Share

57

Author: Pena Malam
last update publish date: 2026-06-11 13:30:11

Andri tidak menjawab. Tapi langsung menunduk, mengecup pantat Diana yang kenyal dan menggoda, lalu tangannya menyibak bagian kemaluannya.

"Ooohh, Mas... diapain sih?" erang Diana.

Lagi-lagi Andri tidak menjawab. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu. Ingin menumpahkan seluruh hasratnya.

Lidahnya menyusuri belahan kemaluan Diana, menjilat dan menghisapnya.

"Aaargh!" Diana mengerang. Lut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   57

    Andri tidak menjawab. Tapi langsung menunduk, mengecup pantat Diana yang kenyal dan menggoda, lalu tangannya menyibak bagian kemaluannya. "Ooohh, Mas... diapain sih?" erang Diana. Lagi-lagi Andri tidak menjawab. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu. Ingin menumpahkan seluruh hasratnya. Lidahnya menyusuri belahan kemaluan Diana, menjilat dan menghisapnya. "Aaargh!" Diana mengerang. Lututnya yang bertumpu di ranjang terasa lemas. Kepalanya mendongak, bibirnya tergigit kuat. Ia benar-benar tak menyangka bisa diberikan kenikmatan seperti ini. Setelah puas bermain di area itu, Andri mengubah posisinya, lalu jongkok di belakang istrinya. Tangannya menggenggam batangnya, kemudian langsung menekan ke lubang milik Diana. "Aaargh!" Diana menjerit kecil begitu kejantanan Andri menemb

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   56

    Dengan malas bercampur penasaran, Aya bangkit dari kasurnya. Rambut yang masih berantakan ia gelung seadanya sebelum melangkah menuju pintu. Begitu daun pintu terbuka, tampak Andri berdiri kikuk di ambang pintu. Matanya bergerak cepat, naik turun, seolah bingung harus berhenti di mana. "Loh, Mas Andri? Ada apa?" tanya Aya santai sambil merapikan rambutnya. Gerakan itu tanpa sadar membuat dadanya sedikit menyembul. Cukup untuk membuat dada Andri langsung berdegup keras. Pria itu sampai bengong beberapa detik. "Mas Andri?!" tegur Aya heran. "Eh... anu, Aya... punya charger nggak?" suara Andri terdengar bergetar. Jelas sekali ia sedang mencari alasan. "Oh, kirain kenapa. Ada kok. Tunggu, aku ambilin." Tanpa curiga, Aya berbalik menuju kamarnya. Kaos yang dikenakannya menempel di punggung dan pinggulnya. Andri yang berdir

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   55

    Ketika malam semakin larut, rumah mulai sepi. Hanya suara pendingin kamar yang terdengar. Andri yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur perlahan membuka mata. Diana, istrinya, sudah terlelap dengan napas yang teratur. Andri bangkit pelan dari kasur, berjalan ke pintu, lalu membukanya hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Ruang tengah sunyi. Pandangannya sempat melirik ke arah kamar Om Budi. Pintu kamar itu tertutup rapat, tanda pria tersebut sudah tidur. Tatapannya kemudian bergeser ke kamar Aya. "Apa dia sudah tidur, ya?" pikirnya. Setelah diam sejenak, ia berjalan mendekat ke arah kamar Aya lalu berdiri di depan pintu itu. Entah kenapa, hanya berdiri di sana saja sudah membuat dadanya berdebar. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aya muncul dengan wajah yang masih sedikit sembab karena baru bangun

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   54

    Om Budi keluar dari rumah Ririn sambil mengancingkan kemejanya satu per satu. Waktu sudah menjelang sore. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di dalam kamar itu. Ririn menyusul dari belakang. Rambutnya yang berantakan ia gulung seadanya, sementara tubuhnya hanya dibalut selimut yang disematkan di bagian dada. "Ya udah, Om balik dulu ya. Makasih atas semuanya." Ririn tersenyum tipis. "Iya, Om," jawabnya pelan. Om Budi membuka pintu. Namun sebelum melangkah keluar, ia sempat berbalik lalu mengecup kening Ririn. "Kalau ada apa-apa, kabarin aja. Jangan sungkan." Ririn mengangguk kecil. Dadanya terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian seperti itu. Om Budi kemudian berjalan ke halaman da

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   53

    Sementara di tempat lain, di rumah Om Budi sendiri. Aya sedang belajar di kamarnya. Gadis itu duduk di meja belajar yang menghadap ke dinding. Buku pelajaran terbuka di hadapannya. Ia membaca paragraf demi paragraf, lalu mencatat poin-poin penting ke dalam buku catatannya. Mbak Mirna sudah pulang setengah jam yang lalu. Sebelum pulang, ia membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam. Sekarang rumah hanya berisi Aya di kamarnya, serta Diana dan Andri yang entah sedang apa. Aya terlihat serius menulis. Pulpen di tangannya bergerak di atas kertas. Tiba-tiba suara Diana terdengar dari kejauhan. "Mas, jangan di sini..." Suaranya terdengar mendesah. Bukan desahan biasa. Ada nada cemas bercampur sesuatu yang tidak Aya kenali. Aya berhenti menulis. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang memang tidak tertutup

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   52

    Om Budi mengangguk. Ia memegang batangnya dengan telapak tangan, lalu mengarahkannya tepat ke liang Ririn yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang terawat. Tangan kirinya menggenggam pinggul wanita itu agar tidak bergerak mundur. Saat ia menekan sedikit, kepala batangnya mulai masuk. Ririn langsung mengerutkan dahi. Bibir bawahnya menggigit bibir atas. Matanya terpejam rapat. "Ahh..." desahnya pendek. Baru bagian kepalanya saja yang masuk, Ririn sudah merasakan regangan di sekitar mulut jalannya. Perutnya naik turun cepat seperti menahan letupan yang ingin keluar. Kedua tangannya mencengkeram sprei di kiri dan kanan tubuhnya. Om Budi berhenti sejenak. Ia memperhatikan wajah Ririn. "Rileks ya." Ririn mengangguk pelan. Matanya masih belum berani membuka. Om Budi mendorong sedikit lagi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status