LOGINWarning 21+ Bacaan Khusus Dewasa!! Maria Candini Wijaya, putri lawyer ternama dengan bayaran paling mahal di negeri ini harus terjerat dalam permainan panas dengan dosen killer di kampusnya. Awalnya mereka bertemu tanpa sengaja di sebuah night club, berkenalan dan berdansa seru bersama. Namun, Profesor Joseph Levine sudah kepincut pada pandangan pertama, dia ingin membawa pulang Candy ke apartemen. Sayangnya, gadis itu menolak, para pengawal menghalangi niat Josh. Tanpa diduga, pria yang semalam ditolak Candy masuk ke ruang kuliah dan memperkenalkan diri sebagai dosennya semester ini. Rumor bahwa dosen killer yang kerap memberi nilai pelit itu sontak membuat Candy merasa makin terjepit dalam dilema. "Apa Anda tidak pernah mendengar nama papaku, Profesor Josh?" Dosen ganteng berdarah blasteran itu mengangkat bahunya cuek lalu menangkap pinggang mahasiswinya yang cantik. "Maybe, tapi kau harus tahu satu hal, Beibeh. Papamu tak bisa memberimu nilai A di kampus ini!" Seringai seram menggoda itu tersungging di wajahnya, "ikuti permainanku maka akan kuberikan apa yang kau mau, Candy!" Akankah Candy luluh dan terjerat dalam permainan panas dosen killer yang memiliki sisi lain berandalan itu atau sebaliknya? Ikuti kisah mereka dalam novel terbaru karya Agneslovely2014 yang berjudul Permainan Panas: Obsesi Dosen Killer. IG: Agneslovely2014 Cover: Ryu Desain
View More"Prof ... ayo dong, kita bisa main di ruang dosen aja sekarang!" desah panas mahasiswi genit berpakaian ketat itu di pangkuan seorang pria berwajah blasteran yang pastinya tampan. Telapak tangan halus perempuan itu membelai lekuk otot yang tercetak jelas di balik kemeja biru muda.
"Nora, jangan deh. Aku ada janji sama orang sebentar lagi. Sudah kamu belajar yang bener biar cepetan lulus!" Suara berlogat bule itu meluncur mulus dalam bahasa Indonesia.
Gadis berambut panjang cokelat keemasan karena semir itu pun mencebik tak terima. "Ckk ... Prof. Joseph sudah bosan ya sama aku? Ada aja alasannya kalau mau diajakin indehoi. Pokoknya Nora kesel!" raungnya seraya bangkit dari paha dosen tersebut.
"Waktunya aja nggak pas, Nora. Next time deh, sampai besok, Baby!" Joseph Levine beranjak menuju pintu lalu membukakannya untuk mahasiswi genit yang kerap menggodanya tersebut.
Hari telah beranjak petang, dia memang memiliki janji dengan beberapa teman dekatnya karena ingin membicarakan kasus hukum yang sedang mereka tangani. Joseph mengajar sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Dharmapala Buana, tetapi juga memiliki lisensi sebagai pengacara independen.
"TOK TOK TOK."
"Masuk!" sahut Joseph dari meja kerjanya.
Dua orang pria berpakaian necis khas lawyer muda muncul di ambang pintu kantor Joseph. "Sorry telat. Kita cabut aja yuk ke resto sekalian makan malam. Males ngobrol di kantor dosen gini kayak mahasiswa bimbingan skripsi aja!" ujar Benny sembari masih tetap berdiri di tempatnya.
"Hahaha. Bisa aja lo, Ben. Tapi, iya juga. Cuss lah, Josh ke cafe!" sahut Darren.
"Okay ... okay, rewel memang bapak-bapak pengacara ini!" tukas Joseph, tak urung dia memakai jasnya kembali lalu menenteng tas kerja berbahan kulit warna cokelat mahoni meninggalkan ruang kantornya.
Pertemuan tiga pria muda yang berprofesi sebagai pengacara profesional itu diwarnai obrolan seru tentang kasus yang tengah mereka tangani bersama. Dari yang awalnya makan malam di cafe kekinian sampai berlanjut ke night club.
Lampu sorot warna warni di langit-langit ruangan ditemani musik EDM yang dimainkan DJ di panggung menambah semarak suasana malam di night club.
"Cheers!" seru ketiga pria itu mendentingkan gelas merayakan malam yang menyenangkan.
"Hey, Josh. Lo di kampus happy dong bisa cuci mata lihat mahasiswi-mahasiswi cakep. Ada kagak yang berhasil lo gebet?" celetuk Benny iseng.
"Ahh ... ada lah itu. Bahas lainnya aja, jangan topik-topik sensitif, Bro!" kelit Joseph. Bayangan tentang Nora yang tadi merengek minta digenjot di kantornya mulai menghantui. Sayangnya, dia tak ingin menimbulkan skandal di kampus hanya karena terbawa napsu.
Tiba-tiba Darren menunjuk ke satu arah. "Woii woii ... lihat tuh, gilee ... mantep bener!" serunya heboh.
Mau tak mau Joseph pun melayangkan matanya ke lantai dansa. Sesosok gadis berambut panjang hitam legam sepunggung berkulit putih mulus sedang melenggak lenggok dalam joget asyik di tengah circle perempuan sebayanya.
Tanpa sadar Joseph yang memandangi gadis cantik nan sexy itu menelan ludah. Ada yang bangkit di balik risleting celananya dan membuat ruang di sana mendadak sempit.
"Hey, Josh!" Darren menjentikkan jarinya di depan muka sobatnya. "Naksir lo? Deketin aja, Bro. Kalau lo kagak maju, biar gue—"
"Weits ... gue mau! Lo jangan godain yang baju ijo toska, itu inceran gue ya!" sahut Joseph lalu segera meluncur ke lantai dansa yang dipadati lautan manusia.
Dengan penuh percaya diri Joseph ikut berjoget mengikuti irama musik DJ di dekat gadis dengan mini dress hijau toska. "Hai, Nona Manis. Boleh kutemani dansa? Nama kamu siapa?" sapanya hingga mendapat perhatian penuh gadis itu.
"Ohh ... ngomong sama aku? Hmm ... panggil aja Candy. Nama kamu siapa, Om?" balas gadis itu masih sibuk berjoget ria dengan energik.
"Kamu boleh panggil aku Josh. Ke sini sama siapa? Tukeran nomor HP yuk!" lanjut Joseph agresif.
Candy terkikik sendiri karena sedang teler akibat obat khusus party pemberian temannya. "Kamu banyak tanya deh. Aku lupa nomorku, Josh. Gimana dong?" jawabnya seraya bergelanyut manja di badan kekar pria matang yang baru dikenalnya itu.
"Boleh kuantar pulang? Atau nginep di apartemenku juga ayo aja ... kita bisa menikmati sisa malam indah ini berdua, Candy!" Tatapan mata biru Joseph tak bisa berbohong. Dia menginginkan gadis itu.
"Oya? Cium aku dulu, Om! Aku suka cowok yang jago french kiss!" Candy menempel di dada Joseph seraya memonyongkan bibirnya minta dikokop.
Tanpa merasa keberatan sedikit pun, Joseph melumat habis-habisan bibir merah muda berbalut lipbalm beraroma stroberi itu. Napsunya sudah naik ke ubun-ubun karena Candy begitu menggoda. Tatapannya, suara manjanya, dan lekuk tubuh sexy gadis itu membuatnya mengalami serangan gairah instan.
Dengan napas terengah-engah Joseph berkata, "Candy ... kamu sudah janji tadi ya. Ayo pulang sama aku, kita tuntaskan malam ini. Kamu sudah bikin aku cenat cenut di bawah sana!" Dia menekan bukti gairahnya yang mengamuk di balik celana kantoran itu ke bawah perut gadis itu.
Tindakan berani Joseph membuat Candy ketakutan. "Aakh ... aku nggak bisa. Mungkin next time, Om. Bisa dimarahin papa kalau aku terlalu liar!" tolak Candy seraya menekan telapak tangannya ke dada Josh untuk memberi jarak.
Gadis itu meronta melepaskan diri dari dekapan Joseph lalu berlari sempoyongan kabur dari hiruk pikuk lantai dansa. Meskipun setengah teler, bagi Candy bayangan amarah sang papa jauh lebih dari cukup baginya membuat dia sadar.
Karena kepalang tanggung, Joseph segera mengejar gadis tadi. Kelebat warna gaun hijau toska itu membuat Candy mudah ditemukan di antara lautan pengunjung night club.
"Ckk ... sudah bikin aku napsu, ditinggalin gitu aja sama dia. Huhh, awas saja kalau ketangkap!" gerutu Joseph sambil terus mengejar Candy sampai ke toilet wanita.
"Candy, coba lihat ini!" Josh yang baru saja pulang dari kampus membawa sepucuk surat undangan berwarna merah maroon. Ada inisial RG dengan torehan tinta emas di sisi depan amplopnya."Undangan pernikahan? Dari siapa, Hubby?" balas Candy yang merasa mereka berdua tidak banyak memiliki teman dekat yang sama.Josh tertawa kecil lalu duduk di sofa kamar tidur bersama Candy. Dia membuka amplop undangan dan membacakan untuk istrinya, "Dengan segala kerendahan hati, kami yang berbahagia Randy Cakrabirawa dan Gisella Kartika mengundang Anda sekalian ke pesta resepsi pernikahan kami pada hari Sabtu, 20 Mei—" "Gila banget, aku nggak pernah mengira Randy bakalan ngejar Bu Gisella. Hmm ... dia bener-bener cowok bernyali!" ujar Candy agak terkejut."Sudah kuduga sih sejak di persidangan dulu. Remaja laki-laki itu nggak main-main dengan perasaan cintanya ke Gisella. See ... proven!" balas Josh. "Aku senang dengar mereka bersatu pada akhirnya, berarti bayi Bu Gisella yang diculik papanya Randy ju
Di lorong rumah sakit menjelang petang itu, langkah kaki berderap cepat menuju ke ruang bersalin. Seorang perawat menemui Randy lalu berkata, "Tolong ganti pakaian steril terlebih dahulu kalau Bapak ingin mendampingi persalinan!""Ini benar ruang bersalin yang ditempati Gisella Kartika 'kan, Suster?" tanya Randy memastikan."Iya, benar nama pasien memang Gisella Kartika. Silakan ikuti saya untuk berganti baju steril terlebih dahulu, Pak!" jawab Suster Vita.Maka tanpa berpikir dua kali, Randy bergegas mengikuti anjuran perawat. Dia pun berganti pakaian steril lalu bertanya lagi, "Apa anak pasien dan wanita yang mengantar pasien ada di dalam ruangan bersalin juga, Suster?""Maaf, tadi saya belum melihat mereka. Mungkin masih membereskan administrasi di lantai bawah ya, Pak!" jawab Suster Vita lalu mengantarkan Randy masuk ruang bersalin untuk menemui Gisella.Di dalam ruangan berpencahayaan terang berdinding putih itu Gisella setengah berbaring dengan posisi siap melahirkan. Dia meliha
"Dasar jalang!" teriak Nyonya Vania Cakrabirawa seraya mengangkat tangan kanannya untuk menampar Gisella."PLAAKK!" Suara benturan dua permukaan kulit yang keras terdengar nyaring.Namun, yang kena tampar bukanlah Gisella. Suaminya maju menggantikannya. Pipi Randy bengkak memerah karena perbuatan mamanya."Randy, ngapain kamu belain perempuan murahan itu? Jangan terjebak tipu muslihatnya untuk kedua kalinya lagi!" hardik Nyonya Vania dengan nada tinggi."Mama salah menilai Gisella. Aku nggak akan pernah memilih wanita selain dia untuk menjadi pendamping hidupku!" bela Randy seraya merangkul bahu Gisella dengan protektif.Nathan juga ikut menghalangi neneknya. "Jangan sakiti mommy, Nek! Ada adikku di perut mommy." serunya berani.Pak Lukman terhuyung memegangi dada kirinya karena terkejut mendengar kabar bahwa Gisella sedang hamil."Papaa!" seru Nyonya Vania seraya menopang tubuh suaminya.Pak Lukman dibantu duduk di sofa oleh Randy dan mamanya. Gisella pun mengambilkan air mineral di
"Mom, ayo naik bianglala bertiga dengan aku dan daddy!" seru Nathan heboh di sebuah taman hiburan keluarga yang berada di daerah kota Seoul. Gisella mengangguk setuju lalu berlari-lari bersama Nathan untuk mengantre tiket naik bianglala. Dari belakang mereka Randy mengeluarkan dompetnya lalu menepuk bahu istrinya untuk memberikan lembaran uang Won Korea Selatan senilai tiga tiket yang tertera di sisi atas loket.Setelah diizinkan naik ke kompartemen bianglala dengan lampu hias terang warna-warni, keluarga kecil itu duduk menunggu roda raksasa tersebut berputar perlahan. Semakin tinggi posisi mereka maka pemandangan indah kota Seoul di malam hari semakin terlihat jelas."Wow, amazing!" desah takjub Nathan dari tempat duduknya sembari memandang ke luar kaca kompartemen.Randy mengecup pipi Gisella spontan, dia berbisik, "Aku nggak sabar buat segera pulang dan memulai bisnis kita, Sayang!""Hmm ... iya, kupikir kamu benar. Besok pagi saja kita pulang, kunjungan ke Pulau Jeju ditunda lai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings