Share

Pelukan Livia

Author: Falisha Ashia
last update Last Updated: 2025-10-04 22:21:08

Pria itu turun dari motornya. Langkahnya berat, sorot matanya tajam, dan tanpa basa-basi dia langsung menarik kemejaku dengan kasar. Tarikannya membuat dadaku terhentak ke depan.

“Berani sekali kamu membentak aku tadi!” teriaknya, wajahnya hanya sejengkal dari wajahku.

Aku berusaha tetap tenang meski dadaku naik turun. Aku tidak boleh memperkeruh keadaan.

“Semua ini tidak perlu pakai amarah. Mobil itu mogok, dan kalau mobil listri, tidak bisa didorong seperti mobil biasa. Mengerti, kan?” kataku.

Namun pria itu menggeleng keras, napasnya memburu. “Aku tidak peduli! Masalahnya kamu tadi sudah bentak aku. Itu saja cukup untuk menjebloskamu. Sekarang ayo kita selesaikan dengan cara laki-laki!”

Orang-orang di sekitar mulai bersuara lirih, seolah menunggu pertarungan pecah. Wajah Livia dari balik kaca mobil terlihat panik, matanya tak lepas dari tubuhku.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi. “Kalau kita berantem di sini, jalanan akan tambah macet. Kita malah membuat masalah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bantuan Dari Livia

    Tok. Tok. Tok.Suara ketukan halus di pintu menyentakku dari lamunan gelap tentang Madam Rosa.Amanda yang masih menggeliat di atas kasur dengan tubuh polos langsung menegakkan kepala. Matanya yang tadi sayu kini kembali menyala terang."Itu siapa, Rey?" tanyanya antusias, suaranya serak dan penuh harap. "Livia bukan? Dia udah dateng?"Aku tidak langsung menjawab. Aku bangkit dari tepi ranjang, merapikan celana boxer-ku seadanya, lalu melangkah cepat menuju pintu. Aku mengintip lewat lubang peephole.Livia berdiri di sana. Wajahnya tenang, tapi ada kilatan antisipasi di matanya. Di tangannya, dia menggenggam erat kotak beludru kecil, obat penawar.Aku membuka pintu sedikit, cukup untuk bicara tapi menghalangi pandangan ke dalam."Obatnya?" tanyaku langsung.Livia menyodorkan kotak itu. "Ini, Tuan. Guntur baru saja memberikannya."Di belakangku, suara Amanda terdengar lagi, lebih nyaring. "Rey! Siapa itu? Livia kan? Suruh masuk dong!"Aku menghela napas panjang, menatap Livia lekat-lek

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Tidak Puas

    Mobilku melaju cepat membelah jalanan Lunaris, menuju kawasan elit di pusat kota. Di sampingku, Amanda tidak bisa duduk tenang. Tangannya terus bergerak, sesekali meremas pahaku, sesekali memainkan ujung roknya sendiri. Napasnya memburu halus, seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu mainan baru."Masih lama, Rey?" tanyanya manja. "Lama banget sih lampu merahnya.""Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai," jawabku sambil menepuk tangannya, berusaha menenangkannya.Lima menit kemudian, kami tiba di lobi megah The Royal Crown. Hotel bintang tujuh yang kini menjadi simbol kekuasaan keluargaku di kota ini.Begitu kami turun dari mobil, belasan staf berseragam rapi langsung berbaris di depan pintu lobi."Selamat siang, Tuan. Selamat siang, Nyonya!" sapa mereka serempak sambil membungkuk sembilan puluh derajat.Amanda yang biasanya akan merasa risih diperlakukan seperti ratu, kali ini malah tersenyum lebar. Dia mengibaskan rambutnya dengan percaya diri."Wah, hebat banget," bisik Amanda sam

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Semakin Di Luar Kendali

    Jantungku berhenti berdetak. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-paruku hingga aku kesulitan bernapas.Amanda mengenali mereka.Ingatan visual istriku, yang dipacu oleh rangsangan obat B-25, bekerja dengan presisi yang mengerikan. Dia baru saja melihat wajah-wajah itu di layar ponsel sejam yang lalu, dalam adegan yang penuh keringat dan desahan. Dan sekarang, dia melihat versi aslinya berjalan ke arah kami."Rey..." Amanda berbisik lagi, matanya tidak lepas dari sosok Bram dan Siska. "Benar kan? Itu mereka?"Aku ingin menyangkal membawa Amanda keluar dari sini secepat mungkin. Tapi terlambat.Bram sudah melihat kami. Senyum seringai muncul di wajahnya yang sok tampan itu."Rey!" sapa Bram dengan suara lantang, tidak mempedulikan tatapan orang-orang di lobi. Dia merangkul pinggang Siska dengan posesif, gaya khas pria hidung belang yang merasa dirinya raja.Mereka berdua berhenti tepat di depan kami. Aroma parfum Siska yang menyengat langsung menusuk hidung, berc

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bertemu Bram Dan Siska

    Amanda berdiri dengan tangan bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi. Tatapannya menuntut, tajam, dan... sedikit liar. Efek obat itu membuat emosinya tidak stabil."Jawab, Rey!" desak Amanda lagi, suaranya bergema di lobi marmer itu. "Dari mana uang 15 Miliar itu? Kamu rampok bank? Atau kamu bandar judi?"Di sampingnya, Alex terlihat seperti orang yang ingin menghilang ditelan bumi. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Dia sadar dia baru saja menyulut api di dalam rumah tangga orang lain dan mungkin membangunkan macan tidur jika identitas asliku terbongkar.Hanya ada satu jalan keluar. Menggunakan otoritas yang tidak bisa dibantah."Oke," ucapku tenang, mengangkat kedua tanganku tanda menyerah. "Aku akan buktikan. Tapi bukan dengan kata-kataku."Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponselku."Kamu mau tahu siapa pemilik uang itu? Kita tanya langsung sama orangnya."Tanpa ragu, aku menekan kontak Jonathan dan langsung mengaktifkan mode pengeras suara.Tuuut

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Alex Membongkar Rahasia

    Ponsel di dashboard masih bergetar, nama Haris berkedip-kedip di layar seperti lampu peringatan bahaya. Aku membiarkannya saja, fokus memutar setir untuk keluar dari kompleks perumahan."Kenapa nggak diangkat, Rey?" tanya Amanda. Matanya tidak lepas dari layar ponselku, seolah dia sedang menunggu sesuatu."Susah, Sayang. Lagi nyetir," jawabku beralasan, meski sebenarnya aku hanya perlu menekan satu tombol handsfree di setir mobil. "Nanti saja aku telepon balik kalau sudah sampai."Amanda memiringkan kepalanya, menatapku dengan senyum yang aneh. "Kamu takut aku dengar percakapan kalian ya?""Takut?" Aku tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Takut kenapa?""Ya siapa tahu... kalian mau bahas sesuatu yang privasi,” kata Amanda, jarinya memainkan kancing kemejaku. "Kalau kamu malu, aku bisa tutup kuping kok."Jantungku berdegup kencang. Celetukannya terdengar seperti candaan, tapi ada nada serius di sana. Efek obat itu benar-benar mengikis rasa malunya."Nggak lah, Amanda," potongku c

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Amanda Yang Tambah Agresif

    Suara deru mesin mobil yang halus terdengar memasuki halaman rumah.Tidak lama kemudian, Papa Surya melangkah masuk dengan wajah sumringah. Dia baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang melelahkan, tapi semangatnya kembali menyala saat melihat kondisi rumah yang tak biasa."Wah, rumah bersih sekali pagi ini," puji Surya sambil meletakkan tas kerjanya di sofa. Matanya berbinar melihat lantai marmer yang mengkilap tanpa noda. "Tumben Mama rajin bebersih? Biasanya kan nunggu asisten."Lydia yang sedang menata piring di meja makan hanya tersenyum kaku. Senyum yang dipaksakan, seolah bibirnya ditarik menggunakan kawat."Iya, Pa," jawab Lydia pelan, suaranya terdengar lelah. "Mama... Mama lagi pengen olahraga sedikit. Biar sehat."Kami duduk mengelilingi meja makan."Ma, kopi Rey habis. Tolong tuangkan lagi dong," pintaku santai, menyodorkan cangkir kosongku ke arah Lydia.Lydia membeku sejenak. Tangannya mengepal di atas meja. Biasanya, akulah yang menuangkan minum untuk mereka. Tapi h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status