Share

8. Undangan

Author: mic.assekop
last update publish date: 2026-09-21 19:56:51

“Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”

Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?

Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.

Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.

Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.

Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.

“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”

Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”

“Juga yang kemarin-kemarin?”

“Ya, juga yang kemarin-kemarin. Aku minta maaf. Aku minta maaf.” Ujang sampai tertunduk lesu. Rasa malu menampar-nampar wajahnya yang kusam. Kelopak matanya yang hitam semakin keriput.

Kemudian pandangan Aden menuju ke wajah Dedi. Kali ini dia tidak perlu mengawasi jam tangannya. Dia hanya menyentuh earphone wireless di telinga kanan.

Terdengar suara halus. Informasi-informasi mengenai Dedi pun terkuak.

“Kak Dedi, kau hampir sama kasusnya dengan Kak Ujang. Bedanya kau sangat gila judi slot.”

Seketika Dedi mengeras seperti patung. Bibirnya mengeras. Kupingnya fokus. Dadanya bergetar.

“Kau sangat kecanduan judi slot. Dua hari lalu kau dapat maxwin sepuluh juta. Tapi bodohnya kau tidak bisa melawan musuh terbesar, yaitu diri mu sendiri. Kau dikalahkan nafsu dan ego yang lebih kuat dari pada godaan setan.”

Ujung jari Dedi gemetar. Ada keringat tipis di dahinya. Dan dia merasakan intimidasi yang mengerikan.

Aden melanjutkan, “Kau beda dari Kak Ujang. Dalam seminggu ini turn over mu lebih dari seratus juta. Kau masuk penjudi kelas menengah. Tapi karena kau tidak bisa mengelola emosi dengan baik, akhirnya kau tumbang juga. Beruntung besar. Tapi ujungnya rungkad.”

Napas Dedi menderu. Selama ini dia cerita kalau pas menang saja. Sangat jarang cerita kalau lagi kalah. Apalagi kalah belasan juta dalam dua hari saja.

“Walaupun kalah banyak dari uang menang, kau bisa menjaga hutang. Kau tidak pernah menjual barang. Bahkan menggadaikan sesuatu pun tidak pernah. Hutang pinjol mu cuma di dua aplikasi. Itu karena tidak ada platform yang mau menerima pengajuan mu lantaran riwayat pembayaran yang buruk.”

Dedi dan tiga temannya benar-benar takjub saat Aden membongkar sebagian kecil dari aib itu.

Tidak disangka seorang penjaga warnet biasa bisa tahu. Bagaimana bisa?

Seorang lainnya buka mulut, “Kau dukun?”

Cepat Aden menjawab, “Mendatangi dan percaya saja sudah dosa besar. Apalagi jadi dukun. Syirik!”

Ujang dan Dedi sudah. Lanjut Aden pun mengawasi dua orang lainnya.

Namun, belum sempat Aden bicara, dua orang itu langsung menunduk dan memohon.

“Cukup Dek Aden.”

“Ya, kami minta maaf ya. Kau tidak perlu bicara lagi.”

Dedi memelas seperti bayi minta ceboki, “Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji pada mu.”

Semua informasi tersebut dia dapatkan karena mereka sesekali bermain di Warnet MBG.

Setiap kali komputer mereka mengakses situs web, komputer tersebut mengirimkan permintaan nama domain (DNS) melalui router utama, dan Aden memeriksa chache atau Log DNS.

Semua data langsung masuk ke memori kecil 100 TB di jam tangannya.

Aden mengawasi empat bujangan tersebut lalu memasukkan dua tangannya di saku hoodie hitamnya. Dengan sok keren dia menceramahi mereka.

“Aku heran dengan para pemain judi online, terutama slot. Mereka bawa uang satu koper ke rumah bandar. Terus bermimpi jadi dua koper atau bahkan seratus koper. Mustahil.”

Aden tahu semuanya karena dia lima tahun bekerja di Warnet MBG.

Itu bukan game atau pun judi, melainkan penipuan.

Dari sembilan player. Hanya ada satu atau dua yang diberi kemenangan. Sisanya ada yang tanggung dan ada yang kartu mati atau pasti kalah.

Intinya sebagian besar mereka pasti kalah. Semua sudah diatur oleh sistem.

“Kalian berebut jadi satu orang itu. Dan jackpot, itu digilir dari sekian puluh player. Kalian beruntung bisa dapat, bukan karena hebat.”

Mereka berempat mengangguk-angguk seperti kerasukan jin disko.

“Anggaplah total kalian kalah seratus juta. Kalau aku kasih kalian modal seratus juta untuk mengembalikan kekalahan kemarin, apa bisa? Justru kekalahan kalian akan bertambah. Kalian cuma bisa memperkecil jumlah kekalahan. Tidak untuk mengembalikan kekalahan kemarin apalagi mencari kekayaan.”

Jadi pelajaran apa yang bisa didapatkan?

Sebagai penutup, Aden memberikan kalimat pamungkas, “Bekerja dan carilah uang halal!”

Tiba-tiba terdengar suara telolet dari jam tangan plastik murahan di saku hoodie.

Telolet… Telolet…

Hening tiga detik.

Ada pesan masuk.

Devy update I***a Story.

[Sabtu akhir pekan ini aku pulang ke Palembang untuk merayakan hari ulang tahunku sekaligus merayakan keberhasilanku sebagai PM di K-AI Corp. Kalian teman-teman SMA wajib datang ya.]

Aden segera meninggalkan forum tersebut sebelum mereka mengomentari soal suara telolet barusan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   10. Balasan untuk si pemula

    ===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   9. Bertemu Devy

    Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   8. Undangan

    “Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   7. Benci media sosial

    Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   6. Joker Hitam

    Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   5. Misi selesai

    ====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status