Home / Sci-Fi / Hacker Jenius Sang Penakluk / 7. Benci media sosial

Share

7. Benci media sosial

Author: mic.assekop
last update publish date: 2026-09-21 16:03:09

Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.

Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.

Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.

Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.

Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.

Aden benci F******k, I*******m, apalagi T****k.

Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.

Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.

Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.

Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka di dunia nyata mereka malah terang-terangan.

Ucapan-ucapan mereka lebih sampah dari data tak berguna botnet. Kelakuan mereka terkadang lebih menyakitkan dari serangan virus mematikan sekali pun.

Aden tidak menyukai manusia bukan karena fisik, ras, agama, dan dari mana mereka berasal, melainkan dia bisa sangat membenci manusia lantaran sifat dan kelakuannya.

Aden tidak mempermasalahkan warna kulit dan agama yang dianut, tetapi dia selalu menimbang orang lain dari adab dan karakter.

Ya, Aden terkadang membenci manusia. Seperti halnya yang dia alami menjelang malam hari ini.

Begitu berjalan di gang sempit menuju rumahnya Aden di hadang oleh sekumpulan orang.

“Den, Den… Masih jaga warnet?” sindir Ujang lalu menghembuskan asap rokok kotornya.

“Bapak mu sudah lama meninggal. Sementara Emak mu bertahun-tahun berjualan pempek di depan rumah. Apa kau tidak kasihan dengan Emak mu?” timpal Dedi yang sedang jongkok di atas trotar.

Dua bujangan lainnya hanya ketawa terkikik-kikik.

Komentar para netizen di media sosial memang pedas dan menyakitkan, tapi ketika komentar nyinyir itu dihantamkan secara langsung, jelas jauh lebih menyakitkan.

Aden memang agak pemalu dan pendiam. Bukan berarti seorang introvert lantas jadi penakut.

“Setidaknya aku tidak menganggur seperti dua orang di antara kalian,” balasnya santai.

Dan dua orang tersebut adalah Ujang dan Dedi.

Orang-orang seperti merekalah yang Aden benci. Sifat dan kelakuan, bukan fisik dan apa pun.

Ejekan seperti itu bukan kali pertama Aden terima. Walaupun tidak sering tapi sudah berlangsung sejak empat tahun lalu.

“Tukang warnet aja sombong, Den, Den,” olok Ujang lalu menginjak puntung rokoknya yang sudah membakar filter.

Bibirnya yang hitam pekat tak henti bicara, “Cuma jaga warnet mah anak SD juga bisa. Warnet MBG pula. Apa bedanya kerjaan mu dengan tukang parkir.”

Dedi terkekeh. “ Warnet masih ada ya sekarang? Ngapai orang ke warnet. Jualan HP seken di F******k?”

“Hahaha.” Mereka ngakak.

“Chatting sama ibu-ibu arisan?”

“Nonton video masak?”

“Zaman smartphone kok masih saja ada orang yang mau ke warnet. Lucu!”

Aden malas meladeni mereka. Tidak ada gunanya.

Tapi untuk memberi pelajaran pada mereka akhirnya dia pun tak akan bungkam begitu saja.

Aden mengeluarkan tangan kirinya dari saku hoodie lalu melihat jam tangan plastik berbentuk badut.

Di dalam cangkang plastik badut yang tebal, Aden menyisipkan microchip khusus berdaya rendah. Jika hidung merah sang badut diputar 90 derajat, permukaan jam terbuka dan menampilkan layar OLED mikro.

Aden tidak mengetik kata sandi, melainkan mengetuk-ngetuk pita jam plastik itu dengan ritme kode morse menggunakan jarinya. Dia membaca sebuah pesan di sana.

“Kak Ujang, tadi siang kau deposit lima belas ribu di situs NagaUntung. Kalah dalam waktu satu menit.”

Mendengar itu, Ujang tersedak air liurnya sendiri.

“Dalam satu minggu ini turn over-mu cuma tiga ratus ribu dengan rata-rata deposit hanya dua uluh ribu saja. Artinya kau tidak lebih dari setengah jam bermain dan kalah. Selalu kalah.”

Empat orang di sana terdiam bisu.

Aden menatap layar mungil jam tangannya dan berkata, “Hingga saat ini kau punya lima tagihan pinjol dan satu hutang bank. Totalnya cuma dua belas juta tiga ratus enam puluh lima ribu. Termasuk bunga haramnya. Ditambah hutang dengan teman lebih dari lima ratus ribu. Aku menilai kau hanya penjudi kelas teri. Turn over dan hutang mu masih di bawah ambang batas. Tempat main mu kurang jauh, Kak Ujang.”

Ujang sampai terbatuk-batuk. Tiga kawannya melirik malu-malu, melihat wajahnya memerah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   10. Balasan untuk si pemula

    ===== [THE CARBON - BOUNTY BOARD :: TIER BRONZE] MISSION ID : #BRZ-8809-PLM TARGET : Devy [K-AI Corp - Lead Product Manager] VECTOR : Physical Reconnaissance & Local Sniffing LOCATION : Palembang, Indonesia (Local Coordinates Attached) ----------------- OBJECTIVE : 1. Deploy local Bluetooth ARP Spoofing / Wi-Fi MitM at target's proximity. 2. Intercept & exfiltrate local authentication tokens from target's device. 3. DO NOT ENGAGE SPEECH OR PHYSICAL CONTACT. REWARD : 0.05 BTC (~$3,200 USD) STATUS : CLAIMED BY [USER: BRONZE_BLUEX] ======= Aden kembali masuk ke rombongan. Riko tak henti ketawa sampai memegangi perut. “Astaga! Den, Den. Apa pula kau ini? Ada-ada aja! Rupanya kau ya anak kecil yang suka berdiri di pinggir jalan sambil teriak ‘Om Telolet Om’. Hahaha.” Seseorang menimpali. “Memang badut. Seperti jam tangannya. Lucu.” Seperti biasa, ketika terpojok dan tertekan, Aden berusaha tidak ambil hati. Sakit, tapi tetap dibawa hepi. Dia malah berdiri di samping Devy

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   9. Bertemu Devy

    Dan waktu itu pun tiba. Sabtu malam di pelataran Benteng Kuto Besak. Sebuah kawasan yang ramai kalau tiba libur akhir pekan. Di sana air Sungai Musi beriak-riak, menimbulkan gelombang kecil, menghanyutkan perahu ketek yang sedang melawan arus. Tak jauh di sana, Jembatan Ampera menjulang gagah, ikon kota yang sangat terkenal dan melegenda. Aden berjalan di tengah kerumunan orang-orang, menuju salah satu restoran ternama di Palembang : Riverside. Ketika di parkiran, tiga orang berbadan besar mengawasi Aden dengan pandangan penuh curiga. Mereka berpakaian serba hitam, berkaca mata, dan mungkin menyimpan senjata api. Melirik sekilas, Aden segera masuk ke area restoran. Suara ombak kecil terdengar saat Aden melewati jembatan besi yang menghubungkan lorong restoran menuju kapal terapung. Di sana lah Devy dan belasan teman SMA lainnya sudah berkumpul di satu meja bundar besar. Riko berdiri sambil bertelekan pinggang. Dengan raut wajah angkuh Riko berkata dengan nada menyindir, “Oh, t

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   8. Undangan

    “Aku punya info lain lagi…. Kau sampai memakai NIK KTP anggota keluarga mu supaya dapat pinjaman online.” Aden mengoles dagu. “Apakah ini lebih baik dari pada penjaga warnet?”Mereka berempat tercengang. Dari mana Aden tahu semua informasi itu?Kalau Aden mengarang cerita, seharusnya Ujang marah dan protes, tetapi Ujang malah kikuk dan diam seribu bahasa.Lagipula semua teman tongkrongan tahu bahwa Ujang memang penjudi dan pelaku pinjol. Hanya saja mereka tidak tahu sampai sedetail itu.Aden tidak perlu menekan tombol atau mengusap layar agar layar menampilkan data baru.Hebatnya, dia cukup memberikan perintah lewat pikirannya saja. Cukup bicara dalam hati, data terenkripsi langsung terbaca otomatis di jam tangan plastik murahan bermotif badut di tangannya.“Apa perlu aku sebutkan riwayat judi dan pinjol selama dari awal main sampai hari ini?”Ujang sontak bereaksi. “Jangan! Jangan! Jangan! Dek Aden, kau tidak perlu bicara lagi. Cukup. Aku minta maaf atas ucapanku tadi.”“Juga yang ke

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   7. Benci media sosial

    Aden benci media sosial, tapi lebih benci lagi terhadap dunia nyata.Baginya, keduanya sama-sama menyeramkan dan menyakitkan.Di media sosial terlalu banyak penipuan, pamer, kebohongan, sandiwara, kesombongan, kemunafikan, hoaks, kedengkian, ironi, dan rasa haus validasi.Media sosial menyetir orang-orang agar mereka selalu tampil bagus. Menutupi aib dan celah, lalu menggantinya dengan kesempurnaan yang padahal itu hanyalah konten palsu.Mereka terjebak di dalam kehendak kosong yang sebenarnya tidak berguna. Memamerkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.Aden benci Facebook, Instagram, apalagi Tiktok.Sedikit sekali pelajaran dan manfaat yang bisa diambil di sana, kecuali menimbulkan iri dan mematahkan semangat.Ah, Aden tidak suka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik hanya demi validasi dan popularitas.Tapi sebenci-bencinya Aden dengan dunia maya, dia lebih benci dengan kehidupan nyata.Jika di media sosial orang-orang bisa bersembunyi untuk melakukan kejahatan, maka d

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   6. Joker Hitam

    Mang Bowo sempat bercita-cita ingin jadi tentara walaupun akhirnya dia selalu gagal. Skill menembak dan membunuhnya dia tuangkan di dalam PB dan PUBG.Meski fisik dan wajahnya tidak meyakinkan, tapi Mang Bowo sangat jago dalam berbagai permainan di warnet miliknya sendiri.Pas ‘mabar’, para bocil di sana dibuat terkagum-kagum berkat skill kelas dewa miliknya.Para bocil di sana kerap berteriak :“Mang Bowo GG!”“Mang Bowo GG!”Ketika mendengar lolongan dan pujian para pendengarnya, Mang Bowo langsung menyetel musik disko haram yang dilarang MUI lalu berjoget ria ala pecandu media sosial di Tiktok.Dulu nama warnetnya adalah Warnet Bowo. Tapi sudah berubah nama mungkin sejak lebih dari tiga tahun lalu. Jauh sebelum adanya program makan gratis yang diadakan pemerintah, entah siapa nama presiden Konoha yang punya ide itu.Warnet MBG tidak begitu terkenal di Palembang. Kendati begitu, pelayanan di sini dapat rating 4,9. Pelayanannya cukup bagus dan jarang terjadi kendala.Para bocil jaran

  • Hacker Jenius Sang Penakluk   5. Misi selesai

    ====== [SUDO] CARBON_NET_SINKHOLE :: INITIATED BY ACE OF SPADES ====== [+] PURGING 42.8 Gbps BOTNET TRAFFIC... [SUCCESS] [+] REVERSE ROUTING TO NULL INTERFACE... [DONE] [+] TARGET [K-AI_SEOUL_NODE_01] RESTORED [100%] ===== [ALL ATTACK VECTORS NEUTRALIZED] MESSAGE TO ATTACKERS: "Amateur DDoS. Traffic rerouted, nodes incinerated. Go back to school." -- ACE OF SPADES -- ===== Saluran yang tadi macet kini jadi normal kembali. Suara Devy mampu terdengar lagi. Dan layar Big Tech raksasa yang menampilkan presentasi di belakang Devy muncul tulisan : [SYSTEM SECURE] Ace of Spades Lalu layar menampilkan foto dan tulisan tentang Hexa AI. Para tim ahli menyampaikan pada para petinggi perusahaan bahwa semua sudah benar-benar terkendali. Tim media mengangkat dua jempol lalu kembali bertugas. Di atas panggung mewah, Devy menghela napas lega sambil mengelus dada. Tadi adalah dua puluh detik yang sangat amat menegangkan dalam hidupnya. “Syukurlah. Terimakasih, Tuhan, sud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status