تسجيل الدخول⚠️⚠️⚠️ CERITA DEWASA Zhao Anran hanya ingin fokus menjadi dokter muda di Shanghai, bukan terlibat dengan pria yang membuat jantungnya berdebar. Namun, tetangga barunya ternyata adalah Wang Zeyan, seorang chef fine dining berusia 24 tahun yang tampan, tenang, dan seorang duda dengan seorang putri kecil. Pertemuan mereka dimulai dari kesalahpahaman di UGD, lalu berubah menjadi hubungan yang penuh pertengkaran kecil, godaan, dan kehangatan. Anran selalu berpikir pria yang lebih muda dan memiliki masa lalu rumit bukanlah pilihan yang tepat. Sampai ia menyadari, terkadang cinta datang dari orang yang tinggal tepat di sebelah rumahnya.
عرض المزيدChapter 1
Bunuh Diri Zhao Anran baru kembali dari kencan butanya untuk ketiga kali setelah kembali ke Shanghai. Ia melirik jam tangannya lalu mendengus pelan karena untung saja sampai di tempat kerjanya tepat waktu. Jika neneknya mengatur kencan buta sekali lagi, Anran bersumpah tidak akan datang. Namun, pasti neneknya tidak akan menyerah. Anran menghela napas berat mengingatnya. Bahkan setelah menjadi dokter lulusan Imperial College London dan bersusah payah agar bisa bekerja di salah satu rumah sakit terbaik di Shanghai, neneknya hanya berpikir untuk menikahkannya. Tentunya bukan tanpa alasan dan alasannya hampir tidak bisa diterima oleh Anran. Katanya takut tidak panjang umur dan tidak bisa melihat cucu perempuan satu-satunya memakai gaun pengantin. Anran membuka lokernya lalu menyimpan barangnya dan belum sempat mengunci lokernya, seseorang memanggilnya. "Dokter Zhao... syukurlah, akhirnya Anda datang." Anran menoleh dan mendapati Yiyi, salah satu perawat di UGD muncul dengan wajah sedikit panik. "Ya?" sahut Anran. "Dokter Jiang barusan pergi dan ada seorang pasien datang dengan luka di pergelangan tangannya. Kemungkinan percobaan bunuh diri," kata Yiyi. Anran mengangguk sembari mengikat rambutnya hitam panjangnya sampai menyentuh sikunya lalu mengambil stetoskopnya dan memasukkan ke dalam saku seragamnya. Ia berjalan keluar dari ruang penyimpanan melewati konter perawat dan administrasi, ketika tiba di ruang gawat darurat, pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang duduk di atas ranjang pasien dengan pergelangan tangan dibalut dengan lilitan kain kasa yang berdarah-darah, dililit sembarangan. Pria itu terlihat masih muda, rambutnya rapi, dan kulitnya tidak pucat. Tidak terlihat tanda-tanda depresi di ekspresinya wajahnya, namun bisa saja dia benar-benar sudah putus asa. Hanya saja bisa menyembunyikan kesedihannya di depan orang lain. Anran menarik kursi dan duduk di hadapan pasien itu. Dari dekat, pria tersebut terlihat lebih muda, wajahnya bersih, tidak ada janggut berantakan atau mata sembab seperti pasien-pasien depresi yang pernah ia tangani selama masa praktik. Sebaliknya, pria itu terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja datang ke UGD dengan pergelangan tangan berlumuran darah. Sementara Anran mengamati pasiennya, pria itu juga menatapnya dengan tenang seolah menunggu pemeriksaan dimulai. "Saya dokter Zhao yang akan menangani Anda," kata Anran memperkenalkan diri dan pria itu mengangguk. "Tolong sebutkan nama Anda," lanjut Anran sambil membuka berkas pasien. "Wang Zeyan," jawab pria itu. Anran menuliskan nama itu lalu melirik tanggal lahir yang tertera di kartu identitasnya, dua puluh empat tahun. Anran mengangkat alis karena usia pria itu masih sangat muda, tapi sudah depresi hingga mencoba bunuh diri. Malang sekali, batinnya. "Kenapa Anda terluka?" tanya Anran. "Terkena pecahan kaca," jawab Zeyan. Jawaban itu membuat Anran berhenti menulis sejenak karena pasien yang mencoba bunuh diri juga sering memberikan jawaban sesingkat itu. "Kaca apa?" "Rak penyimpanan." "Di rumah?" "Di restoran." Anran mengangguk pelan sambil tetap menulis. Namun, di dalam hati ia masih belum sepenuhnya percaya. Pengalamannya mengajarkan bahwa pasien dengan gangguan psikologis sering kali menyembunyikan alasan sebenarnya, apalagi pria ini terlihat terlalu tenang. Kalau memang hanya terluka karena kecelakaan, kenapa ekspresinya seperti orang yang sedang menunggu pesanan kopi? "Apa ada masalah pribadi akhir-akhir ini?" tanya Anran lagi. Zeyan menatap Anran selama beberapa detik sebelum menjawab, "Masalah seperti apa?" "Masalah keluarga, pekerjaan, hubungan." "Tidak." "Yakin?" "Yakin." Anran menutup pulpennya lalu menyandarkan tubuh ke kursi dan menatap Zeyan dengan tatapan curiga. Sementara di otaknya terpikirkan sebuah teori: makin dicurigai makan akan makin tenang. Makin tenang, makin mencurigakan. Berbagai tebakan mulai bermunculan, mungkin putus cinta, mungkin tunangannya kabur dengan orang lain, atau mungkin ditinggal menikah. Mungkin ini salah satu kasus yang sering dibahas dosennya dulu, pasien depresi berat terlihat normal di depan semua orang sampai akhirnya.... "Dokter Zhao." Suara Zeyan membuyarkan lamunannya, Anran berdehem kecil lalu menjilat bibirnya. "Ya?" "Anda sedang mendiagnosis atau sedang menulis naskah drama?" tanya Zeyan. Anran hampir tersedak ludahnya sendiri dan untuk beberapa detik ia hanya bisa menatap pria itu tanpa ekspresi sementara dari belakang, Yiyi buru-buru menundukkan kepala dan pura-pura sibuk memeriksa komputer agar tidak ketahuan sedang menahan tawa. Anran berdeham pelan lalu menarik pergelangan tangan pasien. "Saya hanya memastikan kondisi Anda. Sekarang biarkan saya melihat lukanya." Zeyan mengangguk dan mengulurkan tangannya pada Anran. Perban darurat yang melilit pergelangan tangan Zeyan segera dibuka dan begitu lapisan kain kasa terlepas, Anran langsung fokus pada luka di hadapannya. Sayatan itu cukup panjang, tetapi arah dan bentuknya sama sekali tidak menyerupai luka percobaan bunuh diri yang biasa ia temui. Luka itu lebih mirip luka akibat benda tajam yang pecah secara tidak sengaja. "Bagaimana rak kaca itu bisa mengenai Anda sampai seperti ini?" tanya Anran pelan dan tenang. "Saya menangkisnya." "Menangkisnya?" "Melindungi wajah saya." Anran mengangguk pelan seraya sekilas menatap wajah Zeyan dan berpikir memang pantas wajahnya untuk dilindungi, tetapi ia belum percaya dengan penjelasan Zeyan. "Dan Anda berhasil menyayat pergelangan tangan sendiri?" "Ya." Anran mengangkat alis. "Tentu." Nada suara Anran membuat Zeyan menatapnya sebentar. "Dokter, Anda tidak percaya?" "Saya percaya, hanya saja kebetulan luka Anda berada di tempat orang yang mencoba...." Anran berhenti sejenak dan menatap Zeyan. "Anda mengerti maksudku." "Saya tidak mencoba bunuh diri." "Bagus." "Saya serius." "Saya juga serius." Zeyan menatap Anran seolah sedang mengamati sesuatu. "Apa semua pasien mendapat interogasi seperti ini?" "Tidak." "Lalu kenapa aku?" "Karena pasien lain tidak datang dengan luka di pergelangan tangan dan ekspresi seperti orang yang sudah menyerah pada dunia," jawab Anran. Sudut bibir Zeyan bergerak tipis. "Saya baru kehilangan satu rak kaca." "Dan itu tidak membuat Anda sedih?" "Sangat sedih." "Nah." "Namun, tidak cukup sedih untuk mati." Anran terdiam beberapa detik untuk mempertahankan sikap profesional, tetapi jawaban itu terdengar seperti sedang mengejeknya dan dari belakang meja perawat, Yiyi langsung menunduk kembali berpura-pura sibuk mengetik padahal bahunya sudah bergetar menahan tawa dan bukannya Yiyi yang pertama kali menduga pasien itu adalah pasien percobaan bunuh diri? Anran membersihkan luka itu dengan antiseptik lalu berkata, "Anda beruntung karena lukanya tidak mengenai struktur penting." "Syukurlah." "Kalau sedikit lebih dalam, Anda mungkin perlu dioperasi." "Kalau begitu, saya memang beruntung." Anran melirik Zeyan sekilas karena sikapnya yang sejak tadi sangat tenang. Tidak mengeluh, tidak panik, bahkan tidak terlihat kesakitan saat lukanya dibersihkan. Entah benar-benar santai atau memang aneh. Untuk sementara, Anran memilih opsi kedua. Holaaaaaa...! Jumpa lagi dengan cerita baru di sini, ini buku ke 25 Cherry dan terima kasih karena menjadi bagian dari perjalananku. Oke, jangan lupa masukkan ke rak buku dan kasih bintang! Selamat membaca!Chapter 11Teman SMAPukul setengah lima sore, Zhao Anran memasuki jalanan menuju tempat tinggalnya, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik deretan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Hari itu UGD lebih sibuk dibanding biasanya sehingga bahu Anran terasa pegal dan kepalanya sedikit berat dan Anran ingin segera tiba di rumahnya kemudian mandi air hangat, makan malam lalu tidur lebih awal.Namun, begitu mobilnya berbelok ke jalanan depan rumah, spontan Anran mengurangi kecepatan karena sebuah sedan hitam terparkir tepat di depan pagar. Anran sangat mengenali mobil itu dan segera menurunkan kaca mobil.Tang Wei juga menurunkan kaca mobil lalu tersenyum dan berkata, "Akhirnya pulang juga."Anran juga tersenyum, tetapi tidak menjawab. Ia membuka pintu mobil lalu menghampiri Tang Wei. "Bukannya semalam aku sudah bilang tidak ingin merepotkanmu?""Aku tidak merasa direpotkan," ujar Tang Wei.Anran mengedikkan bahunya. "Baiklah. Kalau begitu, aku menganda
Chapter 10Salah MengiraUntuk beberapa saat Anran membeku karena pengakuan Zeyan, sementara angin malam berembus melewati jalan kecil di antara kedua rumah mereka. Sejak melihat Zeyan menggendong anak perempuan. Anran sibuk membayangkan pria di depannya memiliki keluarga kecil yang sempurna. Seorang istri cantik yang menunggunya pulang setiap malam, seorang putri yang manja, rumah hangat dengan lampu-lampu yang selalu menyala. Rupanya semua itu hanya kesimpulan yang ia buat sendiri."Maaf," ucap Anran pelan sambil tersenyum canggung. "Saya... salah mengira."Zeyan tersenyum. "Tidak masalah." Anran mengangguk kecil dan suasana mendadak menjadi sedikit kikuk, ia baru mengenal pria itu beberapa hari, tetapi sudah dua kali salah menilai. Pertama mengira Zeyan mencoba bunuh diri, sekarang mengira pria itu masih memiliki istri.Zeyan melirik ke arah dalam rumah. ."Tawaran saya masih berlaku."Anran mengikuti arah pandangan Zeyan lalu mengembuskan napas pelan. Tawaran Zeyan seperti oase di
Chapter 9Duda Sebelah Rumah Zhao Anran tidak langsung kembali ke rumahnya, ia mengemudikan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan tempat tinggalnya menuju sebuah restoran untuk mengambil makanan untuk makan malamnya yang telah dipesan sebelum ia meninggalkan tempat kerjanya. Ketika memasuki kawasan rumah lama neneknya, ia memperlambat laju kendaraannya, dan setelah berada di depan rumah, ia tidak langsung keluar dari mobil untuk membuka pagar. Anran menatap pintu gerbang rumah Zeyan, rumah bergaya Eropa modern itu selalu tampak hidup. Ketika hari mulai gelap, lampu-lampu terasnya menyala dan ketika siang hari selalu terlihat tenang. Pasti keluarga kecil chef Wang hidup rukun dan bahagia di dalam rumah itu, istrinya juga cantik, pikir Anran.Seorang chef berbakat, tampan, mapan, memiliki putri yang menggemaskan, dan keluarga yang hangat. Kehidupan Chef Wang benar-benar sempurna, pikirnya lagi. Anran menggeleng pelan lalu menghela napas berat dan buru-buru keluar dari mobil kemudia
Chapter 8Pemeriksaan Rutin"Jangan berlarian."Suara Wang Zeyan terdengar tenang, tetapi gadis kecil yang mengenakan baju kuning itu sama sekali tidak memedulikannya. Nuonuo justru tertawa riang sambil berlari menyusuri lorong poliklinik anak, kedua kepang pendeknya bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti langkah-langkah kecilnya."Nuonuo menang!" serunya bangga.Zeyan mengembuskan napas pelan. Ia sudah memperingatkan putrinya sejak mereka turun dari mobil. Rumah sakit bukan taman bermain. Banyak pasien yang sedang beristirahat dan anak-anak lain yang mungkin kondisinya jauh lebih buruk daripada Nuonuo. Namun, di mata anak berusia empat tahun, lorong rumah sakit yang panjang justru terlihat seperti lintasan lomba lari."Awas, hati-hati jangan sampai jatuh.""Aku enggak jatuh!" Nuonuo berhenti, lalu menoleh sambil menyeringai jahil. "Papa lambat!""Benarkah?"Zeyan melangkah sedikit lebih cepat. Belum sempat Nuonuo kabur lagi, tubuh mungil itu sudah terangkat ke udara dan mendarat di p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.