LOGINElla Harvard, 23 tahun. Dia memiliki anak perempuan berusia 2,5 tahun, namanya Sisi Alexander. Ella tidak menyangka jika Sisi, anaknya akan menderita leukemia. Dunia Ella runtuh, anak semata wayang yang sangat dia sayangi divonis dokter bahwa harapan hidupnya hanya hitungan minggu atau bulan. Berbagai cara Ella lakukan untuk menyembuhkan Sisi, salah satunya mencari darah tali pusat dari bank darah darah tali pusat umum. Tapi, ketika semua jalan tertutup, tidak ada pilihan baginya selain menanggalkan harga dirinya dan meminta Mario, suaminya untuk menghamilinya. Mario menolak, dia menyuruh Ella mencari pria lain karena sampai kapanpun dia tidak akan menyentuh Ella. Mereka tidak sadar jika ada yang tak sengaja mendengar percakapan mereka. Dia adalah Zega, adik Mario. Zega menawarkan diri menghamili Ella. Tentu saja Ella tolak mentah-mentah. Dia wanita terhormat, punya harga diri tinggi, dan tidak akan melakukan hal sehina itu, apalagi dengan adik iparnya. Pertanyaannya, apa iya dia sekuat itu menghadapi Zega yang diam-diam suka menggoda secara halus?
View More“Tolong hamili aku ….” Kata Ella, tersendat.
Suaminya itu menatap Ella dengan dingin. “Cari saja pria lain. Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kapanpun."
Tubuh Ella gemetar mendengar respon dingin suaminya itu.
Dia tidak akan merendahkan harga dirinya di depan pria ini kalau saja tidak dalam keadaan terdesak.
5 bulan ini dunia Ella runtuh. Karena anaknya yang baru berusia 2,5 tahun mengidap leukemia. Dia sudah protes kepada Tuhan, kenapa tidak dia saja yang sakit.
Bahkan, meminta Tuhan memindahkan penyakit itu ke tubuhnya. Namun hingga malam ini, Tuhan belum menjawab do’anya.
Karena itu, Ella menanggalkan harga dirinya dan mendatangi Mario di ruang kerjanya, meminta pria itu untuk menghamilinya. Sebab Ella butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi.
Tapi jawaban Mario barusan apa? Tidak mau menghamilinya? Ella tidak menduga.
“Kamu pikir aku mau kamu sentuh?” balas Ella, kemudian menyesal. Dia tahu bukan begini caranya berbicara dengan Mario.
Namun Ella terlambat. Rahang Mario sudah mengeras.
Ella berusaha merendahkan harga dirinya lebih rendah lagi. Karena hingga tadi siang, petugas bank darah tali pusat umum masih mengatakan belum ada HLA yang cocok dengan Sisi. Sebab sangat sedikit orang yang mau menyumbangkan darah tali pusat. Kebanyakan orang menyimpan darah tali pusat untuk keluarga mereka sendiri.
“Kalau ada cara lain, aku tidak akan memintamu menghamiliku. Sisi terkena leukemia akut jenis ALL. ALL perkembangannya sangat agresif. Harapan hidupnya mungkin hanya 5 tahun,” kata Ella.
“Kamu berlebihan. Pronosisnya bagus,” ujar Mario.
“Meskipun pronosisnya bagus, tapi dia susah sekali dibujuk untuk kemo. Dia takut suntik, sepertimu,” balas Ella.
Mario diam.
Kemudian Ella mengimbuhi, “Aku butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi. Tapi, hanya darah tali pusat dari saudara kandung yang punya peluang tinggi. Jadi, tolong … hamili aku.”
“Kenapa kamu membuatku mengulanginya? Cari saja pria lain,” keputusan Mario tidak berubah.
Ella menahan air matanya agar tidak jatuh, meskipun ucapan Mario bagai sebilah pisau yang mengoyak tubuhnya. Tubuh Ella nyeri, membayangkan nasib Sisi jika Mario tetap tidak mau menghamilinya.
Akhirnya, Ella hanya bisa sabar menghadapi Mario. “Kalau misal aku cari pria lain, lalu HLAnya tidak cocok. Bagaimana? Apa kamu mau menghamiliku?”
“Sepertinya tadi sudah kujawab. Sampai kapanpun aku tidak akan menyentuhmu,” ulang Mario, seperti sengaja menyakiti Ella.
Butiran kristal Ella menetes hangat di pipi. Mario juga melihat itu di wajah cantik Ella, tapi dia tetap dingin.
“Kita bisa ikut program bayi tabung, kalau kamu mau. Dengan begitu aku bisa hamil tanpa kita bersentuhan,” Ella tidak menyerah.
Mario diam.
Sementara di luar pintu, Zega, adik Mario mematung di depan pintu yang terbuka sedikit itu. Tadinya dia mau masuk untuk menemui Mario, ternyata tak sengaja mendengar percakapan suami istri ini.
Zega mendengar Ella menangis. Sekarang dia tahu duduk perkaranya, ternyata Mario tidak mau menghamili Ella, padahal Ella butuh darah tali pusat untuk menyembuhkan Sisi. Zega tidak menyangka kakaknya lebih brengsek dari dia.
“Apa yang harus kulakukan agar kamu menolongku, sekali ini saja,” isak Ella.
“Menceraikanmu? Mengijinkanmu menikah dengan wanita lain? Katakan,” imbuh Ella, siap melakukan apapun untuk kesembuhan Sisi.
Mario tahu betul sifat ayahnya, Ray Alexander. Kalau dia cerai dengan Ella, pasti dia akan dipecat dari jabatannya sebagai CEO Grup MD dan bahkan, dicoret dari daftar keluarga. Karena itu, lebih baik saat ini begini meskipun tidak betah.
“Aku tidak akan menghamilimu. Camkan itu baik-baik, agar aku tidak perlu mengulanginya berkali-kali.”
“Apa kamu tidak peduli dengan Sisi?!” kesabaran Ella habis. Dadanya sesak saat mengatakan ini.
“Apa kamu baru sadar?” tanya balik Mario. “Lagihan dia cuma anak perempuan. Kalau anak laki mungkin akan kupertimbangkan, karena bisa jadi penerusku.”
Detik berikut, Ella melempar Mario dengan sepatunya heelsnya. Dan Mario menghajar Ella dengan ikat pingangnya. Hal ini sudah biasa terjadi diantara mereka, sejak awal menikah. Ella meraung, lalu Mario pergi.
3 tahun ini, selalu Ella yang berusaha menghangatkan rumah tangga. Tapi Mario selalu mencoba merusaknya. Ella berdiri, berjalan menuju kamar tidur Sisi. Sisi tidur pulas dan tangis Ella pecah di ambang pintu.
“Sisi akan baik-baik saja.”
Ella terkejut. Dia menatap pria tinggi, tampan dan atletis di sampingnya dengan heran. Zega?
Zega mengeluarkan tangannya dari saku, lalu mengulurkan saputangannya.
“Terima kasih.” Saat Ella mengambil saputangan dari tangan Zega, Sisi bangun dan seperti biasa, bayi berusia 2,5 tahun itu masih suka menangis setiap bangun tidur tidak ada ibunya.
“Biar aku saja." Zega melangkah mendekati Sisi.
Ella terperangah. Adik iparnya ini tidak pernah menyentuh anak kecil, sama seperti Mario. Apalagi menenangkan anak menangis. Memang Zega bisa?
"Meski aku tidak mencintainya, aku tidak akan memberikan Ella padamu!" Mario merasa sangat dihianati oleh adiknya ini. Mario kembali melayangkan tinju, namun kali ini gagal karena ditangkis Zega. "Pikirkan kembali," kata Zega. "Aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengambil keputusan semudah ini!" Mario kembali melayangkan tinju, namun lagi-lagi gagal. "Tawaranku hanya berlaku saat ini," Zega menjeda kalimatnya, seperti sedang presentasi. Setelah Mario menatapnya, Zega melanjutkan. "Setelah keluar dari kamar ini, aku tidak akan memberikan kompensasi apapun atas apa yang terjadi." Zega kembali menjeda kalimatnya. Setelah beberapa detik Zega melanjutkan sisanya. "Lepaskan Ella, sebagai gantinya aku akan menjamin posisi Kakak sebagai CEO grup MD." "Bangsat! apa tidak ada wanita lain?!" Mario kembali melayangkan tinju namun Zega terus menangkis dan tidak membalas. "Tidak ada," jawab Zega. "Lebih baik aku dipecat dari pada memberikan Ella padamu!" jawab Mario. "Taw
Sementara itu di tempat lain, di kamar rawat inap Margaret dan Ray. Zega mendudukkan semua keluarganya yang beberapa jam lalu menghakimi Ella hingga pingsan. Mario juga ada disana. Namun Sisi dijaga Suster di luar kamar. Suasana hati Zega sedang buruk. Semakin buruk setelah mendengar Ella dihakimi hingga pingsan dan jatuh dari tangga dan mendapat 2 jahitan di dahinya, sementara Sisi 1 jahitan karena terlindungi tangan Ella. Tatapan Zega lebih gelap dibanding malam. Rahangnya lebih keras dibanding batu. "Memang kenapa kalau Ella selingkuh denganku?" tanya Zega, pelan tapi tidak ada yang berani menjawab. Semua menundukkan kepala. Zega meminta laptopnya dari Gashi, lalu membukanya dan mengunduh file rahasia yang dia simpan di awan. "Fredo, kudengar kamu orang pertama yang menanyai Ella," kata Zega. "Kenapa kalau Ella selingkuh denganku? kamu iri?" Fredo mendongak dan tersenyum kuda. "Aku hanya terkejut Zega." Zega menatap Fredo, lalu ke istrinya. "Bibi Moi, kenapa kamu meng
"Zega, kenapa berhenti di sini?" Ella heran Zega berhenti di Rihana suite and resort. "Ingin saja," sahut Zega. "Ingin apa?" Ella takut Zega mengajaknya melakukan sesuatu di hotel mewah yang terkenal untuk bulan madu ini. "Healing, melepas stress." "Healing? melepas stress?" Ella semakin takut, karena bertukar keringat juga termasuk salah satu cara melepas stress. "Ya. Enak kan lepas stress di sini?" Zega mencium pipi Ella sebelum turun dari mobil dan membukakan pintu. "Aku nggak mau," tolak Ella tegas. "Nggak mau apa?" Zega menahan tawa. "Kamu mau mengajakku itu kan?" tebak Ella. "Betul. Aku mau mengajakmu itu. Aku ingin memilikimu seutuhnya." Wajah Ella semakin tegang. "Nggak. Aku gak mau melakukan itu sebelum kita menikah." "Aku mau sekarang, supaya cepet bisa menikah." Zega berusaha sekuat tenaga tidak tertawa melihat wajah Ella yang gugup. Ella menatap Zega, tubuhnya yang sempurna, dan wajahnya yang tampan. Tidak ada yang tidak membuatnya penasaran dan ber
"Halo, Sus. Sisi sudah makan dan minum obat?" tanya Ella. "Sudah, Bu." Ella menatap foto Sisi di meja kerjanya. "Apa dia cari saya?" "Iya, Bu. Ibu jam berapa pulang?" "Agak malam, Sus. Bisa saya video call sama Sisi sebentar?" tanya Ella. "Bisa, Bu, sebentar ya." Ella langsung tersenyum lebar ketika melihat wajah Sisi. "Halo, Sayang. Lagi apa?" tanya Ella, lembut. "Main sama Ayah." Senyum Ella seketika surut melihat wajah Mario muncul di layar. "Kamu nggak kerja?" tanya Ella. "Aku sakit," jawab Mario. Ella tidak bertanya lagi. Dia beralih ke Sisi. "Sisi main apa sama Ayah?" tanya Ella. "Puzzle." "Ok, nanti waktunya bobok siang bobok ya, gak boleh main terus," pesan Ella. "Ok." "Ya sudah kalau gitu, Ibu lanjut kerja dulu ya, bye Sisi, Ibu sayang Sisi," pamit Ella sembari melambaikan tangan. "Bye, Ibu. Emuach." Sisi memonyongkan bibirnya, ajaran dari Zega. Ella tertawa lalu mematikan telponnya. Usai menelpon Sisi Ella mengecek ponselnya. Ada puluh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.