LOGINPintu ruang kerja Julian menutup dengan bunyi pelan setelah Renata keluar. Suara itu tidak keras, bahkan nyaris sopan. Namun bagi Julian, ada sesuatu yang terasa tidak pas.
Ia berdiri cukup lama tanpa bergerak, menatap ke arah pintu seolah berharap wanita itu akan kembali, mengatakan sesuatu yang biasa ia dengar bertahun-tahun lalu. Permintaan maaf, raut keraguan, atau setidaknya ekspresi goyah yang selalu terlihat di wajahnya.Namun apa yang harapkan tidak terjadi.Julian menghela napas perlahan, lalu duduk kembali. Jarinya mengetuk permukaan meja, kali ini tidak lagi ritmis. Ada jeda yang tidak teratur, seperti pikirannya yang mulai menyadari satu hal sederhana namun mengganggu.Renata tidak datang untuk tunduk.“Menarik,” gumamnya lirih.Ia menekan tombol interkom. “Panggil kepala tim PR dan legal ke ruang rapat kecil. Sekarang.”Tak lama kemudian, ruangan kembali hidup. Beberapa staf masuk dengan wajah waspada. MereRuang rapat Éclat Mode tidak pernah dipakai untuk keputusan ringan. Sama seperti saat ini. Saat ini, layar besar menampilkan hasil pemotretan yang baru saja mereka kerjakan. Melihatnya satu per satu. Foto Juwita muncul lebih dulu. Tampilannya terlihat tajam, dramatis, penuh kilau. Pose-pose yang familiar terlihat presisi, dan aman untuk pasar. Tidak ada yang salah dengan itu dan semuanya sesuai rencana. Lalu foto Renata mulai tampil, dan tiba – tiba keheningan jatuh di tempat itu. Bukan karena kekurangan, melainkan karena kendali penuh yang dimiliki oleh Renata. Renata tidak hanya berdiri di depan kamera, tapi ia membaca busana. Cara bahunya sejajar dengan jatuhnya kain, bagaimana ia memberi jeda sepersekian detik sebelum mengalihkan pandangan, tarikan napas yang membuat lipatan gaun hidup tanpa perlu diperintah. Semua terasa sadar dan terukur dengan sangat baik. Editor utama mendekat seraya berujar “Ulangi
Damian membaca berita dalam keheningan.Ia berdiri di ruang kerja pribadinya yang menghadap ke taman belakang kediaman. Di luar jendela besar, lautan bunga terbentang rapi. Lapisan warna yang berkilau lembut di bawah cahaya pagi. Jalan setapak dari batu alam membelah hamparan hijau, pepohonan tinggi memagari kediaman itu dari dunia luar. Tenang. Eksklusif. Dan tak tersentuh.Tempat ini tidak diciptakan untuk dipamerkan. Tablet di tangan Damian menampilkan judul-judul singkat yang provokatif, komentar publik yang mulai berlapis, dan satu frasa yang berulang : dual presence. Ia menutup layar, meletakkannya di meja kayu gelap, lalu kembali menatap taman. Mereka mencoba membandingkan Renata. Itu kesalahan pertama.Langkah kaki terdengar pelan. Pintu ruang kerja terbuka.Renata masuk. Ia mengenakan pakaian sederhana, potongan bersih, warna lembut yang menenangkan mata. Rambutnya tergerai rapi tanpa usaha berlebihan. Wajahnya jernih,
Ponsel Juwita bergetar saat ia baru saja duduk di sofa ruang kerjanya. Ia melirik layar sekilas. Nama yang tertera membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.Pemilik majalah Éclat Mode.Sebuah majalah kelas atas yang hanya bekerja dengan nama-nama yang sedang berada di puncak atau sengaja diposisikan untuk menjadi pusat perhatian.“Halo?” suara Juwita terdengar lembut, profesional, dan terlatih.“Juwita,” suara di seberang terdengar antusias. “Kami ingin mengajakmu bekerja sama untuk edisi khusus bulan depan. Konsepnya dual presence. Dua figur perempuan dengan karakter kuat. Kami ingin kau menjadi wajah utamanya.”Juwita menyilangkan kaki dengan anggun. “Aku tersanjung. Tapi biasanya Éclat sangat selektif. Siapa figur satunya?”Ada jeda sepersekian detik sebelum nama itu disebut.“Renata Aditama.”Senyum di wajah Juwita tidak berubah. Namun sorot matanya menggelap setitik.“Oh?” ujarnya ringan. “Mena
Pintu ruang kerja Julian menutup dengan bunyi pelan setelah Renata keluar. Suara itu tidak keras, bahkan nyaris sopan. Namun bagi Julian, ada sesuatu yang terasa tidak pas.Ia berdiri cukup lama tanpa bergerak, menatap ke arah pintu seolah berharap wanita itu akan kembali, mengatakan sesuatu yang biasa ia dengar bertahun-tahun lalu. Permintaan maaf, raut keraguan, atau setidaknya ekspresi goyah yang selalu terlihat di wajahnya. Namun apa yang harapkan tidak terjadi.Julian menghela napas perlahan, lalu duduk kembali. Jarinya mengetuk permukaan meja, kali ini tidak lagi ritmis. Ada jeda yang tidak teratur, seperti pikirannya yang mulai menyadari satu hal sederhana namun mengganggu.Renata tidak datang untuk tunduk.“Menarik,” gumamnya lirih.Ia menekan tombol interkom. “Panggil kepala tim PR dan legal ke ruang rapat kecil. Sekarang.”Tak lama kemudian, ruangan kembali hidup. Beberapa staf masuk dengan wajah waspada. Mere
Keesokan paginya, Renata terbangun dan mendapati sosok suaminya sudah tidak ada lagi di tempat tidur. Ia pun bangun dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah aktivitas mereka yang panas semalam. Saat sampai di lantai satu, ia melihat sosok suaminya yang seperti biasa, terlihat tampan dengan aura yang luar biasa. “Pagi Nyonya,” suara Bibi Helga segera menyambut kedatangannya. “Pagi Bibi Helga,” jawabnya seraya duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Bibi Helga untuknya.“Silahkan Nyonya, ini bagus untuk kesehatan Anda.” Bibi Helga memberikan semangkuk bubur sarang walet ke hadapan Renata. Renata menyambutnya tanpa banyak bicara, dan mulai memasukkannya ke dalam mulut, sesendok demi sesendok. “Apakah jadwalmu hari ini?” tanya Damian seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sampai Renata menjawab, suara ponsel segera terdengar. Nama Julian tertera di layar ponselnya. Renata sempat melirik ke arah suaminya sesaat sebelum akhirnya me
“Renata, kamu benar – benar luar biasa. Aku sangat bangga padamu. Sungguh!” Entah sudah berapa kali Joan mengatakan kalimat pujian pada Renata. Sejak ia selesai turun dari catwalk. Dari dia yang baru saja selesai melewati pertanyaan – pertanyaan menusuk dari para wartawan dengan tenang dan elegan. Juga setelah mereka berada di dalam mobil seperti sekarang. “Joan, kamu sudah mengatakannya berkali – kali padaku.” Dengan tanpa daya Renata membalas. Namun Joan tidak mempedulikan reaksi sahabatnya yang sudah mulai jengah. Ia masih saja terus memberikan pujian. Terutama saat Renata yang berhasil melemparkan bola panas pada Juwita tanpa sadar. “Huh! Saat ini Juwita pasti merasa kesal. Sebelum kembali, aku sempat melihat reaksi pengguna internet. Saat ini, orang – orang mulai berubah haluan. Lebih banyak menyerang pihaknya juga. Huh! Aku sangat penasaran, bagaimana raut wajahnya sekarang ini.” Dengus Joan dengan nada kesal dan jijik. “Tampaknya, dia sudah mulai bergerak. Dan sepertinya,







