LOGINDaren hanya seorang Office Boy berpenghasilan pas-pasan yang saban hari dijadikan keset kaki oleh atasannya. Diinjak-injak, dihina, hingga diludahi sudah menjadi makanan sehari-harinya di Gedung Astra Plaza. Namun, sebuah glitch misterius di ponsel murahnya mengubah segalanya dalam semalam. [SISTEM KONSUMSI AJAIB DIBANGKITKAN!] Aturan Utama: Setiap kali Anda membelanjakan uang, Sistem akan memberikan cashback tunai hingga 100x lipat langsung ke rekening Anda! Dari seorang OB yang tidak punya harga diri, Daren bertransformasi menjadi penguasa finansial yang mampu membeli gedung tempatnya dulu dihina, membalas dendam pada orang-orang yang merendahkannya. Di kota di mana uang adalah hukum tertinggi, Daren memegang cheat code tak terbatas. Siapa pun yang berani menghalanginya, hanya perlu dibeli sampai hancur.
View More“Woi, Daren! Telingamu itu dipajang doang, ya?!”
Suara lengkingan Pak Wisnu membelah area pantry lantai 4 Gedung Astra Plaza seperti pisau yang digesekkan ke piring. Pria berbadan tambun dengan kemeja ketat itu melemparkan sebuah cangkir keramik berkerak kopi ke dalam bak cuci piring, tepat di depan dada Daren. Air kotor muncrat, membasahi kemeja seragam Office Boy milik Daren yang sudah kusam dan agak longgar di badan kurusnya. Bau kopi basi bercampur deterjen murahan langsung naik ke hidungnya. “Lihat ini! Noda bekas kopi kemarin masih ada! Kau niat kerja atau cuma mau numpang hidup di sini, hah?!” bentak Wisnu. Matanya mendelik, merendahkan, seolah Daren bukan manusia melainkan kotoran yang kebetulan bisa berdiri. “Ingat, ya, orang kayak kau itu dicari seratus biji di pinggir jalan juga dapat. Jangan belagu! Bersihkan semuanya sekarang, atau gaji bulan ini kupotong!” Beberapa karyawan muda berjas yang sedang mengambil air minum hanya terkekeh pelan. Ada yang saling pandang, ada yang pura-pura sibuk dengan gelasnya. Tak ada satu pun yang membela. Bagi mereka, Daren hanyalah objek pemandangan kelas bawah—seorang OB berusia dua puluh satu tahun yang pasrah diinjak-injak karena tak punya pilihan lain. Di lantai yang selalu dingin ini, suara bentakan terhadap “karyawan rendahan” sudah menjadi hiburan ringan di sela-sela kerja. “Maaf, Pak Wisnu. Segera saya bersihkan,” bisik Daren pelan. Tangannya yang gemetar meremas kain lap yang sudah koyak di beberapa bagian. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan rahangnya yang mengatup rapat menahan emosi. Ujung-ujung jarinya memutih karena terlalu kuat mencengkeram kain itu. “Bagus. Lapnya yang bener. Udah miskin, nggak tau aturan!” Wisnu meludah ke lantai—tepat di atas ubin yang baru saja disapu Daren sepuluh menit lalu. Ludah itu jatuh dengan bunyi kecil yang memuakkan. Ia melenggang pergi bersama tawa para karyawan lainnya. "Namanya aja yang sok keren tapi nasibnya mengenaskan," sindiran, umpatan terus mengganggu telinga Daren, hampir setiap hari. Daren berdiri diam beberapa detik. Napasnya terengah menahan rasa muak dan lelah. Ia mengepal erat kain lap. Rasanya ingin melemparkan ember air keruh ini ke wajah Pak Wisnu. Ingin berteriak. Ingin bertanya kenapa orang seperti dirinya selalu diperlakukan seperti sampah. Namun, bayangan tagihan kontrakan yang harus dibayar minggu depan dan isi dompetnya yang tersisa Rp50.000 memadamkan amarah itu seketika. Dia tidak boleh dipecat. Tidak boleh. Kalau dipecat, ibunya di kampung akan kehilangan kiriman bulanan, dan adiknya yang masih sekolah akan kehilangan uang saku. Sembari menelan bulat-bulat rasa hina, Daren merogoh saku celana untuk mengambil ponsel murah berlayar retak miliknya. Layarnya sudah penuh goresan, casingnya retak di sudut kiri atas. Dia berniat mengecek apakah uang makan mingguannya sudah masuk. Jari-jarinya yang kasar menekan tombol power dengan hati-hati. Namun, begitu layar menyala, sebuah antarmuka asing berwarna emas-hitam mendadak memenuhi seluruh permukaan. Ting! [SISTEM KONSUMSI AJAIB DIBANGKITKAN] Tuan: Daren Status: Terikat pada akun perbankan pengguna. Aturan Utama: Setiap kali Pengguna mengeluarkan uang untuk membeli barang/jasa, Sistem akan memberikan cashback tunai sebesar 10 kali lipat langsung ke rekening bank Pengguna. Saldo Awal Rekening: Rp52.400 Misi Tutorial: Lakukan transaksi pertama Anda dalam waktu 30 menit! Daren melongo. Matanya membelalak menatap tulisan yang berkilau di layar. “Apa-apaan ini? Malware penipuan baru? Pinjol ilegal?” gumamnya pelan. Ia mencoba menekan tombol Home. Tidak merespons. Tombol Back juga mati. Layar ponselnya justru menampilkan pemberitahuan baru yang berkedip cepat dengan warna merah menyala. [Peringatan: Jika Misi Tutorial tidak diselesaikan dalam 30 menit, Sistem akan melepaskan ikatan dan mencari pengguna lain.] Daren menyipitkan mata. Rasanya sangat konyol. Mana ada aplikasi yang memberi uang sepuluh kali lipat cuma karena kita berbelanja? Itu terlalu mustahil. Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Namun, melihat saldo rekeningnya yang tragis—hanya Rp52.400—dan mengingat perlakuan dari orang-orang seperti Pak Wisnu, keputusasaan mengalahkan logika. Ia menatap pantulan wajahnya di layar yang retak: mata yang lelah, pipi cekung, dan bibir yang pucat. “Toh saldo di rekeningku cuma lima puluh ribu lebih,” gumam Daren. Suaranya serak. “Kalau ini penipuan dan uangku hilang, aku cuma rugi lima puluh ribu. Lebih baik daripada terus diinjak-injak di sini.” Keputusan itu datang lebih cepat daripada yang ia kira. Daren langsung melepas apron OB-nya yang basah di bagian depan, menggantungnya di kursi pantri, lalu melangkah keluar tanpa memedulikan piring-piring kotor yang belum dicuci. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan cepat melewati koridor, turun dengan tangga darurat agar tidak bertemu siapa-siapa, lalu keluar dari gedung kantor menuju minimarket terdekat di seberang jalan. Angin sore yang agak berdebu menyambut wajahnya. Lampu-lampu minimarket sudah menyala, meski langit masih agak terang. Suasana minimarket cukup sepi saat Daren masuk dengan pakaian OB-nya yang lusuh dan basah di dada. Kasir minimarket meliriknya sekilas dengan tatapan kurang ramah. Mungkin mengira ia akan mencuri atau hanya membuang-buang waktu. Daren mengabaikan tatapan itu. Ia menuju rak minuman, berdiri beberapa detik sambil memandang deretan botol. Tangannya ragu-ragu, lalu mengambil satu botol kopi dingin seharga Rp10.000. Botol itu dingin di telapak tangannya. Ia menatap labelnya sebentar, seolah memastikan harganya, lalu berjalan ke kasir. “Totalnya Rp10.000 ya, Mas,” ujar kasir dengan nada malas, tanpa menatap mata Daren. Daren mengangguk, mengeluarkan ponsel, lalu memindai QRIS rekeningnya. Jari-jarinya sedikit gemetar. Bip! Transaksi berhasil. Detik berikutnya, saat struk dicetak, ponselnya bergetar hebat. Layar menyala menampilkan notifikasi dari aplikasi perbankan. [BANK NOTIFICATION] Transfer Masuk: +Rp100.000 dari [SYSTEM REWARD]. Saldo Anda saat ini: Rp142.400. Daren membeku di depan meja kasir. Matanya melotot menatap layar ponsel. Ia mengedipkan mata berkali-kali, berpikir dirinya sedang berhalusinasi. Uang sepuluh ribu yang baru saja dia belanjakan untuk kopi, benar-benar diganti seratus ribu rupiah secara instan. Seratus ribu. Dalam hitungan detik. Tanpa syarat. Tanpa potongan. Kasir menatapnya aneh. “Ada yang kurang, Mas?” Daren menggeleng cepat, mengambil struk dan botol kopi, lalu buru-buru melangkah. [Misi Tutorial Selesai!] [Peningkatan Level Sistem: Pembatasan transaksi harian dibuka.] [Pengali Nilai Belanja: 10x] Daren memegang botol kopi dingin di tangannya, lalu menatap layar ponsel yang kini menampilkan grafik keuangan berwarna emas yang megah. Angka-angka itu berkilau, seolah hidup. Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya yang tadinya kusam. Untuk pertama kalinya sejak lama, dada yang selalu sesak terasa longgar. Rasa hina, lelah, dan rasa takut pada bentakan Pak Wisnu mendadak menguap begitu saja. Kalau transaksi sepuluh ribu menghasilkan seratus ribu, bagaimana jika dia membelanjakan satu juta? Sepuluh juta? Atau seratus juta?“Kamu mencuri uang kantor? Atau kamu ikut jaringan uang haram? Atau ada tante girang kaya raya yang lagi biayai hidupmu?”Daren tidak membalas tuduhan sampah itu. Dia hanya berdiri tegap, menatap Rendy dengan mata yang dingin. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada rasa takut. Hanya ketenangan yang justru membuat suasana semakin berat. Cahaya lampu showroom yang putih dan terang jatuh tepat di wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang mengeras tanpa emosi. Beberapa staf di kejauhan pura-pura sibuk, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah kedua pria itu.Melihat Daren yang tak terpancing, Rendy menyunggingkan senyum penuh ancaman. Sudut bibirnya terangkat, tapi matanya tetap tajam. Ia menggeser badannya. “Oke. Kalau kamu mau main rahasia-rahasiaan, saya akan cari tahu sendiri. Keluarga saya punya banyak kenalan pejabat di kepolisian dan pihak direksi perbankan. Kalau uang yang kamu pakai ini uang kotor atau hasil kejahatan, cepat atau lambat kamu bakal membusuk di penjara.”“Sil
“Daren, jangan ungkit masa lalu lagi, Nak,” terisak pelan. “Itu semua salah Mama. Mama yang bodoh dan terlalu percaya sama orang bule brengsek itu.”Daren mengepalkan tangan kirinya. Bayangan masa kecilnya yang selalu dihina sebagai anak haram dan dinistakan tetangga kembali berputar. “Iya, Ma. Daren minta maaf,” bisik Daren. “Daren janji bakal terus kerja keras, biar Mama bahagia.”Di seberang sana, terdengar suara ibunya yang masih terisak. “Ya, Nak. Mama percaya sama kamu. Jangan lupa sholat.”“Iya, Ma. Daren pamit. Assalamu'alaikum.”“Waalaikumsalam, Nak…”Panggilan berakhir. Daren menatap layar ponselnya sejenak. Saldonya berkurang menjadi Rp257.557.400. Sebuah senyuman tulus akhirnya terukir di wajahnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa mengirimkan uang tanpa harus pusing memikirkan sisa beras dan tunggakan kontrakan. Daren bangkit berdiri, lalu berjalan menyeberangi jalan raya menuju sebuah dealer sepeda motor.Begitu melangkah masuk, seorang salesman muda yang berdiri di deka
Daren keluar dari Executive Menswear dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di tangan kanannya tergantung tas belanja mewah berwarna hitam mengkilap. Di tangan kiri, dua kantong plastik minimarket yang berisi sembako yang sudah terasa berat. Di belakangnya, manajer toko masih membungkuk-bungkuk. Rendy dan kekasihnya berdiri kaku di dekat etalase, wajah mereka pucat. Tak ada yang berani membuka mulut. Daren tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju koridor mal yang ramai.Di dekat eskalator, pandangannya melihat seorang pria kurus berbaju seragam abu-abu kusam. Office Boy mal. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Daren. Pria itu sedang membungkuk menyapu tumpahan minuman di lantai, sementara beberapa pengunjung lewat tanpa menoleh. Seorang ibu-ibu bahkan menggeser tasnya seolah takut tersentuh.Daren berhenti. Bayangan dirinya sendiri di pantry lantai 4 muncul jelas—kepala tertunduk, tangan gemetar, suara yang hanya bisa berbisik kata maaf apabila mendengar cemoohan. Ia mendekat.
“Daren! Kau kabur ke mana, Bangsat?!”Suara teriakan Pak Wisnu menggema dari speakerphone ponsel Daren. Pria berbadan tambun itu membentak tanpa jeda, mengancam akan memecat Daren secara tidak hormat karena meninggalkan piring kotor di pantry lantai 4. Suaranya kasar, penuh amarah, seolah dunia akan runtuh hanya karena beberapa piring kotor.Daren yang masih berdiri di dalam minimarket yang ber-AC dingin, menatap botol kopi di tangan kirinya. Dingin botol itu meresap ke telapak tangannya. Dulu, gertakan itu akan membuatnya gemetar, lututnya lemas, dan lidahnya kelu. Namun sekarang, setelah melihat saldo rekeningnya bertambah menjadi Rp142.400 hanya karena membeli kopi Rp10.000, rasa takut itu lenyap.“Pak Wisnu,” panggil Daren pelan, suaranya sangat tenang. “Potong saja gaji saya. Atau pecat saya sekalian. Saya tidak akan kembali.”Tut.Daren mematikan panggilan dan langsung memblokir nomor pria yang selalu merendahkannya. Ia menghela napas panjang. Terasa sangat lega. Selama tiga tah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.