MasukUang adalah tuhan yang paling jujur di Verdansk.Orang bisa berkhianat karena cinta, orang bisa berbohong karena takut, tapi tidak ada yang bisa menolak daya tarik lembaran seratus dolar yang ditumpuk di depan mata.Hanya butuh waktu kurang dari dua jam sejak Paman Julian menyiarkan pesan sayembaraku ke jaringan komunikasi bawah tanah. Efeknya bukan sekadar riak, melainkan tsunami darah yang menyapu seluruh barisan pertahanan Ruben.Matahari baru saja terbit, menembus kabut pagi yang dingin di area pergudangan Distrik Utara.Aku duduk bersila di atas kap mesin sedan mewah hitamku yang diparkir melintang di tengah jalan. Di belakangku, puluhan pasukan Ghost Unit bersiaga dengan senapan serbu terangkat, memblokir seluruh akses jalan raya.Di depanku, sebuah meja lipat baja didirikan. Paman Julian berdiri di sana, membuka koper-koper aluminium berisi jutaan dolar uang tunai yang baru saja diantarkan oleh tim logistik Livia dari brankas pribadiku.Udara pagi ini berbau aspal basah, embun,
Darah yang mengalir di nadiku bukanlah darah pahlawan. Itu darah kelainan. Fetish kekuasaan, rasa sakit, dan dominasi ini adalah warisan genetik keluarga Morales.Dan aku baru saja menyadari, perang melawan Ruben di luar sana adalah permainan anak-anak dibandingkan dengan monster-monster yang bersembunyi di dalam keluargaku sendiri.Aku menatap pantulan wajahku di cermin besar kamar mandi. Mataku merah karena kurang tidur, tapi ada ketajaman baru di sana. Rasa takut dan ragu yang selama ini membayangiku, rasa bahwa aku tidak akan pernah bisa melampaui kebesaran Lucas Morales, kini menguap tak berbekas.Ayahku adalah Raja, tapi dia menyerahkan mahkotanya di atas ranjang.Jika dia bisa berlutut, maka aku bisa berdiri lebih tinggi darinya.Aku merapikan kerah kemeja hitamku, mengambil pistol Glock dari laci, dan menyelipkannya ke sarung bahu. Aku melangkah keluar kamar tanpa membangunkan Amanda dan Livia. Mereka butuh istirahat untuk perang yang akan kupimpin hari ini.Aku berjalan menyu
Pagi itu datang lebih cepat dari yang kuharapkan.Cahaya matahari pucat menembus tirai kamar utamaku. Aku terbangun dengan kepala yang sedikit pening. Di sisi kiri dan kananku, Amanda dan Livia masih tertidur pulas. Tubuh mereka saling bertumpuk di bawah selimut sutra yang berantakan.Mengingat pergumulan gila semalam, dan bagaimana Livia menikmati dominasi merendahkan dari Amanda, membuatku sadar bahwa kewarasan di rumah ini sudah lama mati.Ponselku di nakas bergetar hebat. Pesan enkripsi dari Paman Julian.‘Tuan Muda. Darurat. Ruben membalas. Dua kasino legal kita di Distrik Utara dibom subuh tadi. Kerugian finansial masif. Saya butuh otorisasi Tuan Besar Lucas untuk mencairkan dana darurat.’Sialan. Ruben tidak membuang waktu.Aku segera bangkit, mengenakan celana panjang dan kemeja hitam secara asal, lalu bergegas keluar kamar. Ayah harus tahu soal ini sekarang juga.Aku berjalan cepat menyusuri lorong marmer menuju Sayap Barat mansion. Area ini adalah wilayah terlarang. Kamar ut
Udara di kamar utama Mansion Morales terasa semakin menipis. Pendingin ruangan yang menyala senyap tidak mampu meredam hawa panas yang menguar dari tubuh kami bertiga.Aku masih terbaring di atas seprai sutra hitam, ditindih oleh Amanda. Ciumannya brutal, menuntut, dan penuh dengan kepemilikan. Dia menciumku bukan seperti sepasang kekasih yang saling merindu, melainkan seperti predator yang sedang menandai buruannya agar hewan lain tidak berani mendekat.Tangan Amanda meremas dadaku, kuku-kuku panjangnya yang bercat merah sesekali menggores kulitku. Napasku memburu, terseret ke dalam pusaran gairah gelap yang selalu berhasil dia bangkitkan. Obat di dalam darahnya membuat setiap gerakannya liar dan tak terprediksi.Di sudut mataku, aku bisa melihat Livia.Gadis itu meringkuk di tepi ranjang. Lututnya ditarik ke dada, matanya basah oleh air mata yang tertahan. Dia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap pergumulan panas di depannya. Kepintarannya di gudang logistik tadi seolah menguap,
Setelah krisis di ruang medis teratasi, aku membawa Livia kembali ke kamar utama kami di lantai dua. Gadis itu kelelahan secara mental dan fisik. Telapak kakinya lecet dan sedikit berdarah karena nekat berlari tanpa sepatu di atas lantai marmer dan beton demi mengambil cairan kimia dari gudang teknisi tadi.Aku duduk di tepi ranjang berseprai sutra hitam, meletakkan kaki Livia di pangkuanku, dan mengoleskan salep antiseptik dengan hati-hati menggunakan kapas.Livia mendesis pelan menahan perih, tapi ada senyum tipis di bibirnya yang pucat."Rey..." bisik Livia, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang dipenuhi rasa tak percaya. "Tuan Besar Lucas... ayahmu... dia benar-benar memujiku tadi."Aku mengangguk, membalut telapak kakinya dengan perban putih. "Dia bilang pikiranmu cepat. Percayalah, Liv, Ayahku nggak pernah memuji orang hanya untuk basa-basi. Dia mengakui kemampuanmu."Livia tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat lega. "Aku merasa... aku bukan lagi sek
Herman telah diseret keluar oleh Julian. Suara tangisannya memudar di ujung lorong, meninggalkan bau pesing samar di karpet ruang kerjaku.Namun, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan psikologis ini.Radio komunikasi di sabukku berbunyi nyaring. Suara Kepala Tim Medis Veleno, Dokter Hans, terdengar panik memecah keheningan."Tuan Muda Rey! Tim Bravo sudah dievakuasi ke Sayap Medis Utama. Kondisi mereka kritis! Tiga orang sudah henti jantung. Kami tidak tahu penawar pastinya, racun ini campuran neurotoksin yang sangat agresif!"Aku mengumpat kasar, memukul meja mahoni hingga cangkir kopi Herman bergetar."Sialan!" geramku.Aku bisa menghabisi seratus anak buah Ruben dengan tangan kosong. Aku bisa menembak kepala musuh dari jarak dua ratus meter. Tapi menghadapi racun yang menggerogoti darah anak buahku dari dalam? Aku tidak berdaya. Otot dan peluru tidak berguna di ruang gawat darurat."Ayo, Liv!" Aku menyambar tangan Livia.Kami berlari menyusuri lorong mansion menuju Sayap Medis







![MY CEO [Hate And Love]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)