LOGINSemenjak kepindahannya ke SMA International Cakra, Laras Cantika hanya ingin serius belajar agar bisa mendapatkan beasiswa kuliah. Namun, empat pria tampan tiba-tiba datang mendekatinya tanpa alasan yang jelas. Keseharian Laras di SMA International Cakra pun mulai tidak tenang. Sejak kehadiran mereka, Ia bagai berada dalam surga dan neraka dalam satu waktu. Apakah mungkin empat pria tampan dari keluarga terpandang kompak menyukai seorang putri sopir yang miskin? Laras dilema. Apakah sebaiknya menikmati semua ini saja atau lari dari mereka?
View MoreBruk !!!
“Aduh, maaf, Kak. Maaf banget. Aku nggak sengaja.” Aku langsung mengatupkan tangan sambil membungkukkan badan berkali-kali karena tidak sengaja menabrak seseorang.
“Anjir lu! Lu nggak punya mata ya?!” bentak orang tersebut.
Tidak ada kata lain yang aku ucapkan selain memohon belas kasih kepada orang yang aku tabrak itu. Hari ini adalah hari pertamaku pindah ke sekolah baru. Sebelumnya, aku belajar di sekolah negeri. Namun, tiba-tiba saja ayahku yang seorang supir menawarkanku untuk pindah ke sekolah swasta elit dengan beasiswa. Katanya, dapat tawaran dari majikannya.
Awalnya, aku ragu karena di SMA negeri pun aku sudah cukup mendapatkan akses belajar yang memadai. Akan tetapi, ayahku meyakinkanku bahwa masuk ke SMA ini akan lebih memuluskan langkahku untuk berkuliah di universitas elit. Aku pun mulai banyak mencari tentang calon sekolah baruku, SMA International Cakra. Benar saja, banyak hal-hal yang aku tidak bisa dapatkan kalau aku bertahan di sekolah negeri.
Akhirnya, aku menyetujui tawaran ayahku. Saat pertama kali menginjakkan kaki di depan SMA tersebut, aku langsung dibuat takjub dengan gerbang sekolahnya. Berwarna hitam mengkilap dan berdiri kokoh dengan tingginya mencapai 3 meter bagai istana.
Dari gerbang sekolah, kepalaku tidak dibiarkan untuk melihat ke bawah. Aku selalu mendongak ke atas karena melihat gedung-gedung sekolahnya yang tinggi.
“Permisi, Pak. Kalau mau ke ruang guru, lewat mana, ya?” tanyaku kepada security sekolah karena saking luasnya sekolah ini membuatku takut salah arah.
“Mari saya antarkan,” tawarnya dengan senyuman.
Aku terkejut dengan tawaran itu. Namun, aku cepat-cepat menolak karena merasa tidak enak.
“Eh, nggak usah, Pak. Saya cari sendiri saja. Tolong diarahkan saja,” kataku menolak tawaran dengan halus.
“Untuk ruang guru, itu berada di Gedung Handoko. Silakan masuk ke gedung tersebut dan melewati lorong pertama. Kemudian, ruang guru ada di paling ujung lorong itu,” jelas satpam masih dengan wajah ramahnya.
Aku mengucapkan banyak terima kasih dan melanjutkan langkahku untuk menuju ruang guru. Dalam perjalanan dari halaman sekolah, aku melihat banyak sekali gedung dengan nama yang berbeda-beda. Uniknya, semua nama gedung tersebut menggunakan nama seseorang. Misalnya, Gedung Serbaguna Wijaya. Gedung Olahraga Rahadian. Gedung Riset Sitompul. Dan banyak lagi.
Nama-namanya terdengar tua bagiku. Mungkin, itu nama pahlawan atau nama keluarga pemilik sekolah ini. Hal yang pasti, gedungnya terlihat bersih dan baru. Tidak ada cat mengelupas maupun menguning akibat cuaca.
“Seperti masuk ke halaman istana,” gumamku sendiri sambil melihat ke kiri dan kanan untuk mengagumi gedung-gedung tersebut.
Tidak berhenti sampai di sana, rasa takjubku dibuat naik level setelah menginjakkan kaki di lorong sekolah. Semua murid terlihat tampan dan menarik. Seragam yang mereka kenakan bersih, warnanya terang dan tidak memudar. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Ada yang sedang membuka loker, berkumpul, dan bergosip, sampai melihat mading sekolah. Lagi-lagi, mataku jelalatan sehingga tidak bisa fokus. Aku melihat ke semua penjuru arah. Dari luar, kelasnya terlihat bersih. Tidak ada coret-coretan di meja maupun di tembok. Aku menghirup napas dalam-dalam. Aroma segar memanjakan hidungku. Terdapat kombinasi wangi bunga dan buah. Sepertinya, datang dari parfum murid-murid itu.
Saat sedang menikmati semua suasana kemewahan itu, aku langsung mendapatkan ganjarannya. Mataku yang sedang jelalatan tidak melihat ada orang di depanku. Alhasil, kami bertabrakan. Beruntung, tidak terlalu keras sampai ada yang terjatuh. Namun, tetap saja memang aku yang salah. Aku pun membungkukkan badan berkali-kali untuk meminta maaf. Akan tetapi, orang itu sepertinya sangat murka dengan kejadian ini.
“Jalan pake mata! Lihat nih perbuatan lu. Seragam gua berantakan!” teriaknya memarahiku.
Karena panik, kedua tanganku secara otomatis langsung meraba-raba seragamnya dengan tujuan untuk merapikannya. Sayangnya, wanita itu malah menjerit.
“Lu gila ya? Jangan sentuh gua!” Wanita yang memiliki gaya rambut bob pendek sebahu itu langsung menepis tanganku dan mendoronku.
“Maaf, Kak. Aku cuma …” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, wanita itu langsung berlari sambill terus mengibas-ngibas seragamnya seolah ada kotoran di sana.
“Ah, seragam gue! Ihh jijik banget dipegang gitu,” ujar wanita itu sambil berlari jijik menuju ke toilet.
“Eh, Kak. Tunggu dulu!” teriakku untuk menghentikannya.
Karena masih ada rasa tidak enak hati, aku berniat untuk mengejarnya dan meminta maaf dengan benar. Namun, tiba-tiba saja ada yang menarik lengan kiriku dari belakang. Aku langsung menengok untuk melihat siapa pelakunya.
“Nggak usah dikejar,” bisik pelan orang itu.
Aku langsung terpaku di hadapannya. Alasannya, karena seseorang yang di hadapanku adalah Arga Rahadian. Anak laki-laki dari majikan ayahku. Aku sangat segan terhadapnya. Terlebih lagi, sepertinya dia sangat membenciku. Saat di rumah, Arga sudah memberi peringatan agar pura-pura tidak mengenalinya. Jangan sampai orang-orang di sekolah tahu bahwa aku adalah putri supir keluarga Arga.
“Jangan buat keributan apa pun di sini,” tegur Arga sambil tetap berbisik agar tidak ada yang mendengar kami.
Aku hanya bisa menunduk dan mengangguk pelan. Setelah Arga pergi dari hadapanku, aku pun melanjutkan perjalanan menuju ruang guru. Sebenarnya, masih ada rasa yang mengganjal karena kejadian tadi. Namun, aku tidak mau kejadian kecil tadi merusak kesenangan hari pertama sekolahku. Aku tetap berusaha ceria dan semangat.
Akhirnya, aku diajak oleh guruku untuk menuju kelasku. Sepanjang perjalanan, aku berusaha mengatur napas karena gugup. Aku berharap bisa belajar dengan baik di sini dan mendapatkan banyak teman. Aku terus menunduk sampai di depan kelas. Belum berani menatap murid-murid yang ada di depanku.
“Anak-anak, kita kedatangan murid baru. Ibu harap kalian bisa akur dan membantu Laras mengejar ketertinggalan pelajaran yang belum sempat ia ikuti di sini. Laras, silakan perkenalkan diri kamu.” Ibu guru mulai mengenalkanku pada murid-murid.
Aku mulai bernapas pelan–pelan dan memberanikan diri. Saat mental sudah siap sepenuhnya, aku langsung menegakkan kepala dengan cepat. “Halo, semua. Aku Laras Cantika. Pindahan dari SMA Negeri 1. Aku harap …” Perkenalanku berhenti saat mataku beradu pandang dengan Arga.
Aku tidak menyangka akan satu kelas dengannya. Tapi tunggu, bukan itu saja. Saat aku menengok siapa yang duduk di sebelahnya, mataku langsung terbuka sempurna.
Wanita itu? Dia? Wanita yang tadi aku tabrak?
“Masa iya selera Arga serendah itu?” ujar salah satu siswi SMA International Cakra kepada temannya.Pagi itu, aku lewat di depan sekumpulan wanita yang sedang bergosip. Tanpa sengaja, aku mendengar mereka sedang membicarakan sesuatu tentang Tuan Arga. Aku tidak mengerti apa yang mereka maksud. Sementara itu, beberapa siswi terlihat sangat jelas menatapku dengan sinis.“Itu kan ceweknya? Si anak baru yang katanya putri supir?” ujar salah satu siswi kepada gerombolannya.Ah, apa lagi yang sebenarnya terjadi. Sepertinya, inilah alasan mengapa kemarin para siswi mengepung UKS saat aku sedang dirawat. Ada apa dengan diriku dan Tuan Arga? Aku berusaha tidak memedulikan mereka dengan terus berjalan menuju kelas. Saat sampai di bagian mading sekolah, aku melihat lebih banyak siswi berkumpul di sana.Aku benar-benar penasaran sehingga nekat menerobos untuk mengetahui ada berita apa. Pemandangan mading membuatku terkejut. Bukankah itu foto Tuan Arga sedang menggendong seseorang? Aku menyipitkan
“Kok hilang ya?” keluhku pelan sambil mengacak-acak isi kulkas.Malam itu, aku mengorek-ngorek isi kulkas karena tidak menemukan buah potong yang baru aku beli kemarin. Aku sudah berdiri menjelajahi isi rak kulkas bagian atas sampai berjongkok untuk melihat bagian bawah pun masih belum ketemu. Rasanya menyebalkan karena saat ini tubuhku sedang kekurangan gula. Lemas, ingin marah, dan perut keroncongan. Terlebih lagi, aku baru saja melewati hari pertama yang berat di sekolah. Siapa yang akan mengira aku akan mengalami kejadian yang tidak pernah ada di bayanganku sebelumnya?Orang gila mana yang bisa memprediksi hal seperti itu akan terjadi di sekolah. Dalam hidupku, tidak pernah aku membayangkan akan terkena pembullyan sampai segila ini. Selama ini, aku hanya melihat kasus kekerasan yang parah di sekolah hanya melalui berita-berita. Itu pun selalu terjadi di sekolah-sekolah yang memang terpencil atau kurang dikenal. Tidak aku sangka, sekolah elite pun memiliki permasalahan serupa. Ah
“Kalian berdua cepat pergi dari sini,” usir pria berambut ivy league itu sambil menghampiri kedua orang yang tadi menyiksaku.Mendengar itu membuatku mengerutkan dahi. Apakah ini artinya Tuan Arga menyelamatkanku? Aku penasaran apakah itu benar Tuan Arga yang kukenal? Kenapa dia mau menolongku? Posisiku yang sedang terbaring lemas berusaha menengok ke kanan, tempat mereka bertiga berdiri.“Maksud lu apa Arga? Lu mau belain cewek miskin ini?” tanya wanita berbando pink.“Lu berdua bodoh apa gimana? Gua justru nolongin kalian berdua. Sebentar lagi, kelas renang akan dimulai. Kalian mau jelasin apa kalau mereka semua lihat ada yang mati di sini?” tegas Arga.“Betul juga sih Ran. Ayahnya Arga ini kan pengacara. Dari dulu, Arga selalu jadi tameng kita semua supaya bebas dari jerat hukum apa pun itu.” Wanita berpita pink memvalidasi perkataan Arga.Ah, ekspektasiku terlalu tinggi. Benar saja, Tuan Arga sama sekali tidak peduli denganku. Tidak kuat mendengarkan fakta ini, aku langsung mengal
“Bangun lo benalu!” teriak orang itu sambil mengguyur seember air kolam renang kepadaku.Aku langsung tersadar dan terduduk untuk beberapa saat. Guyuran air itu berhasil membuatku terbatuk-batuk. Napasku juga terengah-engah karena terkejut dibangunkan secara paksa. Dengan cepat, aku mengusap-usap wajah yang basah untuk sedikit melegakan napasku. Terlihat, dua orang wanita dengan bando dan pita rambut pink berdiri di hadapanku.Aku belum tahu siapa nama mereka. Namun, yang pasti mereka adalah teman sekelasku. Aku sudah melihat mereka tadi menatapku dengan sinis di kelas. Tatapan itu masih sama saat ini. Aku berusaha mengingat lagi apa yang terjadi sebelum aku pingsan. Rasanya, ada yang menarik tasku dari belakang. Pelakunya Clarissa. Tapi, di mana dia sekarang?Terlepas dari ucapan Clarissa yang membuatku merenung, tetapi diperlakukan seperti ini juga membuatku naik pitam. Sudah dibikin benjol, sekarang disiram air kolam renang yang dingin dan penuh kaporit ini. Aku menatap tajam merek
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.