Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner

Sistem Pengali Kekayaan: OB Jadi Triliuner

last updateLast Updated : 2026-09-09
By:  Hisa NKOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Daren hanya seorang Office Boy berpenghasilan pas-pasan yang saban hari dijadikan keset kaki oleh atasannya. Diinjak-injak, dihina, hingga diludahi sudah menjadi makanan sehari-harinya di Gedung Astra Plaza. Namun, sebuah glitch misterius di ponsel murahnya mengubah segalanya dalam semalam. ​[SISTEM KONSUMSI AJAIB DIBANGKITKAN!] Aturan Utama: Setiap kali Anda membelanjakan uang, Sistem akan memberikan cashback tunai hingga 100x lipat langsung ke rekening Anda! ​Dari seorang OB yang tidak punya harga diri, Daren bertransformasi menjadi penguasa finansial yang mampu membeli gedung tempatnya dulu dihina, membalas dendam pada orang-orang yang merendahkannya. ​Di kota di mana uang adalah hukum tertinggi, Daren memegang cheat code tak terbatas. Siapa pun yang berani menghalanginya, hanya perlu dibeli sampai hancur.

View More

Chapter 1

Bab 1: Sistem Pengali Kekayaan

“Woi, Daren! Telingamu itu dipajang doang, ya?!”

Suara lengkingan Pak Wisnu membelah area pantry lantai 4 Gedung Astra Plaza seperti pisau yang digesekkan ke piring. Pria berbadan tambun dengan kemeja ketat itu melemparkan sebuah cangkir keramik berkerak kopi ke dalam bak cuci piring, tepat di depan dada Daren. Air kotor muncrat, membasahi kemeja seragam Office Boy milik Daren yang sudah kusam dan agak longgar di badan kurusnya. Bau kopi basi bercampur deterjen murahan langsung naik ke hidungnya.

“Lihat ini! Noda bekas kopi kemarin masih ada! Kau niat kerja atau cuma mau numpang hidup di sini, hah?!” bentak Wisnu. Matanya mendelik, merendahkan, seolah Daren bukan manusia melainkan kotoran yang kebetulan bisa berdiri. “Ingat, ya, orang kayak kau itu dicari seratus biji di pinggir jalan juga dapat. Jangan belagu! Bersihkan semuanya sekarang, atau gaji bulan ini kupotong!”

Beberapa karyawan muda berjas yang sedang mengambil air minum hanya terkekeh pelan. Ada yang saling pandang, ada yang pura-pura sibuk dengan gelasnya. Tak ada satu pun yang membela. Bagi mereka, Daren hanyalah objek pemandangan kelas bawah—seorang OB berusia dua puluh satu tahun yang pasrah diinjak-injak karena tak punya pilihan lain. Di lantai yang selalu dingin ini, suara bentakan terhadap “karyawan rendahan” sudah menjadi hiburan ringan di sela-sela kerja.

“Maaf, Pak Wisnu. Segera saya bersihkan,” bisik Daren pelan. Tangannya yang gemetar meremas kain lap yang sudah koyak di beberapa bagian. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan rahangnya yang mengatup rapat menahan emosi. Ujung-ujung jarinya memutih karena terlalu kuat mencengkeram kain itu.

“Bagus. Lapnya yang bener. Udah miskin, nggak tau aturan!” Wisnu meludah ke lantai—tepat di atas ubin yang baru saja disapu Daren sepuluh menit lalu. Ludah itu jatuh dengan bunyi kecil yang memuakkan. Ia melenggang pergi bersama tawa para karyawan lainnya. "Namanya aja yang sok keren tapi nasibnya mengenaskan," sindiran, umpatan terus mengganggu telinga Daren, hampir setiap hari.

Daren berdiri diam beberapa detik. Napasnya terengah menahan rasa muak dan lelah. Ia mengepal erat kain lap. Rasanya ingin melemparkan ember air keruh ini ke wajah Pak Wisnu. Ingin berteriak. Ingin bertanya kenapa orang seperti dirinya selalu diperlakukan seperti sampah. Namun, bayangan tagihan kontrakan yang harus dibayar minggu depan dan isi dompetnya yang tersisa Rp50.000 memadamkan amarah itu seketika. Dia tidak boleh dipecat. Tidak boleh. Kalau dipecat, ibunya di kampung akan kehilangan kiriman bulanan, dan adiknya yang masih sekolah akan kehilangan uang saku.

Sembari menelan bulat-bulat rasa hina, Daren merogoh saku celana untuk mengambil ponsel murah berlayar retak miliknya. Layarnya sudah penuh goresan, casingnya retak di sudut kiri atas. Dia berniat mengecek apakah uang makan mingguannya sudah masuk. Jari-jarinya yang kasar menekan tombol power dengan hati-hati. Namun, begitu layar menyala, sebuah antarmuka asing berwarna emas-hitam mendadak memenuhi seluruh permukaan.

Ting!

[SISTEM KONSUMSI AJAIB DIBANGKITKAN]

Tuan: Daren

Status: Terikat pada akun perbankan pengguna.

Aturan Utama: Setiap kali Pengguna mengeluarkan uang untuk membeli barang/jasa, Sistem akan memberikan cashback tunai sebesar 10 kali lipat langsung ke rekening bank Pengguna.

Saldo Awal Rekening: Rp52.400

Misi Tutorial: Lakukan transaksi pertama Anda dalam waktu 30 menit!

Daren melongo. Matanya membelalak menatap tulisan yang berkilau di layar. “Apa-apaan ini? Malware penipuan baru? Pinjol ilegal?” gumamnya pelan. Ia mencoba menekan tombol Home. Tidak merespons. Tombol Back juga mati. Layar ponselnya justru menampilkan pemberitahuan baru yang berkedip cepat dengan warna merah menyala.

[Peringatan: Jika Misi Tutorial tidak diselesaikan dalam 30 menit, Sistem akan melepaskan ikatan dan mencari pengguna lain.]

Daren menyipitkan mata. Rasanya sangat konyol. Mana ada aplikasi yang memberi uang sepuluh kali lipat cuma karena kita berbelanja? Itu terlalu mustahil. Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Namun, melihat saldo rekeningnya yang tragis—hanya Rp52.400—dan mengingat perlakuan dari orang-orang seperti Pak Wisnu, keputusasaan mengalahkan logika. Ia menatap pantulan wajahnya di layar yang retak: mata yang lelah, pipi cekung, dan bibir yang pucat.

“Toh saldo di rekeningku cuma lima puluh ribu lebih,” gumam Daren. Suaranya serak. “Kalau ini penipuan dan uangku hilang, aku cuma rugi lima puluh ribu. Lebih baik daripada terus diinjak-injak di sini.”

Keputusan itu datang lebih cepat daripada yang ia kira. Daren langsung melepas apron OB-nya yang basah di bagian depan, menggantungnya di kursi pantri, lalu melangkah keluar tanpa memedulikan piring-piring kotor yang belum dicuci. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan cepat melewati koridor, turun dengan tangga darurat agar tidak bertemu siapa-siapa, lalu keluar dari gedung kantor menuju minimarket terdekat di seberang jalan. Angin sore yang agak berdebu menyambut wajahnya. Lampu-lampu minimarket sudah menyala, meski langit masih agak terang.

Suasana minimarket cukup sepi saat Daren masuk dengan pakaian OB-nya yang lusuh dan basah di dada. Kasir minimarket meliriknya sekilas dengan tatapan kurang ramah. Mungkin mengira ia akan mencuri atau hanya membuang-buang waktu. Daren mengabaikan tatapan itu. Ia menuju rak minuman, berdiri beberapa detik sambil memandang deretan botol. Tangannya ragu-ragu, lalu mengambil satu botol kopi dingin seharga Rp10.000. Botol itu dingin di telapak tangannya. Ia menatap labelnya sebentar, seolah memastikan harganya, lalu berjalan ke kasir.

“Totalnya Rp10.000 ya, Mas,” ujar kasir dengan nada malas, tanpa menatap mata Daren.

Daren mengangguk, mengeluarkan ponsel, lalu memindai QRIS rekeningnya. Jari-jarinya sedikit gemetar. Bip! Transaksi berhasil. Detik berikutnya, saat struk dicetak, ponselnya bergetar hebat. Layar menyala menampilkan notifikasi dari aplikasi perbankan.

[BANK NOTIFICATION]

Transfer Masuk: +Rp100.000 dari [SYSTEM REWARD].

Saldo Anda saat ini: Rp142.400.

Daren membeku di depan meja kasir. Matanya melotot menatap layar ponsel. Ia mengedipkan mata berkali-kali, berpikir dirinya sedang berhalusinasi. Uang sepuluh ribu yang baru saja dia belanjakan untuk kopi, benar-benar diganti seratus ribu rupiah secara instan. Seratus ribu. Dalam hitungan detik. Tanpa syarat. Tanpa potongan.

Kasir menatapnya aneh. “Ada yang kurang, Mas?”

Daren menggeleng cepat, mengambil struk dan botol kopi, lalu buru-buru melangkah.

[Misi Tutorial Selesai!]

[Peningkatan Level Sistem: Pembatasan transaksi harian dibuka.]

[Pengali Nilai Belanja: 10x]

Daren memegang botol kopi dingin di tangannya, lalu menatap layar ponsel yang kini menampilkan grafik keuangan berwarna emas yang megah. Angka-angka itu berkilau, seolah hidup. Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya yang tadinya kusam. Untuk pertama kalinya sejak lama, dada yang selalu sesak terasa longgar.

Rasa hina, lelah, dan rasa takut pada bentakan Pak Wisnu mendadak menguap begitu saja. Kalau transaksi sepuluh ribu menghasilkan seratus ribu, bagaimana jika dia membelanjakan satu juta? Sepuluh juta? Atau seratus juta?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status