Hangatnya Dekapan Om Budi
Mengandung 21++
Novel ini penuh petualangan eksotis, drama dan romansa.
Om Budi dikenal sebagai duda mapan yang ramah dan dihormati di lingkungannya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik hidupnya yang tenang, ia menyimpan kesepian yang perlahan mengubahnya.
Sampai Aya, keponakannya yang baru kuliah di kota, datang dan tinggal serumah dengannya.
Awalnya semua terasa biasa saja. Namun kedekatan mereka perlahan berubah menjadi hubungan berbahaya yang sulit dihentikan.
Di saat yang sama, wanita-wanita lain juga mulai tertarik pada Om Budi—mulai dari mahasiswi polos, dokter cantik, hingga wanita karier yang diam-diam menginginkannya.
Semakin lama, hidup Om Budi semakin dipenuhi rahasia, kecemburuan, dan gairah yang tak bisa ia kendalikan.
Dan tanpa ia sadari, semakin banyak wanita yang mulai terobsesi menjadi wanita paling spesial di hidupnya.
Read
Chapter: 23Setelah beberapa saat, Om Budi menghentikan kegiatannya, ia merasa puas setelah membuat liang milik Lia basah. Dengan pelan ia bangkit, kemudian berlutut di antara kedua paha Lia yang terlihat bergetar. Dengan tangannya yang besar, ia membuka paha gadis itu lebih lebar hingga hampir terbuka sempurna. Lia menggigit bibirnya. Ia tahu, sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang selama ini coba ia lupakan. Om Budi menggeser tubuhnya maju. Batangnya yang sudah berdiri tegang dengan ukuran jumbo, urat-urat menonjol di sepanjang batang dan ujung yang membengkak kemerahan, kini berada tepat di depan pintu masuk Lia. Ia bisa merasakan kehangatan dari kemaluan gadis itu yang sudah basah. "Om..." bisik Lia dengan suara bergetar. "Pelan-pelan ya..." Om Budi tersenyum. Tangannya memegang pinggul Lia sambil menggesekkan ujung batangnya perlahan. Sementara Lia hanya bisa menggeliat tak karuan menerima perlakuan itu. “Om...” Lia kembali mendesah. "Tenang, Om tahu apa yang harus dilakuin,"
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: 22Sementara di tempat lain. Setelah mengantar Aya pulang ke rumah Om Budi, Yongki memutuskan untuk mampir sejenak. Keduanya duduk di bangku teras dengan pencahayaan redup yang membuat suasana malam terasa semakin sepi dan sunyi, seolah mendukung keintiman di antara mereka. Aya duduk di samping Yongki dengan wajah sedikit cemas. Sesekali gadis itu melirik ke arah jalanan di depan rumah, khawatir kalau sewaktu-waktu ada seseorang datang. Namun Yongki justru terlihat semakin sulit menahan diri. Sedari turun dari motor tadi, pria itu terus mencari kesempatan untuk menyentuh Aya. Tangannya beberapa kali meraih pinggang gadis itu, sementara bibirnya tak henti-hentinya mencuri kecupan singkat. "Sebentar aja, Ay..." ucap Yongki dengan suara parau. Biasanya Yongki masih mampu menyembunyikan sikapnya di depan Aya. Namun malam ini berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang seperti sudah kehilangan kendali. Sayangnya, Aya justru terlihat lebih defensif dibanding biasanya. Gadis itu beberapa
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: 21“Cukup Sayang” bisik Om Budi sambil menarik batangnya perlahan dari mulut Lia. Gadis itu langsung mendongak dengan napas masih memburu. Bibirnya basah oleh air liurnya sendiri, dadanya naik turun cepat setelah permainan tadi. “Ada apa, Om?” tanyanya pelan. Om Budi tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari ranjang lalu berjalan ke meja kecil di pojok kamar. Tangannya mengambil botol minuman yang masih tersisa setengah. Cairan bening di dalam botol itu bergoyang pelan saat ia kembali mendekati ranjang. Lia memperhatikannya sambil berbaring setengah telanjang di atas kasur. Payudaranya masih terbuka, putingnya tetap mengeras karena udara dingin dan sentuhan Om Budi sebelumnya. “Om mau apa?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan. Om Budi tersenyum tipis. Tatapannya turun ke tubuh Lia tanpa malu-malu. “Om mau lihat kamu makin basah,” katanya rendah. Belum se
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: 20Tangannya yang semula berada di pinggang Lia perlahan bergerak naik, menyusuri perut gadis itu sebelum masuk ke balik kaosnya. Sentuhannya lambat dan hangat, membuat tubuh Lia langsung menegang begitu jemari pria itu menyentuh kulitnya. “Om...” bisik Lia lirih. Namun Om Budi tidak menjawab. Ia justru semakin menikmati tubuh di hadapannya. Jemarinya terus bergerak pelan, membelai kulit Lia seolah sengaja ingin membuat gadis itu kehilangan fokus sedikit demi sedikit. Tangannya naik semakin tinggi hingga akhirnya menggenggam payudara Lia di balik bra. Lia langsung menarik napas pendek. Remasan Om Budi tidak kasar, tapi justru itu yang membuat tubuh Lia semakin sensitif. Jemari pria itu meremas perlahan, sementara ibu jarinya mulai memainkan puting Lia yang sudah mengeras di balik kain bra tipis tersebut. “Egh... Om...” desah Lia sambil mencengkeram lengan pria i
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: 19Sementara itu di hotel. Lia merasakan kepalanya mulai pening karena terlalu banyak minum sejak tadi. Pandangannya samar, matanya sayu, sesekali terpejam lalu terbuka lagi seperti sedang berusaha melawan sesuatu yang perlahan menguasai tubuhnya. Om Budi duduk di samping ranjang sambil terus memperhatikan gadis itu. Semakin lama, Lia terlihat semakin menggoda di matanya. Bibirnya basah oleh sisa minuman, napasnya mulai terdengar tidak teratur, sementara tubuhnya bergerak gelisah di atas kasur seolah mencari posisi nyaman. Pemandangan itu membuat Om Budi tak bisa lagi menahan keinginannya untuk segera menikmati tubuh indah gadis itu. Dimatanya , Lia seperti kelinci liar yang siap untuk di mangsa. Apalagi dalam keadaan setengah mabuk seperti ini. “Minum lagi ya,” ucap Om Budi pelan sambil mengangkat gelas. Lia menggeleng kecil,
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: 18Di tempat yang berbeda, suasana malam di sebuah angkringan terasa ramai tapi nyaman. Lampu-lampu jalan bercampur dengan aroma kopi, sate bakar, dan suara obrolan pengunjung yang samar-samar terdengar. Aya duduk di salah satu bangku kayu sambil memegang gelas minuman hangat di tangannya. Wajahnya terlihat jauh lebih rileks dibanding saat berada di rumah tadi. Di sampingnya, Yongki duduk santai sambil sesekali memperhatikan wajah gadis itu. “Kamu seneng banget kayaknya malam ini?” tanyanya sambil tersenyum kecil. Aya mengangguk pelan. “Iya,” jawabnya jujur. “Seneng aja bisa keluar tanpa diawasin terus.” “Om Budi?” tebak Yongki. Aya langsung mendecak pelan. “Iya siapa lagi.” Yongki terkekeh kecil melihat ekspres
Last Updated: 2026-05-31

TA'ARUF YANG DI TAKUTKAN
Hilya Salsabila 20 Thn. Adalah gadis sederhana yang anggun dengan hijabnya. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat dan penuh cinta, namun kali ini kehidupannya mengalami perubahan besar. Abi dan Uminya memutuskan untuk menjodohkannya melalui proses Ta'aruf dengan seorang pemuda yang sama sekali tidak ia kenal.
Hilya berada di persimpangan antara rasa takut, ketidakpastian, dan keinginan untuk tetap taat kepada orang tuanya. Baginya, menikah adalah sebuah perjalanan besar yang tidak boleh sembarangan. Siapakah pemuda yang dipilih untuknya? Apakah ia mampu menerima keputusan ini, atau justru menemukan keberanian untuk menolak?
Di balik semua itu, tersimpan rahasia tentang alasan sebenarnya Abi dan Umi memutuskan untuk mempercepat perjodohan ini. Akankah Hilya menemukan cinta sejatinya, atau justru bertemu dengan ujian yang mengubah hidupnya selamanya?
"Ta'aruf yang di Takutkan" adalah kisah tentang keikhlasan, keberanian, dan perjalanan menemukan makna cinta yang sejati dalam kerangka keimanan.
Read
Chapter: 6. Mencari Jejak ArfanHilya duduk di depan laptop di kamar tidurnya, lampu meja yang redup menerangi ruang kecil itu. Hatinya masih penuh keraguan setelah percakapan dengan Ilham tadi. Kata-kata Ilham terus terngiang di telinganya, membuatnya semakin terjepit dalam kebingungan. Apa benar perjodohan yang sudah dijalani keluarganya adalah jalan yang benar untuknya? Atau apakah itu justru sebuah kesalahan yang akan ia sesali?Malam itu, Hilya memutuskan untuk mencari lebih dalam mengenai Arfan, calon suaminya yang dijodohkan. Ia memulai pencariannya dengan membuka aplikasi media sosial. Hilya mengetik nama “Arfan” di kolom pencarian Instagram, berharap menemukan akun yang bisa memberinya sedikit gambaran tentang siapa Arfan sebenarnya. Namun, setelah beberapa detik, ia terkejut. Banyak sekali akun yang menggunakan nama Arfan. Semua dengan foto profil yang berbeda-beda, dan tak satupun yang bisa memberinya jawaban pasti. Hilya membuka satu per satu akun tersebut, mencoba menemukan jejak yang bisa membantunya
Last Updated: 2025-01-16
Chapter: 5. Ilham Hilya duduk termenung di depan ponselnya. Perasaan kacau dan bingung terus menggerogoti pikirannya, terutama setelah pesan yang terakhir itu. Pesan yang menyebutkan nama si pengirim, nama itu Ilham.Nama itu tiba-tiba muncul dalam pesan. Ia mengenal Ilham sebagai teman kuliah yang cukup dekat, seseorang yang selalu mendukungnya dalam setiap kesempatan. Tapi Hilya juga tahu bahwa hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekadar teman. Ilham selalu bersikap sopan, tidak pernah menunjukkan perasaan lebih dari itu. Atau setidaknya, begitu yang ia kira. Namun, setelah membaca pesan tersebut, Hilya merasa ada sesuatu yang tak biasa. Seperti ada perasaan yang mendalam yang terpendam dalam diri Ilham, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Mungkinkah Ilham selama ini menyimpan perasaan yang lebih dari sekadar persahabatan? Dengan hati yang berdebar, Hilya memutuskan untuk menanggapi pesan itu. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik kata-kata Ilham. Apakah pesan itu berhubungan den
Last Updated: 2025-01-16
Chapter: 4. Pesan ambiguHilya memandang layar ponselnya dengan ragu. Pesan singkat itu terasa begitu misterius, membuatnya semakin terperangkap dalam kebingungannya. Siapa yang mengirimkan pesan itu? Mengapa hanya ada satu kalimat tanpa penjelasan lebih lanjut? Hilya merasa seperti ada sebuah teka-teki yang harus ia selesaikan, namun ia tidak tahu apakah ia siap untuk menemukan jawabannya.Setengah hati, Hilya memutuskan untuk pergi tidur, berharap pagi membawa jawaban atas semua keraguan yang ia rasakan. Namun, malam itu seakan semakin terasa panjang, penuh dengan bayang-bayang yang mengganggu pikirannya.Pagi datang dengan cepat, dan Hilya merasa tidak siap untuk menghadapi kenyataan. Ia sudah terlalu lama terjebak dalam keraguan dan ketakutan. Tetapi, ia tahu bahwa hidup tidak bisa terus menerus berjalan dengan kebimbangan. Ia harus mengambil keputusan, meskipun itu sulit.Pagi itu, Hilya memutuskan untuk tetap pergi ke kampus seperti biasa. Ia mencoba untuk tampak normal, meski hatinya masih dipenuhi kec
Last Updated: 2025-01-16
Chapter: 3. Ragu karena bukuSetelah kuliah pagi selesai, Hilya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kampus. Ia tidak mencari materi kuliah—tidak seperti biasanya—tetapi justru ia mencari sesuatu yang lebih penting: jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang hatinya. Tentang ta’aruf. Tentang keputusan yang sudah dibuat orang tuanya, tentang perasaan yang ia rasakan tetapi tidak bisa ia jelaskan.Hilya berjalan perlahan menyusuri lorong-lorong perpustakaan yang sunyi, mencari buku yang bisa memberinya pandangan baru. Entah mengapa, ia merasa tertekan dengan keputusan untuk menjalani ta’aruf yang telah ditentukan oleh orang tuanya. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa ia cerna sepenuhnya. Langkahnya terhenti di rak buku yang memuat berbagai judul tentang pernikahan, hubungan, dan ta’aruf. Matanya melirik beberapa buku yang berjudul "Ta’aruf: Jalan Menuju Pernikahan Sejati" dan "Cinta dalam Ta’aruf: Membangun Hubungan dengan Niat yang Tepat". Tetapi, ada satu buku di sudut rak yang
Last Updated: 2025-01-16
Chapter: 2. Langkah mengguncangPagi itu, udara terasa lebih segar dari biasanya. Hilya terbangun dengan pikiran yang masih kabur, antara kebingungan dan kegelisahan. Setelah menyelesaikan rutinitas pagi, ia mengenakan pakaian kampus—kemeja lengan panjang dan jeans biru—siap untuk menjalani hari yang penuh teka-teki. Sebelum berangkat, ia mampir sebentar ke ruang makan untuk sarapan bersama Umi. “Gimana, Nak? Pagi ini semoga hati kamu lebih tenang,” kata Umi sambil menyodorkan segelas teh hangat ke meja. Hilya mengangguk pelan, meskipun hatinya tetap gelisah. Setelah sarapan, ia langsung berangkat ke kampus. Di kampus, suasana terasa ramai seperti biasa. Hilya menyapa beberapa teman di lorong, lalu melangkah menuju ruang kuliah. Setelah duduk di bangkunya, ia melihat Anisa, Hana, dan Sherli sedang berbincang di pojok ruang kuliah. Hilya tersenyum dan bergabung dengan mereka. “Eh, Hilya! Kok lo kelihatan serius banget pagi ini? Ada apa?” tanya Anisa sambil melirik Hilya. Hilya menghela napas dan mulai membuka pe
Last Updated: 2025-01-15
Chapter: 1.Pulihan yang tak terdugaLangit senja mulai merona keemasan, menciptakan lukisan alam yang menenangkan. Hilya Salsabila berdiri di teras rumahnya, memandang jauh ke arah sawah yang membentang di depan mata. Angin sepoi-sepoi mengibaskan ujung jilbabnya, membawa aroma padi yang mulai menguning. Namun, damainya sore itu tidak sejalan dengan hatinya yang resah.“Hilya, sini sebentar, Nak,” suara lembut Umi terdengar dari dalam rumah.Hilya menghela napas panjang sebelum melangkah masuk. Di ruang tengah, Abi dan Umi sudah duduk di sofa, wajah mereka serius namun tetap hangat.“Ada apa, Umi?” tanyanya hati-hati.Abi yang menjawab, “Nak, ada sesuatu yang ingin Abi dan Umi bicarakan denganmu. Ini soal masa depanmu.”Kata-kata itu membuat jantung Hilya berdebar. Ia mendekat dan duduk di hadapan kedua orang tuanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya.“Abi dan Umi sudah menemukan seorang pemuda yang baik untukmu. Kami ingin kamu menjalani Ta’aruf dengannya,” ujar Abi dengan suara tenang namun penuh ketegasan.Seakan
Last Updated: 2025-01-15