Compartir

Bab 33

Autor: Araina_ina
last update Última actualización: 2025-12-25 07:54:51

Entah apa yang salah dengan pikiran istrinya itu hingga ia bisa mengatakan kata – kata yang begitu tajam di hadapan Herman.

Ia menatap ke arah istrinya dengan nada penuh peringatan. Akan tetap Margareth merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya itu. Baginya, Renata hannyalah wanita bodoh yang tidak mengerti apapun. Berbeda dengan sosok Juwita yang tidak hanya cerdas namun juga terkenal dan memiliki karir yang bagus.

“Apakah perkataanku salah?! Renata memang tidak bisa dibandingkan dengan Juwita. Bagaimana bisa menantu Keluarga Herlambang adalah wanita bodoh?! Jika kau bertanya kenapa selama ini aku diam, itu karena dia adalah putri dari keluarga Aditama dan perjodohan konyol yang sudah ada. Selain dua alasan itu, ia tidak memenuhi standarku sebagai menantu rumah ini!”

Bahkan Juwita saat ini ingin memeluk dan bersorak pada Margareth atas pembelaan yang ia katakan itu. Tidak pernah menyangka jika wanita itu akan membelanya sedemikian rupa.

Diam – diam dia melemparkan pandangan puas
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 54

    Mobil melaju tenang meninggalkan area studio Éclat Mode. Di kursi penumpang, Renata menyandarkan punggungnya, membiarkan kelelahan hari itu luruh sedikit demi sedikit. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya lembut di kaca jendela. Untuk pertama kalinya sejak pemotretan selesai, ia merasa benar-benar bisa bernapas. Joan meliriknya sekilas, lalu tersenyum lebar. “Renata,” katanya akhirnya, “aku tahu aku sudah sering bilang ini, tapi ,,, selamat.” Renata menoleh. “Untuk apa?” “Untuk semuanya,” jawab Joan ringan. “Untuk caramu berdiri hari ini. Untuk caramu tetap tenang. Dan untuk hasil pemotretan itu.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, “Kamu benar – benar luar biasa.” Renata tersenyum kecil. Tidak sombong, tidak merendah. “Terima kasih, Joan.” Mobil melaju memasuki area yang lebih sunyi. Jalanan beraspal halus, diapit pepohonan tinggi dan taman yang terta

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 53

    Ruang rapat Éclat Mode tidak pernah dipakai untuk keputusan ringan. Sama seperti saat ini. Saat ini, layar besar menampilkan hasil pemotretan yang baru saja mereka kerjakan. Melihatnya satu per satu. Foto Juwita muncul lebih dulu. Tampilannya terlihat tajam, dramatis, penuh kilau. Pose-pose yang familiar terlihat presisi, dan aman untuk pasar. Tidak ada yang salah dengan itu dan semuanya sesuai rencana. Lalu foto Renata mulai tampil, dan tiba – tiba keheningan jatuh di tempat itu. Bukan karena kekurangan, melainkan karena kendali penuh yang dimiliki oleh Renata. Renata tidak hanya berdiri di depan kamera, tapi ia membaca busana. Cara bahunya sejajar dengan jatuhnya kain, bagaimana ia memberi jeda sepersekian detik sebelum mengalihkan pandangan, tarikan napas yang membuat lipatan gaun hidup tanpa perlu diperintah. Semua terasa sadar dan terukur dengan sangat baik. Editor utama mendekat seraya berujar “Ulangi

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 52

    Damian membaca berita dalam keheningan.Ia berdiri di ruang kerja pribadinya yang menghadap ke taman belakang kediaman. Di luar jendela besar, lautan bunga terbentang rapi. Lapisan warna yang berkilau lembut di bawah cahaya pagi. Jalan setapak dari batu alam membelah hamparan hijau, pepohonan tinggi memagari kediaman itu dari dunia luar. Tenang. Eksklusif. Dan tak tersentuh.Tempat ini tidak diciptakan untuk dipamerkan. Tablet di tangan Damian menampilkan judul-judul singkat yang provokatif, komentar publik yang mulai berlapis, dan satu frasa yang berulang : dual presence. Ia menutup layar, meletakkannya di meja kayu gelap, lalu kembali menatap taman. Mereka mencoba membandingkan Renata. Itu kesalahan pertama.Langkah kaki terdengar pelan. Pintu ruang kerja terbuka.Renata masuk. Ia mengenakan pakaian sederhana, potongan bersih, warna lembut yang menenangkan mata. Rambutnya tergerai rapi tanpa usaha berlebihan. Wajahnya jernih,

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 51

    Ponsel Juwita bergetar saat ia baru saja duduk di sofa ruang kerjanya. Ia melirik layar sekilas. Nama yang tertera membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.Pemilik majalah Éclat Mode.Sebuah majalah kelas atas yang hanya bekerja dengan nama-nama yang sedang berada di puncak atau sengaja diposisikan untuk menjadi pusat perhatian.“Halo?” suara Juwita terdengar lembut, profesional, dan terlatih.“Juwita,” suara di seberang terdengar antusias. “Kami ingin mengajakmu bekerja sama untuk edisi khusus bulan depan. Konsepnya dual presence. Dua figur perempuan dengan karakter kuat. Kami ingin kau menjadi wajah utamanya.”Juwita menyilangkan kaki dengan anggun. “Aku tersanjung. Tapi biasanya Éclat sangat selektif. Siapa figur satunya?”Ada jeda sepersekian detik sebelum nama itu disebut.“Renata Aditama.”Senyum di wajah Juwita tidak berubah. Namun sorot matanya menggelap setitik.“Oh?” ujarnya ringan. “Mena

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 50

    Pintu ruang kerja Julian menutup dengan bunyi pelan setelah Renata keluar. Suara itu tidak keras, bahkan nyaris sopan. Namun bagi Julian, ada sesuatu yang terasa tidak pas.Ia berdiri cukup lama tanpa bergerak, menatap ke arah pintu seolah berharap wanita itu akan kembali, mengatakan sesuatu yang biasa ia dengar bertahun-tahun lalu. Permintaan maaf, raut keraguan, atau setidaknya ekspresi goyah yang selalu terlihat di wajahnya. Namun apa yang harapkan tidak terjadi.Julian menghela napas perlahan, lalu duduk kembali. Jarinya mengetuk permukaan meja, kali ini tidak lagi ritmis. Ada jeda yang tidak teratur, seperti pikirannya yang mulai menyadari satu hal sederhana namun mengganggu.Renata tidak datang untuk tunduk.“Menarik,” gumamnya lirih.Ia menekan tombol interkom. “Panggil kepala tim PR dan legal ke ruang rapat kecil. Sekarang.”Tak lama kemudian, ruangan kembali hidup. Beberapa staf masuk dengan wajah waspada. Mere

  • Hasrat Cinta Tuan Muda Damian   Bab 49

    Keesokan paginya, Renata terbangun dan mendapati sosok suaminya sudah tidak ada lagi di tempat tidur. Ia pun bangun dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah aktivitas mereka yang panas semalam. Saat sampai di lantai satu, ia melihat sosok suaminya yang seperti biasa, terlihat tampan dengan aura yang luar biasa. “Pagi Nyonya,” suara Bibi Helga segera menyambut kedatangannya. “Pagi Bibi Helga,” jawabnya seraya duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Bibi Helga untuknya.“Silahkan Nyonya, ini bagus untuk kesehatan Anda.” Bibi Helga memberikan semangkuk bubur sarang walet ke hadapan Renata. Renata menyambutnya tanpa banyak bicara, dan mulai memasukkannya ke dalam mulut, sesendok demi sesendok. “Apakah jadwalmu hari ini?” tanya Damian seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sampai Renata menjawab, suara ponsel segera terdengar. Nama Julian tertera di layar ponselnya. Renata sempat melirik ke arah suaminya sesaat sebelum akhirnya me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status