Mag-log inSekitar pukul setengah sebelas malam, Om Budi akhirnya sampai di rumah.
Halaman terlihat sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar bersahutan di tengah malam. Ia mematikan motor, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Meski pintu terkunci, ia tetap bisa masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa. Begitu berada di dalam, Om Budi tidak melihat Aya di ruang tamu. Lampu masih menyala redup, tapi rumah terasa sunyi. “Mungkin dia udah tidur,” pikirnya. Ia berjalan ke arah sofa lalu duduk sambil menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit rumah, namun pikirannya justru melayang pada Vella. Bayangan gadis berjilbab itu terus terlintas di kepalanya. Cara Vella menggigit bibir saat gugup, suara lembutnya saat bicara, sampai bentuk dadanya yang terlihat padat dan ranum di balik jilbab pashmina dan baju longgar yang dikenakannya tadi sore. Sebagai duda yang sudah lama hidup sendiri dan terbiasa menikmati perempuan-perempuan muda, Om Budi jelas tergoda dan bergairah. “Kelihatannya pemalu...” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Tapi biasanya yang kayak begitu malah paling liar kalau udah di ranjang.” Namun lamunannya buyar saat ia mendengar suara dari kamar Aya. Awalnya hanya terdengar seperti suara orang sedang menelepon. Diselingi cekikikan kecil dan nada bicara manja. Om Budi menoleh ke arah lorong kamar. “Apa dia belum tidur?” batinnya. “Ngobrol sama siapa malam-malam begini?” Rasa penasaran mulai muncul. Perlahan ia bangkit dari sofa lalu berjalan mendekati kamar Aya. Langkahnya pelan dan sedikit ragu, tapi suara dari dalam kamar justru membuat rasa ingin tahunya semakin besar. Begitu sampai di depan pintu, Om Budi berhenti dan pintu kamar Aya ternyata sedikit terbuka. “Kok nggak dikunci?” pikirnya. Suara dari dalam kini terdengar semakin jelas. Bukan cuma suara ngobrol biasa, tapi juga diselingi desahan kecil yang terdengar samar. Jantung Om Budi langsung berdegup lebih cepat. Karena penasaran, ia akhirnya mengintip lewat celah pintu. Dan seketika matanya membelalak. Aya sedang telentang di atas ranjang dengan headset terpasang di telinganya. Kaos yang dipakainya terangkat sampai memperlihatkan dadanya yang polos tanpa bra. Salah satu tangannya meremas dadanya sendiri pelan-pelan, sementara tangan satunya bergerak naik turun di balik rok yang sudah tersingkap sampai paha. Bibir gadis itu sedikit terbuka. Napasnya terdengar memburu, sesekali mengeluarkan desahan kecil. Jelas sekali Aya tidak sadar sedang diperhatikan. Ia pasti mengira pintu kamarnya sudah terkunci rapat. “Pokoknya besok kalau ketemu aku mau dipuasin...” suara Aya terdengar lirih bercampur desahan. Om Budi langsung menahan napas. Ia benar-benar tidak menyangka kalau keponakannya yang terlihat pemalu dan katanya keras kepala ternyata punya sisi seperti itu. “Ooh... aku jadi pengen cepet ketemu...” desah Aya lagi sambil terus memainkan tangannya di bawah. Om Budi menelan ludah kasar. Pemandangan di depannya jelas membuat gairahnya ikut naik. Apalagi melihat Aya yang masih muda, cantik, dan sedang mabuk hasrat seperti itu. Namun di sisi lain, ada rasa tidak suka saat membayangkan keponakannya disentuh laki-laki lain. Ia tidak tahu siapa pria yang sedang membuat Aya seperti itu. Pikirannya mulai kalut dan khawatir kalau sampai Aya melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan pria lain. “Enggak bisa, aku nggak akan biarin itu terjadi.” ucapnya, lalu perlahan ia melangkah menjauh, namun bayangan tubuh Aya, desahan dan buah dadanya masih terngiang jelas di kepalanya. Dan hari ini, om Budi harus menahan hasratnya oleh dua gadis muda sekaligus. Vella dan Aya. *** Keesokan paginya, sekitar pukul tujuh. Aya keluar dari kamarnya dengan penampilan yang jauh lebih rapi dibanding biasanya. Gadis itu mengenakan blouse berkerah warna pastel yang membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Celana formal warna hitam membungkus body bawahnya dengan pas, sementara sepatu loafers kulit berwarna senada menambah kesan anggun dan dewasa. Rambut hitamnya digerai rapi dengan jepitan kecil di sisi kiri dan kanan, membuat wajah cantiknya terlihat semakin manis dipandang. Baru saja keluar, Aya sedikit terkejut melihat Om Budi sudah duduk santai di kursi teras sambil menikmati kopi dan sebatang rokok. “Oh, udah siap?” tanya pria itu sambil tersenyum santai. Aya mengernyit kecil menatapnya. Ia belum langsung mengerti maksud pertanyaan itu, apalagi Om Budi juga sudah berpakaian rapi seperti orang yang hendak pergi. “Om antar ya.” Belum sempat duduk, Aya langsung menimpali dengan nada sedikit ketus. “Maaf, Om. Aya kan udah bilang kalau Aya mau berangkat sama teman.” Om Budi mengembuskan asap rokok pelan. Wajahnya masih terlihat tenang meski dalam hati ia jelas tidak suka mendengarnya. Terlebih setelah apa yang ia dengar semalam dari kamar Aya. “Om sudah telepon mama kamu,” ucapnya tenang sambil berdiri dari kursi. “Dan Om juga sudah janji bakal jagain kamu selama di sini.” Aya tampak mulai kesal. Bibirnya mengeras seolah ingin membantah lagi. Namun sebelum sempat berbicara, suara motor terdengar dari arah jalan depan rumah. Motor itu melambat lalu berhenti tepat di depan pagar. Wajah Aya langsung sedikit berubah. “Aya mau pergi sama teman Aya,” ucapnya cepat sambil melangkah turun dari teras menyambut pria yang baru datang itu. Namun Om Budi yang sejak semalam memang sudah bertekad menjaga Aya dari pria itu, langsung bangkit dari duduknya. Tatapannya tajam mengarah ke pemuda di atas motor itu. Walau sekilas, ia bisa melihat kalau tampang pemuda itu bukan gampang baik baik. Akhirnya, ia melangkah perlahan mendekat. “Maaf ya mas, Aya akan pergi sama saya. Jadi sebaiknya kamu nggak usah jemput Aya.” Pria muda itu menatap Om Budi dari atas sampai bawah, lalu ke arah Aya.Andri menarik selimut itu hingga terlepas dari tubuh Aya. Kini, kaos tipis dan rok sepaha yang melekat di tubuh gadis itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu kamar. Aya spontan meringis. Ia buru-buru mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya, seolah tak sanggup menatap Andri. "Mas... badanku semakin gerah, panas..." Melihat keadaan Aya yang sudah masuk kedalam perangkapnya, Andri perlahan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah gadis itu. Tatapannya tak lepas sedikit pun. "Kalau gitu buka aja baju kamu, Ay." Aya menggigit bibir bawahnya. Kepalanya langsung menggeleng pelan, sementara kedua bahunya ikut menegang. "Tapi, Mas... aku malu..." Napas Aya mulai tidak teratur, rasa panas semakin menyeruak dari tubuhnya. Andri tidak segera menjawab. Ia mengangkat satu tangan, lalu mengusap perlahan lengan Aya dengan
Aya membuka matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Cairan bening di dalamnya tampak dingin, embun masih menetes di permukaan gelas. "Minum dulu, Ay," ucap Andri yang masih berdiri di dekat meja. Nada suaranya dibuat tenang. "Biar kamu lebih rileks. Badanmu pasti capek." Aya menatap gelas itu cukup lama. Keraguan terlihat jelas di wajahnya. Bibirnya sempat bergerak hendak menolak, tetapi tak ada kata yang keluar. Jemarinya justru menggenggam selimut semakin erat. Melihat itu, Andri melangkah pelan mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, hanya berjarak sejengkal dari Aya. Tubuhnya sedikit condong, lalu jemarinya menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. "Ayolah... cuma minuman dingin. Kamu butuh itu. Percaya sama Mas, ya?" Aya menunduk sambil menarik napas panjang. Hatinya masih dipenuhi rasa gelisah, sementara pikirannya terasa kacau. Setelah beberapa saat, i
Kepala Aya menggeleng cepat. Air matanya terus menetes. Ia berdiri lalu mundur dua langkah sambil merapatkan kaos tipis yang dikenakannya. "Enggak, Mas. Aku nggak mau. Sekarang atau kapan pun. Mas ngerti nggak?!" Andri mengembuskan napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan sikap Aya. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tidak ingin gadis itu sampai membencinya. Perlahan, ia menatap Aya dengan wajah seolah penuh penyesalan. Kedua tangannya terangkat pelan, menunjukkan bahwa ia tidak akan memaksa lagi. "Ya udah, Ay... maafin Mas, ya. Mas kebablasan barusan. Mas cuma... nggak bisa nahan. Tapi Mas janji, Mas nggak bakal maksa kamu lagi." Aya menunduk, tetapi tubuhnya masih tegang. "Maafin Aya, Mas. Aya beneran nggak mau..." ucapnya lirih dengan suara yang nyaris pecah. Andri menepuk bahunya pelan, berpura-pura menenangkan. "Iya, iya... Mas ngerti. Kamu butuh tenang. Istirahat aj
Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta
Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.
Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang
"Permisi," sapa Om Budi dengan ramah. Orang-orang yang sedang bersitegang itu langsung menoleh ke arahnya. Ketua ormas bahkan langsung mengernyit sambil menatap Om Budi dari ujung kepala sampai kaki, berusaha mengenali pria yang tiba-tiba muncul tersebut. Namun, ia y
Bidan Ririn hanya mengangguk. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya terasa semakin lemas, bahkan kedua kakinya nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri tegak. Tangan Om Budi mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Setelah kancing terakhir terbuka, ia menarik kain itu dari bahu
Hari itu Aya, atau nama lengkapnya Cahaya Pramesti, resmi tinggal di rumah Om Budi. Gadis cantik itu menempati kamar tengah. Kamarnya rapi dan nyaman, lengkap dengan AC, lemari, rak buku, dan spring bed empuk. Buat Aya yang biasa tidur di kamar dengan kasur tipis di rumahnya, tempat ini terasa se
Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya. Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum,







