajahnya basah oleh keringat. Rasa sakit melandanya seperti gelombang yang tak kunjung usai, tetapi genggaman tangan Hero yang erat memberinya kekuatan. "Sayang, aku di sini. Tarik napas dalam-dalam, oke? Kamu pasti bisa," ujar Hero dengan suara yang tenang meskipun matanya memancarkan kegelisahan. Veline menggigit bibirnya, berusaha menahan jeritan. "Hero … sakit banget …," suaranya bergetar. Hero mengusap rambut istrinya yang basah oleh keringat. "Kamu kuat, Sayang. Kamu selalu kuat. Nggak lama lagi kita bakal ketemu sama anak kita." Dokter dan perawat sibuk mempersiapkan semuanya. "Baik, Bu Veline, saat kontraksi berikutnya, tolong dorong sekuat tenaga, ya," kata dokter. Veline mengangguk lemah, matanya menatap Hero dengan penuh harap. Hero hanya membalas dengan senyuman yang berusaha menenangkan, meski di dalam dirinya ia merasa
Pagi ini, Zahira melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit. Aroma antiseptik menusuk hidung, dan langkah sepatunya yang berderap di lantai mengkilap terdengar jelas di antara kesunyian. Matanya menatap nomor ruangan di depannya. Di balik pintu itu, Amanda, wanita yang selama ini ia anggap sebagai duri dalam rumah tangganya, kini terbaring lemah. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya. Setelah menghela napas panjang, Zahira mengetuk pintu dan masuk. Di dalam ruangan, Amanda terbaring dengan wajah pucat. Namun, ada senyum tipis di bibirnya saat melihat Zahira masuk. Dimas yang duduk di kursi di samping ranjang segera bangkit, memberikan ruang untuk mereka. "Zahira …," suara Amanda terdengar lemah. Zahira mendekat, menatap Amanda yang terbaring dengan infus terpasang di tangan kirinya. "Aku datang untuk menjengukmu," katanya dengan nada datar, tapi matanya menunjukkan keraguan yang dalam. Amanda tersenyum lemah. "Terima kasih … aku tahu ini pasti tidak mudah untukmu."
Veline dan Yudha berjalan perlahan menuju parkiran rumah sakit. Udara malam terasa menusuk. Namun, langkah mereka tetap tenang di tengah suasana sunyi. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya temaram, menambah kesan hening di sekitar. Namun, langkah Veline tiba-tiba terhenti. Ia menoleh ke arah Yudha dan berkata, "Yud, gue mau beli minum dulu sebentar." Yudha menatapnya sejenak, lalu mengangguk tanpa banyak bicara. "Ya udah, kita ke minimarket aja. Itu ada di dekat sini," jawabnya sambil menunjuk ke arah sebuah minimarket kecil tak jauh dari parkiran. Mereka kemudian melangkah menuju minimarket tersebut. Saat sampai, Veline masuk ke dalam tanpa ragu, sementara Yudha memilih menunggu di luar. Ia bersandar pada salah satu tiang dekat pintu masuk, pandangannya mengawasi sekitar dengan santai, meski raut wajahnya masih terlihat tegang setelah kejadian di rumah sakit tadi. Namun, suasana hening itu tiba-tiba berubah ketika Yudha melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah sakit. S
Amanda tergeletak di atas aspal, tubuhnya berlumuran darah yang terus mengalir, membasahi pakaian dan jalanan di sekitarnya. Matanya perlahan membuka, lemah, seolah mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Di sisi lain, Dimas berdiri terpaku sebelum akhirnya teriakannya menggema. "Amanda!" Dimas berteriak dengan suara yang serak dan penuh kegelisahan. Kakinya melangkah cepat, lututnya hampir jatuh saat ia berlutut di samping tubuh Amanda. Dengan kedua tangannya yang bergetar, ia mengangkat kepala Amanda, memeluknya dengan erat meskipun darah terus mengalir di tangannya. "Amanda, kenapa kamu melakukan ini?" Amanda hanya tersenyum samar, bibirnya bergetar mencoba mengeluarkan kata-kata. Namun, tidak ada suara yang terdengar. Di dekat mereka, Veline berdiri terpaku, tubuhnya gemetar. Matanya tidak bisa lepas dari genangan darah di sekitar tubuh Amanda. Wajahnya pucat, sementara pikirannya penuh dengan kebingungan dan rasa syok. "Ma ... Mama ...." Hero yang tadinya diam
Hero keluar dari kamar mandi, sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk, sampai membuat beberapa helai rambutnya jatuh berantakan di dahi. Setelah libur tengah semester berakhir, akhirnya hari ini ia akan kembali bersekolah. Lelaki tampan itu berjalan menuju lemari, membuka pintu, dan mengamb
Hero berteriak lantang ketika melihat Veline yang tiba-tiba terjatuh. "Veline ...." Dengan keadaan panik, Hero lantas berlari menghampiri gadis itu yang sudah tak sadarkan diri. Lelaki tampan itu langsung berjongkok dengan lutut ditekuk. Tangan kekarnya langsung meraih kepala Veline dan menepuk
"Om nggak perlu memilih apa pun, karena Veline yang akan pergi." Veline yang melihat kebingungan di wajah Dimas, hanya membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia pun memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.Dimas menarik napas panjang, menatap sedih ke arah gadis yang ada di hadapannya. "Veline ..
Veline mengangkat bahu. "Gak ada. Gue cuma ingin bicara aja sama lo."Hero menutup buku dengan kasar, lalu meletakkan buku itu di atas meja. Ia berdiri dari kursi dan mendekat ke arah Veline yang masih berdiri di ambang pintu. Tatapan tajamnya menelusuri wajah Veline. Memang, gadis itu terlihat can






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews