LOGINAku, Amara, gadis 20 tahun yang selalu berusaha hidup lurus-lurus saja, tidak pernah menyangka hidupku berubah hanya karena satu taruhan konyol dengan temanku. Awalnya semua hanya iseng tantangan bodoh untuk membuat Pak Rasel, dosen paling killer di kampus, setidaknya menoleh ke arahku. Siapa sangka? Taruhan itu justru menyeretku pada perasaan yang tidak pernah kuterima sebelumnya. Pak Rasel dikenal tegas, dingin, dan tak pernah menunjukkan sedikit pun sisi baiknya di depan mahasiswa. Tatapannya tajam seperti ingin menembus siapa pun yang berani membuat kesalahan. Dia bukan tipe laki-laki yang seharusnya kusukai. Bahkan dia tidak akan pernah membayangkan dirinya dijadikan bahan taruhan oleh mahasiswi nakal sepertiku. Tapi semakin aku mencoba memenangkan taruhan itu, semakin aku gagal menjaga jarak. Ada sesuatu dalam dirinya entah dari caranya berbicara, atau cara dia mengarahkan pandangannya yang perlahan membuatku jatuh. Dan tanpa kusadari… aku benar-benar menyukainya. Bukan lagi karena taruhan, tapi karena perasaan yang tumbuh diam-diam di antara tugas, tatapan, dan jarak yang seharusnya tak boleh kulanggar.
View MoreSejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang baik. Tapi hidup tidak pernah memberi ruang yang cukup untuk itu. Namaku Amara, mahasiswi yang sering dibilang “sedikit nakal”meski menurutku, itu hanya cara lain untuk bertahan. Orang-orang di kampus mengenalku sebagai gadis cerdas dan lumayan menarik. Tapi mereka tidak pernah tahu apa yang membentukku sampai menjadi seperti sekarang.
Aku tumbuh di keluarga yang… berantakan, kalau boleh jujur. Ibuku, Bu Rani, menikah lagi dengan cinta pertamanya, Pak Bagas. Pernikahan itu sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, tepat ketika aku masih kecil. Ayah kandungku pergi entah ke mana, meninggalkan celah besar dalam hidupku yang tidak pernah benar-benar terisi. Di rumah, aku tidak pernah benar-benar merasa dicintai secara utuh. Pak Bagas memiliki seorang putri seumuranku, Bianca. Dan sejak awal, aku dan Bianca tidak pernah cocok. Bagiku, Bianca adalah simbol dari semua kasih sayang yang tidak pernah bisa kudapatkan. Dia selalu tampak lebih dekat dengan ibuku, seolah-olah dialah putri kandung dan aku hanya tambahan yang tidak diinginkan. Pagi itu, seperti biasa, suasana rumah terasa menyesakkan. Aroma roti panggang memenuhi ruang makan, tapi tidak cukup untuk membuatku betah berlama-lama di sana. “Mara, ayo sarapan dulu!” suara ibuku memanggil dari meja makan. Aku menoleh sekilas. Hanya sekilas. Lalu kutarik tas dan bersiap pergi ke kampus tanpa berkata apa-apa. Aku tahu sikapku kasar, tapi setiap kali melihat mereka duduk bertiga seperti keluarga sempurna, ada sesuatu di dadaku yang terasa mengganjal. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Ketika aku melangkah keluar, aku masih sempat mendengar suara Bianca yang selalu berhasil membuat darahku naik. “Lihat, Ma. Anak itu nggak punya sopan santun banget. Diajak bicara malah melengos.” Aku menggertakkan rahang, tapi tetap berjalan. Hal seperti itu sudah terlalu sering kudengar. Bianca tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatku terlihat buruk di hadapan orang lain. Dari balik pintu, aku bisa mendengar ibuku menghela napas panjang. Aku tahu dia tidak sepenuhnya membela Bianca, tapi dia juga tidak benar-benar membelaku. Dan entah kenapa, itu selalu membuatku lebih sakit. “Sudah, sudah. Kita lanjutkan makan,” suara Pak Bagas terdengar tenang namun tegas. “Nanti kalau Amara pulang, tolong nasihati, Ma. Biar dia tidak seperti itu.” “Iya, Pa…” suara ibuku terdengar kecil dan ragu. Aku berdiri di teras, menutup mata sejenak. Kadang aku bertanya-tanya, sejak kapan aku menjadi masalah di rumah ini? Sejak kapan kehadiranku dianggap beban? Padahal aku hanya ingin dicintai tanpa syarat seperti dulu… sebelum semuanya berubah. Aku menyalakan motor dan menarik napas panjang. Setiap pagi selalu seperti ini penuh ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun di balik semua itu, kampus adalah pelarianku. Di sana aku bisa menjadi apa saja: cerdas, ceria, bahkan sedikit nakal. Tidak ada yang mengingatkanku tentang keluarga, tidak ada yang menghakimiku. Di perjalanan menuju kampus, angin pagi menampar lembut wajahku. Untuk sesaat, aku hampir bisa melupakan ucapan Bianca. Tapi bayangan ibuku yang hanya diam… itu yang paling sulit kuhapus. Aku sering berpikir: kalau saja ayah tidak pergi, apa hidupku akan berbeda? Apa aku masih akan bangun setiap pagi dengan rasa sesak seperti ini? Entahlah. Yang jelas, aku tidak ingin terus hidup seperti ini. Ada bagian diriku yang ingin bebas, ingin bahagia, ingin merasakan kasih sayang yang tidak pernah berhasil kutemukan di rumah sendiri. Mungkin itulah alasan kenapa aku seperti ini keras, bandel, dan kadang suka menantang batas. Mungkin karena di luar sana, aku sedang mencari hal yang tidak pernah aku dapatkan di rumah: pengakuan, perhatian… atau cinta. Hari itu, ketika motor berhenti di parkiran kampus, aku menarik napas panjang. Aku akan menjalani hari seperti biasa: menjadi Amara versi yang orang-orang lihat. Versi yang kuat, berani, dan tidak peduli. Padahal, jauh di dalam hati… aku masih gadis kecil yang hanya ingin dipeluk ibunya dan diberi tahu bahwa dia cukup.**** Suara hujan di atap mobil terdengar seperti ketukan yang sabar. Tidak tergesa, tidak juga berhenti. Hanya jatuh, berulang, konsisten. Aku memandangi jemariku sendiri yang masih sedikit gemetar. “Pak…” suaraku serak, “Bapak pernah merasa… tidak pernah cukup di rumah sendiri?” Ia menoleh perlahan. Tidak langsung menjawab. “Kenapa kamu tanya begitu?” Aku tertawa kecil, hambar. “Karena dari kecil, aku selalu jadi yang ‘harus bisa’. Harus pintar. Harus dewasa. Harus ngerti keadaan. Bianca boleh manja, boleh salah. Aku nggak.” Hujan memantul lebih keras di kaca depan. “Papa selalu bilang, ‘Kamu kan kakak.’ Seolah itu jabatan seumur hidup.” Aku menelan ludah. “Kalau aku capek, itu dianggap drama. Kalau aku sedih, itu dianggap kurang bersyukur.” Pak Rassel mematikan mesin mobil. Suara hujan kini jadi satu-satunya latar. “Aku belajar jadi kuat bukan karena mau,” lanjutku pelan. “Tapi karena nggak ada pilihan.” Ia menghela napas dalam. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan mal
**** Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu taman dinyalakan lebih awal. Meja panjang di halaman belakang sudah tertata dengan taplak putih dan lilin-lilin kecil. Ternyata “cuma bikin pasta” versi Bianca berarti mengundang setengah lingkar pertemanannya dan beberapa rekan bisnis Pak Bagas. Aku berdiri di depan cermin kamar lama, merapikan blus sederhana berwarna krem. Tidak terlalu mencolok. Tidak juga terlalu santai. “Turun, Kak! Tamu sudah datang!” suara Bianca terdengar dari bawah, penuh energi. Aku menarik napas. Datang saja sebagai Amara. Kalimat Mama tadi siang masih terngiang. Begitu turun, aroma saus tomat dan bawang putih menyambut. Tawa-tawa ringan terdengar di berbagai sudut. Bianca melambai begitu melihatku. Gaun merahnya mencolok, rambutnya ditata rapi. “Finally! Ini dia kakakku yang super sibuk itu!” katanya agak terlalu keras. Beberapa kepala menoleh. Aku tersenyum tipis. “Hai.” “Teman-teman, ini Amara. mahasiswa hukum. Eh, atau mantan
*** Pagi setelah pesan terakhir itu, aku bangun tanpa rasa menunggu. Biasanya, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek ponsel. Kali ini tidak. Aku justru duduk bersila di kasur, menatap cahaya matahari yang masuk dari sela tirai. “Aku nggak lagi berdiri di depan pintu,” gumamku pelan. Ponselku berbunyi. Dania. “Sudah bales belum?” suaranya langsung menyeruak begitu kuangkat. “Kamu ini, kayak intel,” kataku sambil tertawa kecil. “Jangan alihin topik. Bales nggak?” “Sudah.” “Hah?! Terus? Terus??” Aku menghela napas santai. “Normal. Sopan. Tidak ada drama. Tidak ada kalimat yang bikin deg-degan berlebihan.” Dania terdiam sebentar. “Dan kamu?” “Aku juga normal.” “Serius?” “Iya. Degupnya nggak lari maraton lagi.” Terdengar suara Hera di kejauhan, “Dia pasti bohong!” Aku tersenyum. “Aku nggak bohong. Rasanya… stabil.” “Stabil itu bahaya kalau lagi jatuh cinta,” celetuk Dania. “Siapa bilang ini soal jatuh cinta?” “Loh?” “Aku lagi belajar berdiri dulu,” jawabku pelan.
**** Subuh datang dengan warna keemasan yang pelan-pelan merayap di balik tirai tipis penginapan. “Mara… bangun,” bisik Dania sambil mengguncang bahuku pelan. Aku mengerjap. Udara masih dingin. Suara ombak terdengar lebih lembut dibanding semalam. “Jam berapa?” gumamku serak. “Setengah lima. Sunrise nggak nunggu kamu siap move on,” sahut Hera dari kamar mandi. Aku tertawa kecil, lalu bangkit. Aneh. Tidak ada rasa berat di dada. Tidak ada refleks mencari ponsel di samping bantal. Karena memang tidak ada. Ponselku tetap mati di dalam tas. Kami berjalan menuju bukit kecil di sisi pantai. Langit perlahan berubah dari ungu gelap menjadi jingga tipis. Nafasku berembun saat kami mendaki. “Capek?” tanya Dania. “Enggak,” jawabku jujur. “Cuma… mikir.” Hera langsung menyela, “Hei! Dilarang mikir berat sebelum matahari muncul.” “Aku cuma sadar satu hal,” kataku pelan. “Selama ini aku jarang banget duduk diam tanpa merasa bersalah.” Dania menoleh. “Bersalah karena apa?” “Karena ngga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews