مشاركة

3

مؤلف: Pena Malam
last update تاريخ النشر: 2026-05-25 01:01:16

Sekitar pukul setengah sebelas malam, Om Budi akhirnya sampai di rumah.

Halaman terlihat sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan di tengah malam. Ia mematikan motor, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Meski pintu terkunci, ia tetap bisa masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa.

Begitu berada di dalam, Om Budi tidak melihat Aya di ruang tamu. Lampu masih menyala redup, tapi rumah terasa sunyi.

“Mungkin dia udah tidur,” pikirnya.

Ia berjalan ke arah sofa lalu duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit rumah, namun pikirannya justru melayang pada Vella.

Bayangan gadis berjilbab itu terus terlintas di kepalanya.

Cara Vella menggigit bibir saat gugup, suara lembutnya saat bicara, sampai bentuk dadanya yang terlihat padat dan ranum di balik jilbab pashmina dan baju longgar yang dikenakannya tadi sore. Sebagai duda yang sudah lama hidup sendiri dan terbiasa menikmati perempuan-perempuan muda, Om Budi jelas tergoda dan bergairah.

“Kelihatannya pemalu...” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Tapi biasanya yang kayak begitu malah paling liar kalau udah di ranjang.”

Namun lamunannya buyar saat ia mendengar suara dari kamar Aya.

Awalnya hanya terdengar seperti suara orang sedang menelepon. Diselingi cekikikan kecil dan nada bicara manja.

Om Budi menoleh ke arah lorong kamar.

“Apa dia belum tidur?” batinnya. “Ngobrol sama siapa malam-malam begini?”

Rasa penasaran mulai muncul.

Perlahan ia bangkit dari sofa lalu berjalan mendekati kamar Aya. Langkahnya pelan dan sedikit ragu, tapi suara dari dalam kamar justru membuat rasa ingin tahunya semakin besar.

Begitu sampai di depan pintu, Om Budi berhenti dan pintu kamar Aya ternyata sedikit terbuka.

“Kok nggak dikunci?” pikirnya.

Suara dari dalam kini terdengar semakin jelas. Bukan cuma suara ngobrol biasa, tapi juga diselingi desahan kecil yang terdengar samar.

Jantung Om Budi langsung berdegup lebih cepat.

Karena penasaran, ia akhirnya mengintip lewat celah pintu.

Dan seketika matanya membelalak.

Aya sedang telentang di atas ranjang dengan headset terpasang di telinganya. Kaos yang dipakainya terangkat sampai memperlihatkan dadanya yang polos tanpa bra.

Salah satu tangannya meremas dadanya sendiri pelan-pelan, sementara tangan satunya bergerak naik turun di balik rok yang sudah tersingkap sampai paha. Bibir gadis itu sedikit terbuka. Napasnya terdengar memburu, sesekali mengeluarkan desahan kecil.

Jelas sekali Aya tidak sadar sedang diperhatikan.

Ia pasti mengira pintu kamarnya sudah terkunci rapat.

“Pokoknya besok kalau ketemu aku mau dipuasin...” suara Aya terdengar lirih bercampur desahan.

Om Budi langsung menahan napas.

Ia benar-benar tidak menyangka kalau keponakannya yang terlihat pemalu dan katanya keras kepala ternyata punya sisi seperti itu.

“Ooh... aku jadi pengen cepet ketemu...” desah Aya lagi sambil terus memainkan tangannya di bawah.

Om Budi menelan ludah kasar.

Pemandangan di depannya jelas membuat gairahnya ikut naik. Apalagi melihat Aya yang masih muda, cantik, dan sedang mabuk hasrat seperti itu.

Namun di sisi lain, ada rasa tidak suka saat membayangkan keponakannya disentuh laki-laki lain.

Ia tidak tahu siapa pria yang sedang membuat Aya seperti itu.

Pikirannya mulai kalut dan khawatir kalau sampai Aya melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan pria lain.

“Enggak bisa, aku nggak akan biarin itu terjadi.” ucapnya, lalu perlahan ia melangkah menjauh, namun bayangan tubuh Aya, desahan dan buah dadanya masih terngiang jelas di kepalanya. Dan hari ini, om Budi harus menahan hasratnya oleh dua gadis muda sekaligus. Vella dan Aya.

***

Keesokan paginya, sekitar pukul tujuh.

Aya keluar dari kamarnya dengan penampilan yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Gadis itu mengenakan blouse berkerah warna pastel yang membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Celana formal warna hitam membungkus body bawahnya dengan pas, sementara sepatu loafers kulit berwarna senada menambah kesan anggun dan dewasa.

Rambut hitamnya digerai rapi dengan jepitan kecil di sisi kiri dan kanan, membuat wajah cantiknya terlihat semakin manis dipandang.

Baru saja keluar, Aya sedikit terkejut melihat Om Budi sudah duduk santai di kursi teras sambil menikmati kopi dan sebatang rokok.

“Oh, udah siap?” tanya pria itu sambil tersenyum santai.

Aya mengernyit kecil menatapnya. Ia belum langsung mengerti maksud pertanyaan itu, apalagi Om Budi juga sudah berpakaian rapi seperti orang yang hendak pergi.

“Om antar ya.”

Belum sempat duduk, Aya langsung menimpali dengan nada sedikit ketus.

“Maaf, Om. Aya kan udah bilang kalau Aya mau berangkat sama teman.”

Om Budi mengembuskan asap rokok pelan. Wajahnya masih terlihat tenang meski dalam hati ia jelas tidak suka mendengarnya.

Terlebih setelah apa yang ia dengar semalam dari kamar Aya.

“Om sudah telepon mama kamu,” ucapnya tenang sambil berdiri dari kursi. “Dan Om juga sudah janji bakal jagain kamu selama di sini.”

Aya tampak mulai kesal. Bibirnya mengeras seolah ingin membantah lagi.

Namun sebelum sempat berbicara, suara motor terdengar dari arah jalan depan rumah.

Motor itu melambat lalu berhenti tepat di depan pagar.

Wajah Aya langsung sedikit berubah.

“Aya mau pergi sama teman Aya,” ucapnya cepat sambil melangkah turun dari teras menyambut pria yang baru datang itu.

Namun Om Budi yang sejak semalam memang sudah bertekad menjaga Aya dari pria itu, langsung bangkit dari duduknya. Tatapannya tajam mengarah ke pemuda di atas motor itu.

Walau sekilas, ia bisa melihat kalau tampang pemuda itu bukan gampang baik baik. Akhirnya, ia melangkah perlahan mendekat.

“Maaf ya mas, Aya akan pergi sama saya. Jadi sebaiknya kamu nggak usah jemput Aya.”

Pria muda itu menatap Om Budi dari atas sampai bawah, lalu ke arah Aya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   10

    Yongki yang sudah tak mampu lagi menahan gairahnya, tangannya langsung bergerak ke balik punggung Aya. Dengan gerakan tenang dan penuh pengalaman, ia membuka pengait bra gadis itu tanpa kesulitan. Bra itu pun terlepas perlahan. Dada Aya kini terbuka tanpa penghalang. Payudaranya tampak mulus dengan puncak merah muda yang membuat Yongki kembali menelan ludah. “Dada kamu indah sekali, Ay…” gumamnya lirih. “Sungguh indah.” Aya spontan mengangkat tangan ingin menutupinya, tetapi dengan cepat Yongki segera menahan pergelangan tangannya. “Jangan malu gitu,” bisiknya sambil menuntun kedua tangan Aya ke samping kepala gadis itu. “Dada kamu indah, dan aku suka” Aya memejamkan mata kuat. Wajahnya memerah, sementara dadanya naik turun semakin cepat. Yongki yang melihat itu semakin mengembang senyumnya, kemudian ia kembali menunduk. Bibirnya mulai me

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   9

    Yongki tersenyum melihat anggukan itu, kini ia sadar situasi sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Aya, gadis cantik dan polos yang sejak lama memenuhi fantasi liarnya—kini duduk diam di depannya tanpa mencoba menjauh, bahkan terlihat pasrah. Hal itu membuat hasrat Yongki semakin sulit ditahan. Di balik celananya, kejantannya sudah menegang sejak tadi. Ia ingin sekali memperlihatkannya pada Aya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi gadis polos itu. Namun Yongki cukup pintar untuk menahan diri. Ia tahu, terlalu terburu-buru hanya akan membuat Aya takut. Dan Yongki tidak ingin itu terjadi. Aya masih menunduk, tak berani menatap wajahnya. Jemarinya saling menggenggam di atas paha, sementara napasnya terdengar pelan namun tidak teratur. Melihat sikap itu, hati Yongki dipenuhi rasa puas. Akhirnya. Ternyata semudah ini membuatnya luluh. Pelan, jari Yongki mulai menyentuh kancing blouse pastel yang dikenakan Aya. Satu per satu ia buka dengan gerakan tenang dan hati-hati,

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   8

    Yongki lalu duduk di dekat Aya. Jarak mereka hanya selebar telapak tangan. Matanya menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu cantik di bawah cahaya lampu kamar yang redup, terutama bibir Aya yang merah mungil terlihat sedikit mengilap karena lip balm. “Ay... jujur ya,” ucap Yongki pelan dengan suara bergetar halus. “Makin hari hidup aku tuh rasanya makin berwarna.” “Kenapa begitu?” tanya Aya pelan. Wajah gadis itu menunduk, menyembunyikan debaran jantungnya. “Nggak tahu...” jawab Yongki sambil tersenyum kecil. Tatapannya tidak lepas dari wajah Aya. “Apalagi sejak kamu datang ke kota dan kita akhirnya ketemu langsung. Rasanya dunia jadi kayak lebih berpihak sama aku.” Aya semakin terbuai oleh kata-kata itu. Semua terasa hangat dan secara perlahan menyebar sampai ke dadanya. Namun napas Aya langsung tertahan saat ia menyadari tangan Yongki mulai menyentuh jemarinya. Sentuhan itu begitu lembut. Pelan. Seolah meminta izin. Aya tidak bergerak. Ia tidak menarik tangann

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   7

    Sementara di rumah om budi, pria itu belum selesai melampiaskan hasratnya pada Mirna. Pria itu terus bergerak. Iramanya naik turun, kadang cepat, kadang pelan—seperti ingin menghukum sekaligus menikmati setiap inci tubuh Mirna. Keringat mulai membasahi dahinya, menetes ke dada, lalu jatuh ke tubuh Mirna yang sudah basah oleh peluh dan gairah. "Om… oooh…!" Mirna menjerit pelan, suaranya serak. Sudah dua kali ia mencapai puncak, tapi Om Budi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Batangnya masih keras, masih tegang, masih bergerak tanpa ampun di dalam rahimnya. "Belum, Mir… Om masih belum puas," gumam pria itu dengan napas tersengal. Mereka sudah berganti posisi berkali-kali. Dari telentang, ke samping, lalu Mirna di atas—tapi tetap saja Om Budi tak kunjung puas. Kini, Mirna dalam keadaan nungging di atas sofa. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya menahan sandaran, sementara pantatnya terangkat sempurna di depan Om Budi. "Nah… gini baru mulai enak," bisik Om Budi s

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   6

    Sementara itu, di kampus, Aya baru saja selesai melakukan proses pendaftaran sebagai mahasiswi baru. Gadis itu berjalan santai mengelilingi area kampus sambil sesekali melihat gedung-gedung tinggi dan taman yang tertata rapi. Wajahnya terlihat cerah dan penuh semangat. Baginya, semua ini terasa baru. Dunia baru. Tempat yang nanti akan menjadi bagian dari hidupnya. Langkah Aya terlihat ringan. Sesekali senyum kecil muncul di bibirnya saat melihat para mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Saat itulah Yongki datang mendekatinya. “Aya.” Aya menoleh, lalu wajahnya langsung berubah cerah begitu melihat pria itu. “Kak Yongki...” ucapnya sambil tersenyum manis. Yongki ikut tersenyum. Hari itu pria itu tampil santai dengan kaos hitam dan jaket tipis yang membuatnya terlihat lebih dewasa di mata Aya. “Gimana pendaftarannya? Lancar?” tanyanya. Aya mengangguk cepat. “Udah semuanya lancar.” “Bagus,” ucap Yongki sambil menatap wajah gadis itu lekat-leka

  • Hangatnya Dekapan Om Budi   5

    Om Budi mulai kehilangan kendali. Gairah yang ia pendam dari semalam kini meletus dalam satu sentuhan. Tangannya merayap turun dari pinggang Mirna, menyusup ke balik daster tipis yang hampir tembus pandang itu. Jari-jarinya mengelus paha bagian dalam Mirna—perlahan, dengan tekanan penuh nafsu, hingga wanita itu menggeliat di buatnya. “Oh, Om…” desah Mirna, suaranya serak, setengah tertahan. Dadanya naik turun cepat. Kain daster tipis itu menyembul. Om Budi tak sabar lagi. Ia menyibak daster Mirna ke atas dengan kasar, memperlihatkan perut mulus dan pahanya yang terbuka lebar. “Buka,” perintahnya, suara berat seperti geraman. Mirna menurut. Perlahan—sengaja memperlambat gerakan untuk menggoda—ia menarik daster tipis itu melewati kepala, lalu melepaskannya. Kain jatuh ke lantai. Kini tubuh Mirna hanya tertutup bra hitam yang nyaris transparan dan celana dalam berwarna hitam. Om Budi menatapnya tanpa berkedip. “Kamu memang sengaja, ya?” gumamnya, jari telunjuknya menyusur

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status