Share

Bab 171

Penulis: Rina Safitri
Tangan Puspa terayun di udara, berusaha cari sesuatu untuk pegangan. Namun pada akhirnya, semuanya sia-sia. Tubuhnya terhempas ke belakang, jatuh dengan pantat menghantam lantai. Rasa sakit yang menjalar dari tulang ekor membuat wajahnya seketika pucat pasi.

Di sisi lain, Wulan justru mendarat dengan aman di pelukan Indra, dilindungi dengan begitu hati-hati, nyaris berlebihan.

"Puspa, kamu nggak apa-apa? Aku bantu kau bangun.”

Suara Bagas terdengar dari atas kepalanya, disertai dengan uluran tangannya. Meski terhalang pakaian, Puspa merasakan sentuhan itu seakan ular berbisa melilit tubuhnya. Bulu kuduknya meremang, tubuhnya bergetar hebat, dan di tempat yang disentuh, seolah ada racun yang merembes masuk bakar kulitnya.

Semakin dekat jarak mereka, semakin jelas pula Puspa melihat senyum penuh racun di wajah pria itu. Ketakutan lama pun kembali menyeruak, menusuk hingga ke dasar hati.

"Minggir!

Tubuh Puspa menegang, suaranya pecah keluar dari tenggorokan.

"Puspa."

“Pergi! Aku bil
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Hola Oren
indra ini anjing ya ternyata
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 672

    “Kak Indra, kamu datang tepat waktu! Mereka tindas aku, ayo cepat bantu aku!”Lisa langsung teriak manja, cari perlindungan.Namun sandaran yang ia inginkan, sama sekali nggak seperti yang dia harapkan.Saat ini ia bahkan sama sekali nggak masuk dalam pandangan kakaknya.Semua perhatian Indra hanya tertuju ke Puspa, matanya nggak berkedip, seolah jika ia berkedip saja, wanita itu akan lenyap begitu saja.Indra memandang Puspa tanpa gerak sedetik pun, sudut bibirnya bergerak naik, seperti senyum yang ditujukan ke sahabat lama yang amat dirindukan, atau pada harta berharga yang ia jaga bertahun-tahun.Indra tahan getaran di dadanya, jakunnya bergerak naik turun, suaranya terdengar terkendali.“Kamu sudah kembali. Beberapa tahun ini kamu hidup baik-baik saja, kan?”Puspa masih hidup. Kalau gitu kenapa nggak datang cari dia? Apa Puspa nggak tahu kalau selama ini ia kangen banget?Puspa tersenyum tipis, ekspresinya tenang, nadanya santai seperti bicara dengan teman lama yang kebetulan berte

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 671

    Meskipun wajahnya Kakek Budi hampir nggak bisa tahan malu, tapi di depan begitu banyak orang, mau nggak mau ia tetap harus jaga sikap. Nggak mungkin ia bersikap nggak sopan ke Paul. Jadi ia tetap paksakan diri untuk tersenyum.“Iya, ini memang takdir.”Tatapan Kakek Budi jatuh ke Puspa, nadanya penuh makna.“Kamu ini beneran sangat beruntung.”Puspa tersenyum samar, nggak jelas apa karena gembira atau mengejek.“Semua keberuntungan ini dari kamu.”Di antara keduanya, ada ketegangan nggak terlihat yang mengalir perlahan.Dengan gurauan Paul dan sikap menenangkan Kakek Budi, kemunculan Puspa yang tiba-tiba hanya jadi kejutan sesaat, gejolak itu tinggal berputar dalam hati para tamu, nggak ada seorang pun yang berani benar-benar melangkah ke depan untuk cari gara-gara.Gimanapun, hari ini tokoh utamanya adalah Kakek Budi, mereka harus jaga martabatnya.Winda yang dari tadi berada di luar lingkaran, bahkan lebih kaget ketimbang ketika lihat kakek buyutnya yang sudah meninggal.“Gimana bisa

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 670

    Nggak jauh dari sana, Sonya yang dari tadi perhatikan Indra, seketika itu juga wajahnya langsung pucat ketika lihat Puspa. Matanya membelalak, tubuhnya bahkan hampir nggak bisa berdiri tegak.‘Puspa, dia masih hidup?! Gimana mungkin dia masih hidup?! Gimana bisa seperti ini? Kalau Puspa kembali, terus dia gimana dong?’Sonya refleks menoleh ke arah Indra. Dari sekadar lihat sisi wajahnya saja, Sonya dapat lihat kegembiraan, keterkejutan, dan kegirangan yang meluap-luap.Sudah lama Sonya nggak lihat emosi seperti itu dari Indra. Sonya memang senang lihat Indra seperti itu, namun rasa gembira itu bukan karena dirinya.Perasaan itu buat Sonya nggak berdaya, juga nggak tahu harus gimana.Hati Sonya terasa hampa, dan apa yang ia inginkan selama ini semakin menjauh dari genggamannya.Beda dengan keterkejutan Sonya, Lisa justru tunjukkan ekspresi "tuh kan, aku memang nggak salah lihat waktu itu".Lisa memang sudah bilang, wanita yang ia lihat sebelumnya itu benar-benar Puspa!Kemudian, wajah

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 669

    “Kak Indra.Suara Lisa bangunkan Sonya dari lamunannya. Lihat Indra yang berjalan ke arahnya, mata Sonya seketika berkilat.“Indra.”Tatapan Indra tenang, suaranya datar. “Kamu ngapain di sini?”Secara logika, dia seharusnya nggak terima undangan.Belum sempat Sonya jawab, Lisa sudah dahului untuk jawab, “Aku yang undang Kak Sonya.”Di dalam mata hitam Indra, jelas terlihat rasa nggak setuju.Lisa lanjutkan, “Kak Sonya datang ke sini sebagai temanku.”Artinya jelas, nggak ada hubungannya denganmu.“Indra.”Saat itu juga, suara Kakek Budi terdengar dari depan. Waktu menoleh, Indra lihat kakeknya sedang lambaikan tangan panggil dia.Begitu pandangannya menyapu orang-orang di hadapan Kakek Budi, alisnya sempat berkerut samar. Namun ia tetap melangkah maju.Kakek Sutik menatapnya penuh rasa bangga. “Indra, lama nggak ketemu, kamu tambah ganteng saja.”Indra menunduk sopan, beri salam ke dia.Kakek Sutik mendesah iri, “Budi, kamu itu punya cucu yang luar biasa. Andai saja cucu-cucuku bisa s

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 668

    Baru beberapa detik berlalu, suara Sonya terdengar dari HP. “Lisa?”Mata Lisa langsung berbinar. Ia berkata tanpa basa-basi, “Sabtu ini pesta ulang tahunnya kakekku. Mulainya jam enam. Kamu nanti langsung datang saja.”Sonya terdiam sebentar sebelum tanya pelan, “Apa pantas kalau aku datang?”Lisa jawab tanpa tanggapi pertanyaannya, “Apanya yang nggak pantas? Kamu ingin ketemu kakakku, kan? Freya nanti juga bakal datang.”Dengar nama itu, nada Sonya langsung berubah, “Lisa, terima kasih sudah undang aku.”Setelah dirasa cukup, Lisa nggak bicara panjang lebar lagi, ia langsung tutup teleponnya.Dengar nada sambung yang terputus, beberapa detik kemudian Sonya turunkan HP-nya. Ia berdiri di depan jendela, memandang keluar, malam sembunyikan seluruh ekspresi di wajahnya.Bulan masih tetap sama bersinar terang, hanya orang yang dulu, sekarang sudah berubah.Tentu saja Sonya paham perubahan sikap Lisa. Gadis kecil yang dulu ikuti dia di belakangnya sambil panggil “kakak ipar”, kini sudah dew

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 667

    Kehadiran Eric sempat kacaukan pikiran Indra, namun pikirannya nggak sepenuhnya terseret oleh pria itu.Urusan perusahaan tetap berjalan rapi dan teratur, persis seperti hidup Indra yang tampak tenang tanpa cela.Tahun ini adalah ulang tahun Kakek Budi yang ke-80, hari besar yang harus dirayakan dengan megah.Keluarga Wijaya sudah persiapkan itu sejak setahun lalu, sebulan menjelang pesta, seluruh rumah sibuk seperti sarang lebah.Mereka benar-benar menaruh hormat pada ulang tahun Kakek Budi.Tamu yang hadir nanti semuanya adalah orang-orang penting dan berpengaruh.Sebagai menantu tertua, Endah pun sibuk nggak karu-karuan, lihat Lisa yang hampir setiap hari selalu pulang tengah malam atau nggak pulang sama sekali, buat alisnya berkerut dalam, sampai rasanya bisa jepit seekor lalat.“Kakekmu sebentar lagi ulang tahun. Kamu selama beberapa hari ini tolong bersikap yang benar. Jangan keluyuran terus sampai kakekmu marah dan tegur kamu lagi.”Lisa tendang sepatunya dan lemparkan jaket ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status