LOGINAku, Amara, gadis 20 tahun yang selalu berusaha hidup lurus-lurus saja, tidak pernah menyangka hidupku berubah hanya karena satu taruhan konyol dengan temanku. Awalnya semua hanya iseng tantangan bodoh untuk membuat Pak Rasel, dosen paling killer di kampus, setidaknya menoleh ke arahku. Siapa sangka? Taruhan itu justru menyeretku pada perasaan yang tidak pernah kuterima sebelumnya. Pak Rasel dikenal tegas, dingin, dan tak pernah menunjukkan sedikit pun sisi baiknya di depan mahasiswa. Tatapannya tajam seperti ingin menembus siapa pun yang berani membuat kesalahan. Dia bukan tipe laki-laki yang seharusnya kusukai. Bahkan dia tidak akan pernah membayangkan dirinya dijadikan bahan taruhan oleh mahasiswi nakal sepertiku. Tapi semakin aku mencoba memenangkan taruhan itu, semakin aku gagal menjaga jarak. Ada sesuatu dalam dirinya entah dari caranya berbicara, atau cara dia mengarahkan pandangannya yang perlahan membuatku jatuh. Dan tanpa kusadari… aku benar-benar menyukainya. Bukan lagi karena taruhan, tapi karena perasaan yang tumbuh diam-diam di antara tugas, tatapan, dan jarak yang seharusnya tak boleh kulanggar.
View MorePagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah
Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b
**** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
**** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu
**** Pagi itu langit mendung, tapi tidak hujan. Aku berdiri di depan cermin kos, mengikat rambut sedikit lebih rapi dari biasanya. “Kenapa gue deg-degan?” gumamku sendiri. Aku menghela napas, meraih tas, lalu keluar kamar. Di lorong kos, ibu kos menyapaku. “Pagi, Mar. Tumben rapi.” Aku terseny
**** Aku baru saja selesai menata tabung reaksi ketika suara langkah kaki mendekat. Bukan Hera atau Dania langkahnya lebih tenang, terukur. “Amara.” Aku menoleh. Pak Rassel berdiri di belakang meja praktikum, kacamata tipisnya bertengger rapi, tangan memegang map cokelat. “Iya, Pak?” jawabku ce
**** Aku keluar dari basecamp ketika jam di ponsel menunjukkan pukul 23.47. Jalanan sudah lengang, lampu-lampu warung satu per satu padam. Aku mengenakan helm, menyalakan motor, dan menarik napas panjang sebelum melaju. “Cuma lima belas menit ke kos,” gumamku. “Aman.” Angin malam menerpa wajah
**** Basecamp Bulan Bintang semakin larut. Jam dinding di atas pintu berdetak pelan, nyaris tak terdengar, tapi justru itu yang membuat sunyi terasa lebih berat. Aku masih di posisi yang sama, punggung menempel dinding, kepala sedikit mendongak. Kata-kataku sendiri barusan menggantung di udara.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews