로그인Om Budi dikenal sebagai duda mapan yang ramah dan dihormati di lingkungannya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik hidupnya yang tenang, ia menyimpan kesepian yang perlahan mengubahnya. Sampai Aya, keponakannya yang baru kuliah di kota, datang dan tinggal serumah dengannya. Awalnya semua terasa biasa saja. Namun kedekatan mereka perlahan berubah menjadi hubungan berbahaya yang sulit dihentikan. Di saat yang sama, wanita-wanita lain juga mulai tertarik pada Om Budi—mulai dari mahasiswi polos, dokter cantik, hingga wanita karier yang diam-diam menginginkannya. Semakin lama, hidup Om Budi semakin dipenuhi rahasia, kecemburuan, dan gairah yang tak bisa ia kendalikan. Dan tanpa ia sadari, semakin banyak wanita yang mulai terobsesi menjadi wanita paling spesial di hidupnya.
더 보기Om Budi Suharsono baru saja sampai di rumahnya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Ia membuka pintu perlahan, lalu masuk sambil melonggarkan kancing kemejanya. Aroma parfum perempuan masih menempel samar di tubuhnya. Dengan langkah sedikit berat, Ia berjalan ke dapur mengambil air minum, lalu duduk kembali di sofa sambil memijat tengkuknya pelan, namun baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama di layar membuat alisnya sedikit terangkat. Rini. Adik almarhum mendiang istrinya. “Halo?” “Mas... maaf ganggu.” Suara Rini terdengar ragu. “Iya, Rin. Ada apa?” “Ini soal Aya.” Om Budi langsung diam. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama itu. “Aya kenapa?” “Dia jadi kuliah di kota, Mas.” Rini menarik napas kecil. “Aku kepikiran kalau dia ngekos sendirian. Pergaulan sekarang serem. Jadi... kalau Mas nggak keberatan... Aya boleh tinggal di rumah Mas dulu?” Om Budi menyandarkan tubuhnya perlahan. Aya. Anak perempuan yang di adopsi adiknya, Sudah hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu. “Kalau Mas nggak nyaman sih nggak apa-apa...” lanjut Rini hati-hati. Om Budi mengusap dagunya pelan. “Dia datang kapan?” “Lusa mungkin.” Beberapa detik hening. “Ya udah,” jawab Om Budi akhirnya. “Biar tinggal di sini dulu.” Nada lega langsung terdengar dari suara Rini. “Makasih ya, Mas.” Telepon itu tak berlangsung lama. Setelah sambungan terputus, Om Budi masih duduk diam memandangi ruang tamu yang makin sepi. Aya. Entah seperti apa anak itu sekarang. Om Budi tersenyum tipis sendiri sebelum akhirnya bangkit, lalu berjalan menuju kamarnya. ** Keesokan paginya, Om Budi sudah berada di teras rumahnya sambil berolahraga. Kaos tanpa lengan yang dipakainya basah oleh keringat. Nafasnya masih stabil meski barbel di tangannya terus bergerak naik turun, meski usianya sudah kepala lima, tapi tubuhnya masih bugar jauh dari kata tua. “Pagi, Om.” Suara perempuan membuat Om Budi menoleh. Mirna berdiri di depan pagar sambil membawa kantong belanjaan. Wanita itu tersenyum kecil sebelum masuk ke halaman. “Pagi,” jawab Om Budi santai. “Eh Mir, nanti tolong siapin kamar tengah ya.” Mirna mengangkat alis. “Ada yang mau tinggal?” “Iya, keponakan.” “Cewek?” Om Budi terkekeh kecil. “Iya.” Mirna mendecih pelan sambil berjalan masuk ke dapur. “Wah... berarti rumah ini bakal rame lagi.” Om Budi hanya tersenyum samar. Sejak istrinya meninggal, Mirna memang jadi orang yang paling sering datang ke rumah itu. Awalnya hanya membantu memasak dan bersih-bersih, tapi lama-lama hubungan mereka berubah semakin dekat. Mirna masih muda untuk ukuran janda. Tubuhnya padat berisi, kulit sawo matangnya terlihat manis, dan cara bicaranya sering kali menggoda tanpa sadar. Om Budi masuk ke dapur mengambil air minum. Mirna yang sedang memotong sayur melirik sekilas ke arah tubuh pria itu yang masih basah oleh keringat. “Om kuat juga ya olahraga pagi-pagi gini,” godanya pelan. Om Budi meneguk air sebelum tersenyum tipis. “Kalau badan nggak dijaga, nanti cepat tua.” Mirna terkekeh kecil. “Pantes Om keliatan muda terus.” Om Budi tersenyum, dan seketika gairahnya mulai bangkit, perlahan ia mendekati Mirna, namun baru saja hendak mencium pipi wanita itu, Mirna langsung menepis. “Om mandi dulu sana. Acem tau.” Om Budi malah terkekeh, lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, ia keluar hanya dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya masih basah, sementara tetesan air turun melewati dada bidangnya. Langkahnya terhenti saat melihat Mirna sedang mengepel lantai ruang tengah. Tubuh wanita itu membungkuk pelan mengikuti gerakan pel. Om Budi mendekat tanpa suara. Tangannya langsung melingkar di pinggang Mirna dari belakang. “Om...” napas Mirna langsung tercekat kecil. Bibir Om Budi menyentuh tengkuk wanita itu dengan lembut. “Saya udah nggak tahan dari tadi” bisiknya. Mirna menggigit bibirnya pelan. Ia tahu tatapan Om Budi seperti itu berarti pria itu sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Tanpa banyak bicara, wanita itu berbalik lalu membantu melepaskan handuk yang melilit pinggang Om Budi. Napasnya langsung tercekat. Meski sudah beberapa kali bersama, entah kenapa jantung Mirna selalu berdebar tiap melihat pria itu dalam keadaan seperti ini. “Ayo sini, Mir...” suara Om Budi terdengar berat dan parau. Mirna tersenyum tipis. Tangannya melingkar di leher pria itu, sementara bibir mereka mulai saling bertaut penuh gairah. Suasana ruangan perlahan memanas. Tangan Om Budi mulai bergerak liar di pinggang Mirna, membuat wanita itu beberapa kali menahan desah di sela ciuman mereka. “Om...” lirih Mirna pelan. Namun bukannya berhenti, Om Budi justru semakin terbawa suasana. Ia mengangkat tubuh Mirna lalu membawanya ke sofa dengan tatapan penuh nafsu. Mirna yang sudah sama bergairahnya hanya bisa mengikuti permainan pria itu. Baru saja Om Budi hendak melanjutkan lebih jauh— TOK! TOK! TOK! Keduanya langsung tersentak. Mirna buru-buru menjauh sambil merapikan bajunya dengan wajah panik. “Om, ada orang datang!” bisiknya cepat. Om Budi mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajahnya frustrasi. “Siapa sih pagi-pagi begini...” gerutunya kesal. Dengan enggan, ia kembali melilitkan handuk di pinggang lalu berjalan menuju pintu. Namun begitu pintu dibuka— langkah Om Budi langsung terhenti. Seorang gadis muda berdiri di depan rumah sambil membawa koper besar. “Pagi, Om...” ucap gadis itu pelan. “Aku Aya.” Dan untuk beberapa detik… Om Budi hanya bisa terpaku menatap Aya yang kini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang jauh berbeda dari terakhir kali ia lihat.Sementara itu, di hotel, suasana malam sudah sepi. Andri duduk di tepi ranjang, sejak tadi ia tidak bisa tenang. Tubuhnya dipenuhi hasrat yang sudah lama ia pendam. Malam ini, ia yakin kesempatan akhirnya datang. Dalam pikirannya, tidak akan ada lagi yang menghalangi keinginannya untuk mendapatkan Aya, gadis yang sudah membuatnya hampir gila. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebotol kecil jamu kuat. Tutup botol dibuka, kemudian isinya langsung diteguk hingga habis. Setelah itu, botol kosong tersebut ia letakkan di atas meja samping ranjang. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. "Aya," gumamnya lirih. "Aku harus lebih dulu dapatkan tubuh kamu... baru setelah itu aku kasih kamu ke si tua bangka itu." Ia menyandarkan tubuh sejenak, lalu menundukkan kepala. Tangannya mengangkat sedikit ujung celananya untuk melihat kejanta
Sementara itu, di rumah Om Budi... Suasana ruang tengah masih dipenuhi ketegangan. Om Budi duduk berhadapan dengan Diana. Wajahnya tampak letih, sementara sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sejak tadi ia tahan. Di sisi lain, Diana duduk dengan wajah datar. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan Om Budi. Namun karena terus diminta, akhirnya ia memilih duduk meski dengan perasaan enggan. Om Budi mengembuskan napas panjangnya sebelum membuka suara. "Dengan adanya informasi itu... Menurutnya Om, kalian itu terlalu cepat menyimpulkan. Om nggak pernah punya niatan nyakitin istri Om, apalagi sampe membuatnya meninggal." Diana tetap diam. Bibirnya terkatup rapat, sementara kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Awalnya ia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun, tetapi semakin lama duduk di sana, hatinya mulai dipenuhi kebimbangan.
Lobi hotel kecil itu tampak sepi. Hanya ada seorang resepsionis wanita berambut panjang tergerai dengan bibir merah menyala yang sedang asyik mengetuk layar ponselnya. Begitu melihat Andri dan Aya masuk, ia langsung mengangkat kepala dan melemparkan senyum tipis. Tatapannya menyapu keduanya sekilas, lalu berhenti beberapa saat pada wajah Aya yang tampak murung. "Cari kamar, Mas?" tanyanya dengan nada genit sambil mengunyah permen karet. "Iya," jawab Andri singkat. "Yang sepi. Atas kalau bisa." Resepsionis itu sedikit mencondongkan tubuh, dagunya bertumpu di telapak tangan lalu mengedip nakal. "Bisa, Mas. Biasanya tamu pasangan lebih suka kamar ujung. Lebih tenang." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan senyum penuh arti. "Kalau mau... data check-in juga bisa saya simpan manual aja, biar nggak masuk sistem." Andri mengeluarkan beberapa lembar uang
Di dalam kabin mobil yang remang, hanya suara mesin dan deru ban yang memecah keheningan. Andri melirik sekilas ke arah Aya. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya sebelum perlahan ia meraih bahu gadis itu dan menepuknya pelan."Udah, Ay... jangan terlalu dipikirin," bisiknya lembut.Aya sempat terkejut, tetapi tidak mengelak. Ia hanya terdiam, membiarkan tangan Andri tetap berada di bahunya. Perlahan, Andri menarik tubuh Aya hingga kepalanya bersandar semakin rapat ke dadanya. Tubuh gadis yang sedang berada di masa-masa mekar itu terasa hangat dan sedikit bergetar. Napas Aya yang belum sepenuhnya tenang membuat dadanya naik turun pelan di sisi tubuh Andri.Andri menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha menahan gejolak yang semakin sulit dikendalikan."Ay... Mas nggak pengen kamu sedih."Perlahan tangannya bergeser turun dari bahu, menyusuri sisi tubuh Aya. Jemarinya tak lagi sekadar mengusap, melainkan mulai menekan lembut dari balik pakaia
"Permisi," sapa Om Budi dengan ramah. Orang-orang yang sedang bersitegang itu langsung menoleh ke arahnya. Ketua ormas bahkan langsung mengernyit sambil menatap Om Budi dari ujung kepala sampai kaki, berusaha mengenali pria yang tiba-tiba muncul tersebut. Namun, ia y
Andri bangkit dari sofa lalu melangkah mendekati Mirna. Ia membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Kesepakatan itu berubah..." ucapnya pelan dengan tatapan yang sulit ditebak. "Aku punya rencana lain." Mirna balas menatapnya. Keningny
"Mas Andri... jangan sekarang... nanti Diana sama Aya dateng..." ucap Mirna sedikit khawatir sambil melihat ke arah pintu. "Aku nggak mau sampe mereka liat kita." Andri hanya tertawa kecil. Baginya, peringatan itu tidak berarti apa-apa. Yang ada
Andri menarik selimut dari tubuh Aya. Gadis itu hanya mengenakan kaos putih tipis dan celana pendek jeans biru. Tubuhnya terbaring telentang dengan kedua tangan di samping tubuh. Wajahnya tenang dengan mata terpejam, sementara napasnya terdengar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰