Hangatnya Dekapan Om Budi

Hangatnya Dekapan Om Budi

last update최신 업데이트 : 2026-07-10
에:  Pena Malam방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9.8
5 평가 순위. 5 리뷰
115챕터
11.1K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Om Budi dikenal sebagai duda mapan yang ramah dan dihormati di lingkungannya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik hidupnya yang tenang, ia menyimpan kesepian yang perlahan mengubahnya. Sampai Aya, keponakannya yang baru kuliah di kota, datang dan tinggal serumah dengannya. Awalnya semua terasa biasa saja. Namun kedekatan mereka perlahan berubah menjadi hubungan berbahaya yang sulit dihentikan. Di saat yang sama, wanita-wanita lain juga mulai tertarik pada Om Budi—mulai dari mahasiswi polos, dokter cantik, hingga wanita karier yang diam-diam menginginkannya. Semakin lama, hidup Om Budi semakin dipenuhi rahasia, kecemburuan, dan gairah yang tak bisa ia kendalikan. Dan tanpa ia sadari, semakin banyak wanita yang mulai terobsesi menjadi wanita paling spesial di hidupnya.

더 보기

1화

1.

Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya.

Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum, lalu duduk kembali di sofa sambil memijat tengkuknya pelan, namun baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama di layar membuat alisnya sedikit terangkat.

Rini.

Adik almarhum mendiang istrinya.

“Halo?”

“Mas... maaf ganggu.”

Suara Rini terdengar ragu.

“Iya, Rin. Ada apa?”

“Ini soal Aya.”

Om Budi langsung diam.

Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu.

“Aya kenapa?”

“Dia jadi kuliah di kota, Mas.” Rini menarik napas kecil. “Aku kepikiran kalau dia ngekos sendirian. Pergaulan sekarang serem. Jadi... kalau Mas nggak keberatan... Aya boleh tinggal di rumah Mas dulu?”

Om Budi menyandarkan tubuhnya perlahan.

Aya.

Anak perempuan yang di adopsi adiknya, Sudah hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu.

“Kalau Mas nggak nyaman sih nggak apa-apa...” lanjut Rini hati-hati.

Om Budi mengusap dagunya pelan.

“Dia datang kapan?”

“Lusa mungkin.”

Beberapa detik hening.

“Ya udah,” jawab Om Budi akhirnya. “Biar tinggal di sini dulu.”

Nada lega langsung terdengar dari suara Rini.

“Makasih ya, Mas.”

Telepon itu tak berlangsung lama. Setelah sambungan terputus, Om Budi masih duduk diam memandangi ruang tamu yang makin sepi.

Aya.

Entah seperti apa anak itu sekarang.

Om Budi tersenyum tipis sendiri sebelum akhirnya bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya.

**

Keesokan paginya, Om Budi sudah berada di teras rumahnya sambil berolahraga.

Kaos tanpa lengan yang dipakainya basah oleh keringat. Nafasnya masih stabil meski barbel di tangannya terus bergerak naik turun, meski usianya sudah kepala lima, tapi tubuhnya masih bugar jauh dari kata tua.

“Pagi, Om.”

Suara perempuan membuat Om Budi menoleh.

Mirna berdiri di depan pagar sambil membawa kantong belanjaan. Wanita itu tersenyum kecil sebelum masuk ke halaman.

“Pagi,” jawab Om Budi santai. “Eh Mir, nanti tolong siapin kamar tengah ya.”

Mirna mengangkat alis.

“Ada yang mau tinggal?”

“Iya, keponakan.”

“Cewek?”

Om Budi terkekeh kecil.

“Iya.”

Mirna mendecih pelan sambil berjalan masuk ke dapur.

“Wah... berarti rumah ini bakal rame lagi.”

Om Budi hanya tersenyum samar.

Sejak istrinya meninggal, Mirna memang jadi orang yang paling sering datang ke rumah itu. Awalnya hanya membantu memasak dan bersih-bersih, tapi lama-lama hubungan mereka berubah semakin dekat. Mirna masih muda untuk ukuran janda. Tubuhnya padat berisi, kulit sawo matangnya terlihat manis, dan cara bicaranya sering kali menggoda tanpa sadar.

Om Budi masuk ke dapur mengambil air minum.

Mirna yang sedang memotong sayur melirik sekilas ke arah tubuh pria itu yang masih basah oleh keringat.

“Om kuat juga ya olahraga pagi-pagi gini,” godanya pelan.

Om Budi meneguk air sebelum tersenyum tipis.

“Kalau badan nggak dijaga, nanti cepat tua.”

Mirna terkekeh kecil.

“Pantes Om keliatan muda terus.”

Om Budi tersenyum, dan seketika gairahnya mulai bangkit, perlahan ia mendekati Mirna, namun baru saja hendak mencium pipi wanita itu, Mirna langsung menepis.

“Om mandi dulu sana. Acem tau.”

Om Budi malah terkekeh, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ia keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah, sementara tetesan air turun melewati dada bidangnya.

Langkahnya terhenti saat melihat Mirna sedang mengepel lantai ruang tengah.

Tubuh wanita itu membungkuk pelan mengikuti gerakan pel.

Om Budi mendekat tanpa suara.

Tangannya langsung melingkar di pinggang Mirna dari belakang.

“Om...” napas Mirna langsung tercekat kecil.

Bibir Om Budi menyentuh tengkuk wanita itu dengan lembut.

“Saya udah nggak tahan dari tadi” bisiknya.

Mirna menggigit bibirnya pelan. Ia tahu tatapan Om Budi seperti itu berarti pria itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran.

Tanpa banyak bicara, wanita itu berbalik lalu membantu melepaskan handuk yang melilit pinggang Om Budi.

Napasnya langsung tercekat.

Meski sudah beberapa kali bersama, entah kenapa jantung Mirna selalu berdebar tiap melihat pria itu dalam keadaan seperti ini.

“Ayo sini, Mir...” suara Om Budi terdengar berat dan parau.

Mirna tersenyum tipis. Tangannya melingkar di leher pria itu, sementara bibir mereka mulai saling bertaut penuh gairah.

Suasana ruangan perlahan memanas.

Tangan Om Budi mulai bergerak liar di pinggang Mirna, membuat wanita itu beberapa kali menahan desah di sela ciuman mereka.

“Om...” lirih Mirna pelan.

Namun bukannya berhenti, Om Budi justru semakin terbawa suasana. Ia mengangkat tubuh Mirna lalu membawanya ke sofa dengan tatapan penuh nafsu.

Mirna yang sudah sama bergairahnya hanya bisa mengikuti permainan pria itu.

Baru saja Om Budi hendak melanjutkan lebih jauh—

TOK! TOK! TOK!

Keduanya langsung tersentak.

Mirna buru-buru menjauh sambil merapikan bajunya dengan wajah panik.

“Om, ada orang datang!” bisiknya cepat.

Om Budi mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajahnya frustrasi.

“Siapa sih pagi-pagi begini...” gerutunya kesal.

Dengan enggan, ia kembali melilitkan handuk di pinggang lalu berjalan menuju pintu.

Namun begitu pintu dibuka—

langkah Om Budi langsung terhenti.

Seorang gadis muda berdiri di depan rumah sambil membawa koper besar.

“Pagi, Om...” ucap gadis itu pelan.

“Aku Aya.”

Dan untuk beberapa detik…

Om Budi hanya bisa terpaku menatap Aya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰

Antariksa
Antariksa
novelnya bangus sekali
2026-07-02 23:12:51
0
0
Pena Malam
Pena Malam
Semoga terhibur dan jangan lupa masukannya .........
2026-06-15 19:46:05
0
0
Della APW
Della APW
semangat terus thor, kisahnya menarik ...
2026-06-04 08:27:54
0
0
Abas Artana
Abas Artana
Baru baca sudah bikin penasaran
2026-06-02 14:35:41
0
0
Sekar Arum
Sekar Arum
x x i. e
2026-06-24 17:21:46
0
0
115 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status