Se connecterDi antara cinta, kehilangan, dan rahasia masa lalu, mereka terjebak dalam takdir yang tidak seharusnya bersinggungan. Sebuah kecelakaan telah mengubah segalanya, memisahkan dua hati, namun juga mempertemukannya kembali dengan cara yang tidak terbayangkan. Bagi Valeria Duarte, cinta sejati adalah sesuatu yang sudah ia kubur bersama masa lalunya. Bagi Daniel, hidupnya berubah sejak hari di mana ia membuka mata dan menyadari bahwa dunia sudah tidak lagi sama. Di balik gemerlap dunia mode dan ambisi bisnis, tersimpan rahasia kelam keluarga, dan pengkhianatan yang akan mengubah arti dari kata "takdir." Karena kadang yang mati tidak benar-benar pergi dan yang hidup mungkin bukan lagi orang yang kita kenal.
Voir plusMalam turun perlahan ketika Valeria akhirnya meninggalkan Sanz Management. Ia sudah memastikan setiap gaun diperiksa ulang, bahkan membawa dua potong cadangan kembali ke butiknya untuk berjaga-jaga. Di dalam mobil sebelum menyalakan mesin, ia mengirimkan pesan singkat. Valeria: Aku akan datang malam ini. Balasan datang seketika. Camila: Aku tunggu di lobi. Orang tuaku sudah pulang. Jantung Valeria berdebar lebih cepat.Rumah sakit terlihat lebih sunyi dibanding siang hari. Lampu-lampu putih memantulkan kesan dingin dan steril.Begitu pintu otomatis terbuka, Camila sudah berdiri di dekat kursi tunggu. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada secercah harapan di matanya ketika melihat Valeria. “Kamu benar-benar datang,” katanya pelan. Valeria mengangguk. “Bagaimana keadaannya?” “Masih belum sadar penuh. Dokter bilang kondisinya stabil." Mereka berjalan berdampingan menuju lift. “Ayahmu tidak ada di sini, kan?” tanya Valeria hati-hati hanya untuk memastikan. “Sudah pulang. Kamu tida
“Apa?” bisiknya. “Aku tidak bodoh, Valeria. Aku tumbuh bersamanya. Aku tahu dia mencintaimu." Valeria bangkit berdiri dari tepi ranjang dan berjalan gelisah ke arah jendela. "Ini tidak masuk akal." "Kakakku telah berubah sejak kecelakaan itu. Dia tidak seperti Daniel yang dulu. Aku tahu mungkin kamu masih belum memaafkan, karena dia telah membuat calon suamimu meninggal." Di luar, angin malam berhembus pelan. “Aku ingin kamu datang karena mungkin kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya sadar." Valeria memejamkan mata. Ia datang ke rumah sakit tadi hanya untuk memastikan keadaan Daniel bukan untuk terlibat lebih jauh. “Camila," suaranya lebih pelan sekarang. “Aku tidak tahu apakah aku siap untuk semua ini.” “Aku juga tidak,” jawab Camila jujur. “Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa kamu bukan musuh.” Valeria terdiam. “Datanglah besok!" pinta Camila sekali lagi. “Tolong!" Valeria menutup matanya lebih lama dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa tidak ber
Langit sudah berubah jingga ketika Valeria akhirnya tiba di rumah orang tuanya.Ia jarang pulang sebelum larut malam akhir-akhir ini. Butik, pertemuan klien, dan urusan yang tidak pernah benar-benar selesai semuanya menjadi alasan untuk menunda kepulangannya. Namun malam itu, langkahnya terasa berat bukan karena lelah bekerja, melainkan karena pikirannya yang terus berputar.Begitu ia membuka pintu, aroma masakan hangat langsung menyambutnya. Lampu ruang makan menyala terang. Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak putih sederhana. Sup hangat mengepul di tengah meja dan ayam panggang favoritnya tersaji dengan kentang dan sayuran. Ibunya keluar dari dapur sambil membawa sepiring roti. “Kamu sudah pulang? Mama pikir kamu akan lembur lagi." Valeria berkedip dan sedikit kaget. “Iya." Ayahnya muncul dari ruang keluarga dan melepas kacamata bacanya. “Akhirnya anak kami ingat jalan pulang sebelum tengah malam.” Nada bercandanya ringan, tetapi sorot matanya penuh perhatian. Valeri
Emiliano berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang begitu tenang hingga terasa lebih mengancam daripada teriakan. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya datar. Camila langsung berdiri tegak. “Aku yang membawanya.” “Keluar!" ucap Emiliano singkat. Valeria tidak bergerak. “Aku hanya ingin memastikan keadaannya.” “Keadaannya stabil dan ia tidak membutuhkan tekanan tambahan," jawab Emiliano. Daniel mengerang pelan di ranjang. Matanya kembali terpejam dan kesadarannya yang tadi sempat muncul menghilang lagi. “Dia belum sadar sepenuhnya,” kata Valeria dengan suaranya yang tertahan. Emiliano melangkah masuk, lalu dengan sopan menggenggam lengan Valeria. “Silakan! Kita bicara di luar," katanya dingin. Camila ingin memprotes, tetapi tatapan ayahnya menghentikannya. Emiliano menuntun Valeria keluar ruangan. Pintu tertutup pelan di belakang mereka dan begitu berada di lorong yang lebih sepi, Emiliano melepaskan tangannya dari lengan Valeria. Namun jarak di antara mereka tetap tera






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.