LOGINAku membuka pintu kamar tidur sepelan mungkin. Keheningan malam menyelimuti ruangan.Aku melangkah masuk.Pemandangan di atas ranjang membuat dadaku terasa sesak. Amanda tertidur sangat pulas. Dadanya naik turun dengan ritme lambat, efek dari obat tidur dosis tinggi yang dicekoki ibunya sendiri.Mataku menyapu ruangan dan berhenti pada gelas susu yang kosong di atas nakas. Ada sisa endapan putih di dasarnya. Jejak kejahatan Lydia.Aku segera menyambar gelas itu dan membawanya ke kamar mandi.Krrrrr...Air keran mengucur deras. Aku menggosok bagian dalam gelas itu dengan sabun berkali-kali, memastikan tidak ada residu obat yang tertinggal. Bau susu bercampur bahan kimia harus hilang. Aku tidak mau Amanda bangun besok pagi dan menyadari rasa aneh di bekas minumannya.Biar rahasia busuk ini terkubur bersama malam ini. Biar Amanda tetap melihat ibunya sebagai ibu, bukan sebagai monster.Setelah gelas itu bersih dan kering, aku meletakkannya kembali ke rak di pantry kecil.Aku menatap cerm
Napas Lydia memburu, dadanya naik turun dengan cepat di balik sisa kain lingerie yang robek. Darah segar masih menetes dari luka cakar di leher dan lengannya, mengotori kulit putihnya yang selama ini dia rawat dengan biaya ratusan juta.Dia berdiri di sana, di sudut kamar yang temaram, menatapku dengan mata melotot penuh kemenangan gila. Pecahan gelas wine berserakan di sekitar kakinya seperti ranjau."Kenapa diam saja, Rey?" tantangnya dengan suara melengking. "Takut? Kamu sadar sekarang kalau kamu kalah? Satu teriakanku, dan hidupmu hancur!"Aku masih duduk di kursi tunggal itu, menyilangkan kaki dengan santai. Tidak ada kepanikan di wajahku. Tidak ada keringat dingin.Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku dan bertepuk tangan.Prok. Prok. Prok.Tepukan pelan itu bergema di ruangan yang sunyi, terdengar ganjil dan mengerikan."Akting yang luar biasa, Ma," pujiku datar. "Benar-benar totalitas. Hollywood pasti bangga kalau melihat bakat terpendam Mama."Senyum gila di wajah Lydia sed
Setelah urusan dengan Livia selesai di Grand Aurelia, aku tidak langsung pulang. Aku meminta Jonathan mengantarku ke The Royal Crown, hotel bintang tujuh yang kini menjadi simbol kekuasaan keluarga Morales di kota ini.Aku butuh tempat untuk membersihkan diri. Bukan sekadar mandi, tapi membuang sisa-sisa "Rey si Pelayan Hotel" yang melekat di tubuhku seharian ini.Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Jonathan di atas kasur, sebuah setelan jas hitam custom-made dari perancang ternama dunia, standar pakaian keluarga Morales.Aku mengenakan kemeja putih yang pas di badan, lalu membalutnya dengan jas hitam yang memancarkan aura dominasi. Tidak ada dasi. Dua kancing teratas kubiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun mematikan.Terakhir, aku merogoh saku celana dan memindahkan sebuah benda kecil ke saku dalam jasku. Sebuah flashdisk hitam."Malam ini..." gumamku pada bayangan di cermin, "...aku tidak akan datang sebagai menantu yang berbakti. Aku dat
Urusan di markas Veleno sudah selesai. Pixel sedang memproses data-data busuk Lydia ke dalam sebuah flashdisk enkripsi yang akan diantarkan sore nanti. Aku masih punya waktu sekitar 7-8 jam sebelum "kencan neraka" jam sepuluh malam nanti."Jonathan. Ikut aku ke Grand Aurelia," ucapku. “Aku harus membereskan satu urusan lagi. Livia.""Ah, Nona Manajer itu," Jonathan mengangguk patuh. "Apakah kita perlu... mengamankannya?""Nggak. Kita akan memberinya hadiah," aku menatap keluar jendela. "Dia sudah berkorban banyak, termasuk harga dirinya semalam. Cara terbaik untuk membungkam seseorang sekaligus membuatnya setia adalah dengan memberinya mahkota."Aku dan Jonathan masuk ke mobil kursi penumpang.“Ke Grand Aurelia, Gun,” titah Jonathan.“Siap!” ucap Guntur.Sekitar 20 menit kemudian, mobil mewah Jonathan berhenti di lobi utama Hotel Grand Aurelia.Begitu Jonathan turun, suasana lobi langsung berubah tegang. Para staf, doorman, hingga resepsionis langsung membungkuk hormat sembilan puluh
Markas operasional Alfonso tidak terlihat seperti sarang mafia pada umumnya. Dari luar, tempat ini hanyalah sebuah gedung perkantoran biasa di kawasan bisnis Lunaris dengan papan nama "V-Logistics". Sebuah perusahaan ekspedisi legal yang menjadi front pencucian uang dan pusat intelijen organisasi Veleno di Lunaris.Mobil Guntur meluncur masuk ke area parkir bawah tanah khusus eksekutif.Begitu pintu mobil terbuka, sesosok pria muda dengan setelan jas slim-fit mahal dan kacamata berbingkai emas sudah berdiri menunggu. Jonathan."Selamat malam, Tuan Muda," sapa Jonathan sambil mengangguk sopan, gayanya necis dan bicaranya terukur. "Alfonso sedang di luar negeri mengurus legalitas kargo. Tim IT sudah saya siapkan di Ruang Kaca.""Terima kasih, Jo," jawabku singkat sambil berjalan cepat, mengabaikan sapaan hormat dari beberapa staf di koridor. "Kita butuh hasil cepat.""Tentu. Kami mengerti urgensinya," Jonathan berjalan di sampingku, langkahnya tenang namun cepat. "Secara hukum, ancaman
Durasi video itu tidak panjang, mungkin hanya sepuluh detik, tapi isinya cukup untuk menghancurkan hidupku, reputasi Livia, dan mungkin kewarasan Amanda untuk selamanya. Di layar ponsel Lydia yang jernih, adegan dosa itu terpampang nyata. Tidak ada celah untuk menyangkal. Itu aku. Itu istriku. Dan itu general manajer hotelku."Bagaimana, Rey?" tanyanya dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. "Masih mau mengancam Mama? Atau kamu sudah sadar siapa yang memegang leher siapa sekarang?"Aku menunduk, menatap lantai marmer yang dingin. Otakku berputar cepat, mencari jalan keluar.Jika aku merebut ponsel itu dan menghancurkannya, itu tindakan bodoh. Wanita licik seperti Lydia pasti sudah mencadangkan file itu ke penyimpanan awan (cloud) atau mengirimnya ke perangkat lain. Kekerasan fisik juga bukan opsi; jika dia terluka, Surya akan curiga.Satu-satunya cara adalah bermain sesuai permainannya. Mengulur waktu.Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Saat aku mengangkat w







