Share

Kompensasi

Author: Falisha Ashia
last update Huling Na-update: 2025-10-07 23:06:28

Dari ekspresi wajahnya, aku bisa tahu—dia benar-benar serius. Tatapan matanya seperti bara, membakar udara di antara kami. Setiap urat di lehernya menegang, menandakan amarah yang tidak main-main.

Namun sebelum aku sempat membuka suara, Bu Livia sudah maju. “Pak, tolong tenang dulu,” katanya lembut, tapi tegas. “Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Saya yakin ini hanya kesalahpahaman.”

Pria itu mendengus keras. “Kesalahpahaman? Saya sudah dipukul begini, masih dibilang salah paham? Kau pikir saya tidak punya harga diri?”

Nada bicaranya meninggi. Orang-orang di sekeliling mulai berkerumun lebih dekat. Beberapa mengangkat ponsel, merekam dari jauh.

Aku menggenggam kedua tanganku, menahan diri agar tidak terpancing. Namun pria itu semakin menjadi-jadi. Dia menunjuk wajahku dengan kasar.

“Kamu! Harusnya kamu mendekam di penjara! Aku ingin kamu rasakan dinginnya lantai penjara selama lebih dari lima tahun!”

Suara itu bergema di telingaku. Lima tahun? Untuk satu pukulan yang bahkan buka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Kejeniusan Lydia

    Setelah urusan dengan Livia selesai di Grand Aurelia, aku tidak langsung pulang. Aku meminta Jonathan mengantarku ke The Royal Crown, hotel bintang tujuh yang kini menjadi simbol kekuasaan keluarga Morales di kota ini.Aku butuh tempat untuk membersihkan diri. Bukan sekadar mandi, tapi membuang sisa-sisa "Rey si Pelayan Hotel" yang melekat di tubuhku seharian ini.Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Jonathan di atas kasur, sebuah setelan jas hitam custom-made dari perancang ternama dunia, standar pakaian keluarga Morales.Aku mengenakan kemeja putih yang pas di badan, lalu membalutnya dengan jas hitam yang memancarkan aura dominasi. Tidak ada dasi. Dua kancing teratas kubiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun mematikan.Terakhir, aku merogoh saku celana dan memindahkan sebuah benda kecil ke saku dalam jasku. Sebuah flashdisk hitam."Malam ini..." gumamku pada bayangan di cermin, "...aku tidak akan datang sebagai menantu yang berbakti. Aku dat

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Hadiah Untuk Livia

    Urusan di markas Veleno sudah selesai. Pixel sedang memproses data-data busuk Lydia ke dalam sebuah flashdisk enkripsi yang akan diantarkan sore nanti. Aku masih punya waktu sekitar 7-8 jam sebelum "kencan neraka" jam sepuluh malam nanti."Jonathan. Ikut aku ke Grand Aurelia," ucapku. “Aku harus membereskan satu urusan lagi. Livia.""Ah, Nona Manajer itu," Jonathan mengangguk patuh. "Apakah kita perlu... mengamankannya?""Nggak. Kita akan memberinya hadiah," aku menatap keluar jendela. "Dia sudah berkorban banyak, termasuk harga dirinya semalam. Cara terbaik untuk membungkam seseorang sekaligus membuatnya setia adalah dengan memberinya mahkota."Aku dan Jonathan masuk ke mobil kursi penumpang.“Ke Grand Aurelia, Gun,” titah Jonathan.“Siap!” ucap Guntur.Sekitar 20 menit kemudian, mobil mewah Jonathan berhenti di lobi utama Hotel Grand Aurelia.Begitu Jonathan turun, suasana lobi langsung berubah tegang. Para staf, doorman, hingga resepsionis langsung membungkuk hormat sembilan puluh

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Kebusukan Lydia

    Markas operasional Alfonso tidak terlihat seperti sarang mafia pada umumnya. Dari luar, tempat ini hanyalah sebuah gedung perkantoran biasa di kawasan bisnis Lunaris dengan papan nama "V-Logistics". Sebuah perusahaan ekspedisi legal yang menjadi front pencucian uang dan pusat intelijen organisasi Veleno di Lunaris.Mobil Guntur meluncur masuk ke area parkir bawah tanah khusus eksekutif.Begitu pintu mobil terbuka, sesosok pria muda dengan setelan jas slim-fit mahal dan kacamata berbingkai emas sudah berdiri menunggu. Jonathan."Selamat malam, Tuan Muda," sapa Jonathan sambil mengangguk sopan, gayanya necis dan bicaranya terukur. "Alfonso sedang di luar negeri mengurus legalitas kargo. Tim IT sudah saya siapkan di Ruang Kaca.""Terima kasih, Jo," jawabku singkat sambil berjalan cepat, mengabaikan sapaan hormat dari beberapa staf di koridor. "Kita butuh hasil cepat.""Tentu. Kami mengerti urgensinya," Jonathan berjalan di sampingku, langkahnya tenang namun cepat. "Secara hukum, ancaman

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Mengikuti Permainan Lydia

    Durasi video itu tidak panjang, mungkin hanya sepuluh detik, tapi isinya cukup untuk menghancurkan hidupku, reputasi Livia, dan mungkin kewarasan Amanda untuk selamanya. Di layar ponsel Lydia yang jernih, adegan dosa itu terpampang nyata. Tidak ada celah untuk menyangkal. Itu aku. Itu istriku. Dan itu general manajer hotelku."Bagaimana, Rey?" tanyanya dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. "Masih mau mengancam Mama? Atau kamu sudah sadar siapa yang memegang leher siapa sekarang?"Aku menunduk, menatap lantai marmer yang dingin. Otakku berputar cepat, mencari jalan keluar.Jika aku merebut ponsel itu dan menghancurkannya, itu tindakan bodoh. Wanita licik seperti Lydia pasti sudah mencadangkan file itu ke penyimpanan awan (cloud) atau mengirimnya ke perangkat lain. Kekerasan fisik juga bukan opsi; jika dia terluka, Surya akan curiga.Satu-satunya cara adalah bermain sesuai permainannya. Mengulur waktu.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat aku mengangkat w

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Lydia Yang Berbahaya

    Suara mesin mobil Papa Surya terdengar menjauh, lalu hening.Begitu pintu depan tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar, senyum sopan di wajahku lenyap seketika. Aku memutar tubuh, menghadap wanita paruh baya yang masih berdiri santai di ruang tamu sambil merapikan vas bunga."Ma," panggilku dingin. "Di mana sepatu high heels itu?"Lydia tidak menoleh. Dia mencabut setangkai mawar yang agak layu dari vas, mematahkannya, lalu membuangnya ke tempat sampah."Sepatu apa, Rey?" tanyanya dengan nada bosan yang dibuat-buat. "Mama nggak mengurus barang rongsokan.""Jangan bermain-main denganku!" bentakku, habis kesabaran. Aku melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami. "Aku tahu Mama yang mengambilnya semalam. Kembalikan sekarang."Lydia akhirnya menoleh. Wajahnya datar, dingin, dan angkuh. Dia menatapku seperti menatap serangga yang berisik."Kalau iya, memangnya kenapa?" tantangnya tenang. "Ini rumahku. Aku berhak membersihkan sampah yang ditinggalkan tamu tak diundang."Ta

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bangun Dalam Kondisi Segar

    Aku kembali ke kamar karena ingat dengan kondisi Amanda.Sesampainya di kamar, aku langsung mengambil botol vial biru dari nakas.Amanda tidur telentang, napasnya mulai teratur meski keringat dingin membasahi dahinya."Maafkan aku, Amanda," bisikku lirih. "Ini demi kebaikanmu."Aku menusukkan jarum halus itu ke pembuluh darah di lehernya, lalu menekan pistonnya perlahan. Cairan biru safir itu masuk ke dalam tubuh istriku, membawa penawar yang kubeli dengan harga diriku sendiri.Tubuh Amanda bereaksi seketika. Dia mengejang hebat selama tiga detik, matanya terbuka sedikit memperlihatkan bagian putihnya, lalu dia menghembuskan napas panjang seolah beban berat baru saja diangkat dari dadanya. Detik berikutnya, otot-ototnya rileks. Dia kembali tertidur, kali ini jauh lebih pulas dan damai.Aku jatuh terduduk di sisi ranjang. Tenagaku habis. Pikiranku kacau. Aku membiarkan diriku terlelap dalam posisi duduk, berjaga di samping wanita yang nyawanya sedang dipertaruhkan.Sinar matahari yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status