LOGINDi antara cinta, kehilangan, dan rahasia masa lalu, mereka terjebak dalam takdir yang tidak seharusnya bersinggungan. Sebuah kecelakaan telah mengubah segalanya, memisahkan dua hati, namun juga mempertemukannya kembali dengan cara yang tidak terbayangkan. Bagi Valeria Duarte, cinta sejati adalah sesuatu yang sudah ia kubur bersama masa lalunya. Bagi Daniel, hidupnya berubah sejak hari di mana ia membuka mata dan menyadari bahwa dunia sudah tidak lagi sama. Di balik gemerlap dunia mode dan ambisi bisnis, tersimpan rahasia kelam keluarga, dan pengkhianatan yang akan mengubah arti dari kata "takdir." Karena kadang yang mati tidak benar-benar pergi dan yang hidup mungkin bukan lagi orang yang kita kenal.
View MoreSore itu di musim semi, langit cerah membentang sempurna di atas kota. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga jeruk dan suara lonceng gereja Santa María de la Luz berdentang lembut di kejauhan seolah memberi tahu seluruh kota bahwa hari ini ada cinta yang akan disatukan.
Alejandro Ramirez menatap dirinya di kaca spion mobil, senyumnya merekah seperti anak kecil yang baru saja diberi dunia. Jas putih gading yang dipakainya terasa pas di tubuhnya dan dasinya sedikit miring, lalu ia membetulkannya dengan tawa kecil. "Aku hampir sampai, Sayang," gumamnya sambil menyalakan panggilan di ponsel. Suara di seberang sana membuat jantungnya berdegup hangat. "Jangan sampai telat! Papa sudah di gereja dan aku tidak mau jadi pengantin sendirian di altar." Tawa Valeria terdengar ringan, namun Alejandro bisa membayangkan pipi Valeria bersemu merah saat gadis itu bicara. "Sepuluh menit lagi aku akan sampai, lalu aku akan berdiri di sana, menunggumu datang, dan memintamu jadi istriku di depan semua orang," ujarnya ceria. "Jangan lupa senyum manis itu, Tuan Sempurna!" canda Valeria. "Bagaimana aku bisa lupa? Itu senyum yang akan selalu aku berikan hanya untukmu." Sambungan telepon kemudian terputus, tapi rasa bahagianya masih melekat di dada Alejandro seperti musik yang tidak berhenti berdendang, lalu ia menyalakan radio dan lagu romantis berbahasa Spanyol mengalun pelan. Tangannya yang bebas menggenggam setangkai mawar merah yang akan ia sematkan di rambut Valeria nanti, hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan kecil sejak hari pertama mereka bertemu di taman Retiro tiga tahun lalu. Mawar itu bukan hanya sekadar bunga melainkan sebuah janji. Alejandro sudah tidak sabar lagi, Valeria akan resmi menjadi Valeria Ramirez dalam satu jam lagi. Jalan raya Madrid sore itu cukup ramai, tapi Alejandro tidak merasa terganggu. Ia justru bersenandung kecil sambil menghafal dalam hati sumpah yang akan ia ucapkan nanti di altar. Namun, takdir sering kali datang tanpa memberi aba-aba. Dari kejauhan sebuah mobil sport hitam melaju terlalu cepat dan menyalip beberapa kendaraan lain seperti dikejar-kejar oleh waktu. Alejandro sempat melihat pantulan lampu mobil itu di kaca depannya dan semuanya terasa begitu cepat, bahkan terlalu cepat. Cahaya putih menyilaukan dan bunyi klakson bersahutan dan dalam sekejap dunia seakan terbalik, kemudian terdengar dentuman yang sangat keras sampai memecah udara. Kaca pecah berhamburan, logam beradu, dan tubuhnya terlempar ke sisi lain. Semuanya menjadi gelap, kecuali satu hal yang masih tertinggal dalam benak Alejandro, yaitu senyum Valeria. Di antara kabut kesadaran yang telah memudar, Alejandro masih bisa mendengar suara samar-samar orang-orang yang berteriak, sirene ambulan, dan seseorang yang memanggil namanya dengan panik, tapi tubuhnya tidak lagi terasa berat dan tidak lagi sakit. Alejandro membuka mata dan sangat terkejut melihat dirinya sendiri sudah terbaring di jalanan dan tubuhnya berlumuran darah. Ia berdiri di sisi tubuhnya sendiri. "Apa yang ...." suaranya tercekat. Ia melangkah mundur dan memandang tangannya yang tembus cahaya. Semuanya terasa menjadi asing dan dunia terasa semakin jauh, lalu dari kejauhan, ia melihat mawar merah yang tadi ia bawa tergeletak di jalanan beraspal. Kelopak-kelopak bunga berserakan dan layu tersentuh debu. Alejandro berlutut berusaha menggenggam bunga itu dengan tangan yang tidak lagi padat, tapi usahanya sia-sia. "Aku janji akan datang padamu, Valeria." Angin sore membawa suaranya pergi dan menelan semuanya dalam keadaan senyap. Di saat itu Alejandro Ramírez menyadari bahwa ia telah meninggalkan dunia ini. *** Lonceng gereja Santa María de la Luz berdentang satu kali, lalu dua kali, menandakan waktu terus berjalan. Di dalam gereja yang diterangi oleh cahaya matahari sore yang menembus kaca, Valeria berdiri di depan altar dengan gaun putih renda yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Di tangannya, ia menggenggam buket mawar merah yang merupakan warna favorit Alejandro. Tamu-tamu yang sudah datang dan duduk di bangku panjang mulai berbisik-bisik pelan, suara musik lembut tiba-tiba berhenti berganti dengan keheningan yang canggung. Waktu sudah lewat setengah jam dari jadwal pernikahan dimulai, tapi pengantin pria belum juga datang. "Tenang saja, Valeria. Alejandro pasti datang!" bisik Lucia, sahabat sekaligus pengiring pengantinnya yang sedang berusaha menenangkannya. "Mungkin jalanan macet. Kamu tahu sendiri, Madrid di sore hari jalanan sangat ramai." Valeria tersenyum kaku dan berusaha mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ya mungkin begitu." Hati Valeria berdegup tidak tenang. Alejandro bukanlah tipe pria yang datang terlambat terutama di hari sepenting ini. Ia menatap ke arah pintu besar gereja dan berharap setiap kali pintu itu terbuka, sosok pria itu akan muncul. Alejandro dengan jas putihnya dan dengan senyum yang selalu membuat lututnya lemah. Namun yang datang hanya angin sore, membawa aroma lilin. Jam berdentang lagi dan satu jam telah berlalu. Ayah Valeria, Don Esteban, berdiri dari kursinya dengan ekspresi gusar. "Aku akan menelepon Alejandro mungkin saja dia salah arah." Namun sebelum ia sempat melangkah keluar, pintu gereja terbuka dengan suara berat. Dua orang pria berseragam polisi masuk dengan langkah ragu-ragu. Suara-suara bisikan dari para tamu perlahan-lahan mereda dan berubah menjadi hening yang bisa menghentikan napas. "Apakah di sini acara pernikahan Tuan Alejandro Ramirez dan Nona Valeria Duarte?" tanya salah satu petugas polisi. Valeria menoleh dan matanya membesar. Tiba-tiba senyumnya perlahan memudar. "I-iya, ada apa?" Petugas itu menatapnya dengan wajah yang tidak sanggup menyembunyikan kesedihan. "Telah terjadi kecelakaan di Calle Serrano dan mobil milik Tuan Ramírez terlibat kecelakaan. Kami mohon maaf beliau sudah dibawa ke rumah sakit San Felipe dalam keadaan kritis." Buket bunga terlepas dari genggaman Valeria. Kelopak-kelopak mawar berserakan di lantai gereja seperti darah yang menetes di marmer putih. Semua mata tertuju padanya, tapi Valeria tidak peduli. "Tidak, itu tidak mungkin. Alejandro baru saja meneleponku! Dia bilang ... dia bilang sepuluh menit lagi!" Lucia memeluknya cepat, tapi Valeria melepaskan diri dan berlari keluar tanpa memedulikan siapa pun. Gaunnya menyeret di tanah dan renda putihnya kotor oleh debu, tapi ia tidak berhenti dan terus berlari dengan berlinangan air mata. Valeria hanya tahu satu hal bahwa Alejandro sedang menunggunya dan ia harus sampai kepadanya. *** Rumah sakit San Felipe dipenuhi oleh aroma antiseptik dan langkah kaki yang tergesa-gesa. Valeria menerobos masuk dan napasnya terengah-engah. "Alejandro Ramirez! Di mana dia?!" Perawat tertegun melihat seorang wanita yang masih memakai gaun pengantin dengan lengkap, air matanya mengalir tanpa henti di pipinya. Mereka menatap dengan campuran iba dan terkejut. Seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat dan melepas masker. "Apakah Anda keluarga pasien Alejandro Ramirez?" Valeria mengangguk dengan cepat hampir tidak bisa bicara. "Tunangannya. Aku tunangannya." Dokter itu menunduk dan nada suaranya lembut, tapi menembus jantung. "Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi luka dalamnya terlalu parah. Kami tidak bisa menyelamatkannya." Dunia serasa runtuh di hadapan Valeria dan semua suara menjadi hilang. Valeria jatuh berlutut di lantai marmer yang dingin dan tubuhnya gemetar hebat. Air matanya menetes dengan deras di lantai membuat lingkaran bening yang cepat mengering, lalu ia berdiri dan masuk ke dalam ruangan. Di sana ia melihat Alejandro terbaring di ranjang. "Tidak … tidak, Tuhan, tidak! Alejandro, jangan tinggalkan aku! Aku mohon, bangunlah! Kamu janji akan menungguku di altar!" Valeria meraih tangan Alejandro yang telah dingin di atas ranjang itu, menciumi punggung tangannya, dan menahan isak sekuat tenaga. Namun tangan itu tak lagi membalas genggamannya. Valeria dengan hati yang remuk bersandar pada tubuh tanpa jiwa itu.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan kilau elegan di setiap sudut ruangan. Namun kemewahan itu terasa kosong seperti topeng yang menutupi sesuatu yang jauh lebih gelap.Camila berjalan cepat menyusuri koridor panjang dan langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Wajahnya tegang dan pikirannya kacau sejak mendengar berita tentang ayahnya.Tangannya terangkat, mengetuk pintu kamar yang sudah sangat dikenalnya, tapi tidak ada jawaban. Ia tidak menunggu lebih lama lagi dan pintu itu dibukanya begitu saja.Alejandro berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Jasnya masih rapi, tetapi bahunya tampak kaku. Di tangannya ada segelas minuman yang belum tersentuh.“Kak Danny,” suara Camila memecah keheningan.Alejandro tidak langsung berbalik. “Kamu tidak biasanya masuk tanpa izin.”“Aku tidak peduli soal itu sekarang dan lagi pula aku tadi sudah mengetuk pintu," balas Camila cepat. Suaranya bergetar dan menahan sesuatu yang lebih besar. “Aku mau tahu apa yang sebenarnya kakak lakuka
Malam itu, rumah keluarga Duarte tidak lagi terasa seperti tempat yang biasanya terasa hangat dan tenang. Namun, sekarang udara di dalamnya terasa berat dipenuhi oleh sesuatu yang tidak terucapkan.Begitu pintu terbuka, Valeria bahkan belum sempat melepas sepatunya ketika suara ibunya memanggil dari ruang keluarga.“Valeria!"Nada itu membuat langkahnya terhenti seketika dan pelan-pelan, ia mengangkat wajahnya. Kedua orang tuanya sudah berdiri di ruang keluarga. Ayahnya di dekat sofa, tangannya terlipat, dan wajahnya tegang. Sementara ibunya berdiri di samping meja dan matanya merah seperti baru saja menangis.Televisi di belakang mereka masih menyala, menampilkan berita yang sama.“Apa kamu tahu tentang berita bahwa Virgina mati bukan karena bunuh diri?” tanya ayahnya tanpa basa-basi.Suasana langsung terasa menekan dan Valeria menelan ludahnya pelan. Ia tahu momen ini akan datang dan hanya saja ia tidak pernah benar-benar siap untuk menghadapinya.“Ibu, Ayah," suaranya pelan dan hat
Valeria tersenyum tipis, tetapi sorot matanya jauh dari kata tenang.“Kalau ini benar-benar dibuka kembali maka semua yang selama ini dikubur akan keluar ke permukaan," gumamnya.Lucia mengangguk pelan. “Dan bukan cuma tentang Virginia. Semua orang yang terlibat atau pernah berada di sekitarnya.”Valeria mengepalkan jari-jarinya."Sudah waktunya kebenaran terungkap."Beberapa hari kemudian, layar televisi di berbagai tempat dari kafe kecil hingga ruang tunggu bandara menampilkan berita yang sama.“Kasus kematian Virginia Duarte yang sempat dinyatakan sebagai bunuh diri beberapa tahun lalu kini resmi dibuka kembali oleh pihak kepolisian setelah muncul bukti baru yang mengarah pada dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh Emiliano DeLaLuca dan yang lebih mengejutkan, laporan ini diajukan oleh putra dari salah satu nama besar dalam dunia bisnis, Emiliano DeLaLuca."Nama itu bergema di mana-mana dan media sosial ramai membicarakan hal itu. Spekulasi, teori konspirasi, dan opini publik saling
Valeria menutup layar tablet dengan gerakan pelan, tetapi jari-jarinya terlihat menegang.“Aku membangun semuanya sendiri,” katanya lirih lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lucia.Lucia menatapnya dengan prihatin. “Aku tahu, tapi dunia luar tidak peduli pada kebenaran. Mereka hanya peduli pada cerita yang paling menarik.”Valeria menarik napas dalam-dalam dan berdiri tegak.“Aku akan bekerja seperti biasa. Fokus pada koleksi berikutnya. Biarkan karya yang berbicara.”Lucia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Klasik. Diam tapi mematikan.”Valeria meraih map desain di mejanya. “Dan satu lagi kita harus lebih hati-hati. Ini bukan cuma soal gosip lagi.”Lucia langsung mengerti maksudnya. “Kamu pikir ini masih ulah seseorang?”Valeria tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar tablet yang sekarang gelap.“Aku tidak tahu, tapi terlalu banyak hal yang terjadi secara bersamaan."Lucia menyilangkan tangan. “Seseorang sedang mengatur narasi.”Valeria mengangguk. “Dan ak
Namun Valeria tidak panik. Ia menghentikan langkahnya dengan elegan, lalu memutar tubuhnya sedikit menyamping, mengubah pose seolah itu bagian dari koreografi.Dengan satu gerakan halus, ia melepaskan selendang panjang tipis yang sejak awal melingkari lengannya sebagai aksesori.Ia memutarnya ke be
Tatapan Emiliano mengeras.“Ibumu tidak sekuat yang kamu kira. Camila masih muda. Reputasi keluarga ini adalah segalanya. Sekali nama kita tercoreng, semuanya runtuh. Perusahaan, aset, dan masa depanmu.”Alejandro yang sekarang terlihat jauh lebih sadar dibanding hari-hari sebelumnya menatap Emilia
Malam turun perlahan ketika Valeria akhirnya meninggalkan Sanz Management. Ia sudah memastikan setiap gaun diperiksa ulang, bahkan membawa dua potong cadangan kembali ke butiknya untuk berjaga-jaga. Di dalam mobil sebelum menyalakan mesin, ia mengirimkan pesan singkat. Valeria: Aku akan datang ma
“Apa?” bisiknya. “Aku tidak bodoh, Valeria. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu dia mencintaimu." Valeria bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berjalan gelisah ke arah jendela. "Ini tidak masuk akal." "Kakakku telah berubah sejak kecelakaan itu. Dia tidak seperti Daniel yang dulu. Aku tahu mungkin
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.